Kanaya Anastasia, harus rela menikah dengan pria yang sudah beristri demi menyelamatkan panti asuhan agar tidak di gusur oleh keluarga Alexander.
Pernikahan tanpa cinta dari kedua belah pihak, Kanaya hanya di jadikan babu oleh istri pertama yang bernama Bella dan suaminya yang bernama Melvin.
Anehnya, sikap Melvin suka berubah-ubah hingga membuat Naya dilema. Jika tidak ada Bella, sikap Melvin sangat baik pada Naya dan sebaliknya, jika ada Bella maka Melvin akan bersikap jahat pada Naya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26.Sudahlah
Naya panik ketika melihat tangis dari anak-anak panti dan pengurus di sana. Wanita ini mencoba menghadang alat berat namun dengan cepat Melvin menarik istrinya.
"Jangan halangi aku Melv, aku mohon!" Naya menangkupkan kedua tanganya.
"Jangan bodoh! serahkan semuanya pada ku. Hari ini juga, semuanya akan selesai...!" ucap Melvin berusaha menenangkan Naya.
"Tapi, mereka akan menghancurkan tempat ini,"
"Jika aku bisa melakukannya, apa yang akan kau berikan pada ku?" Melvin malah memanfaatkan keadaan.
"Aku berjanji akan tetap menjadi istri mu. Belajar mencintaimu, aku berjanji," ucap Naya yang sudah peduli lagi dengan perasaannya.
Melvin tersenyum, lalu berkata. "Akan ku tagih janji mu nanti."
"Hai kalian berdua,...jangan banyak drama. Bebaskan kakak ku atau tempat ini akan rata dengan tanah!" seorang pria tiba-tiba mengancam Naya dan Melvin.
"Oh, apa kau yang bernama Johan?" Melvin maju selangkah, menyembunyikan Naya di belakangnya.
"Siapa pun aku, kau tidak perlu tahu. Turuti saja perintah ku!" ucap Johan dengan sombong.
"Sebaiknya kau yang menuruti perintah ku. Selagi kau ingin makan enak dan tidur nyenyak, lebih baik sekarang kau menyerahkan kembali apa yang sudah kau rampas secara paksa!"
Johan tertawa mengejek, "apa yang aku rampas hah? kakak ku sudah menyerahkan semuanya pada ku!"
"Apa kau yakin jika semua yang kau pegang itu adalah asli?" tanya Melvin langsung membuat wajah Johan pias.
"Bocah bajingan, jangan coba-coba menggertak ku!"
"Aku tidak menggertak mu. Kau lihat ini,....!" Melvin mengeluarkan beberapa kertas dari balik jasnya, "semua ini adalah bukti jika sertifikat dan saham yang di ambil kakak mu itu adalah palsu. Di tangan ku ini adalah yang asli...!"
Johan membuang rokoknya, pria ini tidak percaya dengan apa yang di lihatnya sekarang.
"Kalian adalah pencuri, penipu dan pembunuh munafik. Kalian memanfaatkan banyak orang demi kepentingan pribadi. Jadi, singkirkan alat berat mu itu...!"
Naya langsung bernafas lega ketika melihat semua bukti asli yang ada di tangan suaminya. Wanita ini penasaran dari mana Melvin bisa mendapatkan semuanya itu.
"Kau hanya kaki tangan yang bodoh. Kalian merasa jika kalian yang paling pintar. Jadi, mau apa kau sekarang? kalian semua, berani menyentuh bangunan ini, akan ku buat hancur kalian semua!"
Melvin mengancam dengan lantang, membuat operator alat berat ketakutan dan langsung memundurkan alat beratnya.
"Untuk menangkap kalian hanya butuh waktu sebentar. Tapi, untuk mengumpulkan semua bukti ini mamah ku butuh waktu bertahun-tahun bahkan membiarkan aku jatuh dalam cinta bodoh yang di perankan oleh keponakan mu itu."
"Bedebah....!" umpat Johan yang merasa tertipu, "beraninya kau....!"
Dor.....
Tanpa sepengetahuan Melvin, Johan tiba-tiba saja menembak ke arah Melvin hingga membuat Melvin jatuh tersungkur. Naya syok, wanita ini panik dan langsung memeluk Melvin yang sudah tidak sadarkan diri.
Sialnya, dari sekian banyak polisi tidak ada satu pun yang tahu jika Johan membawa senjata api. Dengan sigap polisi berhasil melumpuhkan Johan.
Beberapa orang anak buah Melvin juga langsung membawa pria itu ke rumah sakit. Mereka telah kecolongan, hal ini sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Naya hanya bisa menangis sambil menggenggam tangan Melvin. Bahu pria itu terus mengeluarkan banyak darah.
Margareta yang mendengar kabar jika anaknya tertembak langsung pergi ke rumah sakit.
"Naya,....!"
Margareta langsung memeluk Naya setibanya di rumah sakit.
"Mah, Melvin mah. Dia tertembak!" ucap Naya dalam isaknya.
"Maaf nyonya, kita kecolongan!"
"Sudahlah, jangan menyalahkan siapa pun lagi. Kita tidak tahu jika hal ini akan terjadi. Naya, kamu yang sabar!" ucap Margareta yang terlihat sangat sabar.
Naya mulai merasa bersalah, selama ini dia berpikir jika Melvin adalah laki-laki yang jahat dan tidak mau menghargai orang. Naya dan Margareta hanya bisa menunggu di luar, berharap jika keadaan Melvin akan baik-baik saja. Tuan Halbert juga langsung menempatkan pengawalan yang lebih ketat lagi untuk menjaga di rumah sakit.
Toorrr ayo mangaat dilanjut lagi, seru lhoo ini ceritanya !!!
Forgive but no forget ! 😝