Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.
Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.
Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.
Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25.Pria dengan Kondisi Khusus
Reki menarik napas. “Dia mengambil kepercayaan Tuan Ares.” Ia menatap meja. “Dia selingkuh.”
Mata Rendra sedikit melebar. “Dengan siapa?”
“Orang lain yang lebih sesuai dengan keinginannya. Katanya Tuan Ares terlalu dingin. Kaku. Sulit diajak bicara. Gak romantis.” Reki berhenti sebentar. “Tapi yang paling sering dia bicarakan tetap uang Tuan Ares.”
Rendra mengembuskan napas. “Jadi di depan Ares dia pura-pura mencintainya?”
“Kurang lebih.”
Rendra terdiam cukup lama. “Gimana Ares tau?”
“Dia melihat sendiri," jawab Reki pelan.
Rendra mengangkat wajah.
Reki melanjutkan, lebih pelan. “Sejak saat itu, Tuan Ares mulai berubah.”
“Berubah gimana?”
“Dia berhenti ngasih kesempatan.” Reki kembali mengingat masa itu. “Setiap ada perempuan yang mendekat, dia langsung menjaga jarak. Kalo perempuan itu memakai parfum terlalu menyengat, dia bahkan gak tahan berada di ruangan yang sama.”
"Dan makin parah setelah dia jadi CEO, karena makin banyak yang mendekat?" tebak Rendra.
Reki mengangguk. "Makin tinggi posisinya, makin banyak orang datang dengan alasan berbeda-beda."
Rendra membuang napas kasar. “Dan Ares nganggep semuanya sama.”
“Awalnya mungkin enggak.” Reki menatap Rendra. “Tapi lama-lama dia berhenti membedakan.”
Kalimat itu membuat Rendra terdiam.
Reki melanjutkan, “Dia sudah terlalu sering melihat pola yang sama. Perempuan mendekat. Bersikap seolah menyukainya. Begitu tau apa yang bisa mereka dapatkan dari Tuan Ares, mereka bertahan. Begitu ada sesuatu yang gak sesuai keinginan, mereka pergi.”
Rendra mengusap dagunya. “Jadi menurutmu dia benar-benar takut sama perempuan?”
“Bukan perempuan.” Reki menggeleng. “Dia takut salah mempercayai seseorang lagi.”
Ruangan mendadak terasa lebih tenang.
Rendra menatap Reki cukup lama. “Dan kamu masih yakin itu satu-satunya alasan?”
Reki tak menjawab.
Rendra langsung menangkap jeda itu. “Kamu tau sesuatu lagi.”
“Tuan...”
“Reki.”
“Saya cuma—”
“Kalo memang gak ada lagi, kenapa kamu kelihatan kayak orang yang baru ketauan nyembunyiin sesuatu?”
Reki menghela napas berat. “Nggak ada yang bisa saya ceritain, Tuan.”
Rendra menyipitkan mata. “Oke.” Ia mengambil kacamatanya, lalu berdiri. “Kalo begitu, siap-siap ke Singapura.”
“Tuan!”
Rendra berjalan menuju pintu sambil tersenyum tipis. “Besok aku tanya lagi.”
Reki hanya bisa menatap punggungnya. Ia tahu satu hal. Kalau Rendra sudah mulai penasaran, cepat atau lambat pria itu akan menemukan jawabannya.
Dan Reki belum tahu apakah lebih baik Rendra mengetahui Ares sudah menikah sekarang... atau nanti.
***
Alisha berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju kamar rawat Raka. Sejak menikah, hampir setiap hari Ares memintanya datang. Entah apa lagi alasan yang bisa ia berikan pada Raka.
Selama ini ia selalu mencari celah. Kadang mengatakan ada urusan kantor, kadang menunggu Raka tidur lebih dulu sebelum pergi. Semakin sering melakukannya, semakin sulit baginya membuat alasan baru.
Kali ini ia sudah memutuskan.
Begitu sampai di depan kamar, Alisha melihat Yudhis baru keluar setelah memeriksa Raka.
“Kamu datang?” Yudhis tersenyum.
“Iya, Kak.”
Yudhis melirik jam tangannya. “Malam ini kamu jagain Raka?”
Alisha menggeleng. “Enggak. Aku cuma mau menjenguk.”
Senyum Yudhis tidak hilang, tetapi sorot matanya sempat berubah. “Oh.”
“Aku masih ada urusan," imbuh Alisha.
Yudhis mengangguk. “Aku juga ada jadwal jaga malam. Kalau ada apa-apa, langsung bilang ke perawat, ya.”
“Iya, Kak. Hati-hati.”
"Duluan," ujar Yudhis, sebelum kembali memeriksa pasien lain.
Setelah Yudhis pergi, Alisha masuk dan menghampiri ranjang.
Raka langsung menoleh. “Kakak gak nginep?”
Alisha menarik kursi lalu duduk di samping ranjang. “Enggak.”
“Kenapa?”
Alisha terdiam sebentar. “Ada kerjaan tambahan.”
Raka mengerutkan kening. “Kerjaan tambahan? Kerja apa?”
“Jagain seseorang.”
"Siapa?" tanya Raka makin penasaran.
Alisha memainkan ujung tasnya. "Seorang pria."
Raka langsung mengangkat alis. “Pria?”
“Iya," jawab Alisha.
“Ngapain harus dijaga?”
Alisha menarik napas. “Kondisinya agak khusus.”
“Khusus gimana?”
“Sulit dijelasin," ucap Alisha cepat.
Raka masih menatapnya penasaran. “Dia sakit?”
Alisha menggeleng. “Bukan begitu.”
“Terus?”
“Pokoknya dia butuh orang yang bisa mendampinginya.”
Raka diam sebentar. “Gajinya berapa?”
Alisha hampir tertawa mendengar pertanyaan itu. “Lumayan.”
“Lumayan berapa?”
“Cukup buat bantu biaya kita.”
Raka langsung terdiam. “Kakak jangan maksain diri.”
“Kakak gak apa-apa," ujar Alisha sedikit tenang.
Raka menghela napas berat. “Kerja kantor, terus jagain orang lagi.”
“Kerjaannya gak seberat yang kamu pikir.” Alisha mencoba menenangkan adiknya.
“Terus ngapain aja?”
Alisha berpikir sebentar. “Menemaninya. Kalau dia tidur, aku juga boleh tidur.”
Raka memandang kakaknya dengan curiga. “Jadi kakak dibayar buat nemenin orang tidur?”
Alisha menahan senyum. “Kurang lebih.”
“Enak banget.”
“Makanya Kakak ambil.”
Raka masih terlihat tidak sepenuhnya yakin. “Kalau kakak capek?”
“Kakak berhenti.”
“Janji?” Raka menyodorkan jari kelingkingnya.
Alisha mengaitkan kelingking mereka. “Janji.”
Raka akhirnya mengangguk. “Kalo emang gak terlalu berat, ya udah. Tapi Kakak tetep harus jaga diri.”
“Iya.”
Raka menambahkan, “Dan jangan sampai karena aku Kakak harus kerja terus.”
Alisha menatap adiknya. “Justru karena kamu, Kakak mau kerja ini." ia menggenggam tangan adiknya. "Kakak mau kamu cepet sembuh dan sekolah lagi kayak anak-anak lain. Kita jalan-jalan bareng, mancing di pantai bareng. Gak kekurung di rumah sakit.”
Raka terdiam, mengingat hari-hari sederhana tapi manis itu bersama kakaknya. Hal yang juga ia rindukan.
Alisha kemudian berdiri dan merapikan selimut adiknya. “Kakak pergi dulu. Besok Kakak datang lagi.”
“Besok jangan lupa bawa makanan," pinta Raka berusaha ceria.
“Maunya apa?” tanya Alisha dengan seulas senyum.
Raka menatap langit-langit dengan alis berkerut. “Bebas.”
“Bebas itu bukan nama makanan," seloroh Alisha.
Raka tertawa kecil. “Pokoknya yang enak.”
Alisha ikut tersenyum. “Iya.”
Ia mengusap rambut adiknya sebelum mengambil tas. “Tidur yang cukup.”
“Kak," panggil Raka.
Alisha menoleh.
“Hati-hati.”
Bibir Alisha melengkung. “Iya.”
Setelah Alisha keluar, Raka kembali bersandar di bantal.
“Pria dengan kondisi khusus...” Dahinya berkerut. “Jangan-jangan kakak kerja merawat orang cacat karena kecelakaan.”
Ia mengangkat bahu. “Yang penting Kakak bisa tidur dan gajinya gede.”
Di lorong, Alisha berjalan menuju lift sambil mengembuskan napas lega. Setidaknya mulai sekarang ia tidak perlu memikirkan alasan baru setiap kali meninggalkan rumah sakit.
Ia hanya perlu mempertahankan satu cerita. Menjaga seorang pria dengan kondisi khusus. Dan anehnya, kalimat itu memang tidak sepenuhnya bohong.
...✨“Tidak semua orang yang datang akan mengulang kesalahan orang yang pernah pergi. Terkadang, yang kita butuhkan bukan menjaga hati agar tak terluka, melainkan memberi kesempatan pada seseorang untuk membuktikan bahwa ia berbeda.”...
...“Ada kebohongan yang lahir dari niat buruk, tetapi ada pula yang terucap karena seseorang sedang berusaha melindungi orang yang dicintainya.”✨...
.
To be continued
Pak Darto pengurus rumah memberikan sebuah kartu akses untuk masuk rumah kepada Alisha. Dan memberi tahu Alisha kalau pakaian sudah disiapkan di lemari, termasuk perlengkapan mandi, dan makeup atas perintah Ares.
Ares baik sekali. Alisha juga disediakan sopir untuk mengantarnya pergi. Tapi Alisha memilih naik ojek online.
Ares juga menuruti kemauan Alisha untuk tidak memindahkan adiknya ke kamar perawatan VIP.
Ares memberikan surat pernikahan mereka setelah mendengar penjelasan Alisha kenapa sampai minta surat itu.
Ares tak lupa mengelupas foto dirinya terlebih dahulu, sebelum memberikan surat itu kepada Alisha.
Sampai segitunya, biar Alisha benar-benar nggak mengenal wajahnya.
kalo iya, itu sangat berbahaya, dalam kondisi tertentu, dia bisa berbuat nekat....
semoga Alisa dan Raka masih dalam pengawasan orang-orangnya Ares
cukup mantan mu si Reni yg ribet
kamu jangan ikutan res
Semangat Kak Nana.. Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
kacau ini orang 🤣🤣
takut ga bisa tanggung jawab sama tatapan mu.
pengecut dia takut kalah sama rasa bersalah nya🫣😔