NovelToon NovelToon
Mahar Sandiwara Sang Papa

Mahar Sandiwara Sang Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:568
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Setelah lima jam menempuh perjalanan panjang yang menguras emosi dan tenaga, mobil hitam milik Daniel akhirnya memasuki sebuah kawasan pemukiman yang tenang di Yogyakarta.

Jam digital di dasbor mobil sudah menunjukkan waktu yang sangat larut.

Mobil itu berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana yang tampak asri namun sunyi.

Daniel turun terlebih dahulu, melangkah membelah udara malam yang dingin menuju pintu depan.

Dengan ketukan yang teratur namun sopan, ia mengetuk pintu kayu tersebut.

Tok, tok, tok.

Di dalam rumah, ibu Amira yang baru saja hendak memejamkan mata di kamarnya tersentak.

Dengan perasaan waswas dan penuh harap—perasaan yang selalu menghantuinya selama satu bulan terakhir sejak putrinya menghilang tanpa kabar—wanita paruh baya itu bergegas menuju ruang depan dan membuka pintu.

"Mama..."

Sebuah suara parau yang sangat dirindukannya terdengar dari arah luar.

Ibu Amira tertegun, matanya seketika membelalak lebar demi melihat sosok yang berada di dalam mobil.

"Amira? Putriku?!" pekik sang mama, air matanya langsung luruh seketika.

Ia hampir tidak mempercayai penglihatannya sendiri.

Melihat kondisi fisik Amira yang terlampau lemah untuk berdiri lama, Daniel dengan sigap langsung membopong kembali tubuh wanita itu.

"Permisi, Bu. Saya bawa masuk dulu," ucap Daniel sopan namun tegas.

Ia melangkah masuk dan membaringkan Amira dengan hati-hati di atas sofa ruang tamu yang empuk.

Sang mama langsung memeluk putrinya erat-erat, menangis histeris sembari memeriksa sekujur tubuh Amira yang tampak pucat.

"Apa yang terjadi sama kamu, Nak? Kamu ke mana saja? Mama sudah menghubungi polisi, mencari kamu ke mana-mana sampai Mama hampir gila!"

Daniel berdiri tegang di samping sofa. Merasa sudut matanya mulai memanas karena didera rasa bersalah yang teramat dalam, ia kembali menyusun dinding kebohongannya dengan rapi.

"Maafkan saya, Bu," potong Daniel dengan nada suara yang meyakinkan.

"Satu bulan yang lalu, saya menemukan mobil Amira mengalami kecelakaan tunggal di jalur Puncak yang sepi.

Kondisinya sangat kritis saat itu, jadi saya langsung membawanya ke rumah sakit pribadi untuk mendapatkan perawatan intensif sesegera mungkin.

Karena benturan di kepalanya, Amira sempat koma selama satu bulan dan baru sadar tadi siang. Itulah alasan kenapa dia tidak bisa menghubungi Ibu."

Mendengar cerita Daniel, ibu Amira menghapus air matanya lalu mendongak, menatap Daniel dengan pandangan yang penuh rasa syukur yang luar biasa.

Ia sama sekali tidak menaruh curiga pada pria berwajah ningrat di hadapannya.

"Terima kasih banyak, Nak Daniel. Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa putriku," ucap sang mama dengan suara bergetar, berulang kali menggenggam tangan Daniel sebagai ungkapan rasa terima kasihnya yang tak terhingga.

Daniel memaksakan sebuah senyuman tipis, merasakan dadanya semakin sesak karena menerima ucapan terima kasih atas kejahatan yang sebenarnya ia lakukan sendiri.

Setelah memastikan situasi Amira aman, Daniel pun berpamitan.

"Sama-sama, Bu. Kalau begitu, saya harus segera kembali ke Jakarta malam ini juga," ujar Daniel.

Kemudian ia mengalihkan tatapannya pada Amira yang sejak tadi memperhatikannya dalam diam.

"Besok pagi, tim terapis terbaik dari rumah sakit mitra saya di Yogyakarta akan datang ke sini untuk memulihkan kondisi fisikmu, Amira. Dan... ini untukmu," ucap Daniel sembari merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kotak berisi ponsel pintar keluaran terbaru yang sangat mewah.

Amira sedikit terkejut ketika Daniel memberikan ponsel itu ke tangannya. Matanya mengerjap bingung.

"Tuan Daniel, ini..."

"Gunakan itu untuk mempermudah koordinasi dengan tim terapis besok. Di dalamnya sudah ada nomor ponselku yang tersimpan," potong Daniel cepat, tidak memberi celah bagi Amira untuk menolak. "Cepat sembuh, Amira."

Tanpa menunggu balasan lagi, Daniel membalikkan tubuhnya dan melangkah lebar keluar dari rumah itu.

Begitu pintu depan tertutup, Daniel bersandar sejenak di balik kemudi mobilnya, menatap rumah sederhana itu dengan pandangan kosong.

Separuh dari hatinya terasa tertinggal di sana, sementara separuh lainnya kini harus pulang untuk menghadapi tangisan putrinya yang merindukan sosok Selena.

Daniel baru saja keluar dari kompleks perumahan Amira saat ponselnya bergetar hebat.

Nama suster pengasuh Felia muncul di layar. Dengan perasaan tidak enak, ia mengangkatnya.

"Tuan Daniel! Tuan, maafkan saya! Nona Felia kejang, suhu tubuhnya melonjak sangat tinggi!" suara suster itu terdengar panik dan histeris di seberang sana.

Jantung Daniel seakan berhenti berdetak. Dunia di sekelilingnya mendadak berputar.

'Apa?! Cepat bawa dia ke rumah sakit sekarang! Jangan buang waktu, segera siapkan ambulans atau langsung bawa ke unit gawat darurat!" teriak Daniel, suaranya sarat akan ketakutan yang luar biasa.

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Daniel langsung membanting setir mobilnya. Ban mobil nya mencicit tajam di atas aspal jalanan Yogyakarta yang mulai sepi.

Ia tidak lagi memedulikan aturan lalu lintas. Pedal gas ia injak dalam-dalam, membuat mobil melaju sekencang mungkin membelah malam.

Pikirannya kalut. Ia baru saja melakukan hal yang benar dengan memulangkan Amira, namun sekarang putrinya berada dalam bahaya.

Daniel memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, berkali-kali menyalip kendaraan lain di depannya. Fokusnya hanya satu: Felia.

Setiap detik terasa seperti selamanya bagi Daniel. Wajah pucat putrinya yang tadi pagi menangis karena merindukan "Mama" kini terbayang jelas, dan rasa takut kehilangan Felia jauh lebih menyakitkan daripada beban rahasia apa pun yang ia tanggung.

Mobilnya melesat menembus kegelapan malam, berpacu dengan waktu menuju rumah sakit, sementara dadanya terasa terbakar oleh kecemasan yang mendalam.

Keesokan paginya, Amira terbangun di kamarnya yang familier dengan perasaan beralih dari lega menjadi bingung.

Sesuai janji Daniel, sekelompok tim terapis profesional dengan peralatan medis lengkap tiba di rumahnya tepat pukul sembilan pagi.

Di saat Amira mulai menjalani sesi terapi pertamanya yang menyakitkan untuk melatih otot kaki yang kaku, pikirannya justru terusik oleh bayangan balita yang menangis histeris semalam.

Jeritan pilu Felia seolah masih terngiang jelas di telinganya, menyisakan rasa bersalah yang aneh di dalam hatinya, padahal ia tahu dirinya bukanlah Selena.

Sementara itu, di rumah sakit Jakarta, situasi berubah mencekam.

Dokter menyatakan Felia mengalami fase kritis akibat kejang demam tinggi (febrile convulsion) yang dipicu oleh syok psikologis berat setelah ditinggal "Mama"-nya.

Di dalam ruang intensif anak, Daniel berdiri terpaku dengan wajah pucat dan mata yang memerah karena tidak tidur semalaman.

Dalam kondisi setengah sadar dan dipasang berbagai alat medis, Felia terus mengigau dengan suara yang sangat lemah.

"M-ama... Felia mau ikut Mama... Mama jangan pergi..."

Melihat putrinya berada di ambang maut hanya karena merindukan sosok ibu, pertahanan Daniel runtuh.

Ego dan harga dirinya hancur lebur. Tidak ada pilihan lain, ia harus menepis segala keraguannya demi menyelamatkan nyawa Felia.

Dengan tangan yang gemetar, Daniel merogoh sakunya.

Ia mencoba untuk menghubungi Amira melalui ponsel baru yang ia berikan semalam.

Panggilan pertama tidak terjawab. Panggilan kedua pun sama, hanya menyisakan nada dering yang panjang.

Daniel mengusap wajahnya kasar, frustrasi yang teramat sangat mulai merayap di dadanya.

Di saat yang sama di Yogyakarta, sesi terapi fisik Amira baru saja selesai.

Tubuhnya terasa begitu lelah dan berkeringat. Ibunya membantu Amira pindah ke sofa ruang tamu agar ia bisa beristirahat sejenak.

Amira yang sedang menonton televisi di bawah tidak mendengar suara getaran dan dering dari ponsel barunya.

Benda mewah itu tergeletak begitu saja di atas nakas kamar tidurnya di lantai atas, berkedip-kedip menampilkan nama "Daniel Narendra" yang terus memanggil tanpa henti.

Di layar televisi, sebuah tayangan berita fajar berputar tanpa benar-benar diperhatikan oleh Amira, sementara di Jakarta, waktu untuk Felia perlahan-lahan mulai habis.

"Kenapa dia tidak mengangkatnya?" gumam Daniel dengan suara parau, menatap nanar layar ponselnya yang kembali menampilkan pemberitahuan panggilan tak terjawab.

Sadar bahwa hanya satu orang yang bisa menyelamatkan nyawa putrinya, Daniel mengambil keputusan gila.

Tanpa memedulikan tubuhnya sendiri yang mulai demam dan kelelahan setelah menyetir semalaman penuh tanpa henti, ia kembali masuk ke dalam mobil.

Daniel melajukan mobilnya sekencang mungkin dari Jakarta kembali menuju Yogyakarta di bawah guyuran hujan badai, berkejaran dengan waktu yang kian menipis untuk menjemput Amira.

Pandangannya beberapa kali mengabur karena kantuk dan pusing yang mendera, namun bayangan wajah Felia yang pucat di ranjang rumah sakit terus memecut kesadarannya untuk tetap menginjak pedal gas dalam-dalam.

Hawa dingin sisa hujan menyelimuti Yogyakarta. Amira yang sedang mencoba mendorong kursi rodanya sendiri menuju teras rumah untuk menghirup udara segar, seketika terkejut melihat mobil Daniel yang mengerem mendadak di depan pagar rumahnya.

Suara decitan ban yang bergesekan tajam dengan aspal basah membuat jantung Amira bertalu kencang.

Pintu mobil terbuka, dan Daniel melangkah keluar dengan kondisi yang sangat memprihatinkan; pakaiannya basah kuyup oleh hujan yang baru saja mengguyur jalanan, tubuhnya menggigil kedinginan, dan wajahnya pucat pasi karena kelelahan fisik yang ekstrem.

Tidak ada lagi sisa-sisa keangkuhan dari seorang CEO kaya raya yang berwibawa.

Pria di hadapannya saat ini hanyalah seorang ayah yang kehilangan arah.

Dengan langkah gontai namun tergesa, Daniel mendekati teras.

Tepat di hadapan Amira, pertahanannya runtuh sepenuhnya.

Dengan tatapan mata yang dipenuhi air mata dan keputusasaan seorang ayah, Daniel jatuh berlutut di hadapan kursi roda Amira.

Ia mencengkeram tangan Amira yang terasa hangat, sementara tangannya sendiri sedingin es dan bergetar hebat.

Daniel memohon dengan suara bergetar egois namun sarat akan kepedihan, "Tolong aku, Amira. Putriku kritis di rumah sakit, dia terus mencarimu. Aku mohon, selamatkan anakku..."

Amira tertegun, lidahnya mendadak kelu melihat pria yang begitu tegap semalam kini bersujud di depannya dengan tubuh yang gemetaran dan napas yang memburu karena demam tinggi.

1
falea sezi
lanjut q kasih hadiah
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!