NovelToon NovelToon
Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Kembang

Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.

Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.

Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.

Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...

...kecuali dia.

"Kau adalah hartaku yang paling berharga."

Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.

Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.

Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 028

Empat Menit

Malam itu, hangat telapak tangan Reynard masih tertinggal di kulit Seraphina seperti tanda yang tidak bisa dilihat siapa pun.

Keesokan paginya, tanda itu berubah menjadi keberanian yang aneh.

Seraphina memilih sebuah coffee shop kecil di Jakarta Pusat, bukan tempat yang biasa didatangi keluarga besar atau lingkaran konglomerat. Ruang privatnya menghadap taman sempit dengan pohon kamboja, cukup tenang untuk bicara, cukup ramai di luar agar Natasha tidak bisa benar-benar berteriak sampai seluruh kota mendengar.

Natasha datang tepat waktu, sesuatu yang jarang terjadi kecuali ia sedang lapar atau ingin membongkar rahasia orang.

Ia masuk dengan kacamata hitam, tas kecil, dan ekspresi kemenangan yang belum resmi.

"Gue pesan ruang privat," kata Seraphina.

Natasha melepas kacamata. "Berarti ini serius."

"Duduk dulu."

"Kalau lo bilang mau menikah diam-diam, gue akan lempar croissant."

"Aku tidak menikah diam-diam."

"Bagus. Satu level kepanikan turun."

Seraphina menunggu sampai pelayan meletakkan kopi dan menutup pintu. Setelah itu, ia menatap gelasnya beberapa detik. Ia bukan tipe orang yang sulit menjelaskan fakta. Ia bisa mempresentasikan arsitektur sistem, negosiasi kontrak, atau mematahkan tuduhan dalam ruang penuh orang asing. Tetapi mengatakan bahwa ia sedang bahagia ternyata jauh lebih sulit.

Natasha tidak mendesak. Untuk pertama kalinya sejak duduk, ia hanya menunggu.

Seraphina menarik napas.

"Aku pacaran dengan Reynard."

Natasha membeku.

Kedua matanya melebar. Mulutnya terbuka sedikit. Tangan yang tadi siap mengambil kopi berhenti di udara.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Lalu Natasha mengambil bantal kecil dari sofa, menekannya ke wajah, dan berteriak.

Suara itu teredam, tetapi tetap cukup keras membuat Seraphina refleks melihat ke pintu.

"Tasha!"

Natasha mengangkat satu jari, masih dengan wajah terkubur bantal.

Seraphina menunggu.

Teriakan kedua datang lebih panjang.

Lalu ketiga.

Setelah itu Natasha menurunkan bantal, menarik napas dramatis, dan melihat jam tangan. "Dua menit tiga puluh detik. Gue hemat."

Seraphina menutup wajah dengan satu tangan. "Aku menyesal."

"Tidak, lo tidak menyesal. Lo bersinar. Itu yang bikin gue kesal." Natasha menunjuknya dengan bantal. "Sejak kapan?"

"Resminya beberapa hari."

"Tidak resmi?"

Seraphina diam.

Natasha memukul bantal ke pangkuannya sendiri. "Ya Tuhan. Jadi semua itu? Dia jemput lo. Dia masak untuk lo. Dia panggil lo kucing. Dia datang ke kantor tengah malam. Dia duduk kayak patung mahal sambil lihat lo seolah dunia bisa dibeli kalau lo minta."

"Tasha."

"Gue sedang menyusun timeline. Jangan ganggu investigasi."

Seraphina tidak bisa menahan senyum. "Aku memberi tahumu karena aku percaya padamu, bukan karena kau harus membongkar semuanya."

Kata-kata itu membuat Natasha berhenti bercanda. Ia menurunkan bantal, lalu tubuhnya condong ke depan.

"Sera sayang," suaranya lebih pelan, "dia baik sama lo?"

Seraphina mengangguk.

"Bukan baik versi laki-laki kaya yang mengira semua masalah bisa dilempar uang?"

"Bukan."

"Dia menekan lo untuk go public?"

"Tidak. Justru aku yang minta dirahasiakan dulu. Dia setuju."

"Dia pakai Astoria buat mendekat?"

"Aku melarangnya. Dia patuh."

"Kalau lo bilang berhenti?"

"Dia berhenti."

Natasha menatapnya lama. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak lucu, tidak manis, dan justru karena itu Seraphina merasa dadanya hangat. Natasha tidak menilai hubungannya dari betapa tampan atau berkuasanya Reynard. Ia memeriksa bagian yang penting: apakah Seraphina tetap punya kendali.

"Oke," kata Natasha akhirnya. "Kalau begitu gue tidak akan membunuhnya hari ini."

"Terima kasih atas kemurahan hatimu."

"Jangan cepat lega. Gue masih mau wawancara langsung."

"Tasha."

"Apa? Sebagai sahabat, gue berhak tahu apakah pacar rahasia lo bisa menjawab ancaman dasar."

Ponsel Seraphina bergetar di meja, seolah semesta ikut mendengar.

Rey:

Sudah makan?

Natasha melihat nama itu dari sudut mata. "Telepon."

"Tidak."

"Telepon atau gue anggap dia tidak lulus verifikasi."

"Kau kekanak-kanakan."

"Dan efektif."

Seraphina menatap ponsel, lalu menatap Natasha. Akhirnya ia menekan tombol panggil video, tetapi hanya mengaktifkan suara. Reynard menjawab pada dering kedua.

"Sera?"

Satu kata itu cukup membuat Natasha menutup mulut dengan dua tangan, matanya kembali membesar.

Seraphina menendang kakinya pelan di bawah meja. "Aku bersama Tasha."

Hening di ujung sana hanya setengah detik.

"Kau sudah memberi tahu dia?"

"Iya."

Nada Reynard melunak. "Terima kasih sudah memilih orang yang membuatmu merasa aman."

Natasha berhenti bergerak.

Seraphina juga.

Kalimat itu sederhana, tetapi ia mengenali maknanya. Reynard tidak berkata terima kasih karena rahasia mereka diterima. Ia berkata terima kasih karena Seraphina tidak lagi menyimpan semuanya sendirian.

Natasha mengambil ponsel dari meja tanpa izin. "Pak Hartono."

"Natasha."

"Mulai sekarang, kalau kau bikin Sera nangis, gue akan datang dengan heels paling tajam yang gue punya."

"Kalau aku membuatnya menangis karena menyakitinya, yang pertama harus menghukumku adalah Sera."

Natasha menyipit. "Jawaban bagus. Lanjutkan."

"Yang kedua kau."

Natasha menatap Seraphina, lalu berbisik tanpa menutup speaker, "Sayangnya dia lulus."

Di ujung sana, Reynard bertanya, "Aku boleh bicara dengan pacarku lagi?"

Seraphina meraih ponsel cepat, wajahnya panas. "Rey."

"Apa? Itu status resmi."

Natasha menjerit lagi, kali ini tanpa bantal.

Seraphina memutus panggilan sebelum pegawai coffee shop mengetuk pintu.

Setelah tawa mereda, suasana menjadi lebih lembut. Natasha menanyakan hal-hal praktis: siapa yang sudah tahu, seberapa lama akan dirahasiakan, bagaimana jika Lim atau Wijaya memanfaatkan rumor. Seraphina menjawab satu per satu. Ia tidak menambahkan drama, tidak mempercantik apa pun. Rahasia itu terasa lebih nyata setelah disebut dengan suara sendiri.

"Gue tidak akan cerita ke Michelle atau Jess sebelum lo izinkan," kata Natasha akhirnya. "Tapi kalau lo butuh backup, satu chat saja."

"Aku tahu."

"Dan Sera?"

"Hm?"

"Lo boleh bahagia tanpa minta maaf."

Seraphina menatap kopi yang sudah dingin. Kalimat itu menancap pelan. Selama ini, setiap hal baik yang datang kepadanya selalu terasa seperti sesuatu yang harus dibuktikan dulu kelayakannya. Sekarang sahabatnya duduk di depan, mengatakan bahwa ia tidak perlu membayar kebahagiaan dengan rasa bersalah.

"Aku sedang belajar," katanya.

"Bagus. Pelan-pelan juga boleh. Tapi kalau pacarmu tampan, kaya, bucin, dan bisa masak, jangan terlalu pelan sampai direbut orang."

Seraphina tertawa. "Kau merusak momen."

"Itu tugasku."

Siang itu, Seraphina kembali ke Astoria dengan perasaan lebih ringan. Natasha mengantarnya sampai lobi kantor, masih mengomel soal protokol rahasia, kode darurat, dan kemungkinan perlu membuat grup baru bernama Operasi Kucing Hartono.

"Tidak ada grup seperti itu," kata Seraphina saat lift terbuka.

"Belum."

"Tasha."

"Fine. Gue tahan diri. Untuk sekarang."

Mereka baru keluar dari lift ketika resepsionis Astoria berdiri sambil memegang sebuah buket besar. Mawar putih, anggrek ungu, dan kartu hitam kecil terselip di tengahnya.

"Bu Sera," kata resepsionis, "ini baru datang untuk Ibu."

Seraphina mengernyit. "Dari siapa?"

Resepsionis menyerahkan kartu itu.

Untuk Bu Seraphina Lim.

Diskusi investasi kemarin terlalu singkat. Saya menunggu makan malam berikutnya.

Daniel Zheng.

Natasha membaca dari samping dan langsung mengangkat alis.

"Sera sayang," katanya pelan, "pacarmu akan membunuh vas bunga itu."

Pintu lift di belakang mereka kembali terbuka.

Reynard melangkah keluar.

Tatapannya jatuh tepat pada buket di tangan Seraphina.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!