NovelToon NovelToon
Dipoligami Karena Hamil Anak Cacat

Dipoligami Karena Hamil Anak Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Tiri
Popularitas:17.2k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.

Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.

Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.

Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penolakan Farhan

#6

“Assa—” 

“Kenapa belum pulang?” tanya Farhan tanpa menunggu Dina selesai berucap. 

Pria itu pulang kerja di sore hari, dan setelah mandi serta bersih-bersih, ia masih tak menjumpai keberadaan istrinya di rumah. Karena itulah Farhan bertanya pada Sarah. 

Tapi, Sarah justru menjawab dengan kalimat penuh provokasi. 

“Entahlah, Mas. Mungkin Mbak Dina ada janji temu dengan seseorang, mungkin teman kuliah, karena itulah dia tak memintamu menemaninya ke dokter.”

Karena itulah, Farhan terpancing hingga menghubungi istri pertamanya dalam kondisi emosi yang menyala-nyala. 

“Aku di rumah Mama, Mas. Dan aku berencana akan disini, sampai hari persalinan. Karena aku ingin melahirkan di temani orang tuaku.” 

“Apa? Kamu tak izin padaku sebelumnya!” bentak Farhan. 

“Kamu selalu beralasan sibuk, bahkan untuk menemaniku ke dokter, kamu selalu menggunakan alasan pekerjaan untuk menolak.” 

“Tapi kamu yang menginginkan bay—”

“Aku tahu, aku yang menginginkan bayi ini, itu, kan, yang ingin Mas katakan?” Farhan terdiam.

“Mulai sekarang aku tak perlu izin darimu, Mas. Ayo kita cerai saja, toh di sana juga aku selalu melakukan semuanya sendirian.” 

Prang! 

Pyar! 

Bu Rara sangat terkejut mendengar ucapan putrinya, hingga tanpa sadar ia menjatuhkan piring serta gelas yang hendak dibawanya ke tempat cuci piring. 

Wanita itu berjalan mendekati putrinya, barulah ia sadar ada luka menganga yang tersirat melalui sorot matanya. 

“Apa? Kamu tak main-main dengan ucapanmu, kan?” tanya Farhan dengan emosi yang belum sepenuhnya keluar. 

“Tidak, Mas. Sudah tak ada alasan bagiku ketika kamu selalu membuatku menjadi nomor dua. Padahal keluargaku yang pernah membantu perusahaan keluargamu yang sedang diambang kehancuran.” 

“Tapi kenapa, di rumahmu, aku selalu dianggap makhluk tak kasat mata? Bukan menantu yang membanggakan? Dan juga tak layak disayangi karena aku mengandung janin yang akan terlahir cacat. Apa salah anakku, Mas?!” 

Ledakan emosi itu membuat suara Dina melengking tinggi. Bu Rara yang ada di dekatnya hanya bisa memeluk dan menenangkan emosi wanita hamil itu, ia takut jika emosi tinggi akan berpengaruh pada kehamilan Dina. 

“Sudah, Nak. Sudah,” ucap Bu Rara, pilu rasanya saat mengetahui anaknya mendapat perlakuan tak baik dari suami dan keluarganya. 

Bu Rara memutus pembicaraan Ardina dan Farhan, keduanya masih dikuasai emosi, lebih baik dilanjutkan esok atau paling lambat hingga kedatangan Pak Hermanto dari luar kota. 

•••

Sementara itu, di rumah Farhan. 

Wajah Farhan masih datar, setelah mendengar permintaan cerai dari istrinya. Ia diam membeku di tempatnya, hingga Bu Sintia dan Pak Jatmiko bertanya. 

“Kenapa?” 

“Ada apa?” 

Pertanyaan itu meluncur dari mulut Bu Sintia dan Pak Jatmiko secara bersamaan. 

“Dina, Yah, Bu.” 

“Kenapa dengan istrimu? Hal apa gerangan yang menahannya hingga ia belum juga pulang?” Bu Sintia sangat berapi-api saat menanyakannya, harapannya, sih, menantunya itu pergi secara sukarela. Dengan demikian, kelak ia tak perlu ikut pusing membantu merawat bayi yang dilahirkan Dina. 

“Dina pulang ke rumah orang tuanya.” 

“Hah?! Tanpa minta izin darimu? Berani sekali, dia?!” gerutu Bu Sintia dengan wajah sinis. 

Pak Jatmiko mengerutkan keningnya. “Apa jangan-jangan dia juga mengadu pada orang tuanya?” gumam Pak Jatmiko. Resah, sebab ia tak ingin keluarga Ardina menuntut sebagian harta mereka yang berupa saham dikembalikan. 

“Mungkin saja Dina sudah mengadu, Yah. Selain itu, Dina juga minta cerai dariku.” 

“Huh! Memang bisa apa dia jika bercerai darimu. Kabulkan saja! Dia pikir dia siapa?” 

“Ibumu, benar, Farhan. Ayah setuju, ceraikan saja dia. Aku akan meminta notaris melenyapkan surat perjanjian Permana Group  dan San Apparel, dengan begitu, mereka tak akan bisa mengambil apapun dari kita. 

Di luar dugaan, karena Bu Sintia dan Pak Jatmiko justru mendukung jika Ardina menghendaki perceraian. Namun, mereka tak tahu, jika Farhan justru belum bisa merelakan, sebab ia masih mencintai Dina. 

Pria itu menunduk, seperti ada hal berat yang sedang menghantui pikirannya, hingga Bu Sintia kembali bertanya-tanya. 

“Kenapa lagi kamu?”

“Tapi aku tak ingin menceraikan Dina, Bu," jawab Farhan, raut wajahnya bimbang dan gelisah.

Bu Sintia tersenyum sinis, “Masih banyak perempuan yang lebih baik daripada dia, contohnya Sarah, bahkan Sarah sudah terbukti melahirkan anak yang tak memiliki cacat. Tidak seperti Dina, entah salah makan apa dia? Hingga mengandung pun bayinya cacat.” 

Diam-diam Sarah mendengarkan pembicaraan Farhan dan kedua orang tuanya, wajahnya yang penuh dengan aura kelicikan, kini tertawa bahagia, karena ia baru saja memenangkan pertarungan sengit. Yakni memperebutkan tempat di sisi Farhan. 

Sarah menatap pintu kamar yang biasa ditempati Ardina, kamar itu lebih luas, dan juga lebih mewah perabotannya jika dibandingkan kamar yang ditempatinya. Sebentar lagi, dirinyalah yang akan menempati kamar tersebut. 

“Huh, Dina— Dina— kamu terlalu mudah menyerah, padahal aku belum puas membuatmu semakin terkucil. Tapi, tak apa-apa, sebentar lagi kamu akan melihat kebahagiaanku dan Mas Farhan. Dan pastinya, aku bisa menjadi istri yang lebih baik darimu.” 

Sarah berjalan kembali ke kamarnya, ia sudah memakai wewangian memikat, karena malam ini ia ingin menyenangkan suaminya seperti malam sebelumnya. Jika ia lekas hamil anak Farhan, maka akan lebih mudah baginya untuk menguasai Permana Group.

Dulu, ia terlalu fokus mengejar putra sulung keluarga Permana, hingga tak melirik Farhan satu kali pun. Tapi, kehidupan ranjangnya dengan Farid tak seindah yang ia bayangkan, karena pria itu sakit-sakitan. Hingga kedua matanya tertuju pada Farhan, tubuhnya lebih atletis, wajahnya pun lebih tampan. 

Hati Sarah mulai goyah, kenapa dulu ia hanya fokus mendekati Farid, sayangnya, tak lama setelah dirinya menikah dengan Farid, Farhan pun menikah dengan Ardina. 

Lamunan Sarah jadi buyar, sebab Farhan tiba-tiba datang. Sarah segera membenahi pakaian tidur seksinya, agar Farhan kembali tergoda seperti malam sebelumnya. 

Farhan langsung berbaring di sofa, lalu menutup kedua matanya dengan salah satu lengannya. Sarah berjalan pelan, pinggulnya meliuk serta dadanya membusung menggoda. 

“Mas kenapa?” Sarah duduk di tepi sofa tempat Farhan berbaring, tangannya mengusap lembut lengan suaminya yang menjuntai hingga hampir menyentuh lantai. 

“Tidurlah, ini sudah malam.” 

Namun Sarah belum mau menyerah, wanita itu mencium telapak tangan suaminya, lalu mendekapnya di dada. Ia memastikan kulit tangan Farhan menyentuh permukaan kedua bukit kembarnya. “Aku akan tidur setelah mendengar ceritamu.” 

Farhan menepis dekapan Sarah, ia sedang tak berminat melakukan apapun, apalagi bercinta. Ia tahu Sarah sedang menggodanya, tapi malam ini ia tak ingin diganggu. 

“Aku sedang tidak berminat, tidurlah!” usir Farhan pelan, namun, tegas. 

Sarah merengut kesal, karena usahanya gagal. Padahal birahinya pun sudah diujung, menanti sentuhan Farhan. 

1
Shee_👚
liat perkebunan sekalian liat pujaan hati ya zam, sambil berenang minum air🤭
Shee_👚
intinya azzam gak mau di panggil nama doang, harus ada embel - embelnya. gitu kan ya zam🤣
Ma Em
Ayo Zam jgn malu dan ragu2 segera bilang bahwa Azam suka sama Dina jgn ditunggu lama lama nanti Dina nya di serobot orang .
Shee_👚
cie cie azzam mulai nyaman sama panggilan mas😂
vania larasati
lanjut
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
astaga, bacanya sampai ikut ikutan gelo, senyum senyum sendiri 🤣🤣🤣🤭
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hahaha.... iya🤣🤭
total 2 replies
Nar Sih
blm puas chat dgn dina ,eh..bpk nya wa ,lebih baik dtg lansung azam ke kebun dina biar tau dan jls
🌷Vnyjkb🌷
cieee cieee,, basabasi pakkk??? calon mantu tuuu🤣🤣
🌷Vnyjkb🌷
🤣🤣🤣🤣abg tua pasangan masdud dan mbakjan
Bunda Idza
😂😂😂😂😂😂😂😂😂 begitulah Dud Jan yang punya something
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
dyah EkaPratiwi
benar kata bunda zam
Sh
Mas Azam atau Mas Antam😂😂😂
Sh: aku ga usah banyak banyak, 9 kg qja😂😂
total 4 replies
Shee_👚
ternyata dina gak sadar🤣🤣
Shee_👚
itu baru dipanggil mas, coba kalau di panggil sayanggggg apa gak kelojotan itu jantung🤭
Shee_👚
bagus sha terus ingetin apa yang azzam lakukan😂
Shee_👚
nah itu baru nunggi balasan, ampe gelisah begitu, apa lagi nunggu balas perasaan🤣
Shee_👚
terserah mau ngomong apa, tanya aja di peres belum asi, apa mau bantu peresin🤣
Nar Sih
plong kan azam hti mu udah dibls tuh wa nya jdi senyum,,kan ,dobel up lgi kak moon🙏🥰
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!