NovelToon NovelToon
Dikhianati Keluarga, Dicintai Sang CEO

Dikhianati Keluarga, Dicintai Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Winna Yun

Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab - 15 Wajah Lain Sang Direktur

Di luar gudang, jauh dari jangkauan lampu sebuah kendaraan berhenti.

Pintu terbuka.

Adrian turun.

Tidak ada pengawal yang mengikutinya.

Hanya Raka.

Raka melihat bangunan di depan mereka.

"Direktur, kita belum tahu jumlah mereka."

Adrian tidak menjawab.

"Setidaknya tunggu Unit Delta."

Adrian terus berjalan.

"Direktur."

Langkah Adrian berhenti Ia menoleh perlahan, Wajahnya tenang.

Terlalu tenang.

"Raka."

"Ya?"

"Di dalam sana ada Arunika."

Raka terdiam.

"Dan mereka membuat satu kesalahan."

"Apa?"

Adrian menatap gudang itu.

"Mereka pikir aku datang untuk menyelamatkan Arunika."

Raka tidak berkata apa-apa, Adrian memasukkan kedua tangannya ke saku mantel.

"Aku datang untuk memastikan mereka tidak pernah menyentuhnya lagi."

Dari kejauhan terdengar suara kendaraan lain Unit Delta akhirnya tiba, Raka menerima pesan masuk.

"Direktur."

"Apa?"

"Kami berhasil mengakses kamera internal."

Adrian menoleh.

"Dan?"

Raka melihat layar Wajahnya berubah.

"Arunika masih hidup."

Untuk pertama kalinya malam itu, napas Adrian sedikit lega Namun hanya sesaat.

Karena pada layar terlihat salah satu penculik berdiri tepat di belakang Arunika.

Dan kemudian sebuah suara terdengar melalui sistem komunikasi.

"Adrian."

Adrian berhenti, Suara itu sengaja diperbesar.

"Kami tahu kau ada di luar."

Raka langsung menatap Adrian Suara pria itu kembali terdengar.

"Masuk sendirian."

"Kalau tidak..."

Arunika menatap kamera Matanya melebar.

"Jangan!"

Adrian langsung mengenali suara Arunika, Tangannya mengepal. Namun wajahnya tetap tenang.

"Adrian, jangan datang!"

Pria di belakang Arunika tertawa.

"Kau dengar sendiri."

Adrian mengangkat kepala Untuk beberapa detik, seluruh dunia terasa diam.

Lalu Adrian tersenyum.

Senyum yang membuat Raka justru merasa lebih khawatir daripada ketika Adrian marah.

"Baik."

Adrian melangkah menuju pintu gudang Raka mengejarnya.

"Direktur, tunggu!"

Adrian berhenti tepat di depan pintu Kemudian ia berkata pelan.

"Aku akan masuk."

Raka mengangguk, Tetapi Adrian melanjutkan.

"Dan setelah itu..."

Tatapannya berubah sepenuhnya.

"...tidak akan ada satu pun dari mereka yang keluar dengan kemenangan."

Pintu gudang terbuka perlahan, Di dalam, Arunika mendengar suara langkah kaki.

Satu.

Dua.

Tiga.

Wajahnya langsung berubah.

"Adrian..."

Sementara dari balik bayangan pintu, Adrian akhirnya muncul Namun kali ini Arunika tidak melihat pria yang tadi malam mengaku mencintainya.

Tidak ada kelembutan.

Tidak ada kesabaran.

Tidak ada senyum hangat.

Yang berdiri di sana adalah Adrian yang selama ini hanya dikenal oleh musuh-musuhnya.

Pria yang membuat seluruh dunia bisnis dan jaringan gelap memilih untuk tidak menyentuh sesuatu yang menjadi miliknya.

Tatapan Adrian jatuh kepada Arunika, Kemudian berpindah kepada para penculik.

"Siapa yang menyentuhnya?"

Tidak ada yang menjawab Adrian melangkah maju.

Satu langkah.

Lalu satu lagi.

"Baik."

Senyumnya menghilang.

"Kalau begitu aku akan bertanya dengan cara yang berbeda."

Di belakangnya, pintu gudang tertutup.

BRAK.

Suara pintu gudang yang tertutup menggema ke seluruh ruangan.

Arunika tersentak.

Entah kenapa, suara itu membuat dadanya terasa semakin sesak, Adrian berdiri beberapa meter di depannya.

Diam.

Tidak bergerak.

Namun justru ketenangan itulah yang membuat suasana menjadi jauh lebih menakutkan, Pria yang berdiri di belakang Arunika tertawa kecil.

"Jadi kau benar-benar datang."

Adrian tidak menjawab Tatapannya masih tertuju kepada Arunika, Mata mereka bertemu Untuk sesaat, sesuatu yang sangat tipis melintas di wajah Adrian.

Kekhawatiran.

Hanya sepersekian detik.

Kemudian menghilang.

Arunika menelan ludah.

"Adrian..."

"Diam."

Suaranya rendah.

Bukan bentakan.

Tetapi cukup untuk membuat Arunika terdiam, Adrian mengamati seluruh tubuh Arunika dari kejauhan, memastikan tidak ada luka serius yang terlihat.

Baru setelah itu pandangannya berpindah kepada pria yang berdiri di belakangnya, Udara di dalam gudang seolah berubah.

"Berapa orang?"

Pria itu mengerutkan kening.

"Apa?"

Adrian mengulanginya.

"Berapa orang yang ada di gudang ini?"

Salah satu penculik tertawa.

"Kau pikir kau punya posisi untuk bertanya?"

Adrian menoleh Tatapannya jatuh kepada pria tersebut, Hanya satu tatapan. Tawa itu langsung berhenti. Raka yang berdiri tidak jauh dari pintu memperhatikan dengan saksama.

Ia sudah mengenal Adrian bertahun-tahun Ia tahu bagaimana Adrian ketika marah. Namun malam ini berbeda.

Adrian tidak marah.

Belum.

"Delapan," jawab pria itu akhirnya.

Adrian mengangguk pelan.

"Delapan."

Ia mengangkat pandangan.

"Empat di sisi kiri. Dua di belakang. Satu di dekat pintu keluar."

Beberapa orang langsung saling berpandangan, Adrian melanjutkan.

"Dan satu orang berdiri di belakang Arunika."

Wajah pria yang berada di belakang Arunika berubah.

"Bagaimana kau"

Adrian menatap kamera kecil di sudut gudang.

"Raka."

"Ya, Direktur."

"Matikan seluruh akses keluar."

Raka langsung memahami maksudnya.

"Sudah."

Adrian menatapnya sebentar.

"Bagus."

Pria di belakang Arunika mendadak menarik Arunika sedikit ke belakang.

"Jangan bergerak!"

Arunika terkejut.

Adrian langsung berhenti.

"Kalau kau maju satu langkah lagi, dia akan..."

"Jangan."

Adrian memotongnya Pria itu terdiam, Adrian mengangkat satu tangan.

Bukan menyerah.

Justru sebaliknya.

Ia memberi isyarat kepada Raka agar tidak bergerak Kemudian Adrian berkata pelan.

"Kau salah memahami situasi."

"Apa maksudmu?"

"Kau masih berpikir Arunika adalah alasan aku tidak bergerak."

Pria itu menyeringai.

"Memangnya bukan?"

Adrian menatapnya.

"Arunika adalah alasan aku datang."

Ia berhenti.

"Tapi dia bukan alasan aku takut."

Arunika membeku Jantungnya berdegup semakin cepat, Ada sesuatu dalam suara Adrian yang belum pernah ia dengar sebelumnya.

Dingin.

Mutlak.

Seolah apa pun yang terjadi setelah ini sudah tidak bisa dihentikan.

"Adrian..." suara Arunika bergetar.

Adrian menoleh.

Kali ini tatapannya sedikit melunak.

"Jangan takut."

Dua kata.

Sederhana.

Namun justru membuat mata Arunika terasa panas.

Karena pria yang mengucapkannya terlihat sama sekali tidak seperti Adrian yang selama ini ia kenal, Adrian kembali menatap para penculik.

"Dia tidak ada hubungannya dengan urusan kalian."

Salah satu pria di sisi kiri tertawa.

"Kau datang sendirian ke tempat kami, lalu bicara seolah-olah kau yang berkuasa."

Adrian diam.

Pria itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan mengarahkannya sebagai ancaman, Arunika langsung panik.

"Adrian!"

Dalam sepersekian detik Adrian bergerak.

Cepat.

Terlalu cepat untuk diikuti mata Arunika, Terdengar suara benda jatuh. Pria itu kehilangan keseimbangan dan terdorong mundur.

Sebelum siapa pun sempat bereaksi, Raka sudah bergerak dari belakang.

Dua anggota Unit Delta masuk melalui sisi gudang.

"SEKARANG!"

Suasana langsung pecah Beberapa orang mencoba bergerak. Namun Unit Delta sudah mengepung mereka.

Tidak ada suara tembakan, Tidak ada kekacauan besar, Hanya gerakan cepat dan terukur, Satu demi satu, para penculik dilumpuhkan.

Arunika hanya bisa menatap Adrian berdiri di tengah semuanya.

Tenang.

Sangat tenang.

Seolah seluruh kekacauan itu tidak lebih dari sesuatu yang sudah ia perhitungkan sejak awal, Namun pria yang berdiri di belakang Arunika masih belum menyerah. Ia menarik Arunika menjauh.

"Jangan mendekat!"

Adrian berhenti.

Pria itu mengarahkan ancamannya kembali kepada Arunika.

"Kalian semua mundur!"

Unit Delta langsung menahan posisi, Raka menatap Adrian.

"Direktur."

Adrian tidak menjawab.

Tatapannya tertuju kepada Arunika.

"Arunika."

Arunika menatapnya.

"Jangan lihat dia."

"Apa?"

"Jangan lihat orang di belakangmu."

Arunika mengernyit.

Pria itu langsung menyadari sesuatu.

"Apa yang kau lakukan?"

Adrian tidak menjawab.

"Adrian!"

"Arunika."

Suara Adrian terdengar semakin rendah.

"Percaya padaku."

Arunika membeku.

Kalimat itu.

Nada itu.

Mengingatkannya pada Adrian yang selama ini ia kenal, Pria yang selalu berada di sisinya.

Pria yang selalu mengatakan bahwa ia tidak perlu takut selama Adrian ada.

Arunika perlahan menutup mata Dan pada detik yang sama Adrian bergerak.

Pria di belakang Arunika terkejut, Semuanya terjadi begitu cepat. Adrian menerobos jarak di antara mereka, memisahkan Arunika dari penculik tersebut.

Raka langsung menarik Arunika ke belakang.

"Arunika!"

"Adrian!"

Arunika membuka mata Ia melihat Adrian berdiri di hadapannya. Namun penculik itu sudah jatuh beberapa meter jauhnya.

Adrian tidak mengejarnya, Tidak langsung.

Ia hanya berdiri Kemudian perlahan menoleh.

Tatapan Adrian berubah.

Sangat dingin.

Pria itu berusaha bangkit.

"Kau..."

Adrian berjalan mendekat Langkahnya tidak terburu-buru, Justru itu yang membuat pria tersebut mulai mundur.

"Jangan mendekat."

Adrian terus berjalan.

"Berhenti!"

1
sinnox
50k mana cukup😭
Winna Yun: agak agak miris emang🤭
total 1 replies
sinnox
Bau bau ibu tiri jahat😭
Winna Yun: iya Kaka 😁
total 1 replies
zevy_14
lanjut kk... update... update.. update🤭💪
Winna Yun: siap kakak 😁
total 1 replies
zevy_14
bagus selidiki🤭
Winna Yun: mamang haru ini🤭
total 1 replies
ciber ara
suka banget ceritanya
Winna Yun: terimakasih ka 🤗
total 1 replies
ciber ara
nextt
MPUSSPITA
semangat terus othorrr
Winna Yun: semangat kembali ka🤗
total 1 replies
MPUSSPITA
sedih banget kamu, arunika 😭😭😭
Winna Yun: iya ka ujian nya gak main main😁
total 1 replies
Nnisa
kak aku mampir nih, semangat kak💪💪
Winna Yun: terimakasih ka atas kunjungan nya🤗
total 1 replies
Swan Tiger
halo semangat author🍀🍀🍀
Winna Yun: semangat juga ka🤗
total 1 replies
Lasa Hardianti
kasian bgt nasib arunika, moga aja kena karma tuh keluarganya😌🤣
Winna Yun: sabar na nanti di bayar kontan😁
total 1 replies
helena
kasian banget arunika
helena: thor/Hey//Smile/
total 2 replies
Winna Yun
iya ka emang gak sedikit 😁
Zed Analytical Number Nine
bukan angka yang sedikit
Cilia
Nyesek banget jadi arunika:(
Winna Yun: iya bener ka
total 1 replies
Winna Yun
iya ka beda banget
Putri Ayu/PqxxyZ
beda suasana ya disana
Putri Ayu/PqxxyZ
aku sudah mampir baru awal nih, entar lanjut lagi.. kakak boleh mampir di ceritaku yang "Terjebak Antara Saudara dan Cinta"
Winna Yun: iya ka siap
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
oke cabut... kena usir soalnya
Winna Yun: iya ka🤭 terimakasih sudah berkunjung 🤗
total 1 replies
Putry Chan
aku kasih sedikit saran deskripsi kalimat trlalu panjang, berurutan, bertele-tele ,
kurang penekanan emosi yang mendalam
konflik dan kelanjutan bagus tapi kurang di bedakan
ada beberapa kata yang kurang baku
tidak ada poin unik yang langsung menonjol di awal

Dikhianati oleh orang yang seharusnya melindunginya, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah pembawa sial, diusir ke jalanan, dirampas hak warisnya demi ambisi keluarga—bahkan orang yang dicintainya pun berpaling tanpa belas kasih.

Di titik terendah hidupnya, ia bertemu Kael Adrian: CEO muda yang dingin, berkuasa, ditakuti semua orang, namun satu-satunya yang berdiri teguh di sisinya saat dunia meninggalkannya.

Namun cinta mereka tak mudah. Rahasia kelahiran Arunika yang terungkap perlahan membongkar konspirasi puluhan tahun tersembunyi. Orang yang dulu membuangnya kini kembali mengejarnya—bukan karena menyesal, melainkan demi warisan luar biasa yang tersembunyi dalam darahnya.

Akankah ia bangkit dan membalas setiap tetes air mata serta pengkhianatan itu?

Winna Yun: terimakasih ka sarapan nya🤗 terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!