NovelToon NovelToon
RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:61
Nilai: 5
Nama Author: Sang Alifas Yang Merumput

Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 : REMBULAN PUN IKUT MENARI

BAB 3

Sorak-sorai anak-anak masih memenuhi pelataran rumah Denia. Wajah Rangga berseri-seri. Kemenangan dalam hompimpa barusan benar-benar membuka jalan bagi rencana besarnya malam itu.

"Saiki aku sing menang, dadi sing kalah manut karo sing menang!" seru Rangga penuh percaya diri. Matanya langsung mencari sosok Denia yang berdiri di dekat Lilis.

"Aku milih dolanan Wayang Wong!" lanjutnya lantang.

"Wayang Wong maneh?" celetuk Handoko sambil menggeleng.

"Iya. Lakone Bela Pati Dewi Ratih," jawab Rangga mantap, seolah keputusan itu sudah dipikirkannya sejak lama.

Belum sempat ada yang menyela, Rangga langsung membagi peran.

"Aku dadi Kamajaya. Mas Trio dadi Mahadewa. Denia dadi Dewi Ratih."

Beberapa anak langsung saling pandang. Mas Trio tersenyum geli, sementara Denia hanya menundukkan kepala sambil menggigit bibir, menyadari namanya disebut tanpa diberi kesempatan menolak.

Rangga tak memberi waktu siapa pun untuk berdebat. Begitu semua peran diumumkan, ia langsung berlari sekencang-kencangnya menuju rumah budenya yang berjarak sekitar seratus meter dari pelataran.

Tak butuh waktu lama, Rangga sudah kembali ke pelataran dengan napas memburu. Dada kecilnya naik turun, sementara sepasang matanya berbinar penuh semangat. Di kedua tangannya tergenggam tiga lembar kain tapih batik yang masih rapi terlipat. Dari kain-kain itu masih tercium samar aroma hangat setrika arang, seolah baru saja diangkat dari papan setrikaan.

"Ngga... kon nyolong kain budemu, ta?" goda Mas Trio sambil terkekeh.

"Enak wae. Iki tak silih. Mengko yo tak balekke," jawab Rangga cepat, lalu mengibaskan salah satu kain dengan bangga.

"Edan... niat tenan," celetuk Handoko geleng-geleng kepala.

Rangga hanya menyeringai. Baginya, lakon sebesar Bela Pati Dewi Ratih tidak pantas dimainkan tanpa properti. Walaupun seadanya, setidaknya malam itu mereka harus benar-benar terlihat seperti tokoh wayang.

Mas Trio segera mengambil sebuah kursi bambu kecil yang tergeletak di teras rumah Denia. Ia meletakkannya tepat di tengah pelataran, lalu duduk bersila di atasnya. Kedua matanya terpejam rapat, sementara kedua telapak tangannya bertumpu di atas lutut.

"Wis, aku Mahadewa," ucapnya pendek.

"Ojo ngguyu lho, Mas!" seru Rangga mengingatkan.

"Iya... iya..."

Di sisi lain, Denia menerima selembar kain tapih dari tangan Rangga. Gadis kecil itu sempat memandang kain tersebut beberapa saat sebelum melilitkannya perlahan di pinggang. Gerakannya masih kikuk, hingga Lilis ikut membantu merapikan simpulnya.

"Nah... saiki ayu," puji Lilis sambil tersenyum.

Denia hanya menunduk malu.

Sementara itu, Rangga mengenakan kain tapih miliknya dengan wajah yang begitu serius. Sesekali ia menarik ujung kain ke kanan dan ke kiri, memastikan ikatannya tidak mudah lepas saat nanti bergerak.

Begitu semua siap, ia melangkah ke tengah pelataran.

Anak-anak yang tadi masih bercanda kini otomatis membentuk lingkaran. Tidak ada panggung, tidak ada gamelan, apalagi lampu sorot. Hanya cahaya bulan purnama yang menggantung di langit, ditemani suara jangkrik dari pematang sawah.

Namun, bagi mereka, itu sudah lebih dari cukup.

Rangga menarik napas panjang.

Seketika wajah jahilnya lenyap. Bocah itu benar-benar tenggelam ke dalam peran yang akan dimainkannya.

Dengan langkah pelan dan kedua tangan yang bergerak gemulai, ia mulai mengitari Mahadewa yang masih duduk bermeditasi.

"Wahai Mahadewa..." serunya lantang. "Mengapa Engkau terus memejamkan mata? Tidakkah Engkau mendengar kerinduan Dewi Sati yang menantikan kehadiran-Mu?"

Suara Rangga menggema di pelataran yang lengang.

Ia kembali melangkah memutar, sesekali mengangkat tangan seperti seorang ksatria yang sedang berbicara kepada dewanya.

"Bangunlah, Mahadewa! Temuilah Dewi Sati yang mencintai-Mu dengan sepenuh hati!"

Anak-anak yang menonton mulai saling pandang. Beberapa di antara mereka menahan tawa, bukan karena mengejek, melainkan kagum melihat kesungguhan Rangga memainkan perannya.

Mas Trio pun tak kalah totalitas. Sejak duduk bersila, tubuhnya nyaris tak bergerak sedikit pun. Bahkan kelopak matanya tetap terpejam rapat, seolah benar-benar sedang bertapa.

Melihat itu, Rangga semakin bersemangat.

Baginya, malam padang bulan di Desa Samudra telah berubah menjadi sebuah panggung kerajaan kahyangan.

Perlahan, Denia melangkah memasuki lingkaran permainan. Kain tapih yang melilit di pinggangnya bergoyang pelan mengikuti langkah kaki mungilnya. Meski wajahnya tampak malu-malu, ia berusaha mengingat setiap dialog yang sejak tadi didengarkan dari Rangga.

Rangga menoleh.

Sesaat, ia benar-benar lupa bahwa yang berdiri di hadapannya hanyalah Denia, teman bermainnya sejak kecil. Dalam benaknya, gadis itu telah berubah menjadi Dewi Ratih yang anggun.

Denia berhenti beberapa langkah di sampingnya, lalu membungkukkan badan sedikit.

"Wahai junjunganku, Tuanku Kamajaya," ucapnya lirih, "janganlah Tuanku mengganggu meditasi Mahadewa. Hamba khawatir Mahadewa murka dan menjatuhkan hukuman kepada Tuanku."

Nada suaranya memang masih terdengar canggung. Namun, justru kepolosan itulah yang membuat semua anak terdiam sejenak.

Rangga ikut terdiam.

Jantungnya kembali berdebar tidak karuan.

Ia nyaris lupa menarik napas.

Untung saja, naskah lakon yang sudah dihafalnya sejak siang masih tersimpan rapi di dalam kepalanya.

Dengan dada dibusungkan, ia kembali memasuki perannya.

"Wahai Ratih," katanya penuh keyakinan, "semua ini kulakukan demi menghormati cinta Dewi Sati yang begitu suci kepada Mahadewa. Bila memang harus, akan kulepaskan panah asmara untuk membangunkan beliau."

Denia menggeleng pelan.

"Jangan, Tuanku. Mahadewa sedang bertapa. Bila beliau murka, bencana akan datang. Lautan bisa mendidih, gunung berguncang, bahkan langit dan bumi dapat porak-poranda."

Beberapa anak saling berpandangan sambil menahan senyum. Kalimat-kalimat itu terdengar begitu megah keluar dari mulut bocah-bocah desa yang sehari-harinya lebih akrab dengan sawah dan sungai.

Namun, Rangga sama sekali tidak menganggapnya lucu.

Baginya, malam itu adalah pertunjukan yang sesungguhnya.

"Tidak, Ratih!" sahutnya mantap. "Apa pun risikonya, Mahadewa harus dibangunkan."

Usai mengucapkan kalimat itu, Rangga mundur beberapa langkah.

Ia berjalan ke arah pohon jambu di tepi pelataran, lalu membungkuk mengambil sesuatu yang sejak tadi disembunyikannya di balik rerumputan.

Sebuah busur kayu kecil.

Lengkap dengan sebatang anak panah yang ujungnya telah dibuat tumpul.

Anak-anak yang melihatnya spontan berseru.

"Lho... kon nggawe kuwi kapan?"

"Heh... tenan nggawa panah!"

Rangga hanya tersenyum tipis.

Tanpa banyak bicara, ia menggenggam busur itu erat-erat. Jemarinya menarik tali busur perlahan hingga menegang, sementara ujung anak panah mengarah lurus ke dada Mahadewa yang masih duduk bersila tanpa bergerak sedikit pun.

Mas Trio benar-benar menghayati perannya. Sejak awal duduk, ia tetap memejamkan mata, seolah tak menyadari bahwa dirinya kini sedang dibidik.

Suasana pelataran mendadak sunyi.

Tak ada lagi tawa.

Semua anak menunggu apa yang akan terjadi berikutnya.

Saat itulah Denia melangkah cepat.

"Tuanku Kamajaya... jangan."

Dengan ragu-ragu, kedua tangan mungilnya menyentuh lengan Rangga yang masih menahan busur.

Sentuhan itu begitu ringan.

Namun, bagi Rangga, rasanya seperti aliran listrik yang menjalar dari ujung jari hingga ke seluruh tubuhnya.

Ia membeku.

Mulutnya terbuka pelan.

"Tidak, Den..."

Kalimat itu menggantung.

Otaknya yang sejak tadi lancar menghafal setiap dialog mendadak kosong.

Semua kata yang telah disusunnya sejak siang tadi lenyap begitu saja, hanya karena satu sentuhan tak terduga dari gadis yang diam-diam memenuhi ruang kecil di hatinya.

Di bawah cahaya bulan purnama, lakon Wayang Wong itu mungkin hanya sebuah permainan bagi anak-anak yang lain. Namun bagi Rangga, malam itu adalah awal dari sebuah perasaan yang kelak akan tumbuh jauh melampaui usia mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!