NovelToon NovelToon
Ketika Wanita Licik Diselingkuhi

Ketika Wanita Licik Diselingkuhi

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Pelakor / Selingkuh / Cinta Terlarang / Kaya Raya / Playboy
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ocean Na Vinli

Norman Turner mengira Grace Wills, wanita yang mudah dibodohi, sayangnya ia tidak memahami istrinya dengan baik.

Grace Wills malah memilih langkah yang paling berbeda saat mengetahui suaminya mendua.

Apa yang dilakukan Grace Wills? Penasaran, kepoin yuk ceritanya ...

Untuk tahu info update, follow IG: @nana_vinli
Diusahakan update setiap hari, 1 sampai 3 bab.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saling Tuduh

"Siapa? Cepat katakan!" desak Henry dengan wajah tegang.

Kevin mengangkat sudut bibirnya, membentuk senyuman penuh makna. Sekali lagi, ia melirik Grace sekilas sebelum kembali menatap Henry.

"Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya kepada Tuan Norman, orang ini sangat pintar. Dan Anda memang benar."

Norman mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

"Orang yang menyebarkan video pesta tadi malam kemungkinan besar adalah orang yang sama dengan yang selama ini meneror Anda."

Mata Norman langsung menyipit. Henry yang berdiri tidak jauh darinya juga segera mendekat.

"Jadi, orang yang menjebakku selama ini adalah orang yang sama dengan yang menyebarkan video itu?" tanya Norman memastikan.

Kevin mengangguk pelan. "Namun, saya belum bisa memastikan apakah dia benar-benar pelakunya. Saya masih membutuhkan waktu untuk membuktikan semuanya."

"Kalau begitu, apa yang sudah kau temukan?" tanya Henry tidak sabar.

Kevin menatap layar laptop sebentar sebelum kembali berbicara. "Dari hasil penelusuran saya, jejaknya mengarah kepada seseorang yang memiliki hubungan dengan keluarga Anda."

Detik itu pula, suasana dalam ruangan mendadak hening.

Norman, Henry, Allison, dan Ruby saling berpandangan. Tak seorang pun menyangka bahwa pelaku yang selama ini mereka cari mungkin berada begitu dekat dengan mereka.

Sementara itu, Grace berusaha bersikap tenang, walau sebenarnya jantungnya berdetak dua kali lebih cepat sekarang.

"Apa maksudmu seseorang dari keluarga kami?" Henry mengerutkan kening.

Kevin mengangguk. "Benar, Tuan. Namun, saya belum mengetahui identitas pastinya. Orang ini sangat berhati-hati dan tampaknya sudah mempersiapkan semuanya dengan baik."

Henry langsung menoleh kepada Norman.

"Jangan-jangan ini ulahmu, Norman?"

Norman terperangah. Dia menatap papanya seolah tidak percaya dengan tuduhan tersebut.

"Apa-apaan maksud Papa? Kenapa Papa malah menuduhku?!" kata Norman dengan nada sedikit meninggi.

Henry mengatupkan rahang. "Siapa lagi kalau bukan kau? Kau sendiri pernah terlibat dalam masalah video seperti ini!"

Norman langsung berdiri dari sofa. Wajahnya memerah menahan amarah.

"Itu justru alasan kenapa aku ingin menemukan pelakunya! Kenapa aku harus melakukan sesuatu yang sama kepada keluargaku sendiri? Aneh sekali Papa ini."

"Siapa yang bisa menjamin perkataanmu benar?" balas Henry tajam.

Norman terlihat kesal. Tangannya mulai terkepal. "Kalau Papa mau menuduhku, setidaknya berikan bukti! Jangan asal bicara!"

Sementara itu, Allison hanya duduk diam di sudut ruangan. Tatapannya tertuju kepada Henry, menyimpan kemarahan yang belum juga mereda sejak kejadian semalam.

"Yang pasti, aku berterima kasih kepada orang yang sudah membongkar kebusukan suamiku," celetuk Allison tiba-tiba sembari melirik Henry dengan sinis.

Henry terdiam. Rahangnya mengeras, tetapi dia memilih tidak menanggapi ucapan istrinya.

"Allison, jangan memperkeruh keadaan!" bentaknya kemudian.

Allison tertawa getir. "Aku memperkeruh keadaan? Bukankah kau sendiri yang membuat semua ini terjadi?"

"Sudah cukup!" Henry mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian kembali menatap Kevin.

"Kalau begitu, katakan saja siapa orangnya! Apa sulitnya?" lanjut Henry.

Kevin menatap Henry dengan ekspresi datar.

"Seperti yang sudah saya sampaikan kepada Tuan Norman tadi malam, saya membutuhkan waktu untuk melakukan penelusuran. Paling lambat minggu depan, saya akan memberikan informasi lebih lanjut setelah mendapatkan bukti yang cukup."

Henry membelalak tidak percaya. "Minggu depan? Kenapa harus selama itu?"

"Karena saya tidak ingin memberikan kesimpulan yang keliru hanya berdasarkan dugaan." Kevin memasukkan laptopnya ke dalam tas dengan cepat, lalu berdiri. "Kalau begitu, saya permisi dulu."

"Tunggu!" Norman segera melangkah mendekatinya. "Kevin, kita belum selesai membicarakan ini!"

Namun, Kevin hanya mengangguk singkat sebelum melangkah keluar dari ruangan.

Norman terdiam, menatap pintu yang baru saja tertutup.

Sementara itu, Grace yang sejak tadi duduk diam akhirnya bisa menarik napas lega.

Setidaknya, Kevin tidak langsung mengungkapkan siapa pelakunya. Namun, senyuman penuh makna dan tatapan singkat Kevin tadi terus terbayang di benaknya.

Grace mengerutkan kening. Senyuman pria itu terlihat begitu mencurigakan hingga membuatnya merasa kesal.

'Menyebalkan sekali! Apa maksud senyumannya tadi?'

Grace meremas ujung pakaiannya, berusaha menenangkan diri. Dia tidak ingin menunjukkan kegelisahannya di hadapan siapa pun.

"Benar, kan?" Suara Henry kembali memecah keheningan. "Pasti ini ulah Norman!"

Norman yang baru saja hendak duduk kembali langsung berbalik. "Papa ini kenapa terus menuduhku?"

"Karena kau punya alasan untuk melakukannya!"

"Alasan apa?" Norman tertawa sinis. "Apa karena video itu memperlihatkan Papa dan Jacob? Apa Papa pikir aku yang menyebarkannya hanya karena aku ingin mempermalukan kalian?"

Henry terdiam sesaat.

Norman melanjutkan dengan suara yang semakin meninggi. "Kalau Papa berpikir sejauh itu, kenapa Papa tidak sekalian menuduhku sebagai orang yang merekam video tersebut?"

Wajah Henry berubah muram. "Jangan kurang ajar, Norman!"

"Aku hanya ingin tahu apa dasar tuduhan Papa!" balas Norman.

"Video itu memperlihatkan aku dan Jacob!" bentak Henry. "Kau tidak ada di dalam video itu. Siapa yang bisa memastikan kau tidak berada di balik semua ini?"

Norman menatap papanya tidak percaya.

"Jadi, karena aku tidak ada di dalam video, Papa menganggap aku pelakunya? Apa itu masuk akal?!"

Henry terdiam, tetapi tatapannya tetap menuduh. "Kalau memang bukan kau, lalu siapa?"

"Justru itu yang sedang kucari!" Pada titik ini, Norman sudah terlihat sangat kesal. Sedari tadi, dia menahan diri agar tidak melayangkan pukulan kepada papanya sendiri.

"Sudah, sudah!" Ruby segera berdiri dan mencoba melerai mereka. "Kenapa kalian malah bertengkar seperti ini? Kevin saja belum mengetahui siapa pelakunya!"

Namun, Henry tidak menggubris ucapan putrinya. Norman juga masih menatap papanya dengan rahang mengeras.

Ruby menghela napas kesal, lalu kembali menoleh kepada Henry.

"Papa, kenapa malah menuduh Abang? Abang belum tentu melakukan hal seperti itu."

Norman sedikit terkejut mendengar pembelaan Ruby. Namun, keterkejutannya hanya berlangsung sesaat sebelum adiknya kembali berbicara.

"Jangan-jangan Rara?" kata Ruby seketika.

Semua orang langsung menoleh kepadanya.

"Rara?" ulang Norman dengan kening berkerut.

Ruby mengangguk cepat. "Coba Papa ingat, saat video itu diputar tadi malam dan dia melihat Jacob ada di dalamnya, dia hanya diam. Memang, dia sempat menatap Jacob dengan tatapan jijik, tetapi dia tidak menunjukkan reaksi berlebihan."

Ruby menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Aku curiga Rara ada hubungannya dengan semua ini!"

Norman menggeleng tidak percaya. "Ruby, kau bahkan tidak punya bukti. Kenapa sekarang kau malah menuduh Rara?"

"Memangnya aku salah? Dia juga bagian dari keluarga ini!"

"Sudahlah!" Allison tiba-tiba berdiri sambil memegangi kepalanya. "Kalian semua membuatku pusing!"

Allison mengambil tas yang terletak di atas ranjang, lalu menatap Henry dengan mata memerah. "Aku tidak mau mendengar semua omong kosong ini lagi. Aku mau pulang!"

Henry segera menghampiri Allison. "Allison, sayang, jangan seperti ini."

Allison menepis tangan suaminya sebelum pria itu sempat menyentuh lengannya. "Jangan panggil aku sayang!"

Henry membeku.

"Aku sudah bilang, aku ingin bercerai darimu!" Allison melayangkan tatapan tajam kepada Henry. "Jadi, jangan pernah berharap aku akan mengubah keputusanku!"

"Allison, tunggu! Aku bisa menjelaskan semuanya!"

Namun, Allison tidak lagi memedulikan Henry. Dia langsung berjalan keluar dari ruangan tanpa menoleh sedikit pun.

Henry hendak menyusul, tetapi langkahnya terhenti ketika Ruby memanggilnya.

"Papa, aku juga mau pulang."

Henry menoleh sekilas. "Iya, ayo kita pulang."

Ruby mengambil tasnya, kemudian meninggalkan ruangan dengan wajah muram.

Ruangan itu akhirnya menyisakan Norman dan Grace.

Kini, Norman mengembuskan napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa.

"Kenapa semuanya jadi seperti ini?" gumamnya sambil mengusap wajah.

Grace duduk di samping Norman. Dia menatap Norman dengan ekspresi prihatin yang dibuat-buat.

"Tenanglah, Sayang. Jangan terlalu memikirkan perkataan mereka," kata Grace.

Norman hanya mengangguk lemah.

Tiba-tiba, ponsel Norman bergetar. Sebuah pesan masuk muncul di layar, dari Mona.

"Norman, datanglah ke rumah. Ellian demam."

Norman langsung menegakkan tubuh. Dia membuka pesan itu dan membacanya sekali lagi. Wajahnya langsung berubah cemas.

"Kenapa, Sayang?" tanya Grace, berpura-pura tidak mengetahui apa pun.

Norman buru-buru mengunci layar ponselnya.

"Aku ada urusan sebentar pagi ini."

Norman berdiri, lalu mengambil jasnya yang tersampir di sandaran sofa.

"Grace, kau pulang duluan, ya. Aku akan menyusul nanti," lanjut Norman.

Grace mengangkat wajah dan tersenyum tipis. "Oh, iya. Baiklah, Sayang."

Norman mengangguk singkat sebelum bergegas meninggalkan ruangan.

Grace memperhatikan punggung suaminya sampai pria itu menghilang di balik pintu.

Senyum tipis terukir di bibirnya.

'Pasti kau akan menemui Mona.'

Grace menduga Norman akan pergi menemui wanita itu. Suaminya memang selalu berusaha berada di dekat Mona setiap kali wanita itu membutuhkan sesuatu.

Dan baginya, itu sudah cukup untuk membuatnya semakin muak terhadap suaminya sendiri.

***

Setelah memastikan semua barangnya sudah terkumpul, Grace meninggalkan kamar hotel.

Dia berjalan menyusuri lorong menuju lift. Namun, sebelum sempat mencapai lantai satu, seseorang tiba-tiba menarik tangannya.

Grace tersentak. Matanya membelalak ketika tubuhnya berbalik secara paksa.

Begitu menyadari siapa orang yang menariknya, Grace langsung menghempaskan tangannya.

"Kevin?!"

Pria itu berdiri di hadapannya dengan ekspresi tenang. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia merasa bersalah karena telah mengejutkannya.

Grace mengerutkan kening sambil menatap Kevin dengan mata melotot. "Apa-apaan kau ini? Kenapa menarik tanganku?"

Kevin menarik napas panjang, lalu menatap Grace lekat-lekat.

"Grace, aku bisa membantumu. Keluarga Turner bukanlah orang-orang yang bisa kau remehkan. Cepat atau lambat, mereka akan menemukan siapa yang berada di balik semua ini."

1
Ma Em
Ayo Grace kalau kamu sdh mau bercerai dgn Norman lbh baik dipercepat saja TDK usah mikir yg lain lagi , lbh baik Grace segera bebas dari suami yg tukang selingkuh dan cari kebahagiaanmu Grace , semoga Grace cepat dapat pengganti nya Norman buaya buntung .
Susan Paulina
up lagi thor
Susan Paulina
iya kenapa di anaknya ya
Adinda
bukannya edmund kakek norman thor
mery harwati
Nah kan ngaku sendiri Mona pada Grace, sekalian bilang klo ada anak lahir dari rahimmu Mona, tapi jangan keceplosan kalo anak itu bukan anak kandung Norman 😜🤣
Oma Gavin
wkwkwk koplak yg Norman bilang ngga ada hubungan yg mona bilang saling mencintai 🤣🤣🤣
Dew666
Lanjuttttt
Ma Em
Grace sdh tuntaskan dan bongkar saja semua langsung bahwa Grace sdh tau tentang hubungan Norman dgn Mona , jgn ditunggu lagi lalu Grace berpisah dgn Norman .
mery harwati
Jangan² si Edmund ketua Turner juga tukang selingkuh 😜
Akan bahagia klo video perselingkuhan Edmund juga juga viral 🤣
Adinda
mona selingkuhan hanry dan jacob🤣🤣🤣
Ma Em
Rekaman siapa itu punya Norman atau Alison yg sdh terpampang dilayar .
Ma Em
ayo cepatlah Grace hancurkan Norman dan selingkuhan nya .
Adinda
kevin jodohmu grace🤣🤣🤣
Ma Em
Semoga saja Kevin tdk membocorkan siapa yg telah meneror Norman dan tdk mengatakan nama Grace pada Norman .
Adinda
kevin berpihak pada grace biar mampus norman🤣
Ma Em
Ayo Mona kasih tau Grace bahwa kamu dan Norman punya hubungan bahkan sampai punya anak agar Grace gampang gugat cerai Norman .
mery harwati
Mona Mona tak sadar kalo kau dimanfaatkan Grace untuk membongkar kebusukan keluarga besar Turner 😜
Mona yang haus status Turner hingga tak sadar bahwa Mona membuka jalan untuk keruntuhan Turner sekeluarga 🤣
mery harwati
Curiga sama Julian Sinclair? Apakah Eva salah satu anak buah Sinclair yang dikirim untuk membantu Grace?
Ma Em
Itu kebenaran Norman dan keluarganya yg cuma pencitraan agar terlihat baik Dimata orang padahal kelakuan nya bejad semua dan sdh jelas Grace ketahui semuanya , Ayo Grace buat Norman dan keluarganya pusing dan stres
mery harwati
Penuh intrik & rahasia keluarga Turner 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!