NovelToon NovelToon
Obsesi Adik Ipar

Obsesi Adik Ipar

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta Terlarang / Obsesi / Tamat
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Yolanda Liem baru 23 tahun ketika menjadi janda.

Suaminya—Kevin Liem, putra sulung keluarga konglomerat Liem—meninggal karena sakit setelah lima tahun pernikahan tanpa cinta (dan tanpa konsumasi). Yola memilih tetap tinggal di mansion keluarga, mengurus rumah tangga, dan menjalani masa berkabung dengan tenang.

Sampai Rayhan Liem kembali.

Adik iparnya. CEO Liem Group. Pria paling dingin dan berbahaya di Jakarta.

Rayhan menatapnya bukan seperti kakak ipar. Tatapannya gelap, posesif, dan penuh rahasia. "Sejak kapan kau melihatku seperti itu?" tanya Yola dengan suara gemetar. Rayhan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum — senyum yang membuat Yola ingin berlari.

Dan Yola memang berlari. Dua kali.

Tapi Rayhan selalu menangkapnya kembali.

Di antara ciuman paksa dan pengorbanan diam-diam, di antara luka pisau yang ditanggung demi Yola dan rahasia yang tak pernah ia ucapkan — Yola mulai mempertanyakan segalanya.

Apakah ini obsesi? Atau cinta yang sudah terlalu lama ditahan?

Ketika akhirnya ia berdiri di depan nisan Kevin dan berkata, "Aku sudah jatuh cinta pada orang lain" — apakah dunia akan memaafkannya?

⚠️ Peringatan: Mengandung adegan dewasa (steamy), hubungan possessive, dan grey-area consent di beberapa chapter. HE guaranteed.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 009

Darah di Bahu Rayhan

Yola hanya sempat melihat bayangan hitam bergerak ke arahnya sebelum Naomi menjerit memanggil namanya dengan suara pecah.

Detik berikutnya, tubuh Rayhan sudah berada di depan Yola.

Semua terjadi terlalu cepat. Benda tajam di tangan pria itu turun, mengarah ke sisi tubuh Yola yang masih melindungi Naomi. Rayhan memutar bahu kanannya untuk menahan serangan, satu tangannya mendorong lengan penyerang menjauh.

Suara kain robek terdengar dekat sekali.

Lalu darah muncul di kemeja putih Rayhan.

Yola membeku.

Merah itu menyebar dari bahu kanan Rayhan, pelan pada awalnya, lalu lebih cepat saat ia menekan lengan penyerang dan memutarnya ke belakang. Pria itu mengerang. Rayhan tidak mengeluarkan suara. Rahangnya hanya mengeras, matanya sedingin kaca.

"Ardi."

Satu kata.

Ardi sudah datang dari sisi kiri, menangkap penyerang itu sebelum ia sempat jatuh ke arah Yola. Dua pengawal Hartono membantu menahannya di lantai. Benda tajam itu terlempar, berputar sekali di atas marmer, lalu berhenti tidak jauh dari sepatu Yola.

Naomi menangis di bawah tubuh Yola. "Kak Yola... Kak Rayhan berdarah."

Kalimat itu membuat Yola sadar ia masih menahan Naomi.

"Kamu bisa bangun?" tanya Yola, suaranya serak.

Naomi mengangguk panik. Yola membantu gadis itu duduk, lalu memeriksa wajah dan lengannya. Tidak ada luka besar. Hanya debu, air bunga, dan bekas merah di pergelangan karena tadi terlalu kuat dipegang.

"Aku nggak apa-apa," kata Naomi, tetapi suaranya bergetar.

"Tetap duduk."

Yola berusaha berdiri. Bahunya sendiri terasa nyeri, buku jarinya perih, lututnya lemas. Namun matanya terus tertarik pada noda darah di kemeja Rayhan.

Rayhan berdiri hanya dua langkah darinya.

Ia terluka.

Karena dirinya.

"Pak Rayhan," panggil Yola.

Rayhan menoleh.

Untuk sesaat, semua suara ballroom seperti menjauh. Jeritan tamu, instruksi pengawal, batuk karena asap, langkah orang-orang berlari, semuanya menjadi kabur. Yang jelas hanya mata Rayhan yang menatapnya dari dekat.

"Kamu kena?" tanyanya.

Yola membuka mulut, tetapi tidak ada suara keluar.

Bahu kanan pria itu berdarah, dan pertanyaan pertamanya justru itu.

"Saya..." Ia menelan ludah. "Anda berdarah."

"Aku tanya kamu."

Nada Rayhan dingin seperti biasa, tetapi ada sesuatu yang kasar di bawahnya, seperti benang yang ditarik sampai hampir putus.

Yola menggeleng. "Saya tidak apa-apa."

Rayhan menatapnya dari kepala sampai tangan. Tatapannya berhenti pada punggung tangan Yola yang tergores pecahan kaca.

Wajahnya langsung berubah.

"Itu tidak apa-apa?"

"Hanya goresan."

Rayhan melangkah setengah langkah, tetapi tubuhnya sedikit tertahan. Darah di bahu kanannya merembes lagi.

Yola refleks mengangkat tangan. "Jangan bergerak."

Perintah itu keluar dari mulutnya sebelum ia ingat siapa pria di depannya.

Ardi, yang sedang menyerahkan penyerang kepada pengawal Hartono, melirik cepat. Naomi bahkan berhenti menangis sejenak.

Rayhan juga berhenti.

Yola baru sadar napasnya terlalu cepat. "Luka Anda bisa lebih parah."

"Aku pernah mendapat luka lebih buruk."

"Itu bukan alasan untuk berdiri di tengah ruangan dengan darah mengalir."

Rayhan menatapnya.

Di wajah Yola tidak ada senyum kecil seperti untuk Naomi. Tidak ada kelembutan terang seperti untuk Mama Liem. Yang ada hanya pucat, marah, dan takut yang ia tahan mati-matian.

Anehnya, Rayhan merasa dadanya lebih sakit daripada bahunya.

"Pak Rayhan," Ardi mendekat, suaranya formal tetapi tegang. "Area barat sudah diamankan. Dua orang ditangkap, satu melarikan diri lewat taman. Tim Hartono mengejar."

"Kunci gerbang."

"Sudah, Pak."

"Periksa rekaman servis. Jangan serahkan semua ke Hartono."

"Siap."

Ardi tidak langsung pergi. Untuk seorang pria yang biasanya bergerak secepat perintah Rayhan, jeda itu terlalu jelas.

"Apa lagi?" tanya Rayhan.

Mata Ardi turun ke bahu kanannya. "Luka Bapak perlu ditekan sekarang."

"Aku tahu."

"Bapak kehilangan darah."

"Belum cukup untuk membuatku mati."

Yola menatapnya tajam. "Apakah semua laki-laki di keluarga Liem punya kebiasaan bicara seperti itu saat terluka?"

Kalimat itu keluar lebih keras daripada yang ia niatkan.

Beberapa orang di dekat mereka menoleh.

Rayhan juga menoleh. Untuk sepersekian detik, bayangan Kevin melewati wajah Yola. Kevin yang dulu selalu berkata tidak apa-apa saat demamnya naik, tidak apa-apa saat batuknya berdarah, tidak apa-apa saat tubuhnya semakin ringan di tangan Yola.

Frasa itu tiba-tiba menjadi sesuatu yang ia benci.

Rayhan melihat perubahan di mata Yola.

Ia tidak tahu apa yang Yola ingat, tetapi ia tahu ingatan itu bukan tentang dirinya.

Rasa sakit di bahunya mendadak terasa lebih tajam.

"Aku bukan Kevin," katanya pelan.

Yola memucat.

Naomi yang masih duduk di lantai berhenti menangis. Papa Hartono dan Adrian saling pandang. Udara di antara Yola dan Rayhan terasa lebih penuh daripada kepanikan ballroom itu sendiri.

Yola menurunkan suara. "Saya tahu."

Justru karena ia tahu, dadanya semakin sesak.

Kevin tidak pernah punya kekuatan untuk melindunginya dari apa pun. Kevin melindunginya dengan kata-kata lembut, dengan izin, dengan senyum yang meminta maaf. Rayhan melindunginya dengan tubuh, darah, dan perintah yang membuat semua orang mundur.

Keduanya sama-sama membuat Yola sakit dengan cara berbeda.

Yola menatap Rayhan tidak percaya. "Anda masih memberi instruksi?"

"Ini belum selesai."

"Luka Anda juga belum selesai."

Naomi yang duduk di lantai tiba-tiba memeluk pinggang Yola dari samping. "Kak Yola, maaf. Ini salah aku. Aku keluar dari pilar. Kak Yola jadi..."

Yola langsung berlutut lagi, mengabaikan nyeri di bahunya. "Hei, lihat aku. Ini bukan salah kamu."

"Tapi kalau aku nggak mau bantu anak itu..."

"Anak itu selamat karena kamu melihatnya." Yola menyeka air mata Naomi dengan ujung selendangnya yang robek. "Kamu tidak salah karena ingin menolong."

Naomi menangis lebih keras.

Rayhan melihat tangan Yola yang terluka menyentuh pipi Naomi dengan hati-hati. Darahnya sendiri menetes ke lantai, tetapi matanya justru tertahan pada cara Yola menenangkan gadis itu.

Lembut.

Bahkan setelah hampir diserang, ia masih bisa melembut untuk orang lain.

"Naomi!"

Papa Hartono datang bersama Adrian dan dua pengawal. Wajah pria tua itu pucat, tetapi langkahnya tetap kuat. Ia berlutut di depan putrinya, memegang kedua bahunya.

"Kamu terluka?"

Naomi menggeleng, lalu menunjuk Yola sambil menangis. "Kak Yola lindungin aku, Pa. Kalau nggak ada Kak Yola..."

Papa Hartono menatap Yola.

Yola segera menunduk. "Saya hanya kebetulan dekat dengan Naomi."

"Tidak ada yang kebetulan saat seseorang menjadikan tubuhnya perisai untuk anak orang lain," kata Papa Hartono.

Yola tidak tahu harus menjawab apa.

Stephanie membawa selimut tipis dan menutup bahu Naomi. "Kita bawa Naomi ke ruang keluarga dulu."

"Aku nggak mau ninggalin Kak Yola," kata Naomi cepat.

"Aku di sini," jawab Yola.

"Rayhan juga terluka," kata Adrian, menatap bahu Rayhan. "Dokter keluarga sudah dipanggil. Ruang medis kecil ada di sayap utara."

"Tidak perlu," kata Rayhan.

Yola menoleh tajam.

Adrian juga mengangkat alis. "Kemejamu sudah setengah merah."

"Luka dangkal."

"Kamu bisa memastikan itu tanpa melihat?"

Rayhan diam.

Yola berdiri perlahan. Kakinya masih gemetar, tetapi suaranya menjadi lebih tenang. "Kalau Anda tidak mau diperiksa di sini, setidaknya tekan lukanya."

Ia mengambil serbet putih yang jatuh dari meja terdekat, lalu berhenti sebelum menyentuh Rayhan. Batas itu kembali muncul. Batas yang semalam, pagi tadi, dan sepanjang hari selalu ia jaga.

Namun darah terus mengalir.

Yola menggigit bibir, lalu mengulurkan serbet itu kepada Ardi. "Tolong tekan di bahunya."

Rayhan tidak mengambil serbet itu dari Ardi.

Ia mengambilnya langsung dari tangan Yola.

Jari mereka hampir bersentuhan, tetapi Yola menarik diri lebih dulu.

Mata Rayhan menggelap.

"Kamu takut menyentuhku?"

Pertanyaan itu terlalu pelan untuk didengar orang lain. Tapi Yola mendengarnya.

Wajahnya memucat.

"Saya takut luka Anda bertambah parah."

"Bukan itu jawabannya."

Yola menatap darah di bahunya, bukan matanya. "Ini bukan tempat untuk membicarakan hal lain."

Rayhan menekan serbet ke bahunya. Darah langsung meresap ke kain putih.

"Pak Rayhan," Ardi berkata hati-hati, "mobil sudah siap. Kalau tetap di sini, polisi dan tamu akan..."

"Bawa Yola ke mobil."

Yola mengangkat kepala. "Saya?"

"Kamu ikut pulang."

"Naomi masih..."

"Naomi bersama keluarganya."

Naomi yang masih menangis langsung berkata, "Kak Yola jangan pergi dulu."

Yola memandang Naomi, lalu Papa Hartono. Pria tua itu mengangguk pelan.

"Kami jaga Naomi. Kamu juga perlu diperiksa."

"Saya tidak apa-apa."

Rayhan menatap goresan di tangan Yola. "Aku sudah mendengar kalimat itu terlalu banyak malam ini."

Untuk pertama kalinya, Yola tidak bisa membalas.

Di luar ballroom, suara sirene mulai terdengar dari kejauhan. Para tamu yang tersisa berbisik-bisik, beberapa menatap Yola dan Rayhan dengan wajah penuh pertanyaan. Yola tiba-tiba sadar posisinya: selendang robek, tangan berdarah kecil, berdiri terlalu dekat dengan adik almarhum suaminya yang baru saja terluka demi dirinya.

Gosip akan tumbuh dari malam ini.

Namun saat Rayhan melewati tubuhnya, bahu kanannya berdarah dan langkahnya tetap lurus, pikiran itu kalah oleh satu hal yang lebih mengganggu.

Pria yang membuatnya takut itu baru saja menjadikan tubuhnya sendiri sebagai pagar antara Yola dan luka.

Di pintu ballroom, Rayhan berhenti sebentar tanpa menoleh.

"Ardi."

"Siap, Pak."

"Jangan biarkan siapa pun mendekatinya."

Yola tahu kata `dia` itu mengarah kepadanya.

Dan entah mengapa, di antara bau asap, darah, dan bunga yang hancur, kalimat itu membuat dadanya jauh lebih sesak daripada semua tatapan orang-orang di ballroom.

1
Nia Nara
Dalam budaya chindo, belum pernah nemu adik ipar menikahi cici ipar (soso)nya. Menikahi koko iparnya (cihu), di generasi mama saya masih ada. Generasi saya tidak pernah saya dengar lagi.
Nia Nara
Thor, bakcang gak afdol kalau gak pake daging babi, setidaknya itu di keluarga saya. Jarang yg suka ayam kecuali saya 🤣
Nia Nara
Pas baca festival makan bakcang, baru ngeh ini cerita keluarga chindo ya.. Liem.. Tan… baru ngeh 😄
Nia Nara
Apa Rayhan sudah ada rasa jauh sebelum Yola jadi istri Kevin ya?
👣Sandaria🦋
novel yg benar-benar tidak bisa membuatku berhenti👍
👣Sandaria🦋
tiga bab sehari, Author. pliss🤗😅
Lily
keknya seru nih
👣Sandaria🦋
Novel ter-epic yg kubaca di 2026 ini👍
up lagi, Author. banyak-banyak!😅
👣Sandaria🦋
seharusnya Adrian bilang "silahkan panik!" 🤣
👣Sandaria🦋
gaya tulisan authornya punya aura magis😅
👣Sandaria🦋
wow. sepertinya aku jatuh cinta dengan cerita ini, Kak😍
Fitri Yastuti
lanjutt kak, lg seru ini
Fitri Yastuti
bagus ceritanya, nm bahasanya jg bgus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!