NovelToon NovelToon
The Prince Arrogant

The Prince Arrogant

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Tamat
Popularitas:261k
Nilai: 5
Nama Author: RR Maesa

McLaren Valkiry, terlahir sempurna dengan ketampanan dan kekayaannya juga statusnya sebagai putra dari seorang bangsawan Inggris.

Prinsifnya yang tidak mempercayai pernikahan malah membuatnya terpaksa menikah dengan wanita yang tidak dikenalnya.

Maureen adalah seorang gadis cantik yang terpaksa menikah dengan McLaren karena kejadian yang tidak mengenakkan.

Bagaimana kisah selanjutnya apakah mereka bisa lari dari pernikahan? Atau malah jadi saling jatuh cinta?

Follow IG@rr_maesa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CH-24 Teman apa teman?

Maureen keluar dari mobil yang dibawa Mac. Dia berdiri menatap rumah megah itu. Rumah yang selama ini ditempati suaminya saat di Washington.

Tanpa mengajak Maureen, Mac berjalan melewatinya. Maureen segera mengikuti langkah suaminya. Sikap suaminya selalu seperti itu, tidak ada tanda-tanda perhatian atau apa, cuek saja masuk kedalam rumah, seakan tidak ada orang lagi yang bersamanya.

Dipintu masuk, kepala pelayan sudah menyambutnya.

“Selamat datang,” sapa pria yang sudah berumur itu.

“Mr. Turner, tolong kepada pelayan untuk membawakan koper-koperku,” kata Mac.

“Baik, Sir,” jawab pria yang dipanggil Mr. Turner itu. Pria itu menoleh pada Maureen.

“Ini..”Mac menghela nafas pendek.

“Ini istriku, Maureen,” ucap Mac memperkenalkan Maureen pada Mr. Turner, dengan berat hati.

“Selamat datang, Mrs,”sapa Mr.Turner.

Maureen tersenyum sambil mengangguk  pada Mr.Turner. Dilihatnya suaminya pergi begitu saja. Meskipun dia tahu suaminya memperkenalkannya dengan berat hati, setidaknya sekarang suaminya mau menyebutnya istrinya.

Maureen segera mengikuti Mac masuk ke sebuah ruangan. Diapun ikut masuk keruangan itu, ternyata sebuah ruang kerja.

“Kau mau apa kesini?” tanya Mac dengan ketus, saat akan menutup pintu ternyata Maureen ada didepannya.

“Memangnya aku harus kemana lagi selain mengikuti suamiku?” tanya Maureen, membuat Mac sebal.

“Ini ruang kerja, jangan menggangguku!” kata Mac, dia berjalan menuju meja kerjanya.

“Aku kan tidak tahu kamar kita dimana,” ucap Maureen.

“Tidak ada kamar kita, kau cari saja kamar yang lain. Disini banyak kamar, kau pilih sendiri,” kata Mac.

“Baiklah, aku akan memilih kamarku sendiri,” jawab Maureen.

“Pergi sana, jangan menggangguku,” usir Mac.

“Baiklah, aku tidak akan mengganggumu,” jawab Maureen, diapun keluar dari ruang kerjanya Mac sambil menutup pintunya.

Mac menggremet dalam hati, dia benar-benar pusing, dulu dia bisa bebas kemanapun dia pergi atau apapun yang dia lakukan, sekarang ada wanita itu yang kemanapun dia pergi salalu mengikutinya bagaikan bayang-bayang.

Setelah Maureen pergi, Mac mengerjakan sesuatu di dalam ruang kerjanya berjam-jam. Dia senang berada dia ruang kerja itu, karena tidak perlu bertemu dengan Maureen.

Setidaknya meskipun satu rumah, dia tidak akan sering bertemu dengan Maureen. Di rumah ini banyak sekali kamar jadi dia bisa terlepas dari Maureen, tidak perlu lagi rebutan tempat tidur, fikir Mac.

Terdengar suara ketukan di pintu.

“Ya masuk,” kata Mac.

Pintupun terbuka, ternyata Mr.Turner.

“Sir, sekarang saatnya makan malam,” kata Mr. Turner.

“Apa? Makan malam? Memangnya ini sudah malam?” tanya Mac, agak kebingungan, dia sama sekali tidak memperhatikan diluar jendela yang sudah gelap. Jendela ruang kerjanya itu pun belum ditutup.

“Benar Sir,” jawab Mr. Turner, sambil masuk menuju ke jendela lalu menutupnya.

“Baiklah, aku mandi dulu, kenapa begitu cepat hari sudah malam lagi?” gumam Mac. Diapun  bangun dari kersi kerjanya, keluar dari ruangan itu kemudian menuju kamarnya yang tidak jauh dari ruang kerjanya itu.

Sesampainya di kamarnya, dia terkejut saat melihat ada Maureen yang berbaring ditempat tidurnya dengan selimut menutupi tubuhnya kecuali kepalanya. Gadis itu tidur miring, meringkukkan badannya.

“Hei, hei, kenapa kau tidur di kamarku?” bentak Mac, tidak suka.

“Katamu aku boleh memilih kamar yang kusuka, tentu saja aku memilih kamar suamiku,” jawab Maureen tanpa menoleh.

Mendengarnya membuat Mac kesal.

“Maksudku, kamar yang lain, bukan kamarku, disini banyak kamar,” kata Mac.

“Aku mau disini saja,” jawab Maureen dengan lirih.

“Tidak, tidak, aku tidak mau kalau aku me..” Mac tidak melanjutkan kata-katanya. dia akan mengatakan memelukmu, dia tidak jadi mengatakannya karena belum tentu Maureen tahu kalau malam itu dia memeluknya, itu akan sangat memalukan dan menjatuhkan harga dirinya.

“Ayo pindah! Aku tidak mau sekamar denganmu,” kata Mac.

Maureen tidak menjawab, dia masih berbaring dengan berselimut.

Mac merasa kesal melihat Maureen sama sekali tidak punya keinginan untuk bangun dan pindah dari kamarnya. Diapun berjalan mendekati Maureen dan menepuk kakinya.

“Hei, bangun, pindah ke kamar yang lain!” usir Mac.  Tapi Maureen diam saja.

Mac benar-benar kesal dibuatnya, dia pun membuka selimutnya Maureen dan memegang kakinya. Seketika dia menghentikan gerakannya. Kakinya Mauren terasa sangat panas.

“Kau sakit?” tanyanya.

“Aku hanya sedikit meriang saja,” jawab Maureen dengan lesu, tangannya menarik lagi selimut yang tadi dibuka Mac.

“Badanmu panas, kau bilang meriang saja? Tunggu aku panggilkan Dokter,” kata Mac, dia langsung menekan nomor telpon Dokter keluarganya.

Maureen kembali berselimut.

Mac terus menerus menelpon Dokter keluarganya tapi ternyata tidak juga diangkat. Dia menoleh pada Maureen, lalu berjalan mendekatinya dan memegang kepalanya yang panas, dia tidak tahu harus berbuat apa.

“Kau harus ke Dokter, apa kau bisa bangun?” tanya Mac.

“Tidak usah kedokter, aku istirahat saja, kepalaku hanya pusing,” jawab Maureen.

Mac menatap Maureen yang masih tidur berselimut. Diapun kembali menelpon Dokter keluarganya ternyata masih tidak diangkat juga.

“Kau harus ke Dokter,” ucapnya berdiri menatap Maureen. Gadis itu tidak bicara.

“Apa kau bawa baju tebal? Jaket atau sweater atau mantel, kau bawa?” tanya Mac. Maureen tidak menjawab.

Mac melihat koper Maureen yang sudah ada di kamar itu. Dibukanya lemari pakaiannya, ternyata Maureen sudah menyimpan pakaian Maureen bersama dengan pakaiannya. Mac terdiam sejenak, tidak pernah terbayangkan dia akan melihat  lemari pakaiannya yang berbagi dengan baju-baju perempuan. Diambilnya mantel panjang untuk musim dingin Maureen diantara pakaian yang menggantung.

Diapun kembali ketempat tidur, menyingkapkan selimutnya Maureen.

“Kenapa kau membuka selimutku? Aku kedinginan,” kata Maureen.

Dia akan mengambil lagi selimutnya, tapi Mac menahannya. Dia duduk dipinggir tempat tidur dan memakaikan mantelnya Maureen.

“Pakai ini, kita ke Dokter,” kata Mac.

“Tidak usah, aku pusing aku hanya ingin tidur saja,” ucap Maureen.

Mac melihat wajah Maureen yang memerah.  Dia masih memakaikan mantel itu. Setelah memakaikan mantelnya Maureen, diapun bangun dan kedua tangannya langsung menggendong tubuh Maureen.

“Kau akan membawaku kemana? Aku ingin istirahat, aku janji aku nanti pindah kamar,” ucap Maureen dengan lesu. Dia mengira Mac memaksanya keluar dari kamar itu.  Mac tidak berkata-apa-apa, dia menggendong tubuhnya Maureen keluar dari kamarnya.

“Mr. Turner! Mr. Turner! Siapkan mobil, istriku sakit, bilang pada supir untuk mengantarku ke rumah sakit!” teriak Mac diatas tangga.

Mr.Turner mengangguk dan segera pergi ke balakang. Sementara Mac menuruni tangga rumahnya, supirnya sudah berlari ke teras menyiapkan mobilnya yang terparkir di halaman rumah.

Mac masih menggendong tubuhnya Maureen masuk ke mobilnya. Dia mundudukkan wanita itu di jok belakang. Tadinya dia akan pindah duduk, tapi melihat Maureen yang terlihat lemas, dia tidak jadi pindah, akhirnya dia duduk disamping Maureen dan memeluknya.

“Kita ke rumah sakit,” kata Mac pada supirnya.

“Baik Sir,” jawab supir, tidak berapa lama mobilpun melaju.

Tangan kanan Mac memeluk Maureen, tangan kirinya melakukan panggilan lagi pada Dokter keluarganya, lagi-lagi tidak diangkat, entah kemana Dokter keluarganya itu.

Mac merasakan tubuh Maureen panas. Dia melirik gadis yang ada disampingnya yang sedang dipeluknya itu. Padahal dia berusaha menghindar dari memeluk Maureen saat tidur, kenapa malah sekarang dia memeluknya lagi?

Cukup lama perjalanan menuju rumah sakit, akhirnya mereka sampai juga ke rumah sakit itu.

Mac menuntun Maureen masuk kerumah sakit itu, sedangkan supirnya bicara dengan receptionis. Tidak berapa lama perawat datang membawa Maureen keruang periksa tanpa harus mengantri lagi.

“Pasiennya dibaringkan saja,” kata suara seseorang didalam ruangan itu.

Mac terdiam saat mendengar suara itu. Apa dia tidak salah dengar? Dia sangat mengenal suara itu. Matanya menoleh ke sumber suara yang sedang menghampiri Maureen yang sudah dibaringkan di tempat periksa pasien.

“Pasien kenapa?” tanya Dokter wanita itu. Tidak ada yang menjawab. Dokter wanita itu menoleh kearah yang berdiri tidak jauh darinya, dan dia tertegun saat melihat pria muda yang berdiri menatapnya.

“Mac?” tanyanya, senyum mengembang dibibirnya.

“Sharon? Kau praktek disini?” tanya Mac, agak tergagap, melihat Dokter wanita yang ada di depannya itu.

“Iya, ini rumah sakit kakekku yang sekarang dikelola oleh ibuku,” kata Sharon.

Mac terdiam lagi, bibirnya rasanya tidak bisa bicara lagi.

“Ini pasien kenapa? Siapa dia?” tanya Sharon, sambil memasang stateskopnya untuk memeriksa Maureen.

“Dia..” Mac menghentikan kata-katanya. Sharon memeriksa Maureen dengan teliti, sedangkan Maureen menatap Dokter itu, ternyata suaminya mengenalnya.

“Dia istriku,” jawab Mac, membuat Sharon menghentikan langkahnya sejenak, diapun terdiam, tapi kemudian melanjutkan pemeriksaannya.

“Aku lupa kalau kau sudah menikah sekarang,” kata Sharon.

Mac tidak menjawab. Ruanganpun hening. Sharon masih memeriksa Maureen.

Maureen menatap dokter wanita itu. Siapa Dokter itu? Kenapa Mac mau bicara dengan Dokter itu? Apakah dia temannya Mac? Batin Maureen.

“Aku akan membuatkan resep,” kata Sharon, dia menuju meja prakteknya. Mac segera duduk didepan Sharon.

Maureen bangun dari berbaringnya dibantu oleh perawat. Suaminya tadi begitu khawatir sampai menggendongnya keluar dari kamarnya, tapi sekarang sepertinya suaminya sudah lupa kalau istrinya bersamanya.

Sharon menuliskan resep disebuah kertas. Mac hanya menatap wajah cantiknya Sharon itu.

“Maaf aku tidak hadir dipernikahanmu,” ucap Sharon.

“Kau tinggal disini lagi? Bukankah kau tinggal di LA, ikut dengan tunanganmu?” tanya Mac.

“Tidak, sekarang aku tinggal disini, aku bekerja disini,” jawab Sharon.

Mac tampak kebingungan.

“Apakah..” Belum selesai Mac bertanya, Sharon sudah memotong, dia memberikan kertas resep yang baru di tulisnya.

“Cepat tebus resepnya, biarkan istrimu istirahat, dia hanya kelelahan. Apakah kalian sudah melakukan perjalanan jauh?” tanya Sharon.

Mac akan bicara tapi sudah didahului oleh Sharon.

“Aku lupa, kalian baru pulang dari buan madu ke Swiss,” ucap Sharon.

Mac terdiam, ternyata Sharon mengikuti berita tentang dirinya.

Sharon menatap Mac sambil tersenyum.  Mac masih menatapnya.

“Baiklah,” ucap Mac.

Karena diluar masih banyak yang mengantri, Mac tidak banyak bicara lagi, diapun berdiri.

“Senang bertemu denganmu,” kata Mac, menatap Sharon yang juga berdiri sambil tersenyum.

“Jaga istrimu baik-baik,” ucap Sharon.

Mac hanya mengangguk, lalu menoleh pada Maureen yang sudah turun dari tempat periksa. Mac menghampiri Maureen.

“Kau bisa jalan sendiri?” tanya Mac, membuat Maureen keheranan. Kenapa sekarang dia disuruh jalan sendiri?

Maureen hanya mengangguk, lalu menoleh pada Sharon.

“Terimakasih Dok,” ucapnya. Sharon tersenyum dan mengangguk.

“Dokter Sharon,” ucap Maureen lagi, melihat nama yang tertera di bajunya Sharon. Lagi-lagi Sharon terseyum dan mengangguk.

“Semoga lekas sembuh,” ucap Sharon.

Maureen hanya mengangguk, lalu berjalan keluar ruangan itu. Mac menolah lagi pada Sharon yang kembali duduk ke kursinya. Akhirnya Mac keluar dari ruang prakteknya Dokter Sharon.

Maureen keheranan dengan sikapnya Mac yang kembali diam.

“Terimakasih,” kata Maureen.

“Terimakasih apa?” tanya Mac.

“Sudah membawaku kesini,” jawab Maureen dengan lesu, sebenarnya dia masih pusing, tapi ternyata Mac terlihat tidak peduli lagi padanya, tidak serespect saat dirumah. Kenapa sikapnya langsung berubah? Apakah karena Dokter itu? Sepertinya mereka saling kenal, banyak pertanyaan muncul dalam hati Maureen.

“Kau mengenal Dokter itu?” tanya Maureen.

Mac tidak menjawab.

“Kalian berteman?” tanya Maureen lagi.

“Ya kami berteman,” jawab Mac.

Maureenpun terdiam lagi, meskipun dia penasaran tapi dia tahu pertanyaannya tidak akan dijawab oleh Mac.

Banyak pertanyaan yang mucul dibenaknya Maureen. Sikap tubuhnya Mac sangat berubah saat bertemu dengan Dokter Sharon, yang katanya temannya itu. Mac tidak lagi terlihat pria yang kaku dan kasar, dia bicara dengan nada yang lembut, tidak seperti saat bicara dengan dirinya yang selalu ketus, bahkan Mac mau menatap wajahnya Dokter Sharon.

Maureen juga melihat sikapnya Mac yang sepertinya masih ingin bicara dengan Dokter Sharon, membuat Maureen bertanya-tanya, apa sebenarnya Mac punya hubungan lebih dengan Dokter Sharon?

*****************

1
Ivana Monica
sedih nih sampe skrg ga daa lanjutannya..
dr awal cerita dr ayah n mama max aku bc.. masa skrg ga da lg cerita nya..
Ivana Monica
sedih bnr ga da lanjutan lg
Ivana Monica
kyk nya ga bakal da lanjutan lg ya??? ceritanya jd lupa nih..
ʕ´•ᴥ•`ʔ
masih menunggu kelanjutan mac sama mauren, hampir satu tahun ni menunggu
UTIEE
🌹🌹🌹🌹🌹
ʕ´•ᴥ•`ʔ
sampai sekarang belum jg next 👉 udh menganti tahun bentar lagi juga mau ganti tahun lagi ni author di lanjut yukk tanggung udh setengah jalan gak pulang" dong 📄
ʕ´•ᴥ•`ʔ
lanjut yuk ini bukan lagi bulan tapi tahun sudah berganti tahun loh blm di lanjut ya 😄
Anisjuliana Zakaria
lanjutt thor sayanggg..ngakk rela mac and maureen Gantung teruss😭
Edy Pamuji
aku rindu Mac dan maureen
Nartyana Gunawan
kak kalo yang di lapak sebelah mistery merrid with rich man gimana kak..masih lanjut kan ??
bigstone: sekarang sudah tamat kok kak.silahkan dilanjutkan bacanya 🥰
aku udah baca sampe tamat.kalo sekarang aku nungguin suami ternyata milyarder karya kak RR Maesa di lapak yg sama dg Mystery married with rich man
total 1 replies
Jenk Retno Hany
lanjutannya mana ini
rossydah96
Lnjut thor nulisnya aku suka
Asrika Alexander
kapan up Thor uda lama ditungguin
jennifer
ini mau hiatus sampai brp lama ya thor?? atau udh gak dilanjut lg ya??
Sungai Panjang
thorrrrr.. lama bgt Ampe 5 bulan kita gak ketemu 🥺🥺🥺🥺🥺🥺


makasih ya karya nya... sehat2 disana...


aku padahal penggemar berat 😭bakalan kangen nih
Siti Harum Munthe
gak suka karakter ceweknya
Siti Harum Munthe
dasar suka tuh mauren. kan ada kamar lain. dasar pengen sekamar mac
nur imamah
kenapa harus dipaksa dijodohkan sih...
nia kurniawati
ditunggu up nya ya
<ᴍᴀʀɪᴀ ʜᴀ ɴᴀ>👑 Ha Na maria💣
bln ramadhan udah lama lewat tp kok blm up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!