Aku tidak menyangka jika pernikahanku ternyata membuatku harus memilih antara tetap hidup dengan seorang pembunuh Ayahku atau aku harus membalaskan dendam atas kepergian Ayahku.
Sebuah cerita perjuangan hidup seorang wanita yang besar dengan bertahan hidup di jalanan karena sejak usia sepuluh tahun kedua orangtuanya harus meninggal dengan keadaan tenggelam di laut bersama mobil yang mereka kendarai. Beruntung saat itu ia tidak ikut dengan kedua orangtuanya untuk makan malam dengan kliennya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24. Penolakan Kharisa Berujung Nasib Buruk
Malam itu Kharisa dan Gara tertidur satu tempat tidur yangberukuran tidak begitu besar hingga keduanya saling berdekatan.
"Mengapa Kharisa tidak juga mengangkat telfonku? apa dia marah karena kejadian tadi?" Khard tampak gelisah memikirkan Kharisa.
"Sebaiknya besok saja aku bicarakan padanya, aku tahu pernikahan mereka tidak baik-baik saja, aku rela untuk mengisi hati Kharisa yang sedang kosong apa pun caranya. Karena cintaku tulus padanya." tutur Khard tersenyum menyeringai.
***
Hari berlalu begitu cepat, pagi ini Kharisa sudah bersiap untuk berangkat ke kantor dari rumah sakit sementara Gara baru saja selesai minum obat.
Sama seperti hari-hari sebelumnya, berangkat tanpa mengucapkan salam mau pun berpamitan. Bukan tanpa alasan seorang istri berlaku seperti itu, ia sadar jika dirinya sama sekali tidak di anggap sebagai istri bahkan sangat di anggap rendah oleh suaminya sendiri.
Sebagai wanita yang tahu diri Kharisa enggan untuk memulai bicara apa pun karena ia merasa setiap kata yang ia lontarkan akan menjadi pertengkaran untuknya dan Gara.
Semakin hari semakin terlihat tampak cantik dengan tubuhnya yang langsing dan penampilan elegan nya membuat mata Gara tak bisa berbohong jika ia sangat mengagumi kecantikan istrinya.
Kharisa selalu mengenakan pakaian formal hal itu membuat dirinya semakin tampak menjadi wanita berkelas.
"Tuan, Mr. Dave sudah menunggu kepulangan anda. Sebaiknya kita melakukan perawatan di luar negeri saja." tutur Randa yang baru saja masuk ke ruangan setelah melihat Kharisa pergi dari ruang rawat Gara.
"Tidak perlu, bukankah hari itu Mr. Dave memintaku untuk menyelesaikan pekerjaan di Indonesia?" tanya Gara.
"Benar Tuan, tapi kita sudah sangat lama mengundur waktu, dan jika anda melakukan perawatan di luar negeri tentu kesembuhan anda akan jauh lebih cepat."
"Tidak, tanganku sudah mulai terasa membaik aku juga merasakan sedikit demi sedikit tanganku mulai bisa merasakan sesuatu." terang Gara.
"Baik, Tuan." ucap Randa.
Gara yang sudah meminta salah satu anggotanya untuk mengawasi pergerakan Kharisa terkejut saat melihat kehadiran Reybka di perusahaannya pagi itu.
"Mau apalagi wanita jalang itu menghampiri istriku?" ucap Gara dengan kesalnya.
Matanya seketika yang tertuju pada ponselnya kembali merubah raut wajahnya saat menyadari di ruangan itu ada Randa yang mendengar perkataannya menyebut Kharisa sebagai istrinya.
"Dia memang istri anda, Tuan." tutur Randa dengan beraninya karena menyadari sikap gengsi Gara.
"Diam, Randa." hardik Gara.
"Heh ular," teriak Reynka yang mendorong bahu Kharisa saat berpapasan dengannya.
"Kau," Kharisa terkejut melihat kehadiran wanita suaminya itu.
"Aku katakan padamu segera jauhi kekasihku atau kau akan-" (ucapan Reynka segera di potong oleh Kharisa).
"Akan apa? katakan akan apa? kau pikir hubungan ini aku yang mau? kalau kau ingin hubunganku dan Gara berakhir bicaralah pada kekasihnu dan orang tuanya. Aku akan sangat berterima kasih jika kau membebaskanku." pekik Kharisa
"Cih...kau fikir dirimu sangat begitu berarti untuk mereka hingga berkata mereka yang menginginkan dirimu begitu?" banta Reynka merasa perkataan Kharisa sama sekali tidak masuk akal.
"Yah bisa di katakan begitu." ucap Kharisa dengan melangkah lebih dekat lagi pada arah Reynka dan segera mencengkram erat dagu wanita itu. "Dengarkan aku baik-baik, aku sama sekali tidak menginginkan kekasihmu itu jika kau bisa mengambilnya dariku silahkan. Aku justru berterima kasih, sangat berterima kasih padamu Reynka." ucap Kharisa.
Reynka yang merasa cengkraman Kharisa begitu kuat pada dagunya meringis hingga terlihat wajahnya yang sedikit kesakitan.
"Sialan, bagaimana bisa wanita memiliki kekuatan seperti itu?" gumam Reynka yang menatap jari jemari Kharisa tampak bukan tangan yang sangat lembut dan lemah.
"Dan satu lagi kalau kau ingin merawatnya pergilah sekarang kesana, karena aku sedang sibuk lagi pula jika kau bisa menggantikan diriku aku akan sangat senang sekali, aku bisa menghabiskan waktuku dengan melakukan hobiku memanah atau pun berlatih menembak." ujar Kharisa memberi tawaran pada Reynka.
Mata Reynka seketika membelalak mendengar perkataan Kharisa yang hobi menembak dan memanah.
Ia meneguk kasar salivanya kemudian berdiri diam mematung memandangi kepergian Kharisa yang masuk ke dalam ruang kerjanya. Di sana sudah ada seorang pria, yaitu Khard yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua.
"Huh pagi-pagi sudah membuat uratku menegang saja." Kharisa menggerutu sembari menyandarkan kasar tubuhnya di kursi kerjanya.
"Ada apa, Kharisa?" tanya Khard.
"Tuh wanitanya Gara, berani sekali dia mengganggu ku." sahut Kharisa.
"Benar, mereka memang sedang tidak baik-baik saja saat ini." gumam Khard tersenyum menyeringai.
"Bisa-bisanya dia mengatakan seperti itu pada Reynka. Randa, sekarang kau pastikan jika Reynka tidak masuk ke ruanganku ini." pintah Gara yang kesal setelah mendengar pertengkaran mulut Kharisa dan Reynka di balik panggilan video yang di lakukan oleh anggotanya.
"Baik, Tuan." sahut Randa.
"Tuan, apa itu artinya tangan anda sebenarnya sudah membaik?" tanya Randa penasaran.
"Jadi kau fikir tanganku benar-benar lumpuh?" tanya Gara.
Randa sangat terkejut mendengar perkataan Gara matanya terbelalak tak menyangka. Sementara Gara hanya tersenyum karena semua ini adalah permainan dirinya, ia sangat ingin mengetahui apakah yang akan Kharisa lakukan jika dirinya sedang sakit.
"Awalnya memang benar tanganku sedang luka tapi tidak separah sampai lumpuh dan aku hanya ingin mengetes dirinya saja tapi ternyata walau pun dia marah dan benci padaku dia masih memperlakukanku layaknya suami yang baik. Dan aku ingin mengerjainya lebih dalam lagi." ucap Gara
"Tuan, sebaiknya anda berhati-hati lah dengan permainan anda Tuan."
"Apa maksudmu, Randa? apa kau pikir aku akan semudah itu?" hardik Gara dengan tatapan marahnya.
"Suruh dia meninggalkan Kharisa di kantor tidak usah lagi membuntutinya atau memata-matainya." pintah Gara pada Randa.
Dan Randa pun segera menuruti perintah dari Gara.
Reynka yang sudah meninggalkan kantor kini menuju ke rumah sakit seperti yang di perintahkan oleh Kharisa. "Gara, apa pun akan aku lakukan untuk mengembalikan hubungan kita seperti dulu lagi, aku tidak perduli jika aku harus menjadi pelakor dalam rumah tangga kalian." tutur Reynka penuh ambisi selama perjalanan ke rumah sakit
Entah mengapa banyaknya kehidupan yang begitu egois tanpa memikirkan kesalahan diri sendiri, mereka begitu menginginkan kebahagiaan untuk dirinya sendiri tanpa perlu memikirkan orang di sekitarnya.
Andai Reynka di beri kesadaran jika semua kebahagiaan yang hilang dari dirinya adalah kesalahan atas perlakuannya pada Gara.
"Jika aku memiliki rasa tega pada wanita itu sudah lama ku lenyapkan dari muka bumi ini." tutur Gara yang frustasi menghadapi kebalnya wajah malu Reynka yang terus mengemis cinta padanya.
Sungguh ada rasa penyesalan bagi Gara yang pernah begitu mencintai Reynka, hingga ia tidak melihat bagaimana sebenarnya sikap wanita cantik yang ia kagumi itu.
"Randa, aku sarankan padamu jangan percaya pada wanita, mereka itu hanya mempermainkan dirimu saja. Kita sebagai lelaki jangan mau di remehkan oleh mereka."
"Tuan, jika anda mau jomblo seumur hidup itu pilihan anda. Tapi jangan mengajak atau bahkan memaksa saya juga. Karena aku percaya masih ada wanita baik di luar sana. Hanya mata anda saja yang sudah terlampau buruk menilai mereka karena satu wanita yang anda salah nilai. Dan saat ini istri yang benar-benar berkualitas saja anda tidak mampu melihat kebaikannya."
"Randa, apa kau dengan kataku?" pekik Gara yang membuyarkan lamuna Randa seketika.
"Eh...iya Tuan." sahut Randa tergugup.
"Jika bukan karena kekhawatiran ku pada Ayah tentu aku tidak akan mau menikah dengan wanita." Gara mulai mengajak Randa untuk curhat.
"Tuan, apa itu artinya anda ingin menikah dengan pria?" tanya Randa dengan tatapan ragu.
"Apa maksudmu?" pekik Gara.
Seakan pertanyaan itu bukannya untuk menanya, namun ia memaki karena perkataan Randa begitu lancang padanya seolah mengatakan jika dirinya seorang homo.
"Ma-afkan saya, Tuan." tutur Randa.
Takk lama kemudian pintu ruangan pun terdengar ada ketukan. "Itu pasti dia." ucap Gara setengah berbisik.
"Tenang, Tuan. Saya sudah meminta para pengawal untuk menghalanginya." jawab Randa.
"Mau apa kalian? heh jangan sentuh aku atau kalian akan di hajar oleh Gara." teriak Reynka yang sudah terdengar ribut di luar ruangan.
Gara dan Randa hanya saling menatap heran mengapa ada wanita segitu nekatnya. "Gara, buka pintunya suruh mereka melepaskan aku!" teriak Reynka lagi.
"Gara! mereka mengusirku." Reynka yang terus berteriak perlahan suaranya mulai menghilang dan tak terdengar lagi di ruangan itu.
Sementara Gara yang berada di dalam ruangan kini memejamkan matanya untuk beristirahat karena pengaruh obatnya membuat dirinya mengantuk.
***
Di ruang kerja, Khard sesekali terus memandangi wajah cantik Kharisa yang begitu membuat jantungnya berdetak tidak karuan.
"Kharisa, maafkan aku karena aku memang menginginkanmu." tutur Khard yang menatapnya begitu penuh keinginan.
Sampai hari sudah siang kini waktunya untuk para pekerja makan siang. Kharisa tidak perlu mengkhawatirkan Gara, karena sebelum pergi ia sudah menitipkan suaminya itu pada Randa.
"Kharisa, ayo kita makan di kantin." ajak Khard.
"Em maaf Khard, sebaiknya kau makanlah dulu. Karena aku sedang diet." jawab Kharisa yang berusaha menghindar dari pria itu.
Kharisa takut jika sampai ia memberi harapan pada Khard karena kebaikannya itu. Akhirnya Khard pun menerima alasan Kharisa dan segera pergi dari ruangan itu.
"Maafkan aku, Khard." gumam Kharisa begitu tidak tega menatap punggung pria itu yang sudah menjauh darinya.
"Kharisa, mungkin saat ini kau bisa menolak diriku, tapi tidak untuk saat itu." gumam Khard tersenyum sinis pada Kharisa.
Kharisa beberapa kali meremas perutnya yang sudah keroncongan karena lapar, "Sebaiknya aku pergi makan saja di luar kantor agar tidak bertemu dengannya." tutur Kharisa dan segera mengemasi barang-barangnya.
Kepergian Kharisa yang terburu-buru tanpa membuatnya sadar jika Khard sudah mengikutinya dengan hati-hati.
Dengan cepatnya Kharisa segera memesan makanan dan minuman di restoran yang terletak tidak jauh dari tempat kerjanya saat ini.
"Siap, Tuan. Saya akan melakukan sesuai dengan permintaan anda." ucap salah satu pekerja di restoran itu.
Dari kejauhan Khard tersenyum menyeringai menatap keberadaan Kharisa yang sedang menunggu pesanan makanannya.
khard pgen sutik mati ..
kalo bisa di ubah aja alurnya...
😁😁😁😁
pas detik2 kard mau menodai kharisa bara datang dan belum sempat melakukan tindakannya....
kasian kharisa, 🥺
sy suka bngat ceritanya..😍😍
adakah season ke2 nye😊
ga nyangka uda end
hhhe
tn tedy tepat waktu bgt sii dtg nya