Blurb :
Seorang dokter muda, tanpa sengaja bertemu dengan gadis SMA.
Gadis tanpa orang tua itu diam-diam mengidap satu gejala penyakit yang berbahaya jika terlambat ditanganinya.
Mereka kembali dipertemukan sebagai pemilik dan penyewa rumah yang akhirnya terpaksa harus tinggal bersama.
Bukan hanya cerita tentang Dokter dan pasien-nya, melainkan ada kisah cinta di antara dua manusia yang berbeda usia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Teman VS Calon Kaka Ipar
"Bukan merayakan, lebih tepatnya 'mengingat' supaya kamu tidak lupa lagi dengan umur kamu."
Apa dia selalu sebaik ini pada semua pasiennya? Kalo setiap pasien wanita jatuh cinta padanya karena selalu diperlakukan sebaik ini, gimana? Shasha bermonolog dalam hatinya.
Diam-diam gadis itu menatap lelaki yang tengah mengemudi di sampingnya. Karena kelelahan, Shasha tertidur di dalam
mobil. Luthfi menyelimuti tubuh kecil itu dengan jaket miliknya. Melihatnya tertidur pulas, Luthfie tak tega membangunkannya.
Mereka tiba di sebuah rumah yang dituju sesuai alamat tempat tinggal Zidan. Namun, Shasha masih sangat lelap dengan tidurnya meski udara mulai terasa panas.
Seperti biasa, tidurnya selalu pulas. Gak papa, itu bagus. Sementara dia tidur aku bisa leluasa ngobrol sama Zidan.
Luthfie membuka pintu mobil dan menutupnya dengan pelan supaya tidak menimbulkan suara yang akan membangunkan Shasha. Di depan pintu dia sudah disambut hangat oleh sahabatnya yang sudah begitu lama tidak berjumpa. Merekapun langsung berpelukan melepas kerinduan.
"Bro... ini beneran lho?" Zidan menatap Luthfie dari kepala hingga ujung kaki. "Lo masih tetep aja ya kaya dulu, ga ada yang berubah sama sekali," ucap Zidan sambil menekan bahu Luthfie dengan kepalan tangannya.
"Beneran gak nyangka gue bisa ketemu lo lagi."
"Lo mau bilang kalau gue masih tetep keren kaya dulu kan, Dan? Malah gue lebih kharismatik sekarang," candanya sambil menepuk kedua telapak tangan lalu mengusap rambutnya yang sedikit berantakan.
"Iya bener, gue akui gue gak bisa bersaing lagi sama lo, Fie... gue ngaku kalah sekarang."
"Baru kali ini, gue denger lo ngaku kalah."
"Hahaha...."
"Ohh ya, kenalin nih istri gue, Fie, namanya Anita." Sambil menunjuk pada wanita di sebelahnya yang sedari tadi berdiri sambil tersenyum.
"Sayang, ini Luthfie temen aa yang dulu sering aa ceritain." Mereka pun jabat tangan dan saling menyapa.
"Wahh... lo mah kebangetan ya, nikah gak ngasih tau gue."
"Gimana mau ngasih tau, waktu itu kita lose contact. Lo ngilang gitu aja, gue bingung nyari lo ke mana." Zidan menghela napas. "Sebenarnya, lo ke mana? Setiap gue datang ke rumah lo, di sana selalu kosong. Tetangga kita yang dulu, gak ada yang tau juga keberadaan lo." Zidan sangat menunggu jawaban Luthfie, tetapi sahabatnya itu hanya terdiam seraya tersenyum tipis.
"Tapi sekarang gue sudah ada di sini. Gue gak ngilang, kok."
"Iya, tapi gimana kabar lo? Dah merit apa belom, hahh? Pasti istri lo cantik dan baik. Fans lo kan, dari dulu banyak banget."
Zidan mengalihkan pandangan pada istrinya. "Tau gak Sayang, bocah kecil-kecil sampai Emak-emak, bisa tergila-gila kalau liat dia."
"Ahahaha!" Luthfie tertawa keras tapi sedetik kemudian menutup mulutnya dan menurunkan nada suaranya.
"Sstt... gue rencananya hari ini baru mau ngelamar cewek," bisiknya.
"Wahh... berita bagus Fie, gue doain semoga lamaran lo diterima, dan acaranya berjalan lancar ya, Bro." Zidan kembali menepuk pundak Luthfie. Dia dukung sepenuhnya niat baik sahabatnya itu.
"Ehmm... tapi... gue gak tau bakalan diterima apa enggak." Dia mengusap usap tengkuknya sendiri, sambil menatap ragu ke arah Zidan dan istrinya secara bergantian.
"Hahaha! Memangnya ada cewe yang berani nolak lo fie? Dari dulu kan mereka gak pernah lelah gejar-ngejar lo. By the way siapa cewe beruntung itu? Biar gue bantu meyakinkan dia."
"Beneran lo, mau bantu gue?"
"Ya benerlah, dulu kan lo yang suka bantu gue, sekarang giliran gue yang bantu lo," jawab Zidan sungguh-sungguh.
Lalu Luthfie melirik ke dalam mobil sambil menunjuk ke arah Shasha yang sedang tertidur lelap di sana.
"Noh... tuh dia orangnya yang mau gue lamar," ucapnya ragu-ragu sambil memperhatikan wajah Zidan yang tiba-tiba berubah seperti yang dikhawatirkannya.
"Arrghh... sialan lo! Gue kira serius!"
"Emang gue serius," tegas Luthfie yakin.
"Dia kan Ade gue. Gue tarik kembali ucapan gue. Tau gitu, kan gue gak sembarangan ngomong tadi."
"Woyy! Lo mah gitu. Pria sejati itu kan harus bisa dipegang ucapannya bukan malah menarik ucapannya. Masa gitu aja gak bisa menepati janji?" ejeknya.
"Emangnya lo udah gak laku, ya, Fie? Di mana cewe-cewek yang antre menunggu kepastian dari lo itu, Fie?"
"Sembarang ngatain gue gak laku!" sanggahnya. "Eh! By the way itu Ade lo gak mau lo pindahin ke dalem apa? Atau mau minta bantuan gue aja, biar gue yang gendong ke rumah?"
"Akkkhhh...! Kagak ada! Minggir! Mana boleh Lo gendong dia, bukan mahrom tau?!" ucap Zidan sambil membuka pintu mobil di halaman rumahnya.
Gak tau aja dia mah, kalo cuma gendong gue udah sering, kali. Kalo dia tau kayaknya kepala gue bakalan digorok sampe putus, batin Luthfie seraya bergidik menyentuh lehernya.
Sorry, sorry ya, Bro, gue kan terpaksa melakukannya hehe...
"Ya udah cepet lo pindahin dia ke dalam. Dia gak boleh lama-lama di luar tar kedinginan, alerginya bisa kambuh."
"Ah, so tau lo! Sejak kapan dia punya alergi kaya gitu?"
"Lo dengerin aja kata gue, abis salat Ashar, gue mw ngomong banyak sama lo, Dan."
"Ya udah sana kalo mau salat di dalem aja. Masjid juga deket, tuh!" Zidan nunjuk masjid yang berjarak beberapa ratus meter dari rumahnya.
"Kok, dia jadi ketus gitu ya sama gue? Padahal tadi ngomongnya, baiiikk banget. Bilang gue, keren, baik, mau bantu gue juga katanya. Tuh, malaikat saksinya," sindir Luthfie pelan, tapi masih terdengar jelas di telinga Zidan yang tiba-tiba mengacungkan kakinya karena ingin memberi tendangan dari jauh.
BERSAMBUNG.