NovelToon NovelToon
Sang Pangeran Terlahir Kembali

Sang Pangeran Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.

Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.

Kali ini, segalanya akan berbeda.

Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.

"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."

Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3 Istri Baru

Pertanyaan itu tetap menempel di benak Anindya sampai hari ia memasuki Puri Timur sebagai istri Pangeran Mahkota.

Kereta keluarga Jayawardana berhenti di depan gerbang timur saat matahari belum tinggi. Di belakangnya, dayang-dayang membawa peti kain, kotak perhiasan, buku catatan, serta beberapa benda kecil dari rumah yang diizinkan masuk setelah diperiksa Badan Upacara. Upacara pernikahan telah berlangsung singkat dan megah di Balai Agung. Semua orang menyebutnya keberuntungan besar.

Anindya hanya merasa seperti melangkah ke rumah yang seluruh pintunya punya mata.

Wulan berjalan setengah langkah di belakangnya. Gadis itu adalah pelayan yang dipilih Eyang Jaya sejak Anindya kecil, dan kini ikut masuk ke Puri Timur.

"Gusti Putri," bisik Wulan, "hamba akan memeriksa kamar lebih dulu."

"Jangan menyentuh apa pun sebelum orang Puri Timur menjelaskan," jawab Anindya pelan.

Wulan mengangguk cepat.

Di halaman dalam, Adi sudah menunggu bersama beberapa abdi dalem. Sikapnya sangat hormat, bahkan lebih hati-hati daripada yang Anindya bayangkan.

"Selamat datang di Puri Timur, Gusti Putri." Adi menunduk. "Yang Mulia Pangeran Mahkota sedang menyelesaikan urusan dengan Badan Upacara. Beliau berpesan agar Gusti Putri langsung beristirahat. Kamar telah disiapkan."

Anindya menatapnya. "Beliau berpesan begitu?"

"Benar, Gusti."

Mereka berjalan melewati koridor kayu yang menghadap taman kecil. Kolam teratai di tengah halaman memantulkan langit pucat. Di sisi pintu kamar, Anindya melihat rangkaian bunga kenanga dan melati, bukan bunga cempaka yang biasa dipakai di kamar pengantin keraton.

Langkahnya berhenti.

Wulan ikut berhenti. "Ada apa, Gusti Putri?"

Anindya tidak segera menjawab. Kenanga adalah bunga kesukaan ibunya. Eyang Jaya hanya pernah menyebutnya sekali di depan orang luar, itu pun bertahun-tahun lalu. Seharusnya Puri Timur tidak tahu.

Adi tampak memahami kebingungannya. "Yang Mulia sendiri yang meminta bunga kenanga disiapkan. Beliau berkata aromanya lebih lembut."

Lebih lembut.

Anindya menelan rasa aneh di tenggorokan. "Sampaikan terima kasihku kepada Yang Mulia."

"Akan hamba sampaikan."

Kamar itu jauh dari kesan dingin yang ia takutkan. Tirai diganti warna biru muda. Meja tulis ditempatkan dekat jendela, lengkap dengan tinta baru dan beberapa lembar kertas kosong. Di dekat dipan, ada baki berisi wedang jahe, kue lapis, dan semangkuk bubur kacang hijau yang masih hangat.

Wulan memeriksa baki, lalu berbisik, "Ini semua makanan yang Gusti sukai."

Anindya menoleh tajam.

Wulan langsung menutup mulut.

Sebelum Anindya sempat bertanya lebih jauh, suara langkah terdengar dari luar. Adi membuka pintu, lalu menunduk.

"Yang Mulia Pangeran Mahkota."

Arjuna masuk tanpa rombongan besar. Ia sudah melepas mahkota upacara, hanya mengenakan jubah luar yang lebih sederhana. Namun kehadirannya tetap membuat ruangan terasa lebih sempit.

Anindya segera berlutut. "Hamba memberi hormat kepada Yang Mulia."

Arjuna berhenti.

Dalam kehidupan lalu, ia membiarkan Anindya berlutut terlalu lama pada hari pertamanya di Puri Timur. Ia bahkan tidak mengingat warna pakaian yang ia kenakan. Sekarang, melihat dahinya hampir menyentuh lantai, rasa sakit lama kembali mencakar dadanya.

"Berdirilah," katanya cepat.

Anindya mengangkat wajah. "Yang Mulia?"

"Di Puri Timur, kamu tidak perlu berlutut padaku kecuali dalam upacara resmi."

Ruangan menjadi sunyi.

Adi menunduk lebih dalam. Wulan menatap lantai, tapi matanya membesar. Anindya sendiri tidak langsung bergerak. Dalam aturan keraton, seorang istri tetap harus menjaga tata hormat kepada Pangeran Mahkota, terutama pada hari pertama.

"Hamba takut melanggar aturan," ucapnya hati-hati.

"Aku yang membuat aturan di Puri Timur."

Kalimat itu pendek, tetapi tidak keras. Justru karena tidak keras, Anindya makin tidak tahu harus menanggapinya bagaimana.

Ia berdiri perlahan.

Arjuna memandangnya, lalu beralih pada baki di meja. "Wedang itu jangan diminum saat perut kosong. Makan bubur sedikit dulu."

Anindya menegang.

Perhatian itu terlalu rinci.

"Yang Mulia tidak perlu repot memikirkan hal kecil."

"Kesehatanmu bukan hal kecil."

Wulan menggigit bibir. Adi pura-pura tidak mendengar.

Anindya menunduk, jari-jarinya saling mengait di depan perut. "Hamba baru datang. Bila Yang Mulia terlalu baik, orang-orang akan salah memahami."

"Biarkan mereka salah memahami."

Ia mengangkat mata, terkejut.

Arjuna baru menyadari kata-katanya terlalu jauh. Ia menahan dorongan untuk meminta maaf dengan cara yang hanya akan membuatnya tampak lebih aneh.

"Maksudku," katanya lebih tenang, "kamu adalah istriku sekarang. Puri Timur harus memperlakukanmu sesuai kedudukanmu."

Istriku.

Kata itu jatuh di antara mereka seperti mangkuk perak yang dipukul pelan. Tidak berisik, tetapi getarannya terasa.

Anindya mengangguk. "Hamba mengerti."

Ia tidak mengerti sama sekali.

Arjuna melihat keraguan di matanya. Ia ingin mengatakan bahwa ia pernah gagal menjaganya. Ia ingin mengatakan bahwa semua bunga, makanan, dan meja tulis itu bukan jebakan, melainkan permohonan maaf yang terlambat satu kehidupan. Tetapi rahasia itu belum bisa keluar. Bila ia memaksakan kebenaran sekarang, Anindya hanya akan semakin takut.

"Beristirahatlah," katanya. "Sore nanti, bila kamu bersedia, aku akan menunjukkan taman belakang. Di sana lebih tenang."

"Baik, Yang Mulia."

Arjuna menahan diri untuk tidak memperbaiki panggilan itu. Belum saatnya.

Ia keluar bersama Adi, meninggalkan aroma kenanga dan kebingungan yang makin padat di kamar.

Begitu pintu tertutup, Wulan mendekat. "Gusti Putri, apakah Pangeran Mahkota memang seperti itu?"

Anindya menatap bubur hangat di meja. Uapnya naik tipis, menyentuh wajahnya.

"Aku baru bertemu beliau dua kali," jawabnya lirih. "Justru karena itu aku tidak tahu harus takut atau bersyukur."

***

Di ruang kerja Puri Timur, Arjuna meletakkan selembar kertas kosong di atas meja.

Adi berdiri di dekat pintu, masih membawa kegelisahan sejak dari kamar pengantin.

"Yang Mulia," katanya akhirnya, "hamba bertanya bukan karena ingin mencampuri urusan pribadi. Namun semua orang akan melihat perlakuan Yang Mulia kepada Gusti Putri."

"Bagus."

Adi terdiam. "Bagus?"

"Biar mereka melihat."

Jika Ratih ingin tahu kelemahannya, biarkan ia mengira kelemahan itu hanya cinta yang baru tumbuh. Jika Baskara ingin menguji rumah tangganya, biarkan ia mendekat dan menunjukkan taringnya lebih awal. Arjuna tidak lagi takut dunia tahu bahwa Anindya penting baginya.

Ia mengambil kuas.

Di bagian atas kertas, ia menulis beberapa nama dan tempat.

Baskara.

Permaisuri Ratih.

Raden Ayu Anggraini.

Raden Ayu Sinta.

Gedung Wayang Enam.

Keluarga Kertanegara.

Eyang Maha.

Pasar Sentosa.

Setiap nama adalah luka dari kehidupan lalu. Setiap tempat adalah pintu menuju dosa yang dulu ia buka terlalu lambat.

"Garuda sudah memberi kabar?" tanya Arjuna.

"Belum lengkap, Yang Mulia. Tapi orang Puri Baskara bergerak sejak pagi. Ada pesan dikirim ke kediaman Tumenggung Prabowo."

Anggraini.

Arjuna menaruh kuas. "Lebih cepat dari dugaanku."

"Apakah hamba harus memerintahkan orang untuk menahan pesan itu?"

"Tidak. Biarkan sampai. Aku ingin tahu apa yang mereka rencanakan saat mengira aku masih mudah dipancing."

Adi menunduk. "Sesuai perintah."

Arjuna menatap daftar di depannya. Pada kehidupan lalu, ia mengabaikan terlalu banyak tanda. Senyum palsu Baskara. Kesabaran Ratih yang terlalu rapi. Kematian kecil yang disebut kecelakaan. Surat-surat dari perbatasan yang dibungkam. Air mata Anindya yang ia kira hanya kelemahan, padahal itu peringatan.

Terlalu banyak petunjuk. Terlalu banyak orang yang ia lihat setelah semuanya terlambat.

Kali ini, ia tidak akan menunggu sampai darah menyentuh lantai.

Arjuna mencelupkan kuas lagi, lalu menggambar satu lingkaran di sekitar nama Anindya yang ia tulis paling akhir.

"Mulai hari ini," katanya pelan, "papan catur ini bergerak dengan aturanku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!