Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.
Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.
Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.
Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Solusi Tanpa Perasaan
Malam itu, Ares baru saja masuk ke ruang keluarga ketika pamannya yang duduk di sofa menurunkan majalah bisnis dari wajahnya.
“Sudah dapat perempuan yang akan kamu nikahi?” tanya Rendra enteng.
Ares langsung berdecak. “Om bisa tidak, gak bahas soal itu tiap aku pulang?”
“Jelas gak bisa.” Rendra meletakkan majalah di pangkuan. “Ini bukan sekadar urusan pribadimu. Ini menyangkut keturunan keluarga.”
“Perusahaan gak bakal bangkrut hanya karena aku belum punya anak," ucap Ares sambil melepaskan jasnya.
“Perusahaan mungkin tidak.” Rendra menatapnya serius. “Tapi garis keturunan keluarga kita bisa-bisa bakal berhenti sampai di kamu. Karenanya, aku harus mastiin keluarga ini punya penerus.”
Ares menghela napas. "Aku sibuk, Om. Gak punya waktu buat mikirin itu."
Tapi pamannya malah mendengus. “Jangan sok sibuk. Dulu, setelah ayahmu meninggal, aku yang ngambil alih perusahaan sampai kamu cukup dewasa untuk memimpinnya. Setelah posisi CEO kuserahkan sama kamu, aku milih jadi komisaris. Sekarang aku hanya mengawasi keputusan besar dan urusan strategis. Selebihnya, waktuku lebih banyak kuhabiskan untuk investasi dan perjalanan bisnis.”
Ares tentu tahu semua itu. Justru karena itulah ia tahu pamannya masih memiliki pengaruh besar terhadap perusahaan.
“Kalo begitu, kenapa gak Om aja yang punya anak?” Ares balik bertanya. “Om juga belum terlalu tua tuh.”
Rendra menatapnya tidak percaya.
Ares tetap tenang. “Om masih sehat, gak punya masalah kayak aku, dan gak alergi sama perempuan. Tinggal cari seseorang. Mau nikah atau gak, terserah. Anggap aja sedang bersenang-senang. Selesai.”
“Bocah sialan!” Majalah di tangan Rendra langsung melayang dan mengenai dada Ares. “Kamu makin gak sopan sama pamanmu sendiri!”
Ares menangkap majalah itu dengan santai. “Aku cuma ngasih solusi.”
“Solusi kepalamu!” Rendra mendengus, lalu bersandar. “Aku pernah nikah. Pernikahan itu gagal dan kami gak punya anak. Setelah kami cerai, aku milih hidup sendiri dan besarin kamu. Aku gak tertarik nyari pasangan baru hanya demi memenuhi tuntutan keluarga.”
Ares mengangkat alis.
“Dan sekarang aku sudah nyaman dengan hidupku,” lanjut Rendra. “Aku gak mau tiba-tiba mbangun keluarga baru hanya karena kita butuh pewaris. Anak bukan alat buat pertahanin nama keluarga.”
Ares menghela napas pelan. “Kalo begitu, kenapa Om masih ribut soal pewaris keluarga?”
“Karena kita tetap butuh seseorang yang bisa nerusin apa yang sudah dibangun keluarga ini dan ngurus semuanya ketika kita sudah gak sanggup lagi.” Rendra mendengus. “Bukan berarti aku ingin jadi ayah di usia sekarang. Teman-temanku sudah sibuk ngurus cucu. Lalu kenapa aku harus mulai ngurus bayi?”
Ares nyaris tersenyum. “Kalo begitu, kenapa aku yang harus melakukannya?”
“Karena kamu masih muda,” tandas Rendra.
“Kalo begitu, cari rahim aja buat bayi tabung," ujar Ares enteng.
Rendra langsung melotot. “Jangan mulai lagi.”
“Om sendiri yang bilang masalahnya cuma soal keturunan.”
"Tapi gak kayak gitu juga caranya." Rendra mengambil majalah lain di sisi meja, lalu berkata, “Lagipula, berhenti nganggep gak ada perempuan yang cocok buat kamu.”
Ares menatapnya.
Rendra merapikan posisi kacamatanya. “Kamu sudah dua puluh delapan tahun. Emosimu makin mudah tersulut, tidurmu berantakan, kerjaanmu numpuk, dan kau terus nekan kebutuhanmu sendiri. Kau pikir tubuhmu bakal terus menerima?"
“Aku baik-baik aja kok," sangkal Ares.
“Tidak," tukas Rendra. "Kamu hanya terbiasa menahannya.”
Ares tidak menjawab.
“Cari perempuan yang cocok,” lanjut Rendra. “Gak perlu langsung nikah. Kenali dulu. Kalo gak cocok, cari yang lain sampai kamu nemuin seseorang yang bikin kamu nyaman. Kamu harus hidup normal kayak orang lain. Punya istri dan anak, keluarga tempatmu pulang kalo nanti pamanmu ini sudah mati.”
Ares mengangkat alisnya. “Om masih sehat, gak usah ngomongin soal mati. Lagian, gimana kalo emang gak ada yang cocok?”
Rendra tertawa pendek. “Aku gak percaya.”
“Kenapa?”
“Karena manusia emang ditakdirkan berpasangan. Dari begitu banyak perempuan di dunia, masa gak ada satu pun yang cocok sama kamu?”
Ares tak menanggapi.
Rendra menatapnya lebih serius. “Jangan sampai keras kepalamu bikin kamu melewatkan kesempatan. Kalo terus nekan kebutuhan biologismu sementara emosimu semakin sulit dikendalikan, suatu hari kamu sendiri yang bakal kewalahan.”
Ucapan itu membuat Ares terdiam. Tanpa diminta, pikirannya kembali pada kejadian di rumah sakit. Seorang perempuan yang menabraknya.
Alisha.
Ares menatap lurus ke depan. Mungkin pamannya benar. Bukan berarti Alisha adalah perempuan yang cocok untuknya. Namun, setidaknya ada satu hal yang sudah pasti.
Perempuan itu berbeda.
-
Keesokan paginya, Reki sudah membawa hasil penyelidikannya ketika menemui Ares di ruang kerja.
“Saya sudah dapat informasi tentang perempuan kemarin, Tuan.”
Ares mengangkat pandangan dari layar laptop.
“Namanya Alisha Prameswari," ujar Reki. "Dia bekerja sebagai staf di salah satu perusahaan swasta skala menengah ke atas.”
Ares terdiam sejenak. “Orang tuanya?”
“Keduanya sudah meninggal beberapa tahun lalu dalam sebuah kecelakaan. Sejak itu, Alisha hanya tinggal bersama adiknya.”
Ares menaikkan sebelah alisnya. “Adiknya?”
“Masih muda dan sedang menjalani pengobatan leukemia. Itu juga alasan Alisha berada di rumah sakit kemarin.”
Tatapan Ares berubah sedikit. “Gimana kondisi mereka?”
“Pengobatannya cukup panjang dan biayanya besar. Dari informasi yang saya dapat, Alisha menanggung sebagian besar kebutuhan mereka sendiri.”
Ares bersandar di kursinya. “Pekerjaannya?”
“Gak ada masalah. Riwayat kerjanya cukup baik. Dia dikenal sebagai karyawan yang bertanggung jawab dan gak pernah terlibat masalah di tempat kerja.”
“Tapi...” Reki tampak ragu.
“Tapi apa?” tanya Ares tak sabar.
“Alisha pernah kecelakaan saat kuliah dan menyebabkan pendengarannya terganggu. Tapi dia bisa mendengar dengan bantuan alat bantu dengar.”
Ares terdiam sejenak. Bayangan Alisha yang sempat menatap wajahnya lebih lama dari biasanya sebelum menjawab pertanyaan kembali terlintas di kepalanya. Ternyata itu alasannya.
Reki menyerahkan berkas di tangannya. “Selebihnya ada di sini, Tuan.”
Ares mengambil berkas itu dan mulai membacanya. Nama yang kemarin hanya membuatnya penasaran kini memiliki cerita yang jauh lebih panjang dari yang ia bayangkan.
Seorang perempuan yang hidup bersama adiknya, bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka, sementara di sisi lain harus menghadapi biaya pengobatan yang tidak sedikit.
Beberapa saat kemudian, Ares menutup berkas itu. “Reki.”
“Ya, Tuan?”
Ares menatapnya datar. “Tawarkan dia sebuah kesepakatan.”
Reki mengernyit. “Kesepakatan seperti apa?”
“Menjadi wanitaku.”
Reki terdiam, seolah perlu beberapa detik untuk memastikan dirinya tidak salah dengar. “Maksud Tuan?”
Ares menjawab tanpa ekspresi. “Aku hanya butuh seseorang untuk memenuhi kebutuhan biologisku.”
Raut wajah Reki langsung berubah. Ia menatap Ares tidak percaya. “Tuan, dia itu perempuan baik-baik. Mana mungkin—”
“Tawarkan padanya.” Ares memotong tanpa mengubah ekspresinya. “Aku akan membiayai seluruh pengobatan adiknya sampai sembuh.”
Reki tidak langsung merespon.
Ares menambahkan. “Dan aku juga bakal kasih dia lima puluh juta tiap bulan.”
Kali ini Reki benar-benar tidak tahu harus berkata apa. “Tuan yakin dia bakal mau?”
Tidak ada jawaban dari Ares. Tatapan pria itu beralih ke luar jendela, tetapi pikirannya kembali pada perempuan yang berdiri di koridor rumah sakit kemarin.
Alisha.
“Kalau dia nolak,” ujar Ares akhirnya, “aku bakal nyari cara lain.”
Reki masih menatapnya. Namun dari cara Ares memandang ke luar jendela, Reki tahu keputusan itu sudah dibuat. Bagi Ares, ini bukan soal jatuh cinta.
"Ini hanya sebuah solusi."
.
...✨“Manusia bisa membuat kesepakatan tentang waktu, uang, dan batasan. Namun, perasaan tidak pernah benar-benar mau tunduk pada isi perjanjian.”✨...
.
To be continued
Raka pengertian, kakaknya di suruh sering-sering tidur di rumah, tidak perlu nungguin dirinya.
Alisha jadi bisa punya waktu untuk suaminya, kalau tidak bisa nungguin Raka. Tidak harus cari alasan kalau Raka tanya-tanya.
Alisha setelah sarapan pergi ke rumah sakit.
Raka sudah dipindahkan ke ruang lain, masih di lantai yang sama.
Ares tetap memikirkan kenyamanan Raka dan Alisha dengan memindahkan ruang rawat serta ada sofa.
Pak Darto pengurus rumah memberikan sebuah kartu akses untuk masuk rumah kepada Alisha. Dan memberi tahu Alisha kalau pakaian sudah disiapkan di lemari, termasuk perlengkapan mandi, dan makeup atas perintah Ares.
Ares baik sekali. Alisha juga disediakan sopir untuk mengantarnya pergi. Tapi Alisha memilih naik ojek online.
Ares juga menuruti kemauan Alisha untuk tidak memindahkan adiknya ke kamar perawatan VIP.
Ares memberikan surat pernikahan mereka setelah mendengar penjelasan Alisha kenapa sampai minta surat itu.
Ares tak lupa mengelupas foto dirinya terlebih dahulu, sebelum memberikan surat itu kepada Alisha.
Sampai segitunya, biar Alisha benar-benar nggak mengenal wajahnya.
kalo iya, itu sangat berbahaya, dalam kondisi tertentu, dia bisa berbuat nekat....
semoga Alisa dan Raka masih dalam pengawasan orang-orangnya Ares
cukup mantan mu si Reni yg ribet
kamu jangan ikutan res
Semangat Kak Nana.. Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
kacau ini orang 🤣🤣
takut ga bisa tanggung jawab sama tatapan mu.
pengecut dia takut kalah sama rasa bersalah nya🫣😔