"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Ice Cream
Mobil SUV hitam milik Rezvan membelah jalanan kota yang mulai lengang ditelan malam. Di dalam kabin yang hangat, alunan musik ber-tempo lambat mengalir tipis, menciptakan atmosfer yang tenang sekaligus intim setelah keriuhan di restoran ramen tadi.
Zahira menyandarkan punggungnya, menatap pendar lampu jalan yang membias di kaca jendela. Sementara Rezvan, dengan satu tangan santai di kemudi, sesekali melirik gadis di sampingnya sebelum akhirnya membuka suara.
"Zira..." panggil Rezvan lembut.
"Iya, Kak?" Zahira menoleh, menyunggingkan senyum tipis.
Rezvan berdehem pelan, menimbang kata-kata agar tak terdengar terlalu mencampuri urusan pribadi.
"Sejak awal kenal, aku sempat heran. Di kampus atau tempat kerja, kamu cuma pakai nama 'Zahira Qotrunnada'. Kenapa kamu memilih hidup tanpa menyematkan nama belakang Papi kamu? Padahal nama 'Sumargo' punya pengaruh besar di luar sana."
Zahira terdiam sejenak. Pandangannya menerawang ke depan, lalu napas halus berembus dari bibirnya.
"Zira cuma mau berdiri di atas kaki sendiri, Kak," jawab Zahira jujur, suaranya terdengar sangat tulus hingga menyentuh relung hati Rezvan.
"Nama Papi memang besar, tapi Zira ingin orang mengenal Zira karena karya dan usaha Zira sendiri, bukan karena bayang-bayang kejayaan keluarga. Lagipula... Zira merasa lebih tenang jadi Zahira yang sederhana."
Rezvan menatap Zahira sepersekian detik dengan rasa kagum yang makin mendalam. Keberanian dan keteguhan hati gadis di sampingnya ini benar-benar langka.
Untuk mencairkan suasana yang mendadak emosional, Rezvan terkekeh pelan.
"Pantas aja. Oh iya, saya sempat lihat story media sosial kamu tadi. Luar biasa ya, adikmu si Vidi itu. Usianya masih SMP, tapi sudah terpilih ikut pertukaran pelajar ke Cina di bidang IT."
Zahira tersenyum lebar, matanya seketika berbinar cerah. "Iya, Kak! Zira bangga banget sama Vidi."
"Pasti kecerdasannya turun dari Kakaknya, nih," ledek Rezvan sembari menaikkan sebelah alisnya, mengundang kekeh renyah dari Zahira.
"Bisa aja Kak Rezvan," balas Zahira, lalu tatapannya perlahan melunak, menyisakan keharuan yang mendalam.
"Tapi beneran deh, Kak... mengingat Vidi mau pergi sepuluh hari ke negeri orang, rasanya campur aduk. Zira masih ingat betul waktu Vidi masih balita. Tiap malam dia nangis minta susu, Zira yang selalu bangun tengah malam buat nyeduhin susu dan nemenin dia tidur. Sekarang... anak kecil yang dulu suka ngempeng itu udah tumbuh jadi remaja pinter yang mau terbang jauh ke Cina."
Tanpa bisa ditahan, sudut mata Zahira menggenang. Setetes air mata kebahagiaan dan rasa bangga lolos membasahi pipinya.
Zahira buru-buruk menyapunya dengan ujung jari, namun Rezvan sudah menyadarinya lebih dulu.
Melihat hal itu, Rezvan langsung menyalakan lampu sein kiri dan melambatkan laju mobilnya. SUV hitam itu berhenti tepat di pelataran parkir sebuah minimarket di pinggir jalan yang cukup tenang.
"Tunggu sebentar ya, Zira," ucap Rezvan seraya melepas sabuk pengamannya dan melangkah keluar tanpa menjelaskan apa-apa.
Zahira termenung di dalam mobil, mengusap sisa air matanya yang masih menetes. Tak berapa lama, pintu mobil kembali terbuka. Rezvan masuk membawa sekantong tisu dan dua buah es krim cone di tangannya.
"Nih," ujar Rezvan menyodorkan sekotak tisu dan satu es krim cokelat-vanila ke arah Zahira. "Maaf ya, aku baru sadar di mobil ternyata nggak ada tisu."
Zahira menerima es krim dan tisu itu dengan pipi yang mendadak merona merah. Ia merasa sangat malu, merasa seperti anak kecil yang menangis lalu dibujuk es krim oleh ibunya.
"Makasih ya, Kak ... Jadi malu, Zira malah nangis begini," gumam Zahira pelan, menggigit bibir bawahnya.
"Nggak apa-apa. Menangis karena rasa bangga dan sayang itu indah, Zira," sahut Rezvan hangat. Ia membuka bungkus es krimnya sendiri lalu menikmati suapan pertama.
"Tahu nggak?" lanjut Rezvan sambil menatap lurus ke depan.
"Dulu waktu kecil, saya sama Gisel itu musuh bebuyutan kalau urusan es krim. Siapa yang makan paling lambat, es krimnya pasti direbut. Tapi pas saya harus kuliah dan tinggal di luar negeri sendirian... masa-masa rebutan es krim yang bikin kesal itu malah jadi hal yang paling saya kangenin."
Rezvan menoleh menatap Zahira yang sedang menyantap es krimnya dengan anggun.
"Rasanya sepi banget saat jauh dari keluarga. Makanya saya paham betul apa yang kamu rasain ke Vidi. Rasa kehilangan momen-momen kecil itu pasti ada, tapi rasa bangga kamu bakal jadi benteng paling kuat buat dia di sana."
Zahira menatap mata Rezvan yang teduh, merasakan kehangatan luar biasa yang merayap di dadanya. Pria di sampingnya ini tak hanya tampan, tetapi juga memiliki kedalaman empati yang luar biasa. Malam itu, nama Rezvan terukir makin dalam di relung hatinya.
.
.
Sementara itu, di sudut taman kota yang dihiasi pendar lampu hias temaram, Gisel dan Arkan masih menikmati angin malam. Mereka duduk berdua di bangku kayu, menikmati dua gelas minuman hangat di tangan masing-masing.
"Kak Arkan," panggil Gisel memecah keheningan sembari menyandarkan kepalanya di bahu Arkan.
"Kenapa, Sel?" sahut Arkan lembut, merengkuh jemari kekasihnya.
"Kakak perhatiin nggak sih Kak Rezvan malam ini? Dari cara dia melirik Zahira, terus pas nyamain pesanan makanan... Kakakku yang bikin Gisel jengkel itu beneran udah jatuh cinta setengah mati sama Zahira," celoteh Gisel penuh semangat.
Arkan terkekeh pelan, mengusap rambut Gisel. "Kelihatan banget kok, Sel. Tatapan Mas Rezvan ke Zahira tuh beda banget. Tenang, tapi dalam. Lagian Zahira emang sosok perempuan yang luar biasa, pantas kalau Mas Rezvan sampai segitunya."
"Iya kan!" seru Gisel bangga. "Aku tuh seneng banget kalau Zahira beneran bisa jadi kakak iparku. Zahira udah kaya saudara sendiri buat aku. Tapi ya gitu, Kak Rezvan sukanya pelan-pelan, takut Zahira kaget."
Arkan mengangguk-angguk kecil, lalu helaan napas pendek lolos dari bibirnya.
"Ngomong-ngomong soal Zahira... kamu tahu nggak, Sel? Dulu pas zaman SMA, ada salah satu teman kakak yang naksir berat sama Zahira."
Gisel langsung menegakkan tubuhnya, menatap Arkan dengan mata membulat ingin tahu. "Hah? Serius?! Siapa, Kak? Kok aku nggak pernah tahu?"
"Anak klub basket dulu," terang Arkan tersenyum tipis. "Dia sering banget merhatiin Zahira dari jauh pas kamu sama Zahira lewat di pinggir lapangan. Dia sampai nitip salam lewat kakak berkali-kali."
"Terus-terus? Kenapa dia nggak pernah nembak atau deketin Zahira langsung?" cecar Gisel penasaran.
"Ya itu masalahnya," jawab Arkan tertawa kecil.
"Dia minder duluan. Tiap kali mau nyamperin, dia bilang aura Zahira itu kelewat anggun dan berkelas, Zira itu kan selalu juara umumndi sekolah bikin dia gemeteran sebelum melangkah. Akhirnya sampai kita lulus, dia cuma bisa jadi pengagum rahasia yang tak pernah berani ungkapin isi hatinya."
Gisel tertawa geli mendengar cerita itu. "Duh, kasihan banget! Tapi ya bagus deh dia mundur, soalnya Zahira itu takdirnya emang buat Kak Rezvan! Kak Rezvan kan tipe pria yang berani dan nggak bakal nyerah begitu aja."
Arkan merangkul bahu Gisel lebih erat, membiarkan tawa mereka menyatu dengan semilir angin malam taman kota yang damai.