NovelToon NovelToon
THE KILLER Series

THE KILLER Series

Status: tamat
Genre:Action / Misteri / Balas Dendam / Pembunuhan / Kebangkitan pecundang / Mata-mata/Agen / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Tamat
Popularitas:757.5k
Nilai: 4.6
Nama Author: PimCherry

Aaron Bradley, seorang pekerja konstruksi di Kota New York, mendapati keluarganya tewas terbunuh saat ia kembali bekerja. Tidak hanya sampai di situ, ia juga tertangkap tangan sedang memegang sebuah pistol yang menjadi senjata pembunuhnya.

Ia harus membuktikan dirinya tidak bersalah dengan mencari pembunuh sebenarnya. Selain itu, dendam di hatinya yang begitu besar membawanya pada liku liku kejahatan di Kota New York. Kehidupannya yang bahagia berubah 180 derajat karena ia sudah kehilangan semuanya.

Apakah ia bisa menemukan pembunuh sebenarnya? Hanya waktu yang akan menjawabnya.

Kisah ini mengandung sedikit adegan kekerasan dan juga action.

Salam,
PimCherry

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PimCherry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EDWARD YANG MEMINTAKU

Aaron bangun pagi sekali. Ini adalah hari yang baru baginya. Kembali bekerja di MonPro adalah hal yang sangat diinginkannya. Bukan karena ia bisa mendapatkan taraf hidup yang lebih baik, tapi semata mata untuk menemukan semua hal yang berhubungan dengan pembunuhan keluarganya, seperti apa yang ia ketahui dari David.

Mengenakan pakaian kerja yang baru saja dibelikan oleh Elbert, ia berdiri di depan cermin. Memandangi dirinya dari atas ke bawah. Ingatan masa lalunya kembali, saat istrinya memakaikan dasi untuknya dan mengecupnya saat ia akan berangkat bekerja.

Ini adalah awal. Ayo Aaron! Kamu pasti bisa!

Di kediaman keluarga Isabella Collins,

"Ed," panggil Bella sambil mengetuk pintu kamar Edward.

Tak mendengar jawaban dari dalam, Bella akhirnya membuka pintu kamar Edward. Wanita tersebut melihat Edward masih terlelap di atas tempat tidur ukuran King size yang didominasi warna abu abu muda.

Bella mendekati Edward. Ia bisa melihat kelelahan pada wajah putranya.

"Ed," panggil Bella lagi sambil sedikit menggoyangkan tubuh Edward.

"Mom, aku masih mengantuk," ucap Edward.

"Apa kamu tidak akan ke kantor?"

"Aku pergi, Mom. Tapi mungkin agak terlambat sedikit."

"Apa Mommy telepon Gina saja ya, supaya membawakan pekerjaanmu ke rumah."

"Tidak perlu, Mom. Aku sudah menemukan seorang asisten pribadi. Ia akan membantuku."

"Baguslah. Ya sudah, kamu istirahat sebentar lagi. Mommy akan kembali membangunkanmu nanti."

"Terima kasih, Mom."

Bella keluar dari kamar Edward. Bella merasa kasihan dengan putranya itu, ia merasa anaknya hanya dimanfaatkan oleh mantan suaminya untuk kehidupan mereka.

*****

Aaron berjalan masuk ke dalam gedung MonPro. Beberapa pegawai yang mengenali Aaron merasa heran melihatnya.

"Ar!" sapa Regina dari arah belakang.

"Gin," balas Aaron.

"Aku senang sekali bisa bertemu kembali denganmu. Bagaimana kehidupanmu? Apa kabar Mia?"

"Mia sudah meninggal," jawab Aaron.

"Meninggal? kapan? Apa dia sakit?" Regina penasaran, apa yang sebenarnya telah terjadi.

"Maaf Gin. Aku tidak bisa menceritakannya sekarang."

"Maafkan aku, Aaron. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Aku hanya penasaran," ucap Regina sedikit menyesal.

"Tidak apa, Gin. Aku hanya belum bisa bercerita padamu."

"Kalau begitu kita naik sekarang saja, Ar. Tuan Edward biasa belum datang," ajak Regina menuju lift ke lantai khusus CEO.

Sementara itu seseorang memperhatikan kedatangan Aaron sejak tadi. Matanya tak berhenti melihat ke arah Aaron yang sedang berbincang dengan Regina.

Dia ada di sini? Sebaiknya aku juga mengambil langkah baru.

*****

"Pete, sebaiknya kamu mengurungkan niatmu itu," pinta Elbert.

"Aku tak mungkin terus menyusahkanmu di sini. Aku juga punya kehidupan sendiri. Aunty Klara juga pasti lelah kalau anaknya tiba tiba saja berubah menjadi 3," ucap Peter sambil tersenyum.

"Aunty tidak lelah, Pete. Aunty malah senang rumah ini menjadi ramai. Kalau saja putra Aunty yang hanya satu satunya ini mau menikah, Aunty pasti tidak akan kesepian," Klara yang baru saja datang dari arah dapur ikut menimpali.

"Aunty tinggal paksa saja dia. Biasa kan dia suka memaksa para saksi ataupun klien kliennya untuk menceritakan apapun. Sekarang sebaiknya Aunty yang memaksa dia."

"Peter!! Kamu jangan memberikan ide pada Mommyku," gerutu Elbert.

"Apa kamu tidak ingin memikirkan ulang keputusanmu itu, Pete?" tanya Klara.

"Maaf, Aunty. Aku rasa aku harus kembali ke rumah, tapi aku berjanji akan sering sering datang kemari untuk menjenguk Aunty."

"Baiklah. Aunty tidak akan memaksamu, tapi Aunty ingatkan satu hal, jaga dirimu baik baik. Kamu tinggal seorang diri, jika terjadi atau butuh apa apa, segera hubungi kami."

"Aku tidak akan sendiri, Aunty. Aaron akan tinggal bersamaku."

"Apa?! Aaron juga akan ikut bersamamu?" tanya Elbert.

"Ya, kami sudah memutuskan untuk tinggal bersama."

"Ahh, kalian berdua sengaja ingin meninggalkanku ya?" Elbert kembali menggerutu, "Mom, kalau begitu sebaiknya aku berangkat kerja saja. Aku jadi kesal karena mereka meninggalkanku."

Elbert meraih tas kerjanya dan mulai melangkah. Peter pun akhirnya mengejarnya, "El, tunggu! Aku nebeng."

*****

"Aaron, Gina, silakan duduk."

Aaron sudah berada di ruangan Edward bersama juga dengan Regina. Mereka mengadakan meeting kecil setelah kedatangan Edward yang sedikit terlambat dari hari biasanya.

"Kalian sudah saling mengenal bukan?" tanya Edward dan dijawab dengan anggukan dari keduanya.

"Aku di sini sebagai CEO sementara, mengharapkan bantuan dari kalian untuk membantuku menyelesaikan segala pekerjaan yang semakin lama semakin menumpuk. Apalagi belakangan ini para investor mulai bertanya tanya tentang penjualan dan nilai saham yang semakin menurun.

Gin, kamu bekerja seperti biasa. Tapi untuk sementara aku memintamu membantu Aaron untuk melihat situasi kantor belakangan ini, dan Aaron, aku berharap kamu bisa membantuku memeriksa semua laporan keuangan perusahaan. Aku sangat membutuhkan keahlianmu itu."

Setelah perbincangan singkat mereka, Edward kembali ke mejanya. Sementara Aaron keluar ruangan bersama Regina.

"Gin, apa MonPro sedang dalam keadaan bahaya?" tanya Aaron.

"Aku tidak terlalu tahu persis. Tapi aku bisa melihat Tuan Edward begitu sibuk setiap hari. Kamu bisa lihat tumpukan di atas mejaku ini? Aku harus memeriksa semua proposal itu sebelum nantinya para investor akan kembali mengadakan meeting," Regina mulai menghela nafasnya.

"Sebaiknya aku mulai dari mana," tanya Aaron.

"Sebaiknya aku akan mengajakmu berkeliling dan mengenalkanmu sebagai asisten pribadi Tuan Edward. Meskipun sudah ada dari mereka yang mengenalmu, tapi kali ini kamu adalah tangan kanan Tuan Edward."

"Apa kita perlu melakukan itu?"

"Tentu saja! Tuan Edward yang memintaku melakukan itu," ucap Regina.

Tuan Edward? untuk apa?

*****

LIKE, COMMENT, FAVOURITE, BINTANG 5, VOTE.

luph u all readers,

PimCherry

1
kim y/n
luar biasa
aas
woooh bener doong.. 🤭
aas
ya ampun ternyata Regina dong yg bunuh Mia 😡
aas
iya berarti ini anaknya Pierre hiiih
aas
waaah berarti ini nih anaknya Mikayla nih yg mau balas dendam
aas
Regina ada apa2 nih. jd mamanya Edward takut
aas
seru nih bkin kristik begini 🤭
aas
waaah si Luis juga nih yg mau bunuh ibunya Edward
aas
baik banget si Elbert ini ❤️
aas
hidiiih ibu anak jahat, pengen enaknya doang
aas
iiih jahat banget iya ini si Andrew 😡
aas
Andrew?? 🤔
aas
eeeh si Luis 😱
Rifa
Kecewa
Rifa
Buruk
Luzi Refra
Luar biasa
Luzi Refra
jangan2 Sarah ??🤔🤔
Dewilakstri Astini
Luar biasa
Note 2
apakah itu dean
Note 2
akhire koit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!