NovelToon NovelToon
ASMARA DI HATIKU

ASMARA DI HATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"

Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.

Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.

Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.

PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 TAK TERDUGA

Akhir pekan di Jeron Beteng biasanya diisi dengan ritme yang lambat dan tenang, namun Sabtu pagi ini, suasana di kediaman Bude Ning terasa sedikit... aneh.

Sinar matahari pagi baru saja merangkak naik, menembus rimbunnya dedaunan pohon mangga madu di halaman depan. Burung-burung perkutut di dalam sangkar belum selesai melantunkan kicaunya, namun dari arah halaman belakang, sudah terdengar suara sikat yang bergesekan dengan ubin batu bersahut-sahutan dengan siulan riang.

Wira Aji Pratama sedang menyikat lumut di pinggiran kolam ikan koi.

Kaus oblong putihnya basah oleh keringat dan percikan air, celana pendeknya digulung hingga ke paha, dan kedua tangannya sibuk menggosok ubin dengan sikat kawat.

Namun, yang membuat pemandangan itu terasa amat ganjil bukanlah fakta bahwa Wira sedang melakukan pekerjaan rumah—melainkan ekspresi di wajah pemuda itu.

Wira tersenyum. Bukan sekadar senyum tipis, melainkan senyuman lebar yang sampai memperlihatkan deretan giginya.

Sambil menyikat, ia bersiul menirukan nada lagu rock lawas dari "Guns N' Roses". Kepalanya sesekali mengangguk-angguk mengikuti irama tak kasat mata di dalam benaknya.

Jantung pemuda itu berdebar dengan ritme yang ringan, seolah ada pasokan oksigen baru yang dipompakan langsung ke dalam paru-parunya.

Setiap kali ia menggosok ubin, ingatannya kembali terlempar pada kejadian Jumat sore kemarin di ruang kelas XI IPS 2.

Ingatan tentang wajah Asmara yang berlinang air mata, keberanian gadis itu mendobrak egonya sendiri, dan rentetan omelan dengan logat Bogor-Jawa yang belepotan itu terus berputar layaknya film favorit di kepalanya.

"Gue kangen elo yang asli, Wir!"

Kalimat itu bagaikan mantra magis yang berhasil menghidupkan kembali sel-sel jiwanya yang sempat mati.

Sang matahari yang sempat bersembunyi di balik gerhana kepatuhan buta kepada aturan, kini telah terbit kembali dengan cahayanya yang paling benderang.

Wira merasa hidup. Ia merasa diterima seutuhnya.

Asmara, sang putri abdi dalem keraton Jogja yang begitu menjunjung tinggi tata krama, rela membuang wibawanya di depan kelas demi menarik Wira dari jurang kekosongan.

Tiba-tiba...

"Kowe ki ngopo to, Le? Kesambet demit penunggu sumur?"

Sebuah suara bariton yang berat dan dingin tiba-tiba memecah lamunan Wira.

Wira menghentikan siulannya dan menoleh.

Di ambang pintu dapur, berdirilah Bude Ning. Wanita paruh baya itu mengenakan daster batik yang rapi, tangannya memegang secangkir teh poci. Alis Bude Ning menukik tajam di balik kacamata bacanya, menatap keponakannya dengan sorot curiga yang luar biasa tebal.

Wira malah tertawa kecil melihat ekspresi horor budenya.

"Nggak kesambet apa-apa, Bude. Wira cuma lagi semangat aja bersihin kolam. Lumutnya udah tebel nih, kasihan ikan koinya kalau airnya kotor."

Bude Ning tidak beranjak. Matanya menyipit, memindai Wira dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Dua hari yang lalu, kamu nyapu halaman sambil wajahmu ditekuk seperti baju belum disetrika. Pulang sekolah diam saja, makan tidak habis. Sekarang, hari Sabtu, disuruh nguras kolam yang biasanya kamu balas pakai seribu alasan, malah kamu kerjakan sambil senyum-senyum sendiri dan nyanyi-nyanyi tidak jelas."

Bude Ning meletakkan cangkirnya di atas meja kayu teras. Beliau melangkah mendekati Wira, wajahnya memancarkan kekhawatiran yang jarang sekali ia tunjukkan.

"Wira, kamu tidak sedang stres berat kan karena Bude kurung di sini?" tanya Bude Ning, nadanya sedikit lebih pelan, setengah menginterogasi.

"Kata Pak Anton dari sekolahmu, hukumanmu sudah selesai. Apa jangan-jangan otakmu konslet karena kebanyakan ngelap gamelan? Kalau kamu memang tidak kuat tinggal di Jogja, Bude bisa telepon Bapakmu biar kamu diperiksakan ke dokter saraf."

Wira tertawa lepas, tawa yang benar-benar renyah dan jujur. Ia membilas sikatnya di dalam ember, lalu berdiri dan mengusap keringat di dahinya dengan lengan bawah.

"Wira sehat seratus persen, Bude," jawab Wira dengan mata berbinar.

"Otak Wira nggak konslet. Wira cuma ngerasa... Jogja ternyata nggak seburuk yang Wira pikirin. Hukuman sebulan ini ada gunanya juga."

Bude Ning terdiam sejenak.

Ia melihat percikan kehidupan di mata keponakannya yang sempat meredup beberapa minggu terakhir. Meski tidak sepenuhnya paham apa yang sebenarnya memicu perubahan ekstrem ini, Bude Ning akhirnya menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya.

"Ya sudah. Kalau memang waras, selesaikan sikatnya sampai bersih. Habis itu mandi, Mbok Darmi sudah bikin sarapan," putus Bude Ning, memutar tubuhnya kembali masuk ke dalam rumah.

Sebelum benar-benar hilang di balik pintu, beliau menggumam pelan, "Bocah edan... bikin orang tua jantungan saja."

Wira kembali tersenyum lebar. Ia kembali menyikat ubin kolam ikan itu dengan tenaga penuh.

Hari Sabtu dan Minggu itu dilalui Wira dengan kebahagiaan yang membuncah.

Kamp militer Bude Ning tidak lagi terasa seperti siksaan, melainkan hanya sekadar rutinitas kecil sebelum ia bisa kembali ke sekolah pada hari Senin dan menemui satu-satunya alasan mengapa Jogja kini terasa seperti rumah.

IYA... SATU-SATUNYA ALASAN KINI KOTA JOGJA TERASA SEPERTI RUMAH BAGI WIRA.

.....

.....

Hari Senin tiba dengan membawa dinamika yang benar-benar baru di dalam kelas XI IPS 2.

Ujian Tengah Semester telah usai, dan meja-meja kelas telah dikembalikan ke posisi semula—berpasangan, berdampingan. Wira kembali menempati kursinya di barisan ketiga, tepat di sebelah Asmara.

Dan sejak hari pertama minggu itu dimulai, sebuah fenomena ganjil sukses membuat seluruh murid di kelas itu kebingungan setengah mati.

Asmara Putri, sang ketua OSIS yang terkenal akan keanggunannya, kelembutannya, kesopanannya, ternyata memiliki sebuah sakelar kepribadian ganda yang hanya bereaksi jika berhadapan dengan Wira.

Siang itu, jam istirahat baru saja dimulai.

Danang menghampiri meja Asmara untuk meminta tanda tangan persetujuan kas kelas.

"Ra, ini rekap uang kas bulan lalu. Coba kamu cek dulu sebelum disetor ke wali kelas," ucap Danang sopan, sambil sedikit menunduk hormat.

Asmara tersenyum sangat anggun, aura putri abdi dalemnya memancar sempurna. "Oh, baik, Danang. Sebentar saya periksa totalnya ya. Matur nuwun sudah dibantu merekap," jawab Asmara dengan bahasa Indonesianya yang sangat tertata dan lembut. Ia menandatangani kertas itu dengan telaten, lalu mengembalikannya kepada Danang dengan senyum keibuan.

"Makasih ya, Ra," balas Danang.

Begitu Danang berbalik pergi, Wira yang sejak tadi duduk di sebelah Asmara dengan kaki sedikit terjulur ke depan, menyenggol lengan gadis itu dengan sikunya.

"Rajin bener lo, Ra. Nggak pusing tiap hari ngurusin duit recehan kelas?" goda Wira, nada suaranya kembali santai dan penuh kejahilan, bahasa begajulannya sudah kembali pulih sepenuhnya.

Seketika itu juga, 'sakelar' di dalam diri Asmara tertekan.

Gadis itu memutar tubuhnya menghadap Wira. Senyum anggunnya lenyap, digantikan oleh raut wajah menantang. Ia menaikkan sebelah alisnya, lalu balas menyenggol lengan Wira menggunakan sikunya tak kalah keras.

"Yee, biarin aja kali, Wir. Namanya juga tanggung jawab. Daripada lo, kerjaannya cuma bisa ngomentarin doang tapi dimintain duit kas susahnya minta ampun," balas Asmara cepat, intonasinya santai, ceplas-ceplos, dan luwes menggunakan kata 'lo-gue'.

Wira menyeringai lebar. "Enak aja! Gue udah lunas ya bulan ini. Cek aja catetan Danang kalau nggak percaya. Gue kan murid teladan sekarang."

"Murid teladan apaan, ngerjain PR Matematika aja tadi pagi lo masih nyontek punya Nisa kan? Ngaku lo!" cecar Asmara sambil tertawa lepas, sebuah tawa yang cukup keras hingga bahunya bergetar, sama sekali tidak peduli pada aturan 'tertawa harus ditahan' ala perempuan keraton.

"Fitnah! Gue cuma nyocokin jawaban, bukan nyontek!" Wira mengelak, membalas tatapan Asmara dengan binar mata yang memancarkan kebahagiaan luar biasa.

Di meja seberang, Nisa dan Dinda yang sedang memakan bekal mereka hanya bisa menganga menatap pemandangan di depan mata. Sendok di tangan Dinda bahkan berhenti di udara.

"Nis... aku nggak halusinasi kan?" bisik Dinda dengan mata melotot. "Itu beneran Asmara? Asmara yang ngomong pakai 'lo-gue' dan ketawa ngakak bareng Wira?"

Nisa menelan makanannya dengan susah payah. "Sumpah, aku juga merinding, Din. Asmara kalau ngomong sama kita sopan banget kayak kerabat keraton. Tapi giliran sama Wira... dia udah kayak preman nongkrong di Burjoan. Dunia lagi kebalik apa ya?"

Pemandangan itu terus berlanjut sepanjang minggu.

Di mata teman-temannya, Asmara tetaplah Sang Bulan yang anggun dan santun. Jika ada guru yang bertanya, Asmara akan menjawab dengan bahasa baku yang merdu. Jika ada teman yang kesulitan, Asmara akan membantu dengan kesabaran ekstra.

Namun, di dalam gelembung tak kasat mata yang hanya berisi dirinya dan Wira, Asmara membiarkan dirinya menjadi liar.

Ia tertawa, ia bercanda, ia membalas setiap ledekan Wira dengan kalimat yang tak kalah pedas.

Asmara menggunakan bahasa begajulan itu bukan sekadar untuk meniru, melainkan sebagai sebuah jembatan eksklusif yang ia bangun hanya untuk Wira.

Sebuah tempat di mana Wira bisa merasa nyaman menjadi dirinya sendiri, tanpa takut dihakimi oleh aturan kota Jogja yang kaku.

Dan bagi Wira, perlakuan khusus itu membuat hatinya melambung setinggi langit.

Ia merasa sangat diistimewakan. Mengetahui bahwa gadis sesempurna Asmara rela menyimpan sebuah sisi 'nakal' hanya untuk dipertontonkan di hadapannya, membuat Wira secara tak sadar telah bertekuk lutut sepenuhnya pada pesona gadis tersebut.

Namun, puncak dari segala kejutan di minggu itu terjadi pada hari Kamis sore.

.....

.....

Jadwal pelajaran terakhir kelas XI IPS 2 adalah Pendidikan Jasmani dan Olahraga.

Cuaca Jogja sore itu cukup terik, namun angin yang berhembus lumayan kencang membuat udara di lapangan basket luar ruangan tidak terlalu menyengat.

Materi hari itu adalah pertandingan bola basket antar siswa laki-laki yang dibagi menjadi dua tim, sementara siswi perempuan duduk di pinggir lapangan setelah menyelesaikan materi lari estafet mereka.

Asmara duduk di tribun beton tingkat pertama bersama Nisa dan Dinda, matanya tak pernah lepas dari sosok bernomor punggung tujuh yang sedang mendribel bola di tengah lapangan.

Wira sedang berada di elemen aslinya. Fisiknya yang atletis dan tinggi membuatnya mendominasi permainan. Keringat membasahi kaus olahraga sekolahnya, rambut ikalnya basah dan sesekali menutupi dahinya. Ia berlari cepat, tertawa lepas, dan meneriakkan instruksi kepada teman-teman satu timnya.

Sang Matahari benar-benar telah bersinar kembali di lapangan itu.

"Wira! Oper sini!" teriak Danang yang berada di posisi three-point line.

Wira yang sedang dikepung oleh dua pemain lawan langsung memutar tubuhnya. Ia melakukan pivot cepat, dan dengan menggunakan sisa tenaga yang cukup besar, Wira melemparkan bola basket itu jauh ke arah Danang.

Namun, sesuatu yang tidak terduga terjadi.

Tangan Wira licin oleh keringat. Akibatnya, bola basket itu meleset jauh dari target. Alih-alih melambung ke arah Danang, bola berwarna oranye terang itu meluncur tajam melewati garis pinggir lapangan, mengarah lurus ke area pejalan kaki tempat beberapa siswa kelas XII sedang melintas menuju kantin.

Buggghhh!!!

Terdengar suara benturan keras yang sangat nyaring. Bola basket itu menghantam keras bahu dan sebagian kepala salah satu siswa kelas XII yang sedang berjalan santai sambil memegang minuman kemasan.

Siswa itu terhuyung ke depan, minuman di tangannya tumpah membasahi seragamnya, dan ia nyaris tersungkur ke tanah jika saja tidak ditahan oleh dua temannya.

Permainan di lapangan seketika terhenti. Bunyi peluit guru olahraga melengking panjang.

Wira terkesiap. Ia segera berlari menuju pinggir lapangan. Jantungnya berdetak kencang saat menyadari siapa yang baru saja menjadi korban lemparan nyasarnya.

Itu adalah Bima.

Kakak kelas yang rahangnya pernah ia hantam satu bulan yang lalu di lorong sekolah. Bima yang sama, yang telah menyebabkan Wira dihukum di Ruang Budaya selama sebulan penuh.

Bima memegangi kepalanya yang pening. Wajahnya merah padam. Begitu ia melihat siapa yang berlari menghampirinya dari dalam lapangan, amarah yang selama ini ia pendam karena kekalahannya bulan lalu meledak seketika.

"WIRA! ANJING LO!" bentak Bima menggelegar, melempar sisa minuman kemasannya ke tanah dengan kasar. Ia menerjang maju, menerobos batas lapangan, bersiap melayangkan tinju ke wajah Wira.

Suasana mendadak tegang. Anak-anak perempuan di tribun memekik kaget. Danang dan beberapa anak laki-laki segera berlari menyusul untuk melerai.

Wira berdiri tegak. Otot-otot di bahunya menegang secara instingtif, siap untuk baku hantam. Logika jalanannya berteriak untuk membalas dorongan Bima. Namun, tepat sebelum tangannya mengepal, ekor matanya menangkap sosok Asmara yang sedang berdiri kaget di pinggir tribun.

Wira menarik napas dalam-dalam. Ia ingat janjinya. Ia ingat bagaimana Asmara menangis dan merendahkan gengsinya agar Wira tidak perlu lagi menyembunyikan dirinya. Namun, Wira juga ingat betapa kecewanya Asmara saat ia menggunakan kekerasan bulan lalu. Wira tidak ingin mengecewakan gadis itu lagi. Ia ingin menunjukkan bahwa ia bisa mengendalikan apinya tanpa harus mematikannya.

Dengan luar biasa, Wira menurunkan tangannya. Ia menahan egonya. Meniru gaya Asmara dan petuah Bude Ning yang selama ini dijejalkan ke otaknya, Wira sedikit menundukkan kepalanya, memasang gestur yang sangat tenang dan sopan.

"Mas Bima, saya benar-benar minta maaf," ucap Wira dengan suara yang stabil, jelas, dan menggunakan tata bahasa yang sangat santun. "Tangan saya licin karena keringat, bolanya meleset. Saya sama sekali tidak sengaja membidik Mas. Kalau ada yang sakit, mari saya antar ke UKS."

Sikap Wira yang begitu tenang dan sopan itu membuat Danang dan teman-temannya menghela napas lega. Wira telah memilih jalan kedewasaan.

Namun bagi Bima, permintaan maaf yang sopan itu justru terasa seperti sebuah ejekan. Gengsinya sebagai senior yang pernah dipukul junior merasa terinjak-injak melihat Wira berlagak seperti orang suci.

"Alah, bacot lo!" Bima meludah ke arah sepatu Wira. Ia mendorong dada Wira dengan keras menggunakan kedua tangannya, membuat Wira terhuyung mundur beberapa langkah. "Lo pikir dengan sok sopan begini gue bakal percaya lo nggak sengaja? Lo masih dendam kan sama gue soal masalah sebulan lalu? Makanya lo sengaja ngelempar bola ke kepala gue, bangsat!"

"Saya berani sumpah, Mas. Itu murni ketidaksengajaan," balas Wira, masih menahan diri, tangannya tetap terbuka di samping tubuhnya untuk menunjukkan bahwa ia tidak berniat melawan. "Mas Bima tolong tenang dulu."

"Tenang mata lo! Kemarin sok jagoan mukul gue, sekarang lo ciut jadi banci gini hah?!" Bima kembali maju, tangannya mencengkeram kerah kaus olahraga Wira dengan beringas. Teman-teman Bima ikut memanasi suasana dari belakang, membuat keributan itu semakin tak terkendali. Guru olahraga yang bertubuh kecil tampak kesulitan membelah kerumunan senior tersebut.

Wira mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Emosinya sudah berada di ubun-ubun, tapi ia terus merapal nama Asmara di dalam kepalanya, menolak untuk melayangkan tinju balasan.

Namun, sebelum siapa pun sempat memisahkan mereka, sebuah suara perempuan yang melengking tajam dan penuh dengan otoritas yang mematikan memecah keributan itu layaknya halilintar di siang bolong.

"HEH! LEPASIN TANGAN LO DARI TEMEN GUE!"

Kerumunan itu terbelah seketika. Bima terkejut hingga tangannya yang mencengkeram kerah Wira sedikit melonggar. Semua mata tertuju pada sosok yang baru saja melompat turun dari tribun beton dengan gerakan cepat, berjalan membelah lapangan basket dengan langkah yang dihentakkan penuh amarah.

Asmara Putri.

Gadis itu tidak berjalan dengan keanggunan seorang putri keraton. Ia berjalan layaknya seorang ratu yang wilayahnya baru saja diusik. Matanya menyalang tajam, rahangnya mengeras. Ia menerobos masuk ke tengah-tengah kerumunan siswa laki-laki itu tanpa rasa takut sedikit pun.

Sesampainya di depan Bima, Asmara dengan kasar menepis kedua tangan senior bertubuh besar itu dari kerah kaus Wira, sebuah tamparan keras pada lengan Bima yang bunyinya sampai terdengar bergemanya.

"Lo tuli apa gimana sih?!" bentak Asmara tepat di depan wajah Bima. Volumenya sangat keras, artikulasinya menggunakan logat pergaulan yang kasar, tanpa embel-embel 'Mas' yang biasa ia gunakan kepada kakak kelas.

Seisi lapangan basket mendadak senyap. Angin sore seolah berhenti bertiup. Bima ternganga, matanya membelalak lebar melihat adik kelas perempuan yang biasanya terkenal paling santun seantero sekolah, kini sedang memelototinya dengan amarah yang meledak-ledak.

"A-apa lo bilang, Dek?" Bima tergagap, harga dirinya merosot drastis berhadapan dengan murka seorang perempuan.

"Gue bilang, lo tuli?!" ulang Asmara, tak gentar sedikit pun dengan tubuh Bima yang jauh lebih besar darinya. Gadis itu berkacak pinggang, menantang Bima secara terbuka. "Wira udah minta maaf baik-baik! Dia udah bilang nggak sengaja! Bola nyasar di lapangan olahraga itu hal wajar, apalagi lo jalan mepet banget ke garis lapangan! Lo dikasih permintaan maaf yang sopan malah ngelunjak dorong-dorong fisik!"

"Ya tapi dia kan yang salah lempar, Ra—" salah satu teman Bima mencoba membela.

"Diem lo!" Asmara menunjuk teman Bima itu dengan tatapan membunuh yang sukses membuat nyali sang senior menciut.

Asmara kembali menatap Bima. "Kalau lo emang ngerasa jagoan, nggak usah nyari gara-gara sama orang yang udah nurunin egonya buat minta maaf sama lo. Kelakuan lo yang kayak gini nih yang bikin lo kelihatan kayak pengecut nyari panggung!"

Kata-kata Asmara menusuk tajam, merobek sisa-sisa wibawa Bima di hadapan puluhan siswa yang menonton. Bima terdiam kutu, wajahnya merah padam karena malu yang luar biasa, namun ia tidak berani membalas. Melawan Asmara yang sedang dalam mode murka, apalagi dengan posisinya sebagai ketua OSIS yang sangat dihormati para guru, sama saja dengan bunuh diri secara sosial.

Melihat Bima yang akhirnya bungkam, Asmara menarik napas dalam-dalam. Ia lalu memutar tubuhnya, meraih pergelangan tangan Wira yang sejak tadi hanya berdiri mematung karena terlalu shock melihat adegan di depannya.

"Ayo, Wir, minggir. Nggak usah diladenin orang caper," ucap Asmara sambil menarik Wira menjauh dari kerumunan Bima, mengabaikan tatapan shock massal yang sedang terjadi di sekeliling mereka.

Guru olahraga yang akhirnya berhasil menembus kerumunan hanya bisa meniup peluitnya untuk membubarkan massa, diam-diam merasa bersyukur karena Asmara telah membereskan konflik itu dengan caranya sendiri.

Di pinggir lapangan, Asmara melepaskan tangan Wira. Dada gadis itu masih naik turun karena emosi. Ia menghela napas panjang, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin, lalu perlahan-lahan mode 'premannya' mereda, digantikan oleh semburat merah di pipinya karena baru sadar ia baru saja membuat keributan besar.

Wira menatap Asmara dengan pandangan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Hatinya, pikirannya, dan seluruh sel di tubuhnya terasa bergetar hebat.

Pemuda itu baru saja meniru Asmara: meredam egonya, bersikap sopan, dan menjaga ketenangan.

Dan sebagai balasannya, Asmara baru saja meniru Wira: mendobrak barisan, melontarkan kata-kata tajam dengan gaya begajulan, dan melindungi Wira dengan keberanian yang tak masuk akal.

Mereka telah bertukar jiwa demi satu sama lain.

Wira menelan ludah. Senyum yang sangat, sangat lebar perlahan merekah di wajah tampannya. Ia memandangi gadis di depannya ini seolah Asmara adalah keajaiban kedelapan dunia. Sang Bulan dari Jogja itu ternyata memiliki percikan api yang sanggup membakar siapa pun demi melindungi apa yang ia pedulikan.

"Lo..." suara Wira terdengar parau dan tertahan karena kekaguman yang luar biasa, "lo gila, Ra. Lo barusan ngomeli kakak kelas pake gaya gue."

Asmara mendengus pelan, menghindari tatapan Wira karena salah tingkah. "Biarin aja. Habisnya dia ngeselin. Lo udah sabar malah ditindas. Gue kan cuma mraktekin apa yang sering lo lakuin."

Wira tertawa lepas, sebuah tawa bahagia yang mengalahkan lelah dan emosi apa pun sore itu. Ia mengulurkan tangannya, dan tanpa ragu, Wira mengacak-acak lembut puncak rambut Asmara. Sebuah sentuhan fisik yang sangat natural, tanpa kecanggungan, dan tanpa niat lain selain menyalurkan rasa kagumnya yang meluap-luap.

"Makasih, Ra," bisik Wira, matanya menatap lekat ke manik mata Asmara. "Makasih udah jadi jagoan gue hari ini."

Asmara terpaku. Sentuhan tangan Wira di rambutnya terasa hangat, mengirimkan sengatan aliran listrik yang membuat sekujur tubuhnya merinding. Wajah kuning langsatnya semakin merona merah, namun ia tidak menepis tangan pemuda itu.

Di bawah langit sore Jogja yang cerah, di tengah riuhnya lapangan basket sekolah, Wira Aji Pratama menyadari satu kepastian mutlak yang tak bisa ia bantah lagi. Ia tidak hanya menyukai gadis ini. Ia telah jatuh, tenggelam tanpa sisa, ke dalam pesona gila Sang Bulan yang ternyata mengerti betul bagaimana cara membakar hati Sang Matahari.

1
Kesya Ohilitean
aku senang sekali kerana novel mau membantu aku untuk mehilakan sertes
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih banyak, Kak Kesya... 😍😍😍

Semoga Kakak selalu sehat, ya... Selalu bahagia juga buat Kak Kesya... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!