Tama, cowok baik-baik, kalem dan jago olahraga yang jatuh cinta dengan Raina si gadis yang terkenal dengan reputasi buruknya. Suka dugem, mabok, merokok, bahkan gosipnya dia pun jadi sugar baby simpanan om-om.
Tama menghadapi banyak tantangan agar bisa bersama Raina. Teman dan keluarganya yang tak menyukai Raina, rumitnya latar belakang keluarga Raina, juga cintanya yang penuh gairah yang amat sulit dikendalikan oleh cowok itu.
Kisah mereka terajut sejak masa di bangku kuliah. Saat mereka lulus, Tama berjanji akan menikahi Raina satu tahun kemudian. Tapi dengan banyaknya pihak yang menginginkan mereka untuk berpisah, bisakah mereka bertahan? Apalagi mereka terpaksa harus berpisah demi mempersiapkan masa depan untuk bersama?
Author masih belajar, tetapi selalu berusaha memperhatikan ejaan dan penggunaan huruf kapital yang benar sehingga nyaman di baca. Silahkan mampir😂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabina nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam
Raina memasukkan notes dan pulpennya ke dalam tas dengan terburu-buru. Anya yang melihat ketergesaan Raina, mengernyitkan kening.
"Kenapa, elo? Kebelet boker?" komen Anya. Raina tertawa. Kelas terakhir hari ini baru saja usai. Hanya tersisa beberapa orang yang masih bergerombol di dalam kelas, membahas tugas.
"Laper," jawab Raina, segera beranjak keluar menuju pintu.
"Mau gue temenin? Gue pengen nyobain resto baru yang diceritain Jemma kemaren," kata Anya.
Anya tak butuh jawaban, karena Tama sudah menunggu Raina di depan kelas mereka. Cowok jangkung itu memakai kaus hitam dan jins, bersandar di dinding dengan sebelah tangan di saku celana. Beberapa cewek terang-terangan melirik Tama. Yang dilirik cuek saja.
Raina segera memeluk lengan Tama, yang langsung dibalas cowok itu dengan mengelus kepala Raina lembut.
"Lain kali aja deh kalo gitu, Ra. Gue duluan," kata Anya, mencibir kelakuan keduanya yang lagi bucin-bucinnya.
"Besuk gue traktir deh, Ceng. Mwuah!" balas Raina riang.
Sejak kelakuan Cello yang menyebarkan fotonya tempo hari, Raina sempat tak berani menginjakkan kaki ke kampus selama hampir seminggu. Tama berulangkali meyakinkannya, hingga akhirnya ia luluh karena Tama tak pernah membiarkan ia sendirian selama di kampus.
Tama akan menjemput Raina tiap pagi, jika jadwal mereka bentrok dia akan meminta Anya menemani Raina. Tama rela menunggu Raina menyelesaikan kelasnya, dan mengantar gadis pulang. Tama menjaga ketat Raina, tak pernah membiarkan gadis itu tanpa pengawasan.
Yang tak diketahui Raina adalah, diam-diam Tama menghajar beberapa cowok yang melontarkan kata-kata yang tak senonoh tentang Raina. Juga meminta seorang temannya yang jago meretas situs untuk menghack akun Instagram Cello dan akun-akun lain yang membagikan foto Raina.
Seperti halnya sesuatu yang mudah viral, semudah itu pula sebuah berita itu reda dengan sendirinya. Apalagi jika ada kabar lain yang lebih panas. Sekarang keadaan sudah berangsur kondusif bagi Raina, dan Tama pun tak lagi segan mengumbar kemesraan dengan Raina di depan umum.
Sampai di parkiran motor Tama memakaikan jaket Raina dan memasangkan helm di kepala gadis itu. Setelah yakin pengamannya terpasang sempurna, baru Tama memakai helmnya sendiri.
"Nanti aku nggak bisa mampir, ya. Mau makan malam sama Bunda," kata Tama, menatap gadisnya lekat. Raina mengangguk mengerti. Dalam hati berharap Tama mengajaknya untuk bertemu Bundanya.
"Jangan keluar malam. Di rumah aja, nonton film atau ajak Anya ke rumah," kata Tama lagi.
"Iya, ngerti," jawab Raina malas.
"Mau makan dimana? Tadi katanya laper,"
"Pengen mi instan bikinan kamu kayak kemaren itu. Pake sayur, sosis, telur sama rawit yang banyak," jawab Raina, berusaha menahan Tama selama mungkin bersamanya. Sejujurnya ia hanya ingin berduaan saja dengan Tama.
Tama memberinya tatapan teduh, mengelus lengan Raina lembut.
"Iya, aku bikinin."
Harapan Raina untuk diajak bertemu dengan Bunda Tama tak terwujud hingga cowok itu berlalu pergi setelah memastikan Raina aman di rumah. Dari cerita Tama, Raina tahu kalau cowok itu sangat menghormati ibunya. Salah satu wanita yang paling dicintai Tama dalam hidupnya adalah Bundanya.
Dulu pernah ada masa dimana Raina suka dengan tipe cowok badboy, ketua geng, hobi balapan dan aktivitas liar lainnya. Saat itu usianya masih abege. Tapi kini seiring ia dewasa, cowok yang tidak neko-neko, serius sekaligus penuh tanggung jawab seperti Tama ternyata jauh lebih jantan dan sangat maskulin di matanya.
Apalagi dengan fakta bahwa Tama sangat menghargai ibunya, ia percaya cowok yang menyayangi ibunya biasanya juga baik dan menghormati pasangannya.
Tama sedang mematut dirinya di cermin saat panggilan video dari Raina masuk ke ponselnya. Tama mendesah napas berat. Agak ragu mengangkat panggilan video itu.
"Hai sayang, duh, ganteng amat," suara Raina terdengar menggoda. Gadis itu terlihat sedang berbaring di ranjang, mengenakan gaun tidur dengan tali tipis di bahu. Tama menahan geram, menyadari sesuatu terbangun dari tidurnya. Sialan.
Sejak hubungan mereka makin dekat, mereka memang selalu melakukan panggilan video sebelum tidur malam. Dan biasanya itu adalah saat yang menyenangkan sekaligus menyiksa bagi Tama. Melihat gadisnya dengan baju terbuka, suara setengah mendesah karena kantuk, membuat Tama justru sulit tidur.
"Lagi siap-siap buat dinner sama Bunda," kata Tama datar sambil mengancingkan kancing kemeja biru dongkernya.
"Aku cemburu nih sama Bunda kamu. Kamu aja ngga pernah ngajakin aku dinner, apalagi pake baju serapi itu. Awas ya kalau berani tebar pesona sama cewek-cewek," ancam Raina main-main.
Tama tertegun. Menyadari kata-kata Raina yang mendekati kenyataan.
"Besok kita dinner, ya. Aku bakal pake baju rapi kaya gini." janji Tama. Raina tersenyum lebar.
"Janji ya?" Raina mengeluarkan sifat manjanya.
Tak lama kemudian terdengar Bunda Dayen memanggilnya. Tama buru-buru mengakhiri panggilannya dengan Raina.
Dayen menelisik penampilan putra bungsunya dari sisiran rambut yang rapi, kemeja lengan panjang yang sangat pas di badan Tama, celana hitam hingga sneaker Tama, lalu mengangguk puas.
"Gantengnya anak Bunda," puji Dayen saat Tama merangkulnya.
"Nggak mending Arka aja yang ikut Bunda makan malam sama Tante Salma? Aku bisa mati bosen nungguin Bunda ngobrol sama Tante Salma" Tama mencoba menawar.
"Huss, kamu ini. Abang kamu lagi banyak kerjaan. Lagipula nanti Tante Salma datang sama Almira kok. Kamu bisa ngobrol sama Almira biar nggak bosan," jawab Dayen.
Tama menggaruk kepalanya, bingung. Dia bukannya tidak paham maksud Bundanya, ia hanya tidak tahu bagaimana cara menolak keinginan Bundanya tanpa menyakiti hati wanita paling penting dalam hidupnya itu.
"Aku nggak tahu mau ngobrol apa kalau sama Almira, Bun," keluh Tama.
"Ya kan itu karena kalian belum kenal. Nanti kalau udah kenal juga lama-lama nyambung sendiri, Bang," jawab Dayen.
"Bun, Tama nggak suka dijodoh-jodohkan. Tama Uda punya gadis pilihan Tama sendiri."
"Siapa yang mau menjodohkan kamu, sih? Nggak ada salahnya kan nambah temen? Almira itu gadis yang baik, Bang. Nggak rugi temenan sama dia" jawab Dayen.
Akhirnya Tama pasrah menuruti kemauan Bundanya. Ia akan mengenalkan Raina nanti, saat ia yakin Raina telah siap untuk bertemu dengan Bundanya.