NovelToon NovelToon
Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Dua minggu.

Empat belas hari.

Tiga ratus tiga puluh enam jam.

Naya menatap buku agenda bersampul kulit di tangan Kafka dengan pandangan kosong. Angka-angka itu berputar di kepalanya bagaikan gasing yang kehilangan keseimbangan. Bagi orang biasa, mempersiapkan pernikahan impian membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan setahun penuh. Namun, pria di hadapannya ini dengan santainya melingkari sebuah tanggal yang jaraknya hanya sejengkal dari hari ini.

"Kaf... kamu bercanda, kan?" Naya mendongak, menatap Kafka dengan sepasang mata yang membulat sempurna. "Dua minggu? Gedungnya? Katering? Undangan? Gaunnya? Kaf, bikin suvenir aja butuh waktu sebulan lebih!"

Kafka menutup agenda tersebut dengan bunyi puk yang pelan, lalu melemparkannya ke atas meja konsol di sebelahnya. Pria itu mencondongkan tubuhnya, mengurung Naya kembali di antara kedua lengannya yang bertumpu pada dinding. Senyum miring yang luar biasa percaya diri dan sedikit arogan menghiasi wajah tampannya.

"Sayang, kau sedang berbicara dengan pria yang bisa menyewa seluruh hotel bintang lima di Jakarta hanya dengan satu panggilan telepon," bisik Kafka, nada suaranya mengalun rendah dan memabukkan. "Gedung, katering, dekorasi, hingga gaun rancangan desainer Paris... semuanya sudah diurus oleh tim wedding organizer terbaik yang disewa Mama sejak ia mendarat di bandara tadi sore."

Naya terkesiap. "Ibumu... udah tahu soal dua minggu ini?"

"Tentu saja. Mama yang meminta satu bulan, tapi aku menolaknya," Kafka menundukkan kepalanya, menyentuhkan ujung hidungnya dengan hidung Naya. "Aku bilang padanya, jika aku harus menunggu satu bulan lagi untuk membawa Naya ke ranjangku secara legal, aku mungkin akan membakar sesuatu."

Wajah Naya seketika memerah padam, semerah kepiting rebus. Ia memukul dada Kafka dengan kepalan tangannya yang kecil, meskipun pukulannya sama sekali tidak bertenaga.

"Kafka! Kamu ngomong gitu ke ibumu?!" Naya memekik tertahan, nyaris ingin menenggelamkan dirinya ke dasar palung Mariana. "Astaga... mau ditaruh di mana mukaku besok?"

Kafka terkekeh pelan, tawa yang bergetar di dadanya dan merambat ke telapak tangan Naya. Pria itu menangkap tangan Naya, mengecup telapak tangannya dalam-dalam.

"Di bahuku," bisik Kafka protektif. "Kau tidak perlu memikirkan apa pun, Kak Naya. Kau tidak perlu pusing memikirkan warna taplak meja atau apa aja kue pernikahan disuguhan pernikahan kita nanti. Tugasku dan keluargaku adalah menyiapkan pestanya. Tugasmu... hanya datang, tersenyum, dan berjanji untuk menghabiskan sisa hidupmu bersamaku."

Kata-kata itu begitu manis, menenggelamkan Naya dalam lautan kehangatan yang membuat seluruh keraguannya menguap. Naya memejamkan mata, membiarkan Kafka memberikan kecupan panjang dan lembut di bibirnya sebagai segel dari janji gila tersebut.

Keesokan paginya, tepat seperti dugaan Naya, jeritan histeris Nessa membahana ke seluruh penjuru rumah saat Kafka mengumumkan tanggal pernikahan mereka di meja makan.

"DUA MINGGU?! LO GILA, KAF?!" Nessa berdiri dari kursinya, mengebrak meja hingga cangkir susunya berdenting. "Gue belum diet! Baju bridesmaid gue gimana?! Lo pikir nyari MUA top di Jakarta bisa booking h-14?!"

Kafka terus mengoleskan selai kacang ke atas rotinya dengan sangat santai, sama sekali tidak terpengaruh oleh raungan kakaknya.

"Semuanya sudah diurus oleh asisten Mama. Pengukuran bajumu dijadwalkan siang ini jam dua di butik," jawab Kafka datar, lalu menyodorkan roti berselai itu ke piring Naya. "Makan, Sayang."

Nessa menganga lebar. Ia menatap adiknya, lalu menatap Naya yang hanya bisa tersenyum canggung sambil menggigit pinggiran roti.

"Bener-bener ya, kekuatan kapitalisme keluarga gue kalau dipadukan sama cowok bucin level akut, hasilnya mengerikan," gerutu Nessa, kembali duduk dengan wajah cemberut, meskipun Naya tahu sahabatnya itu sedang menyembunyikan senyum antusias. "Awas aja kalau gaun gue kalah cetar dari gaunnya Naya!"

Hari-hari berikutnya berlalu bagaikan pusaran angin puting beliung yang mewah. Naya tidak perlu mengurus cuti panjang untuk mempersiapkan pernikahan. Ia tetap bekerja seperti biasa, sementara di luar jam kantor, ia diperlakukan layaknya seorang ratu. Pihak butik, katering, dan dekorator didatangkan langsung ke rumah atau ke ruang private restoran untuk presentasi.

Tepat di akhir pekan, seminggu sebelum hari H, Naya harus melakukan fitting gaun pengantin terakhirnya di sebuah butik eksklusif di kawasan Senopati. Butik itu ditutup untuk umum hari itu, khusus melayani keluarga Adiraja.

Naya berdiri di atas mimbar kecil di dalam ruang ganti yang sangat luas. Di depannya terdapat cermin tiga sisi yang menampilkan pantulan dirinya dari berbagai sudut. Ia mengenakan gaun pengantin berekor panjang berbahan silk taffeta berwarna broken white. Desainnya klasik, off-shoulder yang mengekspos garis bahu dan tulang selangkanya dengan sangat elegan, tanpa payet berlebihan, namun memancarkan kemewahan dari potongan kainnya yang jatuh sempurna.

"Sempurna. Nona Naya memiliki proporsi tubuh yang luar biasa," puji sang desainer asal Italia yang terbang langsung ke Jakarta, membenarkan letak kain tile di bagian pinggang Naya.

Di luar ruang ganti, terdengar suara langkah kaki berat yang sangat khas. Pintu gorden beludru tebal disibakkan dari luar.

Kafka melangkah masuk. Pria itu baru saja selesai melakukan fitting setelan tuxedo hitamnya. Saat matanya menangkap sosok Naya yang berdiri di depan cermin, langkah Kafka terhenti total.

Desainer dan dua asistennya, yang sangat peka terhadap atmosfer di sekitar pewaris Adiraja tersebut, segera menunduk hormat dan berjalan mundur keluar dari ruang ganti, meninggalkan mereka berdua. Tirai beludru kembali tertutup rapat.

Keheningan yang magis menyelimuti ruangan itu. Naya berbalik perlahan, menatap Kafka dengan jantung yang berdebar kencang. Wajah pria itu seolah membeku. Mata legamnya menyapu Naya dari ujung rambut hingga ujung gaun yang menyapu lantai. Rahang Kafka mengeras, jakunnya naik-turun menelan ludah. Ada kilat pemujaan yang begitu besar dan intens di matanya, membuat napas Naya ikut tertahan.

"Kaf...?" panggil Naya pelan, suaranya sedikit bergetar. "Gimana... gaunnya? Terlalu polos ya?"

Kafka melangkah maju. Matanya tidak berkedip sedetik pun. Ia berhenti tepat di hadapan Naya, membuat wanita itu harus sedikit mendongak.

"Ini tidak adil," geram Kafka rendah, suaranya terdengar luar biasa serak.

Naya menautkan alisnya bingung. "Apanya yang nggak adil?"

Tangan besar Kafka terangkat. Jemarinya yang hangat menyusuri garis bahu Naya yang terbuka, merayap pelan menuju tengkuk wanita itu, mengirimkan sengatan listrik yang melumpuhkan sendi-sendi Naya.

"Tidak adil karena aku harus membagikan pemandangan seindah ini kepada ratusan tamu undangan minggu depan," bisik Kafka, mencondongkan tubuhnya hingga bibirnya nyaris menyentuh telinga Naya. Aroma cedarwood dan mint yang tajam langsung menginvasi paru-paru Naya, berpadu dengan wangi mawar dari ruangan butik. "Aku ingin mengurungmu. Menyembunyikanmu. Aku ingin hanya mataku yang boleh melihatmu mengenakan gaun ini, Kak Naya."

Wajah Naya memanas hebat. Ia menelan ludah, meremas kain gaunnya dengan tangan gemetar. "Kaf... jangan mulai..."

Kafka menarik pinggang Naya dengan satu tangan, sementara tangannya yang lain menangkup rahang wanita itu. Ia tidak mencium bibir Naya agar riasannya tidak hancur. Sebagai gantinya, pria itu menundukkan kepalanya dan mengecup dalam perpotongan leher Naya, tepat di atas denyut nadinya yang berpacu liar.

Naya mengerang tertahan, memejamkan matanya erat-erat saat bibir hangat Kafka menyapu kulitnya. Napas pria itu memburu, memancarkan hasrat dan ketidaksabaran yang mendidih.

"Tujuh hari lagi," bisik Kafka di kulit leher Naya, suaranya mengalun seperti janji yang mematikan. "Tujuh hari lagi, dan aku tidak akan pernah melepaskanmu dari ranjang kita."

Kafka menarik diri perlahan, menatap wajah Naya yang sudah semerah tomat dengan senyum puas. Pria itu merapikan anak rambut Naya, lalu melangkah mundur.

"Gantilah bajumu. Aku tunggu di mobil," ucap Kafka dengan suara yang kembali normal, memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari balik tirai beludru, meninggalkan Naya yang kini harus berjuang mati-matian mengatur napasnya agar tidak pingsan di dalam butik.

Tiga hari sebelum pernikahan.

Suasana rumah Nessa sangat sepi karena Nessa sedang pergi ke spa bersama ibu Kafka. Sementara itu, Kafka sedang berada di kantor untuk menyelesaikan beberapa dokumen penting sebelum ia mengambil cuti panjang untuk bulan madu mereka.

Naya yang baru saja pulang lebih awal dari kantor, memutuskan untuk membuatkan secangkir kopi hitam dan membawanya ke ruang kerja Kafka di lantai bawah, berniat merapikan meja pria itu yang semalam berantakan oleh berkas-berkas.

Ruang kerja Kafka didominasi warna gelap dan aroma kayu cedar yang sangat Naya kenali. Naya meletakkan cangkir kopi di atas meja kerja, lalu mulai menyusun beberapa map yang berserakan.

Saat Naya mengangkat sebuah tumpukan map tebal, lengannya tanpa sengaja menyenggol sebuah laci kecil di sudut meja. Laci itu tidak terkunci dan sedikit terbuka.

Sebuah buku sketsa bersampul kulit hitam polos yang tebal meluncur keluar dari laci tersebut, jatuh menghantam karpet dengan bunyi buk yang pelan.

"Ah, ceroboh banget sih, Nay," rutuk Naya pelan.

Ia membungkuk untuk mengambil buku itu. Namun, saat buku itu terjatuh, halamannya terbuka. Dan apa yang Naya lihat di halaman tersebut membuat gerakannya membeku total.

Di halaman buku itu, tertempel sebuah guntingan majalah fesyen yang sudah terlihat menguning dan usang. Guntingan itu menampilkan sebuah iklan cincin berlian Cartier berpotongan emerald-cut.

Cincin yang sama persis dengan yang kini melingkar di jari manis Naya.

Naya mengerutkan keningnya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Dengan tangan gemetar, ia mengambil buku sketsa itu dan duduk di kursi kerja Kafka. Ia membalik halaman sebelumnya.

Napas Naya seolah direnggut paksa dari paru-parunya.

Halaman demi halaman buku itu tidak berisi sketsa desain bangunan atau catatan bisnis. Buku itu dipenuhi oleh puluhan foto polaroid candid dirinya. Naya yang sedang tertawa di teras rumah Nessa. Naya yang sedang makan es krim. Naya yang sedang tertidur di sofa ruang tengah saat sedang mengerjakan skripsi bertahun-tahun yang lalu.

Di bawah setiap foto, terdapat tulisan tangan Kafka yang rapi. Tanggal-tanggal itu menunjukkan tahun yang sangat jauh di belakang. Enam tahun yang lalu. Tujuh tahun yang lalu.

Tangan Naya gemetar saat ia membalik ke halaman paling akhir yang berisi tulisan. Halaman itu bertanggal tepat satu hari sebelum Kafka berangkat ke London, tiga tahun yang lalu.

Di sana, tertempel sebuah nota pembelian dari butik Cartier. Di bawahnya, terdapat sebuah paragraf panjang yang ditulis dengan tinta hitam yang ditekan sangat kuat hingga menembus kertas.

"Hari ini aku membeli cincin itu. Cincin yang kau tunjuk di majalah setahun yang lalu. Rencanaku adalah menyatakan perasaanku malam ini, sebelum aku pergi. Tapi aku terlambat. Aku melihatmu turun dari mobil pria brengsek itu, memakai cincin murahan darinya, dan kau tersenyum padanya. Kau memilihnya.

Aku pergi ke London dengan dada yang hancur lebur. Tapi aku bersumpah pada diriku sendiri. Aku akan membangun kerajaanku, dan aku akan kembali. Cincin ini akan tersimpan di brankasku. Karena jika hari itu tiba, jika pria itu membuatmu meneteskan air mata walau hanya setetes, aku akan pulang. Aku akan menghancurkan hidupnya, dan aku akan merampasmu kembali. Kau milikku, Naya. Sejak awal, dan selamanya."

Buku sketsa itu terlepas dari tangan Naya, jatuh ke atas meja. Naya menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air mata menetes tanpa bisa dicegah.

Kafka tidak membelikan cincin itu minggu lalu. Pria itu sudah membelinya sejak tiga tahun yang lalu. Obsesi, cinta, dan kepemilikan Kafka padanya ternyata jauh, jauh lebih dalam, gelap, dan mengakar daripada yang pernah Naya bayangkan. Kafka telah merencanakan semuanya sejak bertahun-tahun yang lalu.

Tiba-tiba, suara derit pelan pintu ruang kerja yang didorong terbuka memecah keheningan.

Naya tersentak dan mendongak dengan cepat.

Di ambang pintu, Kafka berdiri mematung. Kemejanya sedikit berantakan. Mata legam pria itu langsung jatuh pada buku sketsa bersampul kulit hitam yang kini tergeletak terbuka di atas meja, tepat di depan Naya.

Ekspresi Kafka seketika berubah. Tidak ada senyum hangat. Yang ada hanyalah raut wajah kaku yang memancarkan kegelapan mutlak, seolah sisi paling monster dari dirinya baru saja terseret keluar ke bawah cahaya matahari. Pria itu melangkah masuk, menutup pintu ruang kerjanya rapat-rapat, dan mengunci Naya berduaan saja dengannya di dalam keheningan yang mencekam.

1
none name
up ka
Hk Hk
lanjut thorrrr, semangat
Hk Hk
bagus ceritane Thorrr😍
none name
up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!