18+
Lucia Jayanti, wanita cantik berumur 27 tahun, seorang ibu tunggal yang bekerja keras bertahan hidup bersama putri semata wayangnya.
Aldrich Mahendra, seorang Casanova, muda,tampan dan kaya. Dia tidak pernah mencintai wanita. Baginya, wanita hanyalah hiburan satu malam.
Tapi takdir mempertemukan mereka berdua, akankah Aldrich merubah pandangannya tentang wanita setelah bertemu Lucia?
Ikuti kisah mereka yuk...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gue sakit.
gaes... sebelum baca, author cuma mau ngingetin, per tgl 1 feb, bagi yg belum upgrade NT/MT ke versi terbaru, dukungan kalian yg berupa like dan vote TDK akan di perhitungkan, so buruan upgrade ya. thanks.
......................
Aldrich menghempaskan tubuhnya di kamar hotel yang di sediakan agennya untuk menginap.
Pemotretannya akan di mulai besok pagi di daerah puncak, sehingga Aldrich memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu setelah perjalanan yang lumayan panjang.
Niatnya memang mau tidur, tapi jam 8 malam, masih terlalu pagi untuk Aldrich, dia biasa tidur di atas jam 12 malam. Akhirnya dia hanya gelundang gelundung di ranjang nya.
"Haahh!!!" Aldrich bangun dengan perasaan kesal. Lalu mengambil ponselnya untuk menelpon seseorang.
Tuut.. tuut..
"Halo?"
Aldrich tersenyum mendengar suara seorang dari sebrang.
"Lagi ngapain?" Aldrich terkejut dengan nada suaranya sendiri. Kenapa dia bicara begitu manis pada Luci?
"Tuan?"
"Hem, Vin-vin sudah tidur?"
"Sudah, baru saja terlelap." Jawab Luci.
"Kenapa Lo belom tidur? nggak bisa tidur?"
"Iya..."
"Kenapa? kangen sama gue?" Aldrich menggigit bibirnya, menyadari kalau dia begitu konyol.
"Hmm... sedikit."
Aldrich membelalakkan matanya tak percaya, "serius?"
Luci terdiam sejenak.
"Terima kasih Tuan, karena sudah begitu baik pada Vin-vin."
"Hmmm... berarti karena Vin-vin ya?? hmmm..."
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa, gue Ge-er sendiri di sini." Aldrich menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Tok! Tok! Tok!
Aldrich menoleh ke arah pintu dan penasaran siapa yang datang? dia tak merasa menunggu seseorang.
Masih dengan meletakkan ponselnya di telinga, Aldrich berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Aldrich, honey bunny sweety... I Miss you..." Seorang wanita berteriak sambil melonjak untuk memeluk Aldrich.
"S**t!!" Aldrich terkejut sampai menjatuhkan ponselnya.
"Jessica, kenapa Lo ada di sini?" Buru-buru Aldrich memungut ponselnya yang terjatuh.
"Hallo Luci.. haloo?" tapi sayang Luci sudah mematikan sambungan telponnya.
"CK! agrh!!!" Aldrich geram sendiri. Luci pasti menganggap Aldrich sedang berkencan sekarang. Sial!
"Kamu lagi nelpon siapa say?"
Aldrich tak menjawab, dia hanya melirik sinis pada cewek sexi yang ada di depannya.
"Ngapain si Lo di sini!"
"Besok kan kita ada pemotretan bareng, aku tidur di sini ya temenin kamu, jadi besok kita berangkat bareng ke temp.."
Brak!
Dengan cepat Aldrich menutup pintu kamarnya dan menguncinya.
"Loh, Al! kenapa? kamu nggak mau aku temenin?! Al!!!" Jessica terus berteriak-teriak dari luar kamar Aldrich.
Untunglah dari dalam Kamarnya, Aldrich tak mendengar apapun, dia pun kembali ke ranjangnya untuk menelpon Luci. Tapi sayangnya Luci tak mau mengangkatnya.
"Sialan! dia pasti salah paham!" kesal Aldrich sambil melempar ponselnya dengan kesal.
Aldrich teringat, dulu Luci juga memergokinya hampir bercinta di dapur dengan Leony. Aldrich sudah sangat buruk di mata Luci, dia pasti menganggap Aldrich sebagai Playboy.
"Memangnya kenapa kalau Luci menganggap gue ini playboy? emang gue playboy!" Kesal Aldrich.
"Mau berbuat baik seperti apa juga, gue nggak akan bisa mengubah anggapan buruk dia ke gue!"
"Akh! bodo amat!" Aldrich menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dan memejamkan mata mencoba untuk tidur.
"Harusnya tadi gue suruh Jessica masuk, kan lumayan..." gumamnya.
"Ahhh!!! gara-gara Luci, otak gue jadi somplak!"
...***...
"Hachiih!"
Aldrich mengambil jaket nya dan bersedekap mencoba menahan hawa dingin yang menusuk tulangnya.
"Lo kedinginan Al?" Sang photografer mendekati Aldrich yang masih bersedekap.
"Iya nih, kok tumben dingin banget ya?" Aldrich terlihat menggigil.
"Lo bisa lanjut nggak nih?"
"Bisa! Lo tenang aja! udah buruan biar cepet kelar."
Dengan sangat profesional Aldrich menyelesaikan sesi pemotretannya walaupun badannya menggigil hebat. Untunglah dia menjadi model iklan untuk perlengkapan camping, sehingga dia terus memakai jaket camping saat pengambilan gambar
Aldrich sendiri pun tak tahu kenapa dia bisa seperti ini, mungkinkah karena dia tidak bisa tidur semalam di tambah udara pagi di puncak yang sangat dingin.
"Yes, selesai. Thanks ya Al."
Aldrich langsung bergegas menyambar jaketnya dan kembali ke dalam mobilnya untuk mencari kehangatan.
Tok. Tok.
Aldrich menurunkan kaca jendelanya sewaktu Jessica mengetuknya.
"Aku bawa teh hangat."
"Thanks." Jawab Aldrich lega. Dia langsung menerima secangkir teh hangat dari Jessica dan meminumnya.
"Gue masuk boleh?"
Aldrich mengangguk, Jessica pun memekik senang, dia masuk ke dalam mobil Aldrich dan duduk tepat di sampingnya.
"Coba kalau semalam kita olah raga, kamu kan nggak akan kedinginan begini." Jessica nyengir, sepertinya dia sudah tak punya urat malu.
Aldrich menatapnya sekilas lalu mendesah. "Gue lagi nggak mood." Ucapnya lagi sambil menyesap teh hangat.
"Kamu mau balik ke hotel dulu kan?"
Aldrich menarik napas, "nggak, gue mau langsung pulang. Baju-baju semua sudah gue bawa." Aldrich menunjuk tas besar yang ada di jok belakang mobilnya.
"Kamu kan sakit, mau nyetir sendiri?"
Aldrich mendesah sambil mengangkat bahu.
"Aku antar ya? biar aku yang bawa mobilnya." Usul Jessica.
Aldrich berpikir sejenak, lalu dia pun mengangguk.
Apa salahnya? karena dia memang ingin tidur.
"Pelan-pelan aja nyetirnya, kita nggak buru-buru." Lalu Aldrich mengangkat jaketnya hingga menutupi mata dan mencoba untuk tidur.
...***...
"Al, Al, kita sudah sampai." Jessica menggoyang-goyangkan bahu Aldrich mencoba membangunkannya.
"Uh..? kenapa?" Aldrich terkejut sambil mengucek matanya.
"Kita sudah sampai."
"Oh.." Aldrich yang masih sedikit bingung, membenarkan posisi duduknya dan melihat keluar dari kaca mobilnya, "iya.. gue tidur lama bener." Gumam Aldrich.
"Kamu tidur sambil ngigau terus tadi."
"Masa sih?"
"Iya, kamu manggil Luci.. Luci.. gitu terus. Siapa sih Luci?"
Wajah Aldrich langsung memerah, masa iya dia ngigau manggil-manggil Luci?
"Thanks ya, sudah anterin gue." Aldrich bergegas keluar dari mobilnya, dia ingin secepatnya berbaring, tulangnya terasa linu dan badannya masih sangat menggigil. Sepertinya dia akan terkena flu.
"Terus aku gimana?" Jessica membuka pintu mobil dan berjalan mengikuti Aldrich.
"Lo pulang aja deh, pliss. Gue pengen istirahat." Aldrich menatap Jessica dengan tatapan memohon.
"Huft, oke deh. Aku pulang." Jessica langsung pergi meninggalkan Aldrich yang masih berdiri di depan pintu utama rumahnya. Dia terlihat sedikit kecewa, tapi dia maklum karena Aldrich memang terlihat tidak sehat.
"Luci..."Aldrich mengetuk-ngetuk pintu sambil memanggil Luci berulang kali.
"Dia kemana sih?" Aldrich merasa kepalanya berputar-putar, sangat pusing. Kepalanya bahkan dia sandarkan di pintu karena terasa begitu pening.
Ceklek. Pintu terbuka dan muncullah Luci dengan wajah yang sangat terkejut karena melihat majikannya yang begitu pucat.
"Tu-tuan? kenapa?"
"Gue... sakit..." Dan tiba-tiba saja Aldrich sudah ambruk, untunglah Luci dengan cepat memeganginya hingga Aldrich tidak tersungkur ke lantai.
"Tuan!" Pekik Luci ketakutan. Khawatir lebih tepatnya.
yang suka sama devian itu loh?
key atau apalah itu jadi itu tho
kirain apa gua juga bingung jadi Devi pas denger cerita keluarga vivin
ya kali aku bacanya di mulai dari 3-1-2 Kanan aneh baca endingnya dulu🤣🤣🤣🤣🤣🤣