NovelToon NovelToon
THE ELITE OF UNDERGROUND SOCIETY

THE ELITE OF UNDERGROUND SOCIETY

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:245
Nilai: 5
Nama Author: zayyana

Dendam masa lalu menuntut balas. Seorang musuh besar mengincar putri tunggal sepasang pembunuh bayaran legendaris gadis yang telah dilatih menjadi "Ratu Kematian". Namun, rencana itu membentur dinding tebal. Peladen data sekolah elite SMA Garuda Bangsa dilindungi enkripsi militer ketat, menyembunyikan identitas sang target di balik kabut digital.

sementara target baru memulai tahun ajaran baru, sistem mendeteksi enam siswi baru di kelas X-A yang datanya terkunci total. Demi memastikan dendamnya terbalas, sang musuh nekat menculik keenam gadis itu.

Disekap di dalam palka kapal kargo yang gulita, enam gadis asing berbalut almamater merah marun ini terpaksa menekan ego mereka. Insting predator mereka menyatu, mengubah tempat penyekapan menjadi ladang pembantaian demi merebut kembali kebebasan. Malam itu, adalah awal mula The Elite akan terbentuk.

apakah Mereka mampu mempertahankan the elite karna status mereka yang cukup tak biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sang Ratu Kecil di Sangkar Emas

Matahari belumlah sepenuhnya tenggelam di ufuk barat Jakarta, namun langit di atas kediaman megah keluarga Breynerlanz sudah bersalin rupa menjadi sekelam jelaga, tertutup awan mendung yang berarak berat. Di dalam salah satu kamar tidur seluas rumah tipe menengah, Azrint Breynerlanz berdiri mematung di depan jendela kaca setinggi langit-langit. Jemarinya yang lentik, dengan kuku-kuku yang dipulas warna merah marun pekat, mengetuk-ngetuk kaca tebal itu dalam ritme yang monoton.

Azrint memiliki tinggi seratus tujuh puluh dua sentimeter. Tubuhnya ramping, meliuk sempurna menyerupai lekukan biola mahal, warisan genetika yang membuatnya kerap kali dikira sebagai seorang model papan atas yang tersesat di kediaman para kriminal. Malam ini, dia mengenakan gaun tidur sutra berwarna putih gading yang menjuntai hingga ke mata kaki. Kontras yang kentara berpadu dengan warna kulitnya yang seputih peri—begitu pucat, bersih tanpa cela, seolah-olah dia adalah makhluk yang tak pernah tersentuh oleh kejamnya sengatan matahari khatulistiwa.

"Kau mengabaikan makan malammu lagi, Azrint," sebuah suara bariton yang berat dan sarat akan wibawa memecah kesunyian kamar yang dingin oleh embusan pendingin ruangan.

Azrint tidak langsung berbalik. Dia membiarkan kepalanya sedikit miring ke kanan, membuat rambut hitamnya yang malam ini diikat setengah ke belakang bergoyang lembut di atas bahunya yang ringkih. Bibirnya yang penuh dan kemerahan alami mengulas senyum tipis—sebuah senyuman yang tidak pernah benar-benar mencapai matanya yang sewarna karamel tua. Saat dia berbalik, barisan giginya yang rapi dan putih cemerlang berkilat samar di bawah temaram lampu gantung kristal.

"Aku tidak lapar, Papa," ucap Azrint, nadanya terdengar manja namun ada lapisan kedewasaan yang dipaksakan di dalamnya. Dia melangkah mendekati pria paruh baya yang berdiri di ambang pintu dengan setelan jas abu-abu yang kaku.

Dion Breynerlanz, sang penguasa tertinggi jaringan mafia Breyner di Indonesia, menatap putri tunggalnya dengan tatapan lembut satu-satunya kelembutan yang tersisa dari seorang pria yang tangannya telah menumpahkan begitu banyak darah. Bagi Dion, Azrint adalah segalanya. Gadis itu adalah replika hidup dari mendiang istrinya, Aleya, yang mengembuskan napas terakhir tepat saat jeritan pertama Azrint menggema di dunia, di tengah malam pelarian yang berdarah dari kejaran musuh belasan tahun silam.

"Kau harus menjaga tokomu, Sayang. Besok adalah hari penting. Berkas pendaftaranmu ke SMA Internasional Garuda Bangsa sudah selesai diproses," Dion melangkah masuk, mengusap puncak kepala Azrint dengan telapak tangannya yang kasar dan penuh kapalan akibat pelatuk senjata api.

Mendengar nama sekolah itu, binar di mata Azrint meredup. SMA Garuda Bangsa. Di luar sana, tempat itu dikenal sebagai kiblat pendidikan bagi anak-anak menteri, konglomerat, dan selebritas papan atas. Namun di balik dinding-dinding marmer dan kurikulum internasionalnya, Azrint tahu tempat itu adalah medan perang baru yang sengaja diciptakan untuk anak-anak seperti dirinya—para penerus dunia bawah tanah yang dipaksa bersosialisasi di bawah kedok kaum elitis.

"Apakah aku benar-benar harus pergi ke sana?" tanya Azrint lagi, suaranya kini merendah, nyaris berbisik. Dia menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang ayah, mencari perlindungan yang selama ini selalu dia dapatkan di dalam rumah berpenjagaan ketat ini. "Aku bisa belajar di rumah. Semua guru terbaik bisa Papa beli, bukan?"

Dion menghela napas berat, dadanya naik turun dengan teratur. "Dunia luar tidak bisa dibeli hanya dengan uang, Azrint. Kau adalah Breynerlanz. Suatu hari, kau yang akan duduk di kursiku, mengendalikan ribuan orang yang tunduk pada nama belakangmu. Dan untuk memulainya, kau harus belajar mengenali siapa saja sekutu dan musuhmu di generasi ini. Mereka semua akan berkumpul di sekolah itu."

Azrint melepaskan pelukannya perlahan. Dia melangkah mundur, mendekati meja riasnya yang terbuat dari kayu jati berukir emas. Dengan gerakan yang anggun namun tegas, dia mengambil sebuah sisir perak dan mulai merapikan rambutnya yang setengah terikat. Melalui cermin besar di depannya, dia menatap bayangan dirinya sendiri. Di balik wajah cantiknya yang tampak rapuh dan manja, mengalir darah seorang Breynerlanz yang tak kenal takut. Dia adalah ratu kecil yang selama ini dikurung di dalam sangkar emas, dilindungi oleh ratusan senapan laras panjang yang berjaga di luar pagar mansion. Namun, sangkar itu kini harus dibuka.

"Aku mengerti," jawab Azrint pendek. Ketegasan dalam suaranya tiba-tiba muncul, meluruhkan kesan manja yang baru saja dia tunjukkan. Dia meletakkan sisir perak itu ke atas meja dengan dentingan yang cukup keras, sebuah isyarat halus bahwa diskusi malam itu telah usai.

Dion tersenyum puas melihat perubahan sikap putrinya. "Istirahatlah. Pengawalmu sudah disiapkan untuk besok." Setelah memberikan kecupan singkat di kening Azrint, sang ayah melangkah keluar, meninggalkan keheningan yang kembali mencekik kamar tersebut.

Begitu pintu kamarnya tertutup rapat, keanggunan Azrint seolah runtuh. Dia membalikkan tubuhnya menghadap meja belajar, di mana sebuah tablet elektronik menyala menampilkan profil singkat SMA Garuda Bangsa. Jemarinya menyapu layar, membalik halaman demi halaman digital yang berisi foto-foto fasilitas sekolah yang megah: kolam renang ukuran olimpiade, paviliun berkuda, hingga aula pertemuan yang menyerupai istana Eropa.

Namun, bukan kemewahan itu yang menarik perhatian Azrint. Matanya terpaku pada daftar nama calon siswa baru yang berhasil diretas oleh divisi IT ayahnya. Matanya menyipit saat membaca beberapa nama yang tidak asing di telinganya. Nama-nama dari keluarga yang sering disebut ayahnya dalam rapat-rapat tertutup di ruang bawah tanah.

Eriza Tryanaz.

Fyrline Zyornaland.

"Pembunuh bayaran," gumam Azrint lirih. Bibirnya bergetar samar saat mengeja nama-nama itu. Ketakutan? Tidak, ada desiran aneh yang mengalir di pembuluh darahnya—sebuah rasa penasaran yang bercampur dengan naluri bertahan hidup yang pekat. Sejak kecil, Azrint selalu dikelilingi oleh para pria berbadan tegap yang siap mati demi dirinya. Dia tidak pernah memiliki teman sebaya, apalagi teman perempuan yang mengerti bagaimana rasanya tidur dengan kecemasan bahwa esok pagi rumah mereka mungkin akan dibom oleh kartel saingan.

Azrint berjalan menuju tempat tidur berukuran king size miliknya. Dia merebahkan tubuh langsingnya di atas seprai sutra hitam. Rambutnya yang hitam legam terhampar acak di atas bantal, menciptakan kontras yang dramatis dengan kulit putih perinya. Dia menatap langit-langit kamar yang dilukis menyerupai rasi bintang malam hari.

Pikiran Azrint melayang pada ibunya, Aleya. Ayahnya selalu mengatakan bahwa ibunya adalah wanita terlembut yang pernah ada, namun harus mati mengenaskan karena kekejaman dunia yang mereka tinggali. Azrint berjanji pada dirinya sendiri di dalam kegelapan kamar itu, dia tidak akan menjadi seperti ibunya yang berakhir sebagai korban. Jika dunia bawah tanah ini adalah sebuah rimba, maka dia tidak akan menjadi rusa yang manis dia akan menjadi singa betina yang mengenakan mahkota, seberapa pun gelapnya jalan yang harus dia tempuh.

Detik jam dinding terus berdetak, mengiringi malam yang kian larut. Hujan akhirnya turun, menghantam kaca jendela kamar Azrint dengan hantaman yang keras, seolah-olah alam pun sedang memperingatkan tentang badai yang akan segera datang dalam kehidupannya. Azrint memejamkan matanya perlahan, membiarkan kantuk membawanya pergi dari kenyataan sejenak, sebelum esok hari dia harus memakai topengnya kembali. Topeng sebagai Azrint Breynerlanz siswi baru yang cantik, manja, kaya raya, dan mematikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!