Ujian dalam rumah tangga Aini dan Andra dimulai saat Andra mendapat kenaikan jabatan di perusahaan tempatnya bekerja
Ekonomi yang membaik, membuat Andra mulai merasa bosan dengan istrinya yang menurutnya tidak bisa merawat diri, hingga membuatnya terjerat pesona rekan kerjanya sendiri
Aini begitu terluka, saat suaminya membawa seorang wanita yang tengah berbadan dua yang ia perkenalkan sebagai istri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
"Apa kamu tau kalau mas Andra sudah menikah lagi?"
Faris terkejut mendengar pertanyaan itu, lebih mengejutkan lagi karena Aini telah mengetahui kebenarannya
Ya, Faris memang tidak sengaja mendengar jika sang kakak telah menikahi wanita lain yang telah mengandung
Faris tidak sengaja mendengar saat sang ibu bicara pada Andra lewat telepon. Saat Faris bertanya, sang ibu membenarkan dan menyuruhnya untuk tetap diam
Ia sebenarnya ingin mengatakan semuanya pada Aini, tapi ia takut jika kebenaran itu akan melukai kakak iparnya ini
"Kak Aini sudah tau?"
Plak
Faris memejamkan matanya, ia pantas mendapatkannya karena ia telah mengecewakan wanita ini
"Bagaimana bisa kamu melakukan itu, Faris? Kamu sudah kakak anggap seperti adik sendiri"
Aini kembali menangis, ia merasa telah dikhianati karena semua orang memilih untuk bungkam
"Apa ibu juga tahu?"
Faris mengangguk "Ibu yang menikahkan bang Andra dan wanita itu"
Aini tidak bisa berkata-kata lagi, hatinya bak ditikam belati tajam berkali-kali. Rasanya begitu perih, tidak percaya jika semuanya bekerja sama untuk menipunya
Sebenarnya tidak heran, Retno begitu membencinya dan wanita itu selalu menginginkan menantu yang sesuai standar nya. Dan sepertinya Wanita itu orangnya
"Kak, maafin aku. Aku gak bermaksud untuk menyembunyikan ini dari kakak" Faris memohon
Rasa kecewa ini membuat Aini tidak bisa lagi menerima alasan apapun. Rasanya semua orang telah bersalah
"Kak Aini mau kemana?" Aini hendak melangkah namun Faris mencegahnya
"Kakak mau pulang, Kakak sudah keluar dari rumah mas Andra"
Faris mengepal, sungguh rasanya ia ingin menghajar kakaknya itu. Bagaimana bisa Andra melakukan semua ini pada wanita sebaik ini
"Aku anterin yaa kak"
"Gak perlu, sebaiknya kamu pulang aja! Kakak bukan kakak ipar kamu lagi" Ujar Aini lalu melangkah menyusuri jalanan yang masih diguyur hujan
Faris mengerti, rasa kecewa wanita itu sangat besar. Faris tidak memaksa, namun ia tetap mengikuti Aini dari belakang, memastikan jika kakak iparnya itu kembali kerumah dalam keadaan selamat
Langkah lemah Aini membawanya hingga kerumah sederhana milik orang tuanya, bagi seorang putri, rumah orang tua adalah tempat yang paling aman
Aini mengetuk pintu, kedua orang tuanya mungkin sudah terlelap dan ia mengganggu malam-malam seperti ini
Terdengar sahutan dari dalam rumah, gagang pintu diputar dan pintu kayu itu terbuka
Ratih menatap putrinya yang basah kuyup, tubuhnya juga menggigil entah apa yang sudah terjadi
"Aini"
"Ibu" Tangis Aini pecah, tak peduli tubuhnya yang akan ikut basah, Ratih memeluk putrinya
Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi sebagai seorang ibu ia merasa begitu terluka melihat tangis putri kesayangannya
"Ada apa nak? Kenapa kamu bisa seperti ini?" Aini tidak menjawab, keduanya masih berpelukan diatas lantai karena Ratih juga ikut menangis
Karena istrinya yang tidak kunjung kembali, membuat Dedi menyusul. Suara tangisan memang tidak terdengar dari kamar karena hujan yang lebat
Dedi terkejut melihat dua wanita kesayangannya itu saling berpelukan, sepertinya ini tidak baik, Dedi segera menghampiri
"Aini? Kamu kenapa nak?"
"Bapak" Aini berpindah dan memeluk pria yang paling mencintainya itu
Ia seperti anak kecil yang menangis dalam pelukan ayahnya, Dedi mengusap kepala putrinya dengan lembut
"Kita sebaiknya kekamar kamu nak! Kamu juga basah, kenapa sampai seperti ini?" Dedi mengangkat tubuh putrinya, baginya Aini tidak pernah tumbuh dewasa karena dia adalah putri satu-satunya dan Dedi sangat menyayangi putrinya
Dedi membawa putrinya kekamar, tubuh Aini didudukkan di ujung tempat tidur lalu Dedi menatap istrinya yang sejak tadi menangis
"Ibu gantiin bajunya! Jangan ditanya dulu! Biarin Aini tenang" Ratih mengangguk, walaupun hatinya ini sangat ingin bertanya, namun ia menahan terlebih melihat kondisi putrinya
Setelah sang suami keluar, Ratih membantu putrinya untuk mengganti pakaian basahnya
Setelah penampilannya lebih baik, Aini membaringkan tubuhnya diatas ranjang miliknya
Semuanya tidak berubah, kedua orang tuanya membiarkan kamar ini seperti sebelum ia tinggalkan seolah mereka tahu jika suatu saat putri mereka akan kembali
Ratih ikut berbaring didalam selimut putrinya, ini seperti Aini kecil saat tengah sakit. Dimana Ratih akan mengusap kepalanya hingga putri kecilnya terlelap
"Apa yang terjadi pada kamu nak? Siapa yang melakukan ini?"
Setelah memastikan putrinya terlelap, Ratih keluar dan mendapati suaminya yang masih duduk diruang tengah
"Gimana Aini Bu?" Tanya Dadi
"Udah tidur" Ratih menatap suaminya "Aini kenapa yaa pak? Apa kita tanya aja sama Andra?"
"Gak perlu Bu, besok setelah Aini lebih baik. Dia pasti akan cerita sama kita" Dedi merangkul bahu istrinya "Kita istirahat dulu"
Aini merasa tubuhnya jauh lebih baik, saat ia membuka mata terlihat kamar yang sangat ia kenali
Aini menatap kosong, artinya apa yang terjadi semalam bukankah mimpi buruk. Semuanya benar, suaminya benar-benar membawa seorang wanita ke rumahnya
"Udah bangun nak?" Ratih masuk dan mendapati putrinya yang duduk diatas ranjang "Kamu butuh sesuatu?"
Aini menggeleng "Maafin Aini yaa Bu, Aini udah ngerepotin ibu"
Ratih tersenyum lalu mengusap kepala putrinya "Sama sekali enggak, kamu keluar yaa! Ibu udah bikin sarapan, kita makan sama-sama! Bapak udah nunggu"
Aini mengangguk, ia turun dari tempat tidur lalu mengikuti langkah sang ibu. Dimeja makan sang ayah sudah menunggu dan tersenyum saat melihat nya
"Nak, kamu baik-baik aja kan?" Tanya Dedi, mereka memilih untuk tidak bertanya dan menunggu hingga Aini lebih baik dan mengatakannya sendiri
"Ayo makan!" Aini kembali menitihkan air matanya, membuat Ratih tidak bisa menahan diri lagi
"Sebenarnya ada apa, nak? Kenapa kamu pulang malam-malam terus basah lagi? Kamu juga nangis terus bikin ibu khawatir"
Dedi menatap istrinya "Bu, biarin Aini makan dulu!"
"Mas Andra, Bu"
"Ada apa dengan Andra?" Dedi hanya menghela napasnya, istrinya ini tidak akan mendengarkan lagi
"Mas Andra selingkuh, dia juga udah nikah lagi dan semalam dia bawa perempuan itu kerumah" Aini mengatakannya sambil berderai air mata
Ratih dan Dedi yang mendengar itu terkejut, kecurigaan mereka terjadi
"Baji___ si Andra, ibu akan ketemu sama dia! Bisa-bisanya dia selingkuh" Ratih terlihat begitu marah, mungkin jika Andra ada dihadapannya sudah pukuli
Dedi diam saja, sebagai seorang ayah jelas ia sangat marah. Putri yang selalu ia sayangi disakiti oleh laki-laki lain walaupun itu suaminya sendiri
"Sudahlah Bu, ibu gak perlu ketemu sama mas Andra! Aku juga akan mengajukan perceraian" Ujar Aini, sebagai orang tua mereka hanya akan menyetujui
"Bener, kamu memang harus cerein tukang selingkuh itu! Astaga, ibu kesel banget dengernya" Sarapan ini tertunda karena Ratih yang tidak berhenti marah
"Kamu butuh apa?" Tanya Dedi
"Aini akan cari uang, Aini mau sewa pengacara biar bisa dapat hak asuh Kasih" Jawab Aini
"Bapak akan jual sawah, kamu bisa pake uangnya untuk bayar pengacara" Ucap Dedi
"Jangan pak! Itu punya bapak. Aini akan kerja buat dapetin uangnya"
"Itu juga milik kamu nak! Sekarang yang terpenting adalah kamu pisah dulu sama si brengsek itu" Ratih sepertinya marah besar
"Iya nak, itu hanya sawah. Bapak akan berusaha untuk kamu" Sebagai seorang ayah, Dedi akan memberikan apapun demi kebahagiaan putrinya
"Jangan pak! Aini bisa cari uang sendiri kok"
"Ya udah, tapi kalau kamu butuh apapun, bilang sama bapak!" Aini mengangguk
"Setelah makan kamu istirahat! Bapak mau ke sawah"
"Iya pak"
"Mau ibu temenin?" Tanya Ratih pada putrinya, khawatir juga meninggalkan Aini seorang diri
"Gak apa-apa Bu, ibu ikut bapak aja"
"Ya udah, nanti bapak sama ibu pulang cepet" Aini mengangguk
Ketiganya sarapan walaupun Aini hanya makan sedikit lalu ia memutuskan untuk beristirahat dirumah setelah kedua orang tuanya pergi dengan motor tua mereka
Aini kembali kekamar, sepi kembali ia rasakan saat mengingat putrinya. Pasti bayi kecil itu mencarinya
nunggu aini kerja gajian anakmu dah mati, di tinggal ke kantor suami mu, kl gk di kasih susu ma Sarah seharian gimana. kok gk mikir to aini ini. saking miskin dah oon nya.