Petik pelajaran dari setiap isi cerita
...
1. Kamu hanya mencintai seragamku dan bukan diriku. Dua tahun pernikahan dengan istriku hanya penuh pertikaian, hingga karenanya kamu memintaku memiliki anak dengan dengan seorang gadis anak almarhumah mantan pengasuhmu sejak kecil.
Dengan kacaunya aku menuruti keinginanmu karena aku sayang kamu Bianca. Namun semakin lama, sebagai seorang suami, aku tidak bisa memaafkan kesalahanmu
Tahukah kamu.. keegoisanmu ini membuat cerita baru dalam rumah tangga kita Bianca.
...
Kamu sungguh menghancurkan isi hatiku Bianca.. Pecah dan hancur sampai ke akarnya tapi aku masih mencintaimu hingga kesalahan fatal itu terjadi memporak porandakan rumah tangga kita.
Dan akhirnya aku berkali-kali merasakan kenangan pahit karenamu Bianca hingga sosok itu datang didalam hatiku tanpa sengaja. Dia......... ( by Ghara )
#
2. Dan disisi lain kamu berbeda dengan dia. Dirimu sudah membalikan seluruh duniaku.
Awalnya aku hanya bermain-main, tapi semakin kusadari.. ada rasa berbeda dalam hatiku. Perasaanku pun bukan sekedar permainan.
Nindy bayangan terindah masa laluku. Jujur memang caraku mendapatkan mu adalah sesuatu yang salah. Hanya aku yang tau itu semua di sengaja atau tidak. Hanya kamu.. hanya kamu saja di hati ini. Diajeng Amarilys Sahna . Kamu hidup matiku, sehidup sesurga ku. ( by Bayu )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Kisruh salah paham.
"Ghara dimana?" tanya Wildan pada Frans yang sedang bersantai merokok di samping tower air.
"Mana kutahu?? Bukannya dia sedang melatih dance untuk lomba antar kesatuan?" Frans balik bertanya.
"Nggak ada. Ghara nggak ke kompi sama sekali" jawab Wildan.
"Kemana itu anak?? Itu tugasnya hari ini"
"Coba tanya Bayu..!!" saran Frans.
Saat Wildan baru beberapa langkah berjalan, ia melihat Bayu sedang menggoda Nindy. Wildan pun mengurungkan niatnya. Dengan berat hati ia harus bertanggung jawab untuk melatih dance anggota.
"Nindy pulang sama siapa?" tanya Bayu bermanis muka.
"Sendiri pak" jawab Nindy.
"Jangan panggil saya bapak donk. Anak aja belum punya anak" kata Bayu.
"Kecuali kamu mau jadi ibunya anak-anak saya"
"Apa pak???" mata Nindy langsung membulat tajam.
-_-_-_-_-
"Terima kasih banyak sayangku" Bang Ghara membelai rambut hitam Nada lalu sedikit bergeser dari tubuh istrinya yang sudah terlihat semakin mengembang.
"Maaf kalau Abang bukan tipe suami impianmu. Abang nggak romantis, pemarah, nggak bisa bahagiakan istri......."
Nada menutup bibir Bang Ghara dengan telapak tangannya.
"Nada bahagia jadi istri Abang. Nada juga banyak menuntut dan masih tidak nurut sama Abang"
Bang Ghara mencium bibir Nada.
"Kita masih belajar saling memahami dek..!! Masih dalam satu tahun pernikahan. Banyak kerikil tajam dan jalan berliku yang harus kita lewati. Harus kuat dek.. karena kita hidup bersama bukan untuk satu atau dua hari, tapi selamanya" ucap Bang Ghara.
"Nada ngerti Bang" senyum Nada semakin menghangatkan hati Bang Ghara.
"Kamu istirahat saja di rumah ya dek..!! Abang masih banyak pekerjaan di kantor. Nggak enak sama yang lain" kata Bang Ghara.
"Kenapa tadi malah kabur Bang???" tanya Nada karena tadi sempat cemas karena Bang Ghara mengajaknya pulang.
"Ya buat manjakan istri donk" jawab Bang Ghara mulai bisa menggoda Nada.
"Iihh Abang.. Ya sudah sana cepat berangkat..!!" kata Nada.
-_-_-_-_-_-
"Darimana kamu??" tanya Wildan.
"Nada nggak enak badan" jawab Ghara.
"Kamu atau Nada yang nggak enak badan?" tanya Wildan.
"Kamu itu sungguh keterlaluan. Kamu khan tau aku nggak bisa dance, aku benar-benar seperti patung model di mall, kaku nggak bisa apa-apa" ucap Wildan penuh emosi.
"Kenapa nggak minta tolong Frans?? Dia juga suka dance"
"Laahh.. iya juga ya. Kenapa aku nggak kepikiran" jawab Wildan.
"Aahh kamu ini dasar. Marahnya yang di dulukan" kesal Ghara.
Tak jauh disana Ivan memperhatikan Ghara dengan tatapan kosong. Ia sungguh menyesal pernah menyakiti wanita sebaik Nada.
Ponsel Ivan berdering membuyarkan lamunan pria tersebut. Ia segera menjawab panggilan teleponnya.
"Halo, kenapa dek?" tanya Ivan pada Dea tunangannya.
"Bagaimana pengajuan nikahnya mas?" tanya Dea.
"Nanti taruh berkas disini. Kamu nggak usah khawatir. Kita nggak akan batal nikah" jawab Ivan.
"Terima kasih mas"
"Sama-sama dek" jawab Ivan.
Ternyata hanya sebegitu saja kekuatan cintamu. Hanya karena pangkat Pak Ghara.. kamu cepat sekali berpaling dariku. Ternyata di pikiranmu hanya pangkat saja Nada. Semua wanita berpikir sama. Hanya uang saja yang bisa membuat bahagia.
***
Dua minggu kemudian. Bianca datang di Batalyon saat ada pentas seni dan hiburan antar prajurit. Bianca datang membawa perut besarnya dan mencari Ghara. Saat itu Ghara membantu Nada duduk di lapangan. Bianca kesal sekali karena Ghara begitu perhatian pada Nada. Perutnya sudah kontraksi dari semalam. Ia ingin mendapatkan perhatian dari Ghara terutama harta Ghara.
"Permisi Bu. Ibu mau kemana? Ini acara tertutup para anggota dan keluarga" tanya Praka Ivan menghentikan langkah Bianca yang saat itu datang tidak memakai seragam olahraga istri anggota Batalyon.
"Saya mau bertemu dengan suami saya yang sudah di rebut pelakor" jawab Bianca penuh amarah.
"Maaf Bu, siapa yang ibu maksud?" tanya Praka Ivan.
"Lettu Kanighara yang sedang duduk bersama wanita jalang liarnya itu" jawab Bianca.
"Pak Ghara suami ibu?? Meninggalkan ibu dalam keadaan hamil tua???" tanya Praka Ivan tidak percaya.
Mendengar Ivan punya rasa simpati padanya, Bianca langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik perhatian Ivan.
"Iya, tolong pertemukan saya dengan beliau" pinta Bianca dengan wajah pucat.
"Baik Bu..!!"
Praka Ivan mendatangi Ghara yang sedang berbincang dengan Bayu, Frans dan Wildan. Ia tidak punya rasa takut, hanya kesal saja melihat wajah Lettu Ghara suami Nada belum lagi Nada yang ia tau sebagai perebut suami orang.
"Ijin Dan.. ada wanita bernama Bianca ingin bertemu" laporan Praka Ivan menatap tajam mata Bang Ghara lalu beralih menatap mata Nada.
"Suruh dia pulang..!!" jawab Bang Ghara.
"Tapi Dan.. dia mau melahirkan anak Anda. Apa anda tidak punya hati dan hanya memikirkan wanita yang datang saat anda goyah" kata Ivan.
"Apa maksudmu bilang begitu??" Bang Ghara menatap tajam mata Ivan.
"Cepat sekarang anda temui ibu Bianca dan tinggalkan Nada...!!!" ucap Ivan seolah memerintah.
Bayu yang melihat kejadian itu segera berlari dan memisahkan Ghara dan Ivan sebab ia tau bagaimana watak Ghara kalau sedang marah.
"Heii Ivan.. ada apa ini" tanya Bayu yang sudah diikuti Frans di belakangnya.
"Ijin.. Saya hanya meminta Pak Ghara untuk bertanggung jawab sebab ibu Bianca sudah menunggu di sebelah ruangan Pak Ghara dan sebaiknya Nada lebih tau diri bahwa posisinya sangat tidak sesuai dengan sifatnya dulu" kata Ivan.
Bayu dan Frans menepuk dahinya apalagi mereka sudah melihat tangan Ghara mengepal kuat bersiap melayangkan tonjoknya ke wajah Ivan.
"Tanggung jawab??? Kau tau apa soal rumah tangga saya????? Lalu kau bilang istri saya apa??????" bentak Bang Ghara.
"Wanita ini hanya bermanis manja di depan pak Ghara. Tapi kini saya tau sifat aslinya.. dia merebut pak Ghara dari ibu Bianca. Syukur saya tidak menikahi wanita seperti ini. Wajah cantik saja tidak cukup jika punya akhlak yang tidak baik" ucap Ivan menatap mata Nada penuh peringatan.
Nada terkejut mendengar ucapan Ivan, Ia menangis meremas dadanya. Melihat istrinya menangis, emosi Ghara terpancing karena cemas dengan keadaan Nada terlebih saat ini Nada sedang mengandung buah hatinya.
"Kamu bisa berdebat dengan saya tentang masalah apapun tapi kamu dilarang membuat istri saya menangis" ucap datar Ghara namun terdengar tegas.
"Pak Ghara, tidak baik anda menyiakan istri sendiri sebaik apapun baiknya wanita kedua anda" Ivan bermaksud mengingatkan Bang Ghara.
"Lancang kamu..!!! Jangan asal bicara kalau kamu tidak tau apapun tentang saya..!!!" bentak Bang Ghara lagi.
"Aaaarrgghhhh.. Sakiiiiiit..!!!!!!" Bianca berteriak kesakitan mengalihkan perhatian ketegangan disana.
"Maas Ghara.. tolong aku...!!!"
Disana Nada semakin sesak. Kepalanya terasa berat, matanya berkunang-kunang.
Bang Ghara berjongkok menyangga punggung Nada yang sepertinya tidak sanggup menggerakkan tubuhnya.
"Dek.. kamu kenapa??"
"Pak Ghara, cepat tolong ibu Bianca..!!" kata Ivan dengan cemas.
Ghara yang tidak peduli dengan Bianca membuat Ivan begitu jengkel dan menarik tangan Ghara. Tak sengaja tangan Bang Ghara melepaskan punggung Nada dan istri Ghara itu terkapar begitu saja tanpa reaksi.
.
.
.