Alma Fatara memiliki kisah masa bayi nan kelam. Kelam karena ia dibuang ke laut luas dan kelam karena belum diketahui ia anak siapa. Anak manusia atau anak ikan.
Setelah menuntaskan masa bergurunya di bawah asuhan Pemancing Roh dan Pangeran Kumbang Genit, Alma Fatara memulai perjalanan keduanya, yaitu pergi mencari orangtua kandungnya dengan hanya bermodal sebuah gelang emas.
Pusaka legenda Bola Hitam yang menjadi miliknya, justru memancing kedatangan orang-orang sakti untuk merebutnya, menciptakan ancaman kematian berkali-kali di dalam perjalanannya.
Kali ini, Alma yang dijuluki Dewi Dua Gigi, didampingi oleh lima sahabatnya yang setia dan kocak. Meski perjalanan mereka penuh bahaya dan maut, tetapi tawa dan bahagia melimpah dalam hidup mereka.
Kejutan besar menanti Alma saat ia akan bertemu dengan kedua orangtuanya. Siapkan diri Anda untuk terkejut dan tertawa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerja Bu 1: Dukun Ikan
*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)*
Fiuuu iuuu uo uo uo …!
Sambil menunggu umpan kailnya diemut oleh ikan penduduk Sungai Hijau, Rawil Sembalit bermain suling dengan merdunya. Saking menikmatinya ia bermain suling, sepasang matanya sampai tersayu-sayu seolah ingin tertidur.
Rawil Sembalit adalah seorang pemuda tampan dari kalangan terpandang. Namun, ia tidak seperti saudara-saudaranya yang lain. Jika para saudaranya suka berpakaian mewah dan memperjelas identitas derajatnya, maka Rawil Sembalit lebih suka sederhana seperti saat ini. Ia mengenakan pakaian warna abu-abu polos sepolos kepribadiannya. Tidak ada terlihat kain mahal atau perhiasan emas dan perak di tubuhnya. Memancing adalah hobinya. Ia salah satu mancing mania terkemuka di kalangan nelayan atau tukang mancing.
Di mana terdengar kabar ada perlombaan memancing, dia pasti datang, meski harus menempuh perjalanan berhari-hari. Sampai-sampai dia dijuluki Dukun Ikan di kalangan mancing mania. Di mana dia melempar kail, seolah-olah ikan selalu terpelet untuk menyambar.
Untuk Kadipaten Rawa Batu, Rawil Sembalit adalah juara bertahan dalam Ajang Jago Memancing Sungai Hijau. Kakeknya adalah tokoh di balik selalu diadakannya Ajang Memancing Sungai Hijau setiap enam bulan sekali. Rawil Sembalit dan kakeknya memiliki jiwa pemancing yang kira-kira sama. Bahkan kehebatannya dalam memancing bisa mengalahkan orang sakti sekali pun, jika orang saktinya memancing dengan jujur.
Meski Rawil Sembalit hebat dalam perkara merayu ikan, tetapi ia tetap dianggap sebagai figuran oleh keempat kakaknya yang berkesaktian. Memang, Rawil Sembalit adalah pemuda yang tidak bisa ilmu olah kanuragan, ia lebih suka hidup bersantai dengan memancing sepanjang hari daripada harus berletih-letih dengan berlatih beladiri.
Namun, ia sendiri tidak ambil peduli dengan sikap kakak-kakaknya yang tidak menghiraukan keberadaannya. Ia tetap enjoy dengan hidupnya sebagai pemancing handal.
Tiba-tiba senar pancing Rawil Sembalit bergerak-gerak seperti ditarik. Rawil Sembalit menghentikan tiupannya. Matanya yang tadi sayu-menyayu langsung nyalang. Tangan kanannya cepat menyambar kayu pancing, tapi tidak langsung ia tarik. Rawil Sembalit merasakan dulu tarikan yang dilakukan si ikan, lalu detik berikutnya ia menyentak pancingnya.
“Silumaaan! Hahaha!” teriak Rawil Sembalit saat menarik kaillnya, sebab ia merasakan sekuat apa ikan yang dia ajak tarik tambang.
Rawil sampai bangun berdiri dan pasang kuda-kuda. Malu jika harus kalah tarik tambang melawan seekor ikan.
“Rawil tidak akan memberi ampun kepadamu, Siluman! Kau harus menjadi gadis cantikku!” teriak Rawil Sembalit geregetan sendiri sambil meletakkan ujung pangkal kayu pancingnya ke perut untuk menopang, sementara satu tangan menggulung senar pancingnya dan tangan yang lain menarik-narik ujung kayu pancing.
Terlihat di air muncul gerakan yang memberi tanda bahwa ikan yang terkena pancingan Rawil Sembalit adalah ikan besar.
“Sedikit lagi, sedikit lagi! Kau pasti akan aku cium nanti! Hahaha!” teriak Rawil Sembalit ramai sendiri.
Ternyata keberisikannya dalam memancing menarik perhatian seorang wanita cantik yang sedang melintas di sekitar tempat itu. Wanita muda cantik itu memiliki wajah yang agak dewasa. Tubuhnya terbilang besar, sekal dan memiliki lekukan yang indah. Rambutnya digelung di atas kepala, seolah sengaja ingin membebaskan leher putih indahnya dari rambut. Lehernya diperindah dengan kalung emas bermata batu mulia warna biru bening. Wanita berpakaian warna kuning berpadu warna putih itu membawa sebuah pisau bersarung di pinggang kanannya.
Gadis berhidung mancung itu bernama Wangiwulan. Penampilannya jelas menunjukkan bahwa ia gadis berkesaktian. Ia tidak sendiri, tetapi bersama seorang wanita yang juga muda dan membawa sebuah pedang bersarung. Namanya Lestari, pelayan yang selalu melayani Wangiwulan. Ia hanya berpinjung warna hitam dengan pundak yang terbuka.
Dari jarak yang tidak begitu jauh, Wangiwulan berdiri memandangi keramaian Rawil Sembalit. Ia tersenyum mendengar teriakan-teriakan dan kegembiraan pemuda tampan berkulit sawo matang itu.
“Brojoool!” teriak Rawil Sembalit keras, seiring ia berhasil menarik ikan dari dalam air.
Seekor ikan besar sepanjang siku muncul meronta-ronta di udara dengan mulut yang tersangkut di kail.
“Waw waw waw!” teriak Rawil Sembalit saat ikan itu mengayun hendak menampar wajah gantengnya. “Tenang, Sayang. Ini sakitnya hanya sebentar!”
Rawil Sembalit menurunkan ikannya ke tanah berumput. Ia lalu menangkapnya untuk membebaskan si ikan dari mata pancing. Setelah melepaskan ikan dari kail, Rawil Sembalit lalu memegangnya dengan dua tangan.
“Hahaha! Memang gadis yang cantik. Beruntung kau mendapat hadiah satu ciuman dari Dukun Ikan tampan sepertiku! Mmmuah!” kata Rawil Sembalit. Ia lalu mendekatkan mulut ikan ke bibirnya yang juga ia monyongkan untuk mencium gaya monyet.
“Hihihi …!” Wulanwangi dan Lestari sudah tidak bisa menahan tawanya. Mereka tertawa cekikikan melihat tingkah Rawil Sembalit.
Alangkah terkejutnya Rawil Sembalit mendengar ada yang menertawakannya. Ia cepat melihat kepada kedua wanita muda itu. Seketika Rawil Sembalit merasa malu dan tertawa cengengesan. Ia merasa begitu malu karena kepergok sedang berbuat aneh oleh wanita cantik.
Mencium mulut ikan hasil pancingannya adalah hal biasa yang Rawil Sembalit lakukan di depan umum. Namun, dia hanya khawatir jika dianggap telah menodai kesucian seekor ikan yang ia pun tidak tahu apa jenis kelaminnya.
Sambil tertawa, Wangiwulan berjalan mendekati Rawil Sembalit. Lestari mengikuti di belakang.
“Cantik sekali,” ucap Rawil Sembalit lirih seperti bergumam. Ia terpana melihat kecantikan Wangiwulan.
“Apa?” tanya Wangiwulan sambil tiba-tiba menghentikan tawa dan senyumannya. Rupanya dia bisa mendengar ucapan pemuda itu. “Siapa yang cantik sekali?”
Alangkah terkejutnya Rawil Sembalit karena gadis itu mendengar ucapannya yang sangat pelan.
“Eh, anuku. Eee maksudku, ikan ini ca-cantik sekali. Hehehe! Yah, ikan ini cantik sekali,” jawab Rawil Sembalit gelagapan dan panik.
“Hihihik …!” Kedua gadis itu kembali tertawa kencang.
Untuk menguatkan maksudnya bahwa yang cantik sekali itu adalah ikan, Rawil Sembalit lalu meletakkan ikannya ke dalam keranjang bambu beralas rerumputan empuk.
“Tidur di sini ya, Cantik. Agar bisa tidur nyenyak,” ucapnya.
“Bagaimana bisa tidur jika justru dia akan mati?” tanya Wangiwulan.
“Ssst! Jangan sebut mati, nanti ikannya menutup mata dengan penderitaan!” hardik Rawil Sembalit dengan setengah berbisik.
“Hihihi!” Wangiwulan kembali tertawa, kali ini ia menutup bibirnya dengan jari-jari tangannya yang berkulit tebal.
“Sedang apa di sini, Nisanak? Sedang mengintipku memancing ya?” tanya Rawil Sembalit.
“Hihihi!” tawa Wangiwulan mendengar tudingan pemuda itu. Lalu jawabnya, “Aku hanya berlalu, tapi kau telah mengganggu perjalananku dengan teriakan-teriakanmu itu.”
“Aaah, kau ini. Dedemit-dedemit penunggu Sungai Hijau ini saja tidak terganggu, kenapa justru Nisanak yang terganggu?” sangkal Rawil Sembalit.
“Darimana kau tahu bahwa dedemit sungai tidak terganggu olehmu?” tanya Wangiwulan seraya tersenyum tipis.
“Hehehe! Sebab mereka tidak pernah datang kepadaku ketika aku berteriak,” jawab Rawil Sembalit. “Eh, sudah, jangan bahas itu. Aku mau mancing lagi, aku baru dapat satu.”
“Aku ingin melihatmu memancing. Boleh?” tanya Wangiwulan.
“Tapi tidak boleh berisik, nanti ikannya pada kabur.”
“Iya, aku hanya ingin melihat.”
Rawil Sembalit kembali duduk bersila di tanah berumput pinggir sungai. Sementara Lestari mengambilkan sebatang kayu agak besar untuk digunakan duduk oleh majikannya.
Rawil Sembalit merogoh tabung bambu kecilnya dan memasang umpan pada mata kailnya.
“Umpan apa yang kau pakai?” tanya Wangiwulan.
“Jangkrik.”
“Kau memancing setiap hari di sungai ini?”
“Tidak juga. Aku terkadang mencari suasana baru seperti pergi ke rawa-rawa atau telaga, atau pergi naik ke mata air. Yang lebih seru jika pergi memancing ke laut, ikannya silumaaan!”
“Maksudnya siluman bagaimana? Ikan siluman sungguhan?”
“Tidak. Aku menyebut ikan besar dengan siluman. Tapi, kebanyakan aku memancing di sungai ini. Persediaan ikannya sangat banyak,” kata Rawil Sembalit lalu melempar umpannya ke air sungai.
“Kau pandai memainkan suling?”
“Iya. Sambil menunggu ikan memakan umpan, aku suka bermain suling, menikmati hidup yang penuh damai, dibelai-belai angin.”
“Bukankah tadi kau katakan ikannya akan lari jika berisik?”
“Jika mendengar alunan suling, ikan-ikan justru suka lupa diri, jadi kewaspadaan mereka hilang. Hahaha!”
“Hihihi!”
“Aku ganteng!” teriak Rawil Sembalit tiba-tiba sambil melompat bangun. Umpannya terlalu cepat dimakan ikan. “Jangan nakal, Sayang! Ayah ganteng ada di sini!”
Tidak sesulit sebelumnya, kali ini Rawil Sembalit lebih mudah menarik ikan keluar dari air.
“Brojoool! Hahaha!” tawa Rawil Sembalit begitu gembira, lalu ia berjoget tik-tok merayakan keberhasilannya.
“Hihihi!” tawa Wangiwulan melihat tingkah pemuda yang belum ia ketahui namanya itu. (RH)
**************
Jangan lupa dukung selalu "Alur Cinta Si Om Genit" dengan vote, like, komen dan gift-mu, karena chat story Om sedang ikut lomba hingga Januari 2022.