Rania seorang gadis manja berusia 18 tahun yang manis dan memiliki wajah cantik dengan rambut hitam panjangnya. Dia baru saja kehilangan cinta pertamanya karena kecelakaan. Semenjak kejadian itu, dirinya berusaha untuk berubah menjadi lebih kuat dan mandiri.
Hardin seorang pria dingin berusia 24 tahun yang sulit dijamah wanita. Pemilik hotel bintang 5 dan juga supermarket besar. Kecintaannya terhadap kue membawanya bertemu si gadis manja yang manis dan menjadikannya kekasih.
Akibat kesalah pahaman, Hardin harus berusaha mendapatkan kembali hati gadis nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbunga bunga
Halloo semua. Semoga kalian suka ya sama novel aku. Ini novel pertamaku dan sengaja ku buat alurnua lambat di awal agar jelas. Jangan lupa like dan komenny ya.
Terima kasih.
Hardin POV
Tepat adzan subuh alarm hp ku pun berbunyi. Aku mengerjapkan mata menyesuaikan cahaya yang remang remang dikamar ku. Ya..aku terbiasa tidur dengan cahaya remang remang agar tidurku nyenyak. Ku regangkan badan yang sedikit kaku. Kemudian aku beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu dan segera shalat subuh.
Selesai shalat aku mengambil hp untuk melihat apa ada pesan masuk atau tidak. Aku tersenyum melihat wallpaper hp ku. Seorang gadis manis yang sedang tersenyum ke arah lain bukan ke arah ku. Poto itu ku ambil diam diam di pertemuan pertama kami saat membahas masalah kerjasama kami.
Yah..ternyata gak ada pesan yang ku tunggu. Mungkin dia belum terbiasa dengan statusnya yang baru sampai tidak mengirim ucapan selamat pagi. Hahaha..entah kenapa aku sangat berharap ucapan selamat pagi dari gadisku itu.
Selesai mengecek hp, aku pun keluar kamar dan masuk ke ruangan gym untuk olahraga sekejap. Aku memilih treadmill sejenak pagi ini karena aku harus ke kantor lebih awal. Setelah 30 menit olahraga, aku pun segera membersihkan diri dan bersiap untuk ke kantor.
Hari ini aku memilih setelan warna navy dengan kemeja warna hitam. Setelah dirasa semua perfect, aku pun turun ke bawah untuk bertemu mama dan juga sarapan.
"Morning mam." sapaku sambil tersenyum dan ku cium pipinya dengan lembut.
"Morning sayang." mama sepertinya menyadari ada perubahan padaku. Karena dia menatap dengan kening yang mengkerut dalam.
"Why mam.? ada yang aneh sama penampilan aku.?" tanyaku sambil menaikkan alisku dan menatapnya dengan sedikit senyum.
"Nothing. Tapi kok mama ngerasa kamu pagi ini ceria sekali. Apa ada yang kamu belum bilang sama mama.?"
"Hahaha..Mama ini tau aja anaknya lagi happy."
"Cerita ke mama sekarang. Mama gak mau dengar jawaban nanti." mama memaksa ku untuk menceritakan hal apa yang membuatku ceria pagi ini.
"Ehmm..Jadii sebenarnyaa anak mama inii..." sengaja ku gantung ucapanku agar mama semakin penasaran.
"Kamu kenapa sayaang. Aduuh jangan buat mama ilang selera makan deh karena penasaran. Cepat cerita!." tegas mama sedikit sewot karena aku menggantung ceritanya.
"Hahaha..sabar dong mama sayang. Galak amat sih sama ank sendiri juga." aku tergelak melihat wajah mama yang ditekuk.
"Hardin!."
"Oke fine. I have girl friend right now. Berkat do'a bunda sekarang aku udah dapetin hatinya." jelas ku sambil tersenyum sangat manis.
"Oh congratulation hon, i'm happy for you too." ucap mama sambil langsung memeluk ku dengan erat. Ah..pelukan seorang ibu yang sangat hangat.
"Kapan mau kamu bawa jumpa sama mama.? Harus secepatnya ya, mama gak mau lama lama." mama kembali memaksa ku dan aku hanya bisa tertawa melihat reaksi mama seperti itu.
"Nanti aku pasti bakal kenali dia ke mama. Nanti aku cari waktu yang pas. Jadi mama masi harus sabar dan penasaran dulu ya. Hahaha." jelasku lagi sambil menggoda mama.
"Hah..okelah. Yang penting kamu harus kenalin dia sama mama secepatnya. Ya sudah kita sarapan dulu. Kamu harus kekantor lebih awal kan.?"
"Iya ma." jawabku dan kemudian kami pun memulai sarapan dengan tenang tanpa berbicara.
Dikantor
Seperti biasa, Hardin berjalan masuk ke hotel dengan gagahnya. Dan dia masih saja jadi perhatian setiap orang yang melihatnya. Dengan tatapan tajamnya dia berjalan tanpa menoleh ke kanan atau kiri. Pandangannya tetap lurus ke depan walaupun setiap karyawan menyapanya, hanya di jawab dengan anggukan tanpa menoleh.
Hardin masuk ke dalam lift khusus direktur utama. Di dalam lift itu hanya ada dirinya sendiri. Saat sedang didalam lift, tiba tiba...
Trintiing
Suara notifikasi di hpnya yang menandakan ada pesan masuk. Dia pun mengambil hp yang ada di kantong celananya dan melihat siapa yang mengirimkan pesan. Seketika wajahnya tersenyum lebar dan perasaannya berbunga bunga begitu tahu siapa yang mengirimkan chat padanya.
Aahh...akhirnya yang ditunggu tunggu pun masuk. Pesan pertama Rania sebagai kekasihnya. Walaupun isi pesan itu biasa saja, tapi Hardin sudah sangat bahagia menerimanya. Dia terus tersenyum dan ketika akan membalas pesan lift pun terbuka menandakan dia sudah sampai di lantai yang di tuju.
Hatdin pun memasukkan kembali hpnya kedalam saku dan memutuskan untuk membalas pesan itu nanti. Dia berjalan menuju ruangannya.
"Selamat pagi pak." ucap si sekretaris seksoy dengan nada yang lembut terkesan menggoda.
Hardin cuek saja. Jangan kan menjawab sapaannya, melirik pun ke arah wanita itu tidak. Karena dia sedari awal sudah tidak suka melihat wanita itu yang dianggapnya kegatelan.
Dih dasar bos sombong. Awas aja lu nanti ya bakal gue bikin klepek klepek sampe berlutut di kaki gue. Geramnya karena du cuekin oleh Hardin.
Begitu masuk kedalam ruangannya, ternyata memang sudah banyak dokumen yang harus diperiksa olehnya. Dan juga ada beberapa berkas yang perlu di tanda tangani olehnya. Sampai akhirnya Hardin lupa untuk membalas pesan sang kekasih karena langsung mengerjakan pekerjaannya.
tok...tok...tok
Harry langsung masuk ke dalam walaupun belum ada perintah masuk dari dalam. Dilihatnya Hardin tengah serius dengan pekerjaannya sampai menoleh pun tidak ke arah Harry yang sudah ada di depannya. Dan dia yakin kalau sahabatnya itu pasti sudah tahu kedatangannya.
"Ehemm." Harty berdehem pelan berharap Hardin menoleh padanya. Tapi yang diharapkan tak kunjung menoleh.
"Eheemmm!!." dia menguatkan volume suaranya dan hasilnya tetap sama.
"Woi man..serius amat sih periksa tu dokumen sampai gak peduli gitu gue datang." protesnya pada Hardin.
"Emang lu pacar gue yang mesti gue peduliin.?" jawab Hardin dengan pandangan mata yang masih tertuju ke dokumen yang sedang diperiksanya.
"Duileeh si boos gayanyaa. Mentang mentaang udah jadian songong amat ya bang jago." ledek Harry.
"Jangan minta gue cerita sekarang. Lu liatkan kerjaan gue numpuk. Hah..pusing gue." jawab Hardin.
"Oke. Entar siang ya sambil makan siang."
"Gak janji. Karena rencananya gue mau makan diluar." jawabnya tetap fokus pada kertas yang sedang dipegangnya.
"Yaudah sekalian aja gue ikut makan siang. Ya..ya."
"Big No!"
"Sombong amat sih lu man mentang udah punya pacar gue nya dilupakan. Nanti pas lagi berantem pasti larinya ke gue juga." sungut Harry.
Yang disindir hanya mengangkat kedua bahunya dengan cuek dan masih terus fokus. Harry yang merasa kesal karena dicuekin pun memilih keluar dan kembali ke ruangannya untuk lanjut mengerjakan pekerjaannya. Sebenarnya dia datang ke ruangan Hardin karena penasaran dengan wajah Hardin yang terlihat cerah seperti matahari pagi yang menyinari.
Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa like dan komen yang positif ya. Dan jangan lupa di favorite kan dan di vote.