NovelToon NovelToon
Gadis yang Terbuang

Gadis yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.

Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.

Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.

Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.

Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.

Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:

Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Jalur Sekolah

Kolektor lama meminta jadwal pertemuan langsung dengan Tao.

Seline membaca kalimat itu tiga kali.

Setiap kali dibaca, kata langsung terasa semakin dekat. Bukan lagi permintaan dari layar. Bukan lagi nama pembeli yang aman di balik rekening galeri. Kali ini ia bisa membayangkan Kevin berdiri di ruang utama Hartono, menatap tanda tangan kecil di sudut lukisan, lalu memerintahkan Anton membuka satu lapis demi satu lapis jarak yang selama ini melindunginya.

Darren berdiri di samping meja, tidak berani menyentuh bahunya.

"Kak, jangan jawab dulu kalau tangan Kakak gemetar."

Seline baru sadar jarinya memang bergetar di atas layar.

Ia meletakkan ponsel, menarik napas, lalu menghapus draft yang tadi terlalu panik. Ia menulis ulang dengan kalimat lebih rapi, lebih dingin, seperti Tao benar-benar orang lain yang tidak bisa disentuh oleh siapa pun di rumah ini.

Tao menghargai minat kolektor, tetapi tidak menerima pertemuan tatap muka. Semua komunikasi terkait karya hanya melalui galeri dan email tertulis.

Ia membaca sekali lagi. Tidak ada kata maaf berlebihan. Tidak ada alasan pribadi. Tidak ada celah.

"Kirim?" tanya Darren.

Seline menekan tombol kirim sebelum keberaniannya habis.

Layar berubah. Email terkirim.

Namun lega tidak datang. Yang datang justru rasa kosong, seperti ia baru menutup pintu tetapi masih mendengar langkah seseorang di luar.

Dua hari setelah Imlek, Pelita Harmoni kembali ramai.

Libur pendek membuat halaman sekolah terasa lebih bising dari biasanya. Anak-anak turun dari mobil dengan tas baru, beberapa masih membawa amplop angpao yang diselipkan di saku seragam. Di dekat lobi utama, spanduk merah dan emas terpasang untuk program donasi buku awal tahun.

Seline turun dari mobil Jason sambil merapikan kerah seragam Darren.

"Kak, aku sudah kelas tujuh, bukan TK," protes Darren pelan.

"Kalau dasimu miring, guru tidak peduli kamu kelas berapa."

Jason tertawa dari belakang setir. "Biarkan saja, Dar. Kakakmu punya standar lebih tinggi daripada wali kelas."

Darren memutar mata, tetapi senyumnya muncul.

Seline ikut tersenyum sebentar. Pagi seperti ini seharusnya sederhana. Mengantar Darren. Mengucapkan terima kasih pada Jason. Pulang sebelum terlalu banyak mata memperhatikan mobil Hartono.

Lalu ia melihat Bryan Wijaya berdiri di dekat pintu lobi bersama kepala sekolah.

Senyumnya hilang.

Bryan memakai kemeja putih dan jas tipis warna abu, tampak seperti tamu resmi, bukan orang yang kebetulan lewat. Di sampingnya ada dua staf sekolah membawa map acara. Begitu matanya bertemu dengan Seline, wajah Bryan berubah sangat kecil, cukup kecil untuk tidak dilihat orang lain, tetapi cukup jelas bagi Seline yang sudah belajar membaca perubahan wajah di rumah Hartono.

Ia mengenalinya.

Tentu saja ia mengenalinya.

"Kak?" Darren mengikuti arah pandangnya. "Itu Ko Bryan, kan?"

"Iya."

Jason juga melihat. "Wijaya Foundation memang sponsor program literasi tahun ini. Aku lupa bilang, hari ini ada seremoni kecil."

Seline menoleh kepada Jason. "Seremoni?"

"Donasi perpustakaan dan beasiswa. Biasanya cuma kepala sekolah dan perwakilan yayasan. Tidak lama." Jason menatap Bryan lagi, lalu suaranya sedikit berubah. "Kamu kenal dia cukup baik?"

"Tidak."

Jawaban Seline terlalu cepat.

Jason tidak bertanya lagi, tetapi ekspresinya menandai jawaban itu.

Mereka tidak bisa mundur. Darren sudah harus masuk kelas, dan Bryan sudah berjalan mendekat dengan kepala sekolah di sampingnya.

"Nona Seline," sapa Bryan sopan.

Seline menunduk sedikit. "Ko Bryan."

"Tidak menyangka bertemu di sini."

Kalimat itu terdengar biasa. Tetapi dari cara Bryan melihat Darren, Seline tahu pertemuan ini bukan seluruhnya kebetulan.

Kepala sekolah tersenyum ramah. "Pak Bryan dari Wijaya Foundation hari ini hadir untuk program donasi buku. Darren, kamu salah satu siswa dengan rekomendasi akademik terbaik, ya?"

Darren terlihat canggung, tetapi menjawab sopan. "Terima kasih, Pak."

Bryan menatapnya dengan lebih lembut. "Kamu Darren?"

"Iya."

"Kakakmu sering mengantar?"

Darren melirik Seline dulu. "Kalau jadwalnya cocok."

Seline hampir lega karena Darren tidak menjawab lebih dari perlu.

Bryan menangkap gerakan kecil itu. Ia tidak memaksa. Justru itu yang membuatnya lebih berbahaya. Orang yang sabar lebih sulit dihindari daripada orang yang kasar.

"Dulu sekolah di Surabaya?" tanya Bryan.

Seline segera berkata, "Ko Bryan, Darren harus masuk kelas."

Bryan berhenti. Matanya berpindah dari Darren ke Seline. "Maaf. Pertanyaan saya lancang."

Jason turun dari mobil. "Dar, masuk dulu. Nanti terlambat."

Darren mengangguk. Sebelum pergi, ia menatap Seline sekali lagi. Ada pertanyaan di matanya, tetapi juga janji untuk tidak membuka mulut.

Seline membalas dengan anggukan kecil.

Setelah Darren masuk, ruang di antara orang dewasa terasa lebih kaku. Kepala sekolah dipanggil salah satu staf untuk memeriksa daftar acara. Tinggal Seline, Jason, dan Bryan di dekat deretan pot besar berisi palem kuning.

Bryan berkata pelan, "Saya tidak bermaksud membuat adikmu tidak nyaman."

"Dia tidak suka ditanya hal pribadi oleh orang yang belum dekat."

"Wajar."

Jason menatap Bryan dengan senyum sopan yang tidak sepenuhnya hangat. "Pak Bryan tertarik pada prestasi Darren?"

"Anak itu terlihat pintar."

"Memang."

Nada Jason ringan, tetapi posisinya sedikit bergeser, berdiri setengah langkah di depan Seline. Bryan melihatnya, lalu menurunkan pandangan sesaat.

"Pelita Harmoni sekolah bagus," kata Bryan. "Kadang anak-anak yang masuk dari kota lain butuh dukungan lebih. Foundation kami punya program pendampingan."

Seline tahu tawaran itu bisa terdengar baik. Terlalu baik. Seperti pintu yang dibuka untuk membantu, tetapi di baliknya ada tangan yang mencari kunci lain.

"Terima kasih," jawab Seline. "Darren sudah cukup terbantu oleh sekolah dan keluarga Hartono."

Nama Hartono sengaja ia ucapkan jelas.

Bryan memahaminya. Ia tidak tersinggung. Ia hanya tampak lebih sedih.

"Saya mengerti."

Seline ingin pergi, tetapi Bryan berkata lagi, lebih pelan, "Nona Seline, kalau suatu hari pertanyaan saya terasa mengganggu, tolong katakan langsung."

"Sekarang sudah cukup mengganggu."

Jason menoleh cepat, mungkin tidak menyangka Seline akan sejujur itu.

Bryan terdiam. Lalu ia mengangguk, sangat pelan. "Baik. Saya akan berhenti untuk hari ini."

Untuk hari ini.

Seline mendengar batas waktunya dan dadanya kembali menegang.

Di perjalanan pulang, Jason tidak langsung menyalakan musik seperti biasanya.

"Seline," katanya setelah mobil keluar dari gerbang sekolah, "Bryan Wijaya bukan orang sembarangan."

"Aku tahu."

"Kalau dia membuatmu tidak nyaman, bilang aku."

Seline menatap jalan melalui kaca depan. "Terima kasih, Ko Jason."

"Aku serius."

"Aku juga."

Jason tidak mendesak. Namun genggamannya di setir tampak lebih kuat daripada tadi pagi.

Di lobi Pelita Harmoni, Bryan berdiri di depan papan pengumuman program literasi. Di sana terpajang beberapa artikel sekolah lama, termasuk foto dua tahun lalu saat Darren menerima penghargaan siswa adaptasi terbaik.

Di bawah foto itu tertulis singkat:

Darren, siswa pindahan dari Surabaya, didampingi wali keluarga Seline.

Bryan menatap kalimat tersebut lama sekali.

Stafnya mendekat. "Pak, acara lima menit lagi."

Bryan mengeluarkan ponsel, memotret artikel sekolah yang terpajang untuk umum, lalu berkata tanpa menoleh, "Setelah acara, cari semua arsip publik tentang Seline sebelum dia datang ke Hartono."

Staf itu ragu. "Arsip publik, Pak?"

Mata Bryan tetap pada kata Surabaya.

"Mulai dari Surabaya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!