Kisah cinta tak akan selalu mulus jalannya, seperti yang Ayesha rasakan. Setelah lama hatinya kosong, tiba-tiba ada seseorang yang datang mengisi hari-harinya. Berpetualang bersama, mereka berdua memiliki mimpi membangun rumah tangga yang harmonis, tapi nasib berkata lain, setelah menikah sesuatu terjadi pada rumah tangga mereka. Ayesha harus melupakan mimpi-mimpi tersebut dengan mimpi yang lain yang belum pernah terfikirkan sebelumnya. Akankah Ayesha bisa melewati semuanya atau ia harus menyerah dengan semua yang terjadi di kehidupannya?
Angkasa sudah berhenti mencari tahu di mana keberadaan perempuan yang ia cintai sejak lama bahkan perempuan itu adalah cinta pertamanya. Semenjak gadis itu menghilang Angkasa selalu mencari di mana keberadaannya, namun selalu nihil hasilnya. Di saat sudah berhenti mencari informasi tentang gadis itu, saat itu ia justru mendapatkan alamat dimana gadis itu tinggal, tapi kenyataan membuatnya kecewa dan memilih untuk melupakan gadis pujaan hatinya. Tapi takdir berkehendak lain, saat ia sudah berhasil melupakannya. Takdir apakah itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ALY 26
Angkasa
Hari minggu lah yang menjadi hari istirahatnya. Karena setiap hari Minggu Bunda selalu mengajaknya berkunjung ke rumah sang Kakak. Bermain dengan kedua keponakannya, tak jarang pula ia mengajak kedua anak Kakaknya itu untuk jalan-jalan.
Seperti pagi ini, ia hanya berdua dengan Bunda menuju rumah Kakaknya, Ayah sedang berada di luar kota sejak dua hari lalu.
"Kamu belum ada niat buat nikah?" tanya Bunda tiba-tiba.
Ia terkejut, karena tak biasanya Bunda menanyakan soal pernikahan setelah gagalnya perjodohan itu.
"Belum nemu yang pas Bun, masih mau kerja dulu. Aku juga masih muda, masih banyak yang ingin aku gapai," jawabnya. Padahal sebelum gadis idaman nya jadi milik orang lain, ia sudah berniat untuk menikah dengan gadis itu. Tapi sekarang mindset nya ia ubah.
"Bunda sih terserah kamu, yang penting jangan menunda-nunda kalau memang udah punya pasangan,"
"Iya, pasti kalau itu Bun. Bunda tenang aja, kalau udah ada langsung aku lamar tanpa pacaran dulu,"
"Emang harusnya gitu, ngapain pacaran lama-lama, tapi ujung-ujungnya jagain jodoh orang, kamu sendiri yang rugi,"
Ia hanya tersenyum, jadi teringat dengan gadis yang berada di Jerman sana. Ah, sudahlah lupakan dia sudah jadi milik orang lain.
Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di kediaman sang Kakak. Di sambut antusias oleh dua keponakannya.
"Keponakan Om makin cantik dan ganteng," ucapnya sambil mencubit gemas pipi Aidan, anak kedua sang Kakak.
"Sakit Om," rengek Aidan.
"Salim dulu sama Uty, kalian berdua emang enggak kangen sama Uty?" Bunda pura-pura merajuk saat kedua cucunya justru berebut menyalaminya.
"Kangen Uty, juga," ucap mereka berdua serempak, lalu saling berebut menyalami Utinya.
"Bunda, apa kabar? Maaf malah Bunda yang ke sini, Mas Adnan sibuk sama anak didiknya, yang sebentar lagi sidang," sang Kakak ipar menghampiri mereka, lalu memeluk Bunda, kebiasaan yang di lakukan saat mereka bertemu.
Ia tak menghiraukan dua wanita itu, memilih untuk mengikuti dua keponakannya. Karena mereka berdua menariknya menuju taman samping rumah.
Mereka berdua saling berebut mencari perhatiannya. Tapi ia justru tidak fokus dengan kedua ponakannya tersebut, lebih fokus pada tiga orang yang sedang berada di gazebo, salah satunya sudah pasti sang Kakak. Tapi yang menjadi perhatiannya bukan itu, melainkan seorang gadis yang sepertinya tak asing. Tapi siapa, ia mencoba mengingatnya.
"Angkasa?" gadis itu ternyata juga mengenalnya.
Ia tersenyum lalu mengangguk, tak mau mengganggu kegiatan mereka.
"Kamu kenal dia?" tanya sang Kakak.
Ia bisa mendengar percakapan mereka karena tempatnya duduk saat ini hanya berjarak sekitar lima meter saja.
"Iya Pak, dia pernah nolongin saya," jawab gadis itu.
Kakaknya hanya ber 'oh' ria, lalu ia mendengar mereka kembali melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda karena kehadirannya.
*****
"Silahkan kalau kalian berdua mau ngobrol sama dia, kali ini saya ijinkan untuk berlama-lama di rumah saya," ucap Adnan setelah menyelesaikan bimbingannya.
"Dia jomblo ngenes, siapa tahun diantara kalian berdua ada yang tertarik," sambungnya kali ini sambil terkekeh.
Ia hanya memutar bola matanya malas, tidak mempan dengan ejekan sang Kakak. Ia memang jomlo tapi enggak ngenes juga, kalau mau cari pacar dalam sehari pasti langsung dapat, tapi sayangnya ia tidak berminat.
"Makasih Pak," jawab dua gadis itu.
"Kamu masih inget aku, kan?" tanya seorang gadis yang ia kenali.
Ia mengangguk, "Masih, baru seminggu yang lalu juga kita ketemu," jawabnya.
Mereka berdua basa-basi saling menanyakan kabar masing-masing. Sedangkan satu teman gadis itu hanya mencibir karena merasa di abaikan.
"Om, ayo ke mall, Mama udah kasih ijin," rengek Cantika anak pertama Adnan. Gadis cilik itu tiba-tiba sudah ada di hadapannya, bahkan penampilannya juga sudah berubah.
"Ajak Papa kamu sekalian, kalo Papa kamu mau Om juga mau," timpalnya, karena ia kewalahan jika hanya mengajak pengasuh Aidan, karena balita itu tidak mau bersama pengasuh jika sedang bersamanya. Sama halnya Cantika yang tidak mau mengalah dengan adiknya untuk ikut dengan dirinya.
"Oke," gadis kecil itu lari masuk ke dalam rumah, mencari keberadaan Papanya.
"Yaudah aku pamit aja kalau kamu mau ke mall, kapan-kapan bisa bertemu lagi kan ya? Jangan lupa hubungi aku," ucap gadis yang tadi mengobrol dengannya yang tak lain adalah Nadia. Gadis yang pernah ia antar pulang.
*****
Dengan paksaan anaknya, akhirnya sang Kakak pun ikut serta ke mall. Yang mereka lakukan saat ini memantau kedua anak sang Kakak yang sedang asik bermain bersama pengasuh.
"Kenal di mana sama Nadia?" tanya Adnan sang Kakak.
"Enggak sengaja ketemu di kafe,"
"Dari penglihatan gue nich ya, tuh anak naksir sama Lo, sekalian deketin aja, dia cantik, baik juga kayaknya,"
"Ck, enggak semudah itu, baru aja ketemu dua kali,"
"Ajak ketemuan lagi, biar mengenal satu sama lain,"
"Kayaknya Lo ngebet banget supaya gue punya pacar, gue nya aja santai,"
"Masih belum move on?"
"Belum lah, gue yakin Lo aja dulu susah banget kan move on dari dia?" tuduhnya, tak mau kalah.
Adnan terbahak mendengar tuduhan adiknya, tapi memang benar yang di ucapkan Angkasa. Kalau dia sih wajar, pernah merasakan saling jatuh cinta bersama, kalau Angkasa? Kayaknya mantan kekasihnya itu tidak pernah ada rasa sama Angkasa, mengenaskan sekali ya.
"Gue harap jangan berlama-lama menyelam dalam kesedihan, dia aja udah bahagia sama pilihannya. Lo juga ahrus gitu, bahagia dengan yang lain. Gue enggak mau adek gue jadi bujang lapuk," Adnan semakin mengejek adiknya itu
"Enggak akan, gue cuma belum siap menerima orang baru," kali ini ia tak terpancing dengan ejekan sang Kakak.
"Gue mau menata kehidupan gue dulu, sebelum menerima orang baru, takutnya kalau sekarang malah gue jadiin pelarian." Ia menyesap cappucino nya.
"Gue mau kosongin hati gue dulu, supaya bener-bener kososng dan siap menerima yang baru," tambahnya.
"Good luck, tapi jangan kelamaan." Adnan menepuk pundaknya sekilas, lalu bangkit mendekati kedua anaknya yang asik bermain.
"Anak-anak, makan siang dulu, setelah makan kalian boleh main lagi!" seru Adnan.
Mereka pun memilih makan di restoran cepat saji, karena anak-anak yang meminta dan terpaksa Adnan pun mengiyakan.
"Makan sendiri-sendiri, kasian Embaknya juga mau makan, Aidan harus bisa makan sendiri, udah besar kan anak Papa?"
"Siap Papa," Aidan mengacungkan jempolnya ke hadapan sang Papa.
Saat mereka sedang asik makan, tiba-tiba ada seseorang menghampiri.
"Eh, kita ketemu lagi ya, ada Pak Adnan juga? Siang Pak," ucap seseorang itu terlihat gugup saat menyadari ada Adnan di sana.
"Kamu sama siapa Nad? Sini gabung aja, masih ada satu kursi kosong," Adnan menunjuk salah satu kursi kosong yang dekat dengan Angkasa.
Pemuda itu hanya menatap wajah sang Kakak, niat sekali Kakaknya itu menjodohkannya dengan gadis bernama Nadia ini.
"Makasih Pak, saya sama Mama," jawab gadis itu.
"Mama kamu mana?" lagi-lagi Adnan yang bertanya.
"Ada di resto sebelah, sama teman-temannya, karena bosen dengerin mereka ngegosip, aku tinggal ke sini akhirnya," terang gadis itu.
Setelah itu mereka benar-benar makan bersama, Angkasa lebih banyak diam dan tanpa ekspresi, sedangkan Adnan terus menggodanya, menjodoh-jodohkannya dengan Nadia. Sedangkan gadis itu tampak tersenyum malu-malu saat di jodohkan dengan Angkasa.
.
.
.