kunjungi ig author meylani_lindak untuk melihat karya-karya author lainnya.
Dirinya selalu dianggap pembawa sial, hingga di kucilkan di panti asuhan.
Bertahun-tahun mendambakan hidup bersama dengan ayahnya, Suatu hari keinginan Mayang tersebut akhirnya terkabul.
Tak pernah di sangka, Setelah 18 tahun kini Mayang di jemput di panti asuhan dan di bawa kerumah keluarganya.
Ternyata kehadiran Mayang hanya untuk jadi barang gadaian sebagai jaminan dari pinjaman sang ayah kepada seorang CEO yang kejam.
Hingga suatu hari kehormatan Mayang terenggut dan ia harus mengandung benih dari pria yang ia benci.
Bagaimana kisah Mayang selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meylani Putri Putti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembawa sial
Mayang Adista adalah putri pertama dari pasangan Adiaksa Wiraguna dan Maharani. Kelahirannya disambut bukan dengan tangis kebahagiaan, melainkan duka yang mendalam. Maharani menghembuskan napas terakhir tepat di detik-detik ia melahirkan buah hati mereka, bersamaan dengan runtuhnya kerajaan bisnis Adiaksa yang meninggalkan tumpukan utang mencekik. Sejak hari itu, seluruh keluarga besar menganggap Mayang sebagai anak pembawa sial yang membawa malapetaka.
Sepeninggal Maharani, Adiaksa terjerumus dalam kepedihan yang kelam. Rasa cinta yang begitu dalam kepada mendiang istrinya berbalik menjadi kebencian yang membutakan, menumpahkan segala amarah dan rasa kehilangan kepada si kecil Mayang. Hari-harinya dihabiskan dengan minuman keras, semakin memperburuk keterpurukan ekonomi keluarga mereka.
Pernikahan Adiaksa dan Maharani sejatinya memang tidak pernah mendapat restu dari Gunawan, ayah kandung Adiaksa. Bagi Gunawan, seorang gadis yatim piatu dari panti asuhan sama sekali tidak sepadan dengan keluarga mereka.
Suatu sore, dengan tekad bulat, Adiaksa menghampiri ayahnya yang sedang membaca koran di ruang keluarga, lalu berlutut di hadapannya.
"Yah, aku ingin menikahi Rani dan meresmikan hubungan kami," pinta Adiaksa.
"Menikah?! Kau minta izin untuk menikah?! Cuih, tak sudi!" hardik Gunawan tanpa mengalihkan pandangannya dari koran.
Adiaksa terkesiap. "Tapi kenapa, Yah?"
"Karena dia gadis miskin dan kita tak tahu asal-usul keluarganya, Adi! Kenapa kau tidak memilih Nona Adelia sebagai istrimu? Dia wanita terhormat, kekayaan ayahnya melimpah, sangat sebanding dengan kita! Jika kau menikahi Rani, kau hanya akan mendatangkan kesialan dalam hidupmu!" cecar Gunawan tajam.
"Tapi Yah, kenapa Ayah bisa bilang Rani pembawa sial?!" protes Adiaksa dengan nada tinggi.
"Aku melihat tahi lalat di bawah telinganya. Menurut mitos, perempuan yang memiliki tanda itu adalah pembawa sial! Lihat saja, hidupmu pasti menderita jika bersamanya!"
"Ayah! Ini zaman modern, kenapa masih percaya mitos seperti itu?!" bentak Adiaksa frustrasi.
"Sudahlah, Ayah tidak akan pernah merestui hubungan kalian!"
"Aku akan tetap menikahi Maharani, Yah, meski tanpa restu Ayah! Apa pun yang terjadi."
Gunawan membuang wajahnya, muak. "Dasar anak tidak tahu diuntung! Jika kau menikah dengannya, anggap saja hubungan kita putus. Kau hanya akan mendapatkan perusahaan Mitra Group karena itu milikmu sejak awal; selebihnya, sepeser pun harta keluarga ini tidak akan menjadi milikmu, kecuali kau meninggalkannya."
"Tapi Yah, itu tidak adil! Rani sedang mengandung anakku, aku tidak mungkin meninggalkannya!"
"Terserah! Anak dari wanita pembawa sial itu pun pasti akan membawa sial! Sebaiknya kau pergi dari rumah ini, Adiaksa. Aku tidak mau rumah ini ikut tertular kesialan!"
Tanpa ragu, Adiaksa memilih meninggalkan rumah keluarganya sendiri. Jauh sebelum pertengkaran itu, ia dan Rani sebenarnya sudah menikah secara siri. Adiaksa begitu mencintai Rani hingga ia rela membuang seluruh hak waris dan keluarganya demi gadis yatim piatu tersebut, sekaligus menolak perjodohan paksa dengan Adelia, putri seorang pengusaha properti ternama.
Dengan hati berat, Adiaksa kembali menemui Rani yang sedang menunggu dengan cemas.
"Bagaimana, Sayang? Apa orang tuamu merestui kita?" tanya Rani penuh harap.
Adiaksa tersenyum getir, menyembunyikan kepedihan di balik tatapannya. "Mereka belum merestui, Sayang. Tapi tak apa, aku yakin suatu hari nanti mereka akan luluh."
Rani merebahkan kepalanya di dada bidang Adiaksa, menghela napas pasrah. "Ehm, semoga saja, Sayang."
****
Waktu berlalu cepat. Kandungan Rani semakin membesar, dan di sinilah awal ujian terberat mereka dimulai. Meskipun Adiaksa telah mengabarkan kehamilan tersebut, keluarga Adiaksa tetap bergeming dan secara terang-terangan menolak kehadiran Rani beserta cucu mereka.
Nahas, di tengah perjalanan menuju rumah sakit karena gejala melahirkan, bencana itu datang.
"Aduh, Sayang, perutku sakit sekali..." keluh Rani di dalam mobil, suaranya melemah.
Wajah Rani sepucat kertas, sementara darah segar terus merembes keluar dari jalan lahirnya. Adiaksa mencengkeram kemudi dengan tangan gemetar, kepanikannya memuncak.
"Sayang, bertahanlah sebentar lagi kita sampai!" bujuk Adiaksa, mencoba mati-matian menjaga ketenangannya.
"Argh, ini semakin sakit!" teriak Rani, tubuhnya bergetar hebat menahan siksaan yang luar biasa. Napasnya memburu, terengah-engah.
"Sabar, Sayang... tahan ya..." Adiaksa melirik sekilas, mendapati darah segar telah membasahi betis istrinya.
"Aku sudah tidak tahan lagi, akh!"
Adiaksa meraih tangan Rani, menggenggamnya erat sambil menciumi jemari istrinya yang dingin. Air matanya tumpah di sela-sela doa yang ia rapalkan tanpa henti. "Tuhan, selamatkanlah istriku..."
Tubuh Rani terus berguncang hebat di kursi penumpang. Setibanya di lobi rumah sakit, wanita malang itu langsung dilarikan ke ruang persalinan. Pemeriksaan kilat oleh dokter menghasilkan keputusan mutlak: operasi caesar darurat harus segera dilakukan demi menyelamatkan nyawa ibu dan anak yang kondisinya sudah sangat kritis.
Adiaksa mondar-mandir di depan pintu ruang operasi bagai orang kehilangan akal. Bayangan masa lalu, pertengkarannya dengan sang ayah, serta riwayat kehamilan Rani yang kerap diwarnai pendarahan kecil berkelebat screaming di kepalanya. Dokter sebenarnya sudah memperingatkan risiko ini sejak awal, namun Rani terlalu keras kepala mempertahankan buah hati mereka.
Satu jam berlalu terasa seperti seumur hidup. Jantung Adiaksa bergemuruh hebat mengikuti detik jam dinding yang merayap lambat.
Hingga pada menit kesembilan puluh, suara tangisan bayi yang lantang memecah keheningan koridor rumah sakit.
Adiaksa menghela napas panjang, pundaknya sedikit merosot lega. "Akhirnya lahir juga..." gumamnya lemah.
Langkah kaki tergesa-gesa mendekatinya. Seorang wanita paruh baya berkerudung datang menghampiri—Bu Siti, ibu panti asuhan yang merawat Rani sejak kecil.
"Bagaimana operasi Rani, Nak Adi?" tanya Bu Siti dengan napas tersengal.
"Masih di dalam, Bu. Kita tunggu," jawab Adiaksa tegang.
"Yang sabar ya, Nak..." Bu Siti menepuk pundak Adiaksa, mencoba menyalurkan ketenangan.
Tak lama kemudian, lampu panel merah di atas pintu ruang operasi padam. Pintu terbuka, dan seorang suster melangkah keluar sambil menggendong sesosok bayi mungil.
"Keluarga Nyonya Maharani?"
Adiaksa langsung menerobos maju. "Saya suaminya, Suster!"
"Selamat, bayi Anda perempuan. Tapi..." Suster itu menggantungkan kalimatnya, menyodorkan bungkusan bayi ke pelukan Adiaksa dengan wajah sendu.
"Tapi apa, Suster?" suara Adiaksa bergetar, firasat buruk langsung menghantam dadanya.
"Istri Anda tidak tertolong. Beliau meninggal dunia di meja operasi."
Jedar!
Bagai disambar petir ribuan volt, dunia Adiaksa mendadak runtuh seketika. Kakinya lemas kehilangan seluruh penopang, membuatnya ambruk bersimpuh di lantai koridor.
Pandangannya kosong menatap lurus ke depan, hampa tanpa arah. Nyaris saja ia melonggarkan dekapannya dan menjatuhkan bayi yang ada di gendongannya akibat syok yang teramat sangat, jika saja Bu Siti tidak bergerak cepat menyambar tubuh mungil sang bayi dari pelukannya.
Di dalam dadanya, kebencian yang membara mendadak mendesak naik, menggantikan air mata yang telat mengering.
Anak itu... anak itu benar-benar pembawa sial! Gara-gara melahirkannya, istri tercintaku harus mati! Tidak... aku tidak mau merawatnya! Karena dia, Rani meninggalkan aku selamanya! Tidak! Tidak!