Yasmin Nayara, seorang gadis dengan albinisme yang membuatnya selalu menjadi sorotan negatif—dari orang-orang yang takut dan menghindar, hingga keluarga pamannya yang memperlakukannya begitu buruk. Bahkan, Yaya dijadikan pelunas hutang untuk dinikahkan dengan seorang juragan kaya yang memiliki banyak istri.
----------
Tak mampu menanggungnya, Yaya kabur di hari pernikahannya dan merantau ke kota dengan bermodalkan nekat.
Namun takdir punya jalan lain. Di hari pertamanya di kota, Yaya hampir diperkosa oleh seorang pria dalam pengaruh obat, yang ternyata adalah Baskara Narendra yang sedang dijebak rekan bisnisnya.
Baskara yang kalap menarik Yaya ke dalam mobilnya untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Namun aksi Baskara itu dipergoki Warga dan dipaksa menikah secara mendadak.
----------
Apa yang akan terjadi pada hubungan tak terduga ini di tengah perbedaan latar belakang dan masa lalu yang menyakitkan? Apa lagi Baskara terkenal dingin dan pemarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenMardhiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bekal
Keesokan paginya, ketika sinar matahari pertama masih bersinar lembut melalui celah tirai jendela apartemen, Yasmin sudah terbangun jauh sebelum alarm Baskara berbunyi. Dengan hati-hati dia turun dari ranjang, menuju kamar mandi untuk cuci muka, lalu melangkah perlahan menuju kamar utama Baskara.
Pintu kamar sedikit terbuka, dan Yasmin melihat sosok Baskara yang masih terbaring tenang di atas tempat tidur. Dia masuk dengan hati-hati, menyegel pintu belakangnya agar cahaya pagi tidak menyilaukan mata sang pria. Di sudut kamar, lemari pakaian sudah terbuka selebar mungkin, dan Yasmin mulai memilih setelan kerja yang akan dikenakan Baskara hari itu. Dia ingat jelas, kemarin malam Baskara menyebutkan akan menghadiri rapat penting dengan klien dari luar kota, oleh karena itu, dia memilih jas warna biru tua yang membuat Baskara terlihat lebih percaya diri, dipadukan dengan kemeja putih bersih dan dasi bergaris halus.
Setelah menyusun pakaian dengan rapi di atas kursi berlengan dekat tempat tidur, Yaya mengambil handuk mandi hangat yang sudah dia panaskan dengan cara digulung di sekitar bathtub berisi air hangat. Dia menaruhnya di ujung ranjang, kemudian menyapu lembut permukaan meja rias yang sedikit berdebu, serta menyusun kembali buku dan dokumen yang tergeletak sembarangan.
Selesai di kamar utama, Yasmin segera bergegas ke dapur yang sudah dia siapkan sejak malam sebelumnya. Kulkas terbuka lebar, dan Yasmin mengambil bahan-bahan yang sudah dipersiapkan: beras merah yang sudah direndam semalaman, daging ayam kampung yang sudah dibersihkan, serta bumbu-bumbu segar seperti jahe, kunyit, bawang merah, dan bawang putih yang sudah dipotong kecil-kecil.
Yasmin menyalakan kompor listrik dengan hati-hati, memasak bubur ayam dengan api kecil agar teksturnya menjadi lembut dan meresap. Sambil menunggu bubur matang, Yaya menggoreng bawang merah hingga kecoklatan keemasan, kemudian menyajikannya di atas piring saji yang sudah diolesi sedikit minyak zaitun agar tidak lengket. Tak lupa juga dia menyiapkan telur mata sapi dengan bagian kuning yang masih sedikit cair, serta potongan buah melon dan pepaya segar yang diatur rapi dalam mangkuk kaca transparan.
Ketika aroma makanan harum mulai menyebar ke seluruh sudut apartemen, suara alarm dari kamar Baskara akhirnya terdengar. Tiga puluh menit kemudian, Baskara keluar dengan setelan baju kerja pilihan Yasmin yang begitu rapih di tubuhnya, rambutnya tertata dengan baik, wajah dengan rahang tegas dan mata tajam begitu tampan Dimata Yasmin.
"Silahkan sarapan, Pak," ucap Yasmin dengan senyum hangat yang menyinari wajahnya, sambil mengundang Baskara untuk duduk di meja makan yang sudah dilapisi alas meja bersih. "Hari ini saya membuat bubur ayam dengan bumbu khas desa saya, semoga rasanya sesuai dengan selera Bapak."
Baskara duduk dengan tenang, melihat piring yang disajikan dengan begitu rapi. Matanya kemudian tertuju pada wadah kotak makan berwarna biru muda yang berada di sudut meja, lengkap dengan tali pengikat yang rapi. Dia menghela napas pelan, kemudian menatap Yasmin dengan tatapan yang sedikit tegas.
"Bekal siapa itu?" Tanyanya dengan nada yang cenderung meninggi.
Dengan senyuman penuh ketulusan Yaya menjawab. "Itu bekal untuk Bapak di kantor."
"Di kantor, semua orang makan di restoran dalam atau memesan makanan dari luar. Jika Saya membawa bekal seperti ini, mereka akan menertawakan seperti anak kecil. Saya adalah pemimpin perusahaan, mau taruh dimana wibawaku jika menenteng bekal."
Yaya langsung menunduk dengan wajah murung atas penolakan Baskara, padahal niatnya baik dan tulus. "Maafkan saya, Pak. Saya tidak bermaksud membuat Bapak merasa tidak nyaman," ucapnya dengan suara yang lembut namun jelas. "Saya hanya tidak ingin Bapak sampai lupa makan. Apa lagi saya sering melihat di TV bahwa pengusaha seperti bapak selalu sibuk dan bisa saja karena kesibukan itu bapak jadi lupa atau telat makan. Kalau harus beli di luar takutnya tidak sehat."
Yaya mengambil wadah kotak makan dan membukanya perlahan, menunjukkan nasi putih hangat yang dibungkus daun pisang, ayam bakar bumbu kecap yang masih beraroma harum, serta lalapan segar dengan sambal matah yang dibuat khusus. "Saya hanya khawatir kesehatan Bapak, Pak. Makanan yang dibuat dengan tangan sendiri pasti lebih bersih dan cocok untuk perut Bapak. Jika memang membuat Bapak tidak nyaman, saya tidak akan mengulanginya lagi lain hari."
Baskara melihat wajah Yaya yang penuh kesungguhan, lalu melihat makanan yang diatur dengan begitu hati-hati di dalam wadah. Ada sesuatu yang membuat hatinya terasa hangat dan tidak bisa berkata apa-apa untuk menolak. Setelah beberapa saat terdiam, dia akhirnya mengangguk perlahan. "Baiklah... kali ini saja. masukkan ke dalam tas kerja Saya agar tidak ada karyawan yang melihatnya."
Yasmin tersenyum lebih lebar, lalu segera menutup wadah dengan rapi dan menyimpannya di dalam tas kerja Baskara yang sudah dia sediakan di kursi dekat pintu. "Tidak usah khawatir, Pak. Saya sudah membungkusnya dengan baik agar tidak mudah terlihat."
Setelah selesai sarapan, Baskara berdiri dan menuju ke rak di dekat pintu, di mana kaos kaki dan sepatu kerjanya sudah terpasang rapi. Dia membungkuk untuk mengambilnya, namun sebelum tangannya menyentuh barang tersebut, Yasmin sudah cepat jongkok di depannya.
"Biarkan saya yang melakukannya, Pak," ucapnya dengan lembut, mengambil sepasang kaos kaki warna hitam dengan hati-hati.