Lim Mei Li bukan wanita biasa.
Di usia 7 tahun, dia menyaksikan ibunya melompat dari balkon — dipaksa oleh keluarga yang seharusnya melindunginya. Di usia 12, dia kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Di usia 16, dia sudah menguasai kerajaan bisnis yang membuat dunia gemetar.
Sekarang, di usia 23, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai anak yang dibuang. Tapi sebagai predator yang sudah terlalu lama menunggu.
Keluarga Tan — konglomerat yang menghancurkan ibunya — akan merasakan apa artinya takut. Satu per satu, mereka akan jatuh.
Tapi di tengah permainan balas dendam ini, seseorang muncul yang tidak ada dalam rencananya.
Arka Wicaksana Pradipta. Pewaris keluarga militer paling berkuasa di negeri ini. Pria yang selama 15 tahun tidak bisa disentuh oleh wanita manapun — kecuali dia.
"Aku menunggumu," katanya. "Tidak terburu-buru."
Mei Li tidak pernah berencana untuk jatuh cinta. Tapi setiap kali Arka tersenyum, benteng yang dia bangun selama 16 tahun... mulai retak.
Di bawah bibirnya, dia menemukan kegilaan yang tidak pernah dia minta.
🔥 Revenge × CEO Romance × Strong Female Lead
💎 "Jangan pernah meremehkan wanita yang kembali dengan membawa seluruh dunia di tangannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26
Tan Bao Shan tidak lagi memukul meja.
Orang yang masih punya banyak pilihan akan marah dengan suara keras. Orang yang pilihannya semakin sedikit akan bicara pelan, karena setiap kata harus mengenai sasaran.
Pagi itu, seluruh anak dan menantu yang tersisa dipanggil ke ruang kerja utama. Rachel duduk di sisi kanan, wajahnya rapi tanpa setitik pun tanda malam tanpa tidur. Edmond tampak kusut. Felix tidak berhenti memeriksa ponsel. Michelle duduk kaku, masih takut menyebut nama Stella.
Di atas meja, ada empat map.
"Kita terlalu lama membiarkan dia memilih medan," kata Tan Bao Shan.
Felix mengangkat kepala. "Pa, jalur pelabuhan sudah..."
"Aku tahu."
Suaranya pelan, tetapi cukup untuk membuat Felix diam.
Tan Bao Shan meletakkan tangan di atas map pertama. "Pajak."
Rachel menatap map itu. "Koh Group?"
"Semua perusahaan yang baru dibeli Lim Mei Li. Minta pemeriksaan transaksi lintas negara. Bukan untuk menemukan kesalahan besar. Cukup untuk membuat bank dan partner mereka gelisah."
Map kedua. "Perizinan."
Edmond menelan ludah. "Setelah dua pejabat mundur?"
"Masih ada orang lama yang tahu utang budi."
Map ketiga. "Media."
Michelle akhirnya bicara, suaranya serak. "Media sudah memakan Jasmine dan Stella."
"Karena kita membiarkan mereka makan dari tangan Lim Mei Li." Tan Bao Shan membuka map itu. Ada daftar akun berita, kolumnis bisnis, dan beberapa influencer ekonomi yang sering menjual opini sebagai analisis. "Sekarang beri mereka daging lain."
Rachel mengambil satu lembar. Judul rancangan artikel tertulis jelas:
Investor asing misterius menguasai aset strategis Jakarta.
Ia tersenyum tipis. "Mainkan isu nasionalisme ekonomi?"
"Bukan ras," kata Tan Bao Shan tajam. "Jangan bodoh. Kita tidak menyerang Tionghoa. Kita serang uang asing, keamanan data, dan risiko monopoli."
Rachel mengangguk. Untuk semua dosanya, Tan Bao Shan masih cukup pintar untuk tidak membuka luka sosial yang bisa membakar seluruh kota dan balik menghantam keluarga Tan.
Map keempat dibiarkan tertutup.
Felix menatapnya. "Itu apa?"
"Cadangan."
Rachel melihat jari Tan Bao Shan yang menekan map itu sedikit lebih keras. Ia tahu cadangan berarti sesuatu yang lebih kotor daripada tiga map pertama.
"Mulai hari ini," kata Tan Bao Shan, "Koh Group tidak boleh bergerak satu langkah tanpa merasa lantainya retak."
***
Gelombang pertama datang sebelum jam makan siang.
Koh Group menerima surat pemeriksaan pajak mendadak untuk tiga anak perusahaan. Suratnya resmi, sopan, dan terlalu cepat untuk proses normal.
Gelombang kedua datang pukul dua siang.
Satu izin renovasi gudang ditahan. Dua permohonan pengalihan kontrak supplier diminta ditinjau ulang. Seorang staf kecil di kantor pemerintah mengirim pesan pribadi kepada William Koh, meminta maaf karena "atasan menekan dari atas".
Gelombang ketiga datang pukul empat.
Tiga artikel muncul hampir bersamaan.
Siapa Lim Mei Li?
Mengapa Koh Group tiba-tiba membeli terlalu banyak aset?
Apakah Jakarta sedang dikuasai modal asing tanpa transparansi?
Tidak ada yang menyebut keluarga Tan sebagai sumber. Tidak ada yang menuduh secara langsung. Namun foto Mei Li keluar dari Koh Tower, foto jet pribadi, dan potongan video lama dari Menteng Regency dipakai untuk membangun satu kesan: perempuan ini terlalu kuat, terlalu asing, terlalu berbahaya untuk dibiarkan.
Di kantor KADIN, Dimas melempar tablet ke meja Arka.
"Mas, ini bukan artikel. Ini peluru pakai jas."
Arka membaca judulnya tanpa ekspresi. Ia melihat susunan narasi dengan cepat: kekhawatiran investasi, keamanan data, monopoli, modal asing. Tidak ada hinaan kasar. Justru karena rapi, serangan itu lebih berbahaya.
"Tan Bao Shan?" tanya Dimas.
"Kemungkinan besar."
"Kamu mau bantu?"
Arka menatap layar. Foto Mei Li diambil dari sudut bawah, membuatnya terlihat dingin dan jauh. Orang yang tidak mengenalnya akan mudah percaya narasi itu.
"Aku akan bertanya dulu," katanya.
"Dia akan bilang tidak butuh."
"Maka aku bertanya dengan pilihan yang lebih tepat."
Dimas kali ini tidak bercanda.
Di ruang rapat Koh Tower, William Koh tampak pucat.
"Miss Lim, tiga partner meminta klarifikasi. Bank Sagara menunda fasilitas kredit jangka pendek. Supplier yang tadi pagi sudah setuju mulai ragu."
Ricky berdiri di ujung meja, wajahnya marah. "Ini permainan Tan Bao Shan."
"Tentu," kata Mei Li.
Amy meletakkan berkas di depan Mei Li. "Suratnya legal. Medianya berhati-hati. Mereka belajar dari kegagalan Jasmine dan Stella."
Bella menyilangkan tangan. "Mereka ingin membuat Nona tampak seperti ancaman nasional, bukan korban keluarga."
Mei Li membaca artikel pertama sampai selesai. Tidak ada kemarahan di wajahnya. Hanya senyum kecil yang membuat Ricky langsung berhenti mondar-mandir.
"Jie?"
"Akhirnya," kata Mei Li.
William bingung. "Akhirnya?"
"Tan Bao Shan berhenti menggunakan anak-anak bodohnya dan turun sendiri."
Ruangan sunyi.
Ponsel Mei Li bergetar. Pesan dari Arka.
Saya melihat artikel. Anda butuh ruang bicara atau ruang diam?
Mei Li menatap pesan itu lebih lama daripada seharusnya, lalu membalik ponsel.
"Kumpulkan semua surat, semua artikel, semua nama yang bergerak hari ini," katanya. "Jangan balas dulu."
Amy mengangguk. "Kita tunggu?"
"Tidak." Mei Li menutup map pajak. "Kita biarkan mereka yakin serangan pertama berhasil."
Ricky menatap layar berita yang masih menyala. "Lalu?"
Mei Li berdiri, berjalan ke jendela. Jakarta sore itu tampak berkilau dan lapar.
"Lalu kita cabut tangan mereka satu per satu."