Setelah mengalami kebutaan selama bertahun-tahun, Samira Hadid justru mendapatkan kembali penglihatannya lewat kecelakaan jatuh yang melukai kepalanya.
Ia kembali melihat dunia yang dulu terasa gelap. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat ia melihat suaminya memeluk wanita lain di dapur rumah mereka.
Terkepung rasa sakit dan kemarahan, Samira memutuskan untuk tetap berpura-pura buta dan mengamati semua permainan licik sang suami.
Lalu, ia mulai memutuskan pembalasan dendam. Ia bertekad untuk mengambil kembali semua yang telah suaminya rebut dan mencari kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
“Dia bukan boneka! Anak kita bukan boneka!” seru Larissa suaranya meninggi, napasnya tersengal dan pipinya mulai basah oleh air matanya. Ia menggenggam tangan Arga sekali lagi, berharap bisa membujuknya.
“Dia anak kita, Sayang. Kumohon hentikan ini, aku benar-benar tidak sanggup melihat anak kita seperti itu,” lirihnya seraya menggeleng pelan sambil berharap Arga akan mendengarkannya sebagai seorang ibu.
“Harus berapa kali kukatakan, Larissa?! Alya sekarang sudah sah menjadi anak angkat Samira!” tegas Arga tajam, sama sekali tak peduli dengan perasaan istrinya. “Ingat posisimu di sini, dan bersikaplah seperti biasanya.”
Larissa berdiri lalu menyeka pipinya dengan kasar. “Aku ibunya, aku adalah orang yang melahirkannya. Apa kau tahu bagaimana perasaanku saat melihatnya memeluk wanita lain dan bukannya aku?”
Arga mendekat, sorot matanya menatap Larissa tajam. “Kau hanya berperan sebagai pembantu di rumah ini. Jangan lupakan hal itu, Larissa.”
Larissa terdiam, air matanya jatuh deras tanpa suara. Meski begitu, suara hatinya berteriak lebih lantang dari apapun.
“Dan ingat satu hal ini baik-baik, Larissa. Jika kau membuat kesalahan sedikitpun,” lanjut Arga rendah, “Semuanya akan hancur. Bukan hanya aku, tapi kau dan juga anak kita.”
Arga kemudian keluar, meninggalkan Larissa dalam ketakutan yang membeku. Ia sama sekali tak tahu, Samira berdiri di balik pintu kamarnya, mendengar sisa-sisa percakapan itu.
Samira sama sekali tidak terkejut mendengar kata-kata kasar yang keluar dari lisan Arga. Samira justru semakin yakin, bahwa ia tidak boleh memberi pria itu pengampunan ataupun maaf.
***
Keesokan paginya, Samira sengaja mengajak Alya sarapan lebih lama. Ia ingin melihat reaksi Larissa lagi untuk mendorongnya lebih jauh. Ia harus menciptakan lebih banyak keretakan antara Arga dan Larissa.
“Kau suka menggambar, ya?” tanyanya lembut pada Alya.
Alya mengangguk pelan. “Aku sangat suka menggambar, Ibu dulu bahkan suka lihat aku menggambar,” jawab Alya jujur.
Samira tersenyum tipis saat mendengar kata Ibu meluncur begitu saja dari lisan kecil Alya. Memang benar bahwa anak-anak akan selalu jujur pada perasaannya sendiri.
Larissa yang sedang menuang teh hampir saja menjatuhkan teko yang dipegangnya. Tangannya gemetar, cemas jika tiba-tiba Alya mengatakan sesuatu tentang dirinya.
Samira tersenyum tipis. “Ibumu pasti bangga sekali dengan anak sepertimu, Nak. Kau anak yang sangat manis,” kata Samira memuji. Sudut matanya melirik Larissa yang terlihat gugup.
Larissa menunduk cepat, tangannya masih bergetar. Terlebih lagi saat Arga melirik Samira tajam, seolah memperingatkan Larissa dalam diam.
Hari-hari berikutnya, Samira mulai memperhatikan detail-detail kecil yang dilakukan Larissa. Ia bahkan diam-diam memotret dan merekam saat-saat di mana Larissa bersama dengan Alya.
Mulai dari cara Larissa selalu tahu makanan kesukaan Alya, cara Alya mencari Larissa ketika takut hingga sikap Arga yang menjaga jarak, seolah takut terlibat secara emosional.
***
Samira berdiri menghadap ke jendela kamarnya, tatapannya tertuju langsung ke taman rumahnya. Ia menghela napas lelah, lalu, tangan kanannya merogoh saku dan mengambil ponsel. Ia menekan beberapa angka, kemudian menempelkan ponselnya ke telinga, menunggu seseorang menjawab panggilan teleponnya.
“Ya, kirimkan laporannya segera kepadaku,” kata Samira pelan lalu menutup panggilan itu. Begitu berbalik, betapa terkejutnya ia mendapati Larissa yang berdiri di ambang pintu kamarnya.
“Larissa,” lirih Samira pelan. Jantungnya berdetak kencang, campuran antara terkejut sekaligus takut.
Larissa menatapnya tanpa berkedip, ia harap ia sudah saah dengar dan melihat. Nampan berisi air minum di tangannya terlihat bergetar. Selama beberapa saat, sorot mata mereka bertemu dalam satu tatapan yang menegangkan sebelum akhirnya Larissa menjatuhkan nampan itu ke lantai.
Suaranya yang nyaring mengundang Arga untuk datang.
“Ada apa ini? Astaga! Kau ceroboh sekali, Larissa. Cepat rapikan semua kekacauan ini,” tegur Arga lalu melihat Samira yang juga berdiri mematung. Tatapannya kemudian berpaling kepada Larissa.
“Larissa! Kenapa kau malah melamun. Apakah terjadi sesuatu?” tanyanya penasaran, untuk sesaat ia menelisik ekspresi Larissa yang seperti baru mengetahui sesuatu rahasia yang besar.
Sementara di tempatnya, ia harap Larissa tidak mengatakan apapun. Karena jika perempuan itu sampai mengatakan yang sebenarnya, maka semuanya akan langsung tamat dan semua rencananya pasti akan gagal.
Kemudian, Larissa menggeleng pelan. Ia langsung berjongkok untuk merapikan pecahan beling di lantai. Namun diam-diam, ia melirik Samira.
“Aku yakin aku tidak salah lihat, dia bisa melihat,” gumamnya pelan, namun tak sepenuhnya yakin.
“Kau baik-baik saja, Sayang?” tanya Arga lembut, memeriksa kondisi Samira yang terlihat terkejut.
Samira tersenyum tipis dan mengangguk pelan. “Aku tidak apa-apa, aku hanya terkejut saja tadi,” sahutnya, menarik napas panjang.
Syukurlah, Larissa tidak mengatakannya. Tapi … tetap saja, aku tidak bisa diam saja. Aku harus segera mengajaknya bicara secara pribadi. Dia tidak boleh mengatakan yang sebenarnya kepada pria kejam ini, batinnya.