Echa dan teman-temannya harus kembali terlibat dengan pembantaian ilmu hitam yang merajalela dan semakin memiliki kekuatan besar.
Takdir selalu saja menuntun Echa dan teman-temannya untuk memusnahkan ilmu hitam, namun bagi mereka ilmu hitam itu sudah seperti akar pohon, meskipun pohonnya di tebang tapi akarnya masih tertanam didalam tanah.
Semakin hari teror semakin mengintai mereka. Datang dari seorang wanita misterius yang kembali bangkit dari masalalunya, dia ingin membalaskan dendam atas perbuatan Echa dan teman-temannya di masalalu.
"Mereka harus merasakan apa yang aku rasakan. Terutama rasa sakit."
Dendam, kecewa, sakit hati, amarah yang ada di dalam hati wanita misterius itu tidak pernah padam. Bahkan, tujuannya hanyalah satu.
"Aku hanya ingin melihat mereka.. Mati."
Akankah Echa dan teman-temannya berhasil mengungkap siapa akar dari teror yang mengintainya selama ini atau bahkan mereka yang akan mati penasaran?
On IG: @ry_riuu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
|25| MANIPULASI
Saat ini Echa sedang berada di apartemen Hanin bersama dengan Devan.
"Gimana Ca? Udah baikan?" Tanya Devan yang duduk di samping Echa.
"Udah." Jawab Echa.
"Syukur kalau udah baik.," Ucap Devan.
Keadaan Hanin sudah membaik, dia hanya mendapatkan luka di bagian pelipis dan tangannya karena terbentur di pegangan pintu.
"Tadi liat ke apartemen siapa aja?" Tanya Echa.
"Baru ke apartemen Vivi." Jawab Devan.
"Gimana keadaanya? Udah baik?" Tanya Echa.
"Dia lagi tidur pas Devan datang, jadi gak liat gimana keadaanya tapi kata Azka udah baik." Jawab Devan.
"Wih seru nih, lagi bahas apa?" Tanya Hanin tiba-tiba yang baru selesai mandi dengan baju yang sudah melekat di tubuhnya.
"Biasa lagi bahas masa depan." Jawab Devan.
"Apaan si Dev." Ucap Echa yang mendengar penuturan dari Devan.
"Bisa-bisanya bilang gitu, kalau ada Kak Bara udah habis sekarang juga." Ujar Hanin.
"Iya, makannya sekarang lagi gak ada Bara jadi bisa leluasa." Ucap Devan sambil tersenyum genit.
"Kak Nathan kemana Nin?" Tanya Echa.
"Gak tau, tiba-tiba ilang gitu aja." Jawab Hanin.
"Hanin udah liat siapa aja?" Tanya Devan.
"Belum, Hanin baru bangun dari tempat tidur jadi belum sempet liat yang lain." Jawab Hanin yang sedang meminum air putih.
"Btw, Hanin tau kejadian kemarin ulah siapa?" Tanya Echa tiba-tiba.
"Gak tau tapi Hanin ngerasa kalau kejadian kemarin ada kaitannya sama pegawai di apartemen ini." Jawab Hanin.
"Really?" Tanya Devan tidak percaya.
"Iya, Hanin kayak dapet sedikit gambaran dari sosok itu lewat matanya." Jawab Hanin yang kini duduk di sofa.
"Kak Bara tau pelakunya." Ucap Echa dengan suara pelan.
"Siapa?" Tanya Devan dan Hanin kompak.
"Hans." Jawab Echa.
DUGH.. DUGH.. DUGH..
Saat Hanin ingin melontarkan pertanyaannya, tiba-tiba saja ada suara dari atap apartemen milik Hanin.
Semua yang berada di apartemen itu langsung menatap satu sama lain, seolah mengisyaratkan bahwa sosok yang mereka bicarakan tidak menyukai tuannya di ganggu.
DUGH.. DUGH.. DUGH...
Suara itu semakin keras dan semakin kencang di atap apartemen, Hanin mengisyaratkan kepada Echa dan Devan agar segera pergi dari apartemen miliknya ini.
Padahal ini masih pagi hari tapi kenapa sosok mengerikan itu bisa muncul kapan saja dan dimana saja.
"Kita pergi dulu dari sini." Ucap Hanin dengan suara pelan. Echa dan Devan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kemana?" Tanya Echa.
"Ke apartemen Azka aja." Jawab Devan.
Mereka bertiga keluar dari apartemen Hanin, melangkahkan kakinya menuju kearah apartemen Azka yang lumayan jauh.
Namun saat di dekat apartemen nomor 33 Hanin, Devan dan Echa mendengar ada suara tangisan seseorang.
Tangisan itu terdengar begitu pilu, seperti suara tangisan dari Tania.
"Tania?" Tanya Hanin yang mendengar suara tangisan itu persis seperti tangisan Tania yang pernah dia dengar sebelumnya.
"Hush, Tania udah gak ada." Jawab Devan yang mendengar nama Tania.
Hanin yang menyadari itu langsung menatap kearah Echa yang juga sama kaget seperti dirinya.
Suara tangisan itu terdengar semakin pilu dan jauh, katanya. Ketika suara semakin jauh itu artinya mereka ada di sekitar kita.
Echa melihat sekeliling lorong apartemen, dia sama sekali tidak melihat keberadaan Tania.
"Aaaaa!!" Teriak Echa saat melihat kearah belakang Hanin, dia melihat Tania yang sedang menjinjing kepalanya dengan tubuh hancur dan tangan yang hilang satu.
Echa yang melihat itu langsung memeluk Devan, menyembunyikan ketakutannya di pelukan Devan, sedangkan Devan yang mendapat perlakuan tiba-tiba seperti itu langsung menenangkan Echa.
"Kenapa Ca?" Tanya Hanin.
"Caca takut. Tania ada disini." Jawab Echa yang masih memeluk Devan dengan erat.
Hanin yang mendapat perkataan seperti itu langsung menatap kearah Devan yang sedang mengelus punggung Echa.
"Dia emang ada disini." Ucap Devan yang mengerti dengan tatapan Hanin.
Hanin memejamkan matanya untuk merasakan aura dari Tania. Dia merasakan aura itu ada di belakang tubuhnya.
"Tolong aku.." ucap Tania berbisik di telinga Echa.
Sedangkan Echa yang mendapat perkataan seperti itu semakin memeluk Devan dengan erat sambil menggelengkan kepalanya.
"Dimana pun kamu berada, tolong jangan sekarang.." ujar Devan yang merasakan bahwa Tania ada disekitar sini.
"Udah gak ada Ca." Ucap Hanin yang sudah tidak merasakan aura dari Tania.
"Engga, Caca takut." Ujar Echa sambil menggelengkan kepalanya.
"Ayo, cepet pergi dari sini." Ucap Devan sambil membawa Echa untuk pergi dari lorong yang mencekam ini.
Mereka melangkahkan kakinya menuju apartemen Azka, tanpa Echa sadari ada seseorang yang memotret adegan dirinya dengan Devan.
"Mari kita kirim fotonya ke Bara." Ucap orang tersebut.
"Kehancuran hubungan kalian adalah yang aku tunggu." sambung orang itu sambil mengirim foto yang dia baru saja dirinya ambil.
"Mari kita lihat sampai mana hubungan kalian bertahan, jika mereka berdua mengakhiri hubungannya, maka Hans bisa mendapatkan Echa dan aku akan mendapatkan Bara." ucap orang tersebut sambil tersenyum sinis, melihat pesannya sudah dibaca oleh Bara.
...----------------...
Sedangkan kini Echa sudah berada di apartemen Azka dengan tangan yang gemetar karena ketakutan melihat sosok Tania yang begitu hancur.
Di sisi lain dia juga kasihan melihat keadaan Tania tapi di sisi lain dia juga sungguh ketakutan melihat keadaan Tania yang begitu mengerikan.
"Tenang ya." Ucap Hanin yang kini sedang memeluk Echa. Echa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Emangnya kenapa sih?" Tanya Azka yang melihat keadaan Echa.
"Tadi Caca liat Tania." Jawab Hanin.
"Tania? Bukannya udah gak ada ya?" Tanya Azka bingung.
"Iya makannya sampai kayak gini, Caca liat keadaan Tania." Jawab Devan.
"Ngeri juga ya." Ucap Azka.
"Udah ya, jangan terus dipikirin, siapa tau aja itu cuman manipulasi dari seseorang yang mau hancurin keadaan Caca." ucap Hanin sambil mengelus punggung Echa.
"Tapi keliatan nyata," ujar Echa.
"Siapapun bisa menjadi Tania, energi yang ada di apartemen itu belum pulih, mungkin ada sosok lain yang menyerap energi Tania sampai bisa berubah menjadi Tania." ucap Hanin.
"Caca pasti paham mana yang beneran mana yang cuman manipulasi aja." sambung Hanin.
aku udah nungguin loh, mau up kpn? udah mau 2 tahun loh kamu gk up lagi
udh satu thun thor aku nunggu....aku bulak balik pengen tau thorrrr
aku cari" di tik tok tkut ada novel kamu
download aplikadi lain cuma pengen tau tkut ada ketmu sih thorrrr
tpi sma aja berhnti disisni
q tetp menunggu thorrr