NovelToon NovelToon
SEBATAS KONTRAK DI ATAS RANJANG

SEBATAS KONTRAK DI ATAS RANJANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas / Orang Disabilitas / Nikah Kontrak
Popularitas:52.7k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.

Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.

Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.

Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25.Pria dengan Kondisi Khusus

Reki menarik napas berat. “Dia mengambil kepercayaan Tuan Ares.” Ia menatap meja. “Dia selingkuh.”

Mata Rendra sedikit melebar. “Dengan siapa?”

“Orang lain yang lebih sesuai dengan keinginannya. Katanya Tuan Ares terlalu dingin. Kaku. Sulit diajak bicara. Gak romantis.” Reki berhenti sebentar. “Tapi yang paling sering dia bicarakan tetap uang Tuan Ares.”

Rendra mengembuskan napas. “Jadi di depan Ares dia pura-pura mencintainya?”

“Kurang lebih.”

Rendra terdiam cukup lama. “Gimana Ares tau?”

“Dia melihat sendiri," jawab Reki pelan.

Rendra mengangkat wajah.

Reki melanjutkan, lebih pelan. “Sejak saat itu, Tuan Ares mulai berubah.”

“Berubah gimana?”

“Dia berhenti ngasih kesempatan.” Reki kembali mengingat masa itu. “Setiap ada perempuan yang mendekat, dia langsung menjaga jarak. Kalo perempuan itu memakai parfum terlalu menyengat, dia bahkan gak tahan berada di ruangan yang sama.”

"Dan makin parah setelah dia jadi CEO, karena makin banyak yang mendekat?" tebak Rendra.

Reki mengangguk. "Makin tinggi posisinya, makin banyak orang datang dengan alasan berbeda-beda."

Rendra membuang napas kasar. “Dan Ares nganggep semuanya sama.”

“Awalnya mungkin enggak.” Reki menatap Rendra. “Tapi lama-lama dia berhenti membedakan.”

Kalimat itu membuat Rendra terdiam.

Reki melanjutkan, “Dia sudah terlalu sering melihat pola yang sama. Perempuan mendekat. Bersikap seolah menyukainya. Begitu tau apa yang bisa mereka dapatkan dari Tuan Ares, mereka bertahan. Begitu ada sesuatu yang gak sesuai keinginan, mereka pergi.”

Rendra mengusap dagunya. “Jadi menurutmu dia benar-benar takut sama perempuan?”

“Bukan perempuan.” Reki menggeleng. “Dia takut salah mempercayai seseorang lagi.”

Ruangan mendadak terasa lebih tenang.

Rendra menatap Reki cukup lama. “Dan kamu masih yakin itu satu-satunya alasan?”

Reki tak menjawab.

Rendra langsung menangkap jeda itu. “Kamu tau sesuatu lagi.”

“Tuan...”

“Reki.”

“Saya cuma—”

“Kalo memang gak ada lagi, kenapa kamu kelihatan kayak orang yang baru ketauan nyembunyiin sesuatu?”

Reki menghela napas berat. “Nggak ada yang bisa saya ceritain, Tuan.”

Rendra menyipitkan mata. “Oke.” Ia mengambil kacamatanya, lalu berdiri. “Kalo begitu, siap-siap ke Singapura.”

“Tuan!”

Rendra berjalan menuju pintu sambil tersenyum tipis. “Besok aku tanya lagi.”

Reki hanya bisa menatap punggungnya. Ia tahu satu hal. Kalau Rendra sudah mulai penasaran, cepat atau lambat pria itu akan menemukan jawabannya.

Dan Reki belum tahu apakah lebih baik Rendra mengetahui Ares sudah menikah sekarang... atau nanti.

***

Alisha berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju kamar rawat Raka. Sejak menikah, hampir setiap hari Ares memintanya datang. Entah apa lagi alasan yang bisa ia berikan pada Raka.

Selama ini ia selalu mencari celah. Kadang mengatakan ada urusan kantor, kadang menunggu Raka tidur lebih dulu sebelum pergi. Semakin sering melakukannya, semakin sulit baginya membuat alasan baru.

Kali ini ia sudah memutuskan.

Begitu sampai di depan kamar, Alisha melihat Yudhis baru keluar setelah memeriksa Raka.

“Kamu datang?” Yudhis tersenyum.

“Iya, Kak.”

Yudhis melirik jam tangannya. “Malam ini kamu jagain Raka?”

Alisha menggeleng. “Enggak. Aku cuma mau menjenguk.”

Senyum Yudhis tidak hilang, tetapi sorot matanya sempat berubah. “Oh.”

“Aku masih ada urusan," imbuh Alisha.

Yudhis mengangguk. “Aku juga ada jadwal jaga malam. Kalau ada apa-apa, langsung bilang ke perawat, ya.”

“Iya, Kak. Hati-hati.”

"Duluan," ujar Yudhis, sebelum kembali memeriksa pasien lain.

Setelah Yudhis pergi, Alisha masuk dan menghampiri ranjang.

Raka langsung menoleh. “Kakak gak nginep?”

Alisha menarik kursi lalu duduk di samping ranjang. “Enggak.”

“Kenapa?”

Alisha terdiam sebentar. “Ada kerjaan tambahan.”

Raka mengerutkan kening. “Kerjaan tambahan? Kerja apa?”

“Jagain seseorang.”

"Siapa?" tanya Raka makin penasaran.

Alisha memainkan ujung tasnya. "Seorang pria."

Raka langsung mengangkat alis. “Pria?”

“Iya," jawab Alisha.

“Ngapain harus dijaga?”

Alisha menarik napas. “Kondisinya agak khusus.”

“Khusus gimana?”

“Sulit dijelasin," ucap Alisha cepat.

Raka masih menatapnya penasaran. “Dia sakit?”

Alisha menggeleng. “Bukan begitu.”

“Terus?”

“Pokoknya dia butuh orang yang bisa mendampinginya.”

Raka diam sebentar. “Gajinya berapa?”

Alisha hampir tertawa mendengar pertanyaan itu. “Lumayan.”

“Lumayan berapa?”

“Cukup buat bantu biaya kita.”

Raka langsung terdiam. “Kakak jangan maksain diri.”

“Kakak gak apa-apa," ujar Alisha sedikit tenang.

Raka menghela napas berat. “Kerja kantor, terus jagain orang lagi.”

“Kerjaannya gak seberat yang kamu pikir.” Alisha mencoba menenangkan adiknya.

“Terus ngapain aja?”

Alisha berpikir sebentar. “Menemaninya. Kalau dia tidur, aku juga boleh tidur.”

Raka memandang kakaknya dengan curiga. “Jadi kakak dibayar buat nemenin orang tidur?”

Alisha menahan senyum. “Kurang lebih.”

“Enak banget.”

“Makanya Kakak ambil.”

Raka masih terlihat tidak sepenuhnya yakin. “Kalau kakak capek?”

“Kakak berhenti.”

“Janji?” Raka menyodorkan jari kelingkingnya.

Alisha mengaitkan kelingking mereka. “Janji.”

Raka akhirnya mengangguk. “Kalo emang gak terlalu berat, ya udah. Tapi Kakak tetep harus jaga diri.”

“Iya.”

Raka menambahkan, “Dan jangan sampai karena aku Kakak harus kerja terus.”

Alisha menatap adiknya. “Justru karena kamu, Kakak mau kerja ini." ia menggenggam tangan adiknya. "Kakak mau kamu cepet sembuh dan sekolah lagi kayak anak-anak lain. Kita jalan-jalan bareng, mancing di pantai bareng. Gak kekurung di rumah sakit.”

Raka terdiam, mengingat hari-hari sederhana tapi manis itu bersama kakaknya. Hal yang juga ia rindukan.

Alisha kemudian berdiri dan merapikan selimut adiknya. “Kakak pergi dulu. Besok Kakak datang lagi.”

“Besok jangan lupa bawa makanan," pinta Raka berusaha ceria.

“Maunya apa?” tanya Alisha dengan seulas senyum.

Raka menatap langit-langit dengan alis berkerut. “Bebas.”

“Bebas itu bukan nama makanan," seloroh Alisha.

Raka tertawa kecil. “Pokoknya yang enak.”

Alisha ikut tersenyum. “Iya.”

Ia mengusap rambut adiknya sebelum mengambil tas. “Tidur yang cukup.”

“Kak," panggil Raka.

Alisha menoleh.

“Hati-hati.”

Bibir Alisha melengkung. “Iya.”

Setelah Alisha keluar, Raka kembali bersandar di bantal.

“Pria dengan kondisi khusus...” Dahinya berkerut. “Jangan-jangan kakak kerja merawat orang cacat karena kecelakaan.”

Ia mengangkat bahu. “Yang penting Kakak bisa tidur dan gajinya gede.”

 

Di lorong, Alisha berjalan menuju lift sambil mengembuskan napas lega. Setidaknya mulai sekarang ia tidak perlu memikirkan alasan baru setiap kali meninggalkan rumah sakit.

Ia hanya perlu mempertahankan satu cerita. Menjaga seorang pria dengan kondisi khusus. Dan anehnya, kalimat itu memang tidak sepenuhnya bohong.

 

...✨“Tidak semua orang yang datang akan mengulang kesalahan orang yang pernah pergi. Terkadang, yang kita butuhkan bukan menjaga hati agar tak terluka, melainkan memberi kesempatan pada seseorang untuk membuktikan bahwa ia berbeda.”...

...“Ada kebohongan yang lahir dari niat buruk, tetapi ada pula yang terucap karena seseorang sedang berusaha melindungi orang yang dicintainya.”✨...

.

To be continued

1
anonim
Alisha tidak mau menerima panggilan telepon dari Ares. Pesannya juga tidak dibalas. Salahmu sendiri Ares. Nikmati saja kegelisahanmu sekarang.

Panggilan telepon dari pak Darto juga tidak diangkat.

Ares semakin tidak tenang, tidak tahu di mana Alisha sekarang.

Ares tidak ingin kehilangan Alisha. Alisha mengerti kalau kehidupan bersamanya dipenuhi rahasia, aturan, dan penantian tanpa kepastian.

Namun permasalahannya malam ini Alisha sangat kecewa dengan Ares.
anonim
Masih saja di suruh menutup mata. Alisha bukannya menutup matanya, tapi kini menutup hatinya untuk mengabaikan pesan-pesan dari Ares.

Begitu kecewanya Alisha, sampai tidak mau mengangkat panggilan telepon dari Ares.

Ares bingung sendiri. Dadanya sesak memikirkan bakal ditinggalkan Alisha.
anonim
Alisha hanya membaca pesan dari Ares. Tidak membalas pesan itu.

Terlambat. Ares datang, Alisha sudah pergi naik taksi.

Reki selalu menyadarkan Ares dengan kata-kata yang masuk akal.

Reki sampai berani berkata kepada Ares - Malam ini, anda melakukan kesalahan besar, Tuan.

Ares tidak bisa menghampiri Alisha karena tubuhnya tidak sanggup. Ares bisa memanggil Alisha, untuk datang. Masalahnya Ares masih belum mau wajahnya dilihat Alisha, Reki.

Reki terus mengucapkan kata-kata tentang kemungkinan-kemungkinan buruk.

Alisha berhenti berharap, dan memilih pergi dari Ares.
anonim
Reki saja panggil Alisha nyonya. Pria itu belum tahu siapa suami Alisha. Reki memberi ancaman pada pria itu.

Pria itu menganggap gurauan. Padahal dia jelas menghina Alisha.

Arga ini apa urusannya kalau Alisha istri Ares.

Alisha tidak menuruti kata Reki untuk tetap menunggu di mobil.
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana.. Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Yaaa, kalau kamu nggk mau kecewa sendirian, maka aja saja Ares, Alisha... 😂😂😂 Dengan begitu kan, kami kecewanya nggk sendirian Alisah... 😂😂😂 Ada yang menemani Ke Kecewaanmu... 😁😁😁
Fadillah Ahmad
Iyaaa maka dari itulah Alisha... Kalau Raka tidak mengerti maka, kamu harus menjelaskan kepada Raka, sampai Rala mengerti Alisha... 😂😂😂 Kamu saja belum pernah menjelaskan kepada Raka, Alisha... Yaaa manalah Raka bisa mengerti Alisha... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Apa yang di kstakan Adikmu Raka itu ada benarnya Alisha... Kamu jangan keras kepala dong Alisha... 😁😁😁 Mau sampai kapan kamu terus menyiksa dirimu Alisha? ha? 😂😂😂
anonim
Ares yang tak berdaya dengan tubuh mulai kehilangan keseimbangan, hanya bisa menahan amarahnya.

Ares tidak kuat melangkah, pandangannya berkunang-kunang. Keinginannya menghajar pria itu tak kesampaian.

Reki menolong Alisha dengan mengambil taplak meja di dekatnya. Tidak peduli apa yang ada di atas meja itu berjatuhan. Berantakan.

Reki segera membentangkan taplak untuk menutupi tubuh Alisha. Reki berusaha menyelamatkan Alisha dari tatapan orang-orang.

Amarah Alisha sedikit mereda saat menyadari Reki sedang berusaha melindunginya dari tatapan orang-orang.

Reki berbalik menghadap pria yang menghina Alisha dan menatap tajam, pria itu keder tentunya.
anonim
Ini ada pria hidung belang melecehkan Alisha dengan kata-kata yang tak pantas didengar. Mata jalangnya tanpa sungkan mengamati tubuh Alisha.

Masih juga mengeluarkan kata-kata yang sangat menghina Alisha.

Kapuoook kau pria hidung belang, tamparan dari tangan Alisha mendarat dengan keras di pipinya.

Malu juga tuh pria, dilihat para tamu yang berada di sekitar mereka.

Alisha tidak terima dihina sedemikian rupa. Pria itu pun nggak terima ditampar pipinya, padahal jelas kalimatnya penuh hinaan, pelecehan juga tuh.

Alisha nggak takut sedikitpun sama pria yang nggak tahu diri itu. Dia lawan pria itu .
anonim
Alisha memandang Ares yang juga sedang memandangnya. Alisha tahu Ares sedang tidak baik-baik saja kondisinya. Ares tampak menahan sakit, bahkan kesulitan bernapas.

Alisha dan Ares sama-sama saling mengkhawatirkan kondisi mereka.

Alisha mengkuatirkan Ares yang terlihat sakit, Ares juga mengkuatirkan keadaan Alisha yang pasti malu dengan gaun basah tampak garis tubuhnya.
anonim
Dalam kondisi tubuhnya yang kian memburuk Ares tak berdaya menghampiri Alisha untuk menolongnya.

Reki berjalan menuju Alisha. Ares hanya bisa memandang Alisha.

Arga kecewa tidak sesuai yang diharapkan. Ares tidak menghampiri Alisha sendiri, tapi menyuruh Reki untuk melindungi.

Arga melihat kondisi Ares yang tampak buruk, namun perhatiannya tetap tertuju kepada Alisha.
Oma Gavin
nah kan kalau saling jujur dan terbuka kan lebih enak sekarang baik" kalian berdua turunin ego masing" saling melengkapi saling percaya dan Inga musuh terbesar kalian arga yg pasti tidak akan menyerah setelah tau hubungan kalian berdua
Sri Kadek
lanjut
Septi Wijaya
bapak Ares, bagaimana tanggapan anda? atas kehamilan istri anda
Eka Burjo
terimakasih update nya, oke lanjut 👍👍
+1
noted🌚
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak... Ceritanya makin seru Kak 😁😁😁🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!