NovelToon NovelToon
Rumah Yang Menggantikan Aku

Rumah Yang Menggantikan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Kehidupan di Kantor / Keluarga & Kasih Sayang / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:856
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 ANAK YANG TAKUT MEMILIH

Pesan dari Elara datang sebelum pukul tujuh pagi.

Kaluna baru saja selesai mandi ketika teleponnya bergetar di atas meja.

Kalau aku sayang kamu, apa aku jadi jahat sama Mama?

Kaluna membaca kalimat itu dua kali.

Tidak ada salam. Tidak ada gambar puzzle atau permainan yang ingin dimainkan. Hanya satu pertanyaan yang terlalu berat untuk anak berusia tujuh tahun.

Ia langsung menelepon.

Panggilan itu tidak dijawab.

Sesaat kemudian, muncul pesan baru.

Tidak boleh telepon. Mama masih tidur.

Kaluna duduk di tepi tempat tidur.

Ia ingin menjawab bahwa tidak ada seorang pun yang berhak membuat Elara merasa bersalah. Tapi kata-kata orang dewasa sering terdengar mudah, sementara anak itu masih harus tinggal di antara mereka.

Kaluna mengetik perlahan.

Kamu tidak jahat. Kamu boleh sayang Mama Veyra dan sayang aku. Tidak ada yang harus dibuang.

Tanda sedang mengetik muncul cukup lama.

Kalau Mama sedih?

Kaluna menatap layar beberapa detik sebelum membalas.

Orang yang sedih tetap bisa disayangi. Kamu bukan penyebab semua kesedihan orang dewasa.

Balasan Elara tidak langsung datang. Kaluna menunggu.

Akhirnya, sebuah stiker bergambar kelinci memeluk dua boneka muncul.

Kaluna menyimpan gambar itu.

Tidak lama kemudian, Salindri menelepon.

“Pihak keluarga mengajukan permintaan pendamping profesional buat pertemuan berikutnya,” katanya.

“Aku sudah tahu.”

“Mereka juga meminta larangan membawa Elara keluar dari rumah tanpa persetujuan tertulis.”

“Aku belum pernah minta membawanya keluar diam-diam.”

“Saya tahu. Tapi setelah berita kemarin, mereka pakai alasan keamanan.”

“Mereka?”

Salindri terdiam sebentar.

“Permohonan diajukan oleh kuasa hukum keluarga.”

“Arsen atau Veyra?”

“Belum jelas.”

Kaluna berjalan menuju jendela. Di bawah, kendaraan mulai memenuhi jalan di depan hotel.

“Kalau ada pendamping profesional, Elara akan semakin merasa sedang diperiksa.”

“Kita bisa menolaknya.”

“Apa akibatnya?”

“Pengadilan akan menilai kedua pihak tidak mampu menyepakati aturan sederhana.”

Kaluna mengusap kening.

Semua orang bilang ingin menjaga Elara. Tapi makin banyak orang ikut masuk ke pertemuan mereka.

“Aku akan bicara dengan Veyra.”

“Sendiri?”

“Iya.”

“Jangan membuat kesepakatan yang merugikan posisi hukummu.”

“Aku lagi mikirin Elara, bukan posisi hukumku.”

“Kadang dua-duanya memang jalan bareng.”

Kaluna tahu itu. Tapi untuk pagi ini, ia ingin bicara sebagai ibu, bukan sebagai pihak dalam sengketa.

Veyra setuju bertemu di sebuah kafe kecil dekat sekolah Elara. Ia datang tanpa Arsen. Kaluna juga datang tanpa Salindri maupun Naren.

Mereka memilih meja di bagian belakang. Hanya ada beberapa pengunjung lain dan seorang pegawai yang sesekali mengantar pesanan.

Veyra meletakkan tas di kursi sebelah.

“Kamu ingin membicarakan pengawasan?” tanyanya.

“Dari mana kamu tahu?”

“Tidak ada hal lain yang membuatmu mau bertemu denganku pagi-pagi.”

Kaluna tidak menyangkal.

“Elara mengirim pesan kepadaku.”

Veyra langsung menegang.

“Pesan apa?”

“Dia bertanya apakah menyayangiku berarti dia jahat kepadamu.”

Veyra menundukkan kepala.

“Dia mengatakan itu?”

“Iya.”

“Aku tidak pernah bilang begitu.”

“Kamu nggak harus bilang. Dia lihat cara kita bicara.”

Veyra meremas ujung tisu di atas meja.

“Aku berusaha nggak bertengkar di depannya.”

“Begitu juga aku. Tapi kemarin dia dengar kamu takut aku akan membawanya pergi.”

“Itu bukan untuk didengar Elara.”

“Tapi dia dengar.”

Pelayan datang membawa dua gelas minuman. Percakapan berhenti sampai orang itu pergi.

Veyra memandangi gelasnya tanpa menyentuhnya.

“Aku memang takut.”

“Aku tahu.”

“Kamu nggak tahu rasanya.”

“Aku juga takut kehilangan dia.”

Veyra mengangkat wajah.

“Kamu ibu kandungnya. Semua orang menganggap hakmu memang lebih kuat.”

“Selama tiga tahun aku nggak punya hak apa-apa. Bahkan sekarang aku masih minta izin untuk ketemu dia.”

“Tapi pengadilan bisa mengubah itu kapan saja.”

“Dan kamu takut suatu hari dia lebih milih aku.”

Veyra tidak menjawab.

Kaluna melanjutkan.

“Kamu takut kalau dia tinggal sama aku, lama-lama dia nggak butuh kamu lagi.”

Jari Veyra berhenti memainkan tisu.

“Apa kamu akan membiarkanku tetap bertemu dengannya?”

“Aku sudah pernah jawab.”

“Kamu bilang nggak akan bikin Elara kehilangan orang yang dia sayangi. Itu bukan jawaban yang pasti.”

“Karena aku belum tahu apa yang akan terjadi.”

“Kalau kamu menang, kamu yang lebih banyak menentukan.”

“Sekarang kamu dan Arsen yang lebih banyak menentukan.”

“Itu berbeda.”

“Berarti tetap ada yang lebih banyak menentukan.”

Veyra mengangkat wajah. Beberapa detik berlalu tanpa ada yang bicara.

Kaluna akhirnya berkata, “Aku nggak mau dia merasa harus pilih salah satu dari kita.”

“Aku juga nggak.”

“Kalau begitu, jangan bikin tiap pertemuan jadi tegang begini.”

“Aku nggak bisa membiarkanmu membawanya keluar begitu saja.”

“Aku nggak minta itu sekarang.”

“Pengacaramu minta kemungkinan pertemuan di luar rumah.”

“Karena aku nggak mungkin selamanya duduk di ruang bermain sementara kamu berdiri di pintu.”

Veyra menarik napas panjang.

“Kamu mau apa?”

“Dua kali seminggu. Dua jam. Tanpa kamu, Arsen, atau pendamping duduk mengawasi di dalam ruangan.”

“Pertemuan tetap di rumah.”

“Untuk sementara.”

“Tidak boleh membahas perkara hukum dengan Elara.”

“Aku nggak pernah membahasnya lebih dulu. Dia dengar dari kalian, berita, atau temannya.”

“Kalau dia bertanya?”

“Aku akan jawab sesuai usianya. Aku nggak akan menjelekkanmu.”

Veyra memandang Kaluna, seolah sedang mencari celah dalam kalimatnya.

“Dan kamu nggak membawa Elara keluar rumah tanpa persetujuan.”

“Untuk sementara, aku setuju.”

“Teleponnya tetap bisa diperiksa.”

Kaluna langsung menolak.

“Tidak.”

“Aku ibunya.”

“Aku juga.”

“Dia masih tujuh tahun.”

“Kalau cuma memastikan dia aman, beda dengan baca semua percakapan kami.”

“Aku perlu tahu apa yang kamu katakan kepadanya.”

“Tidak. Kamu ingin memastikan dia nggak lebih dekat denganku daripada yang bisa kamu terima.”

Veyra terdiam.

Kaluna mencondongkan tubuh.

“Kalau semua pesannya terus diperiksa, lama-lama dia belajar nyembunyiin sesuatu. Bukan cuma dari aku, dari kamu juga.”

“Aku nggak membaca semuanya.”

“Kamu tahu dia kirim pesan soal permainan. Kamu juga tahu kapan dia tanya aku akan datang.”

“Dia memakai perangkat yang aku berikan.”

“Bukan berarti dia nggak punya ruang pribadi.”

Veyra memalingkan wajah ke arah jendela. Di luar, beberapa anak berseragam berjalan bersama orang tua mereka.

“Aku cuma ingin melindunginya,” katanya.

“Dari siapa?”

“Kamu masih menyelidiki orang-orang yang mengancammu. Foto Elara pernah dikirim ke kamu. Ada orang yang mencari jadwal sekolahnya.”

“Itu bukan kesalahanku.”

“Tapi bahayanya datang setelah kamu kembali.”

Kaluna menahan rasa marah yang mulai naik.

“Bahaya itu datang karena seseorang takut aku mengungkap kebenaran.”

“Tapi Elara tetap kena dampaknya.”

“Jadi menurutmu aku harus pergi lagi?”

“Aku nggak bilang begitu.”

“Tapi semua batas yang kamu buat arahnya ke sana.”

Veyra menatap Kaluna kembali. Matanya mulai berkaca, tetapi suaranya tetap terjaga.

“Aku nggak tahu bagaimana caranya berbagi jadi ibu.”

Kaluna tidak menyela.

“Aku juga nggak tahu,” jawabnya.

“Kamu kelihatan tahu.”

“Aku cuma nggak punya pilihan lain.”

Veyra menelan ludah.

“Setiap dia nunggu pesanmu, rasanya makin banyak hal tentang dia yang aku nggak tahu.”

“Selama tiga tahun, aku bahkan nggak ada di dunianya.”

“Aku nggak sengaja membuatnya begitu.”

“Aku tahu.”

Veyra tampak terkejut mendengar jawaban itu.

Kaluna melanjutkan, “Tapi sekarang aku sudah kembali. Kita nggak bisa pura-pura keadaan masih sama.”

“Aku takut suatu hari dia memanggilmu Mama dan berhenti memanggilku begitu.”

“Nggak ada yang bisa memaksa panggilan anak.”

“Kamu pasti menginginkannya.”

“Tentu aku ingin dipanggil Mama oleh anakku sendiri.”

Wajah Veyra menegang.

“Tapi aku nggak akan menyuruhnya berhenti memanggilmu Mama,” lanjut Kaluna. “Kalau dia mau anggap kita berdua Mama, ya biarkan dia yang menentukan.”

“Orang pasti bilang aneh.”

“Orang sudah bilang macam-macam soal aku. Aku nggak bisa terus mikirin itu.”

Veyra menundukkan kepala.

Kaluna mengambil telepon dan membuka pesan Elara. Ia tidak menunjukkan seluruh percakapan, hanya pesan pertama.

Kalau aku sayang kamu, apa aku jadi jahat sama Mama?

Veyra membacanya.

Wajahnya berubah. Ia menutup mulut dengan tangan, lalu memalingkan wajah.

“Dia nggak pernah bilang kepadaku.”

“Karena dia takut bikin kamu sedih.”

“Aku nggak mau dia merasa begitu.”

“Kalau begitu kita harus berhenti meminta dia menjaga perasaan kita.”

Air mata Veyra jatuh, tetapi ia segera menghapusnya.

“Apa yang kamu jawab?”

Kaluna menunjukkan balasannya.

Veyra membaca sampai selesai.

“Kamu bilang dia boleh menyayangi kita berdua.”

“Iya.”

“Dan kamu benar-benar bisa menerima itu?”

“Aku harus bisa.”

“Kenapa?”

“Kalau kita sibuk soal siapa yang menang, Elara yang susah.”

Veyra meletakkan telepon Kaluna kembali di meja.

Suasana di antara mereka mulai longgar. Mereka masih punya luka dan curiga, tapi setidaknya pagi itu mereka membicarakan Elara, bukan satu sama lain.

“Aku setuju dua kali seminggu,” kata Veyra.

“Dua jam.”

“Iya.”

“Tanpa pengawasan di dalam ruangan.”

Veyra ragu sebelum mengangguk.

“Pertemuan tetap di rumah untuk satu bulan.”

“Setelah itu dievaluasi.”

“Kalau ancaman muncul lagi, aturan bisa berubah.”

“Kalau ada masalah, kita bicarakan dulu. Jangan langsung dibatalin.”

Veyra mengangguk singkat.

“Tidak membahas siapa yang akan mendapat rumah atau saham di depan Elara,” lanjutnya.

“Setuju.”

“Tidak menjadikan pesan Elara sebagai bukti melawanku.”

Kaluna menatapnya.

“Aku menunjukkan pesan itu supaya kamu ngerti keadaannya.”

“Aku tahu. Tapi aku nggak mau dia merasa percakapan pribadinya dipakai dalam perkara.”

“Aku setuju.”

Veyra tampak sedikit lega.

“Kita tulis kesepakatannya,” kata Kaluna. “Bukan karena aku nggak percaya, tapi supaya nggak ada yang mengubahnya nanti.”

“Aku akan bicara dengan Arsen.”

“Kita sudah sepakat sebagai ibu Elara. Nanti soal Arsen kita bicarakan. Tapi keputusan ini harus tetap dari kita.”

Ucapan itu membuat Veyra terdiam.

Kemudian ia mengangguk.

Mereka menyusun kesepakatan itu berdua, tanpa menunggu Arsen ikut campur.

Sore harinya, Kaluna mengirim pesan kepada Elara.

Aku dan Mama Veyra sudah bicara. Kamu nggak harus memilih.

Balasan datang cepat.

Tidak berantem?

Tidak.

Sama sekali?

Kaluna tersenyum.

Sedikit beda pendapat. Tapi nggak berantem.

Elara mengirim stiker kelinci yang sama seperti pagi tadi.

Tidak lama kemudian, Veyra mengirim jadwal pertemuan untuk satu bulan.

Dua kali seminggu, masing-masing dua jam.

Tidak ada pendamping profesional di dalam ruangan.

Kaluna meneruskan jadwal itu kepada Salindri.

Setelah membaca, Salindri menelepon.

“Ini kemajuan bagus.”

“Veyra setidaknya mulai lihat Elara tertekan.”

“Apakah kesepakatannya sudah ditandatangani?”

“Belum. Baru melalui pesan.”

“Kita perlu bentuk tertulis.”

“Aku sudah meminta.”

Salindri terdiam sejenak.

“Ada masalah lain.”

“Apa?”

“Kuasa hukum Veyra baru saja mengirim dokumen tambahan ke pengadilan.”

Kaluna berdiri dari kursinya.

“Tambahan apa?”

“Permintaan agar seluruh pertemuan tetap diawasi pendamping profesional sampai evaluasi psikolog anak selesai.”

Kaluna menatap jadwal yang baru dikirim Veyra.

Dua kali seminggu. Dua jam. Tanpa pengawasan.

Baru beberapa jam lalu mereka sepakat.

“Dokumen itu diajukan kapan?”

“Tiga puluh menit lalu.”

Kaluna melihat waktu pengiriman pesan Veyra.

Dokumen itu masuk beberapa jam setelah pertemuan mereka, setelah Veyra membaca pesan Elara dan mereka sepakat soal aturan baru.

Kaluna menutup mata sebentar.

Kesepakatan mereka baru saja dibuat, dan sudah ada permintaan baru di pengadilan.

1
Adinda
kaluna cerai aja sama Arsen buat apa sama pria penghianat istrinya belum ditemukan malah nikah lagi sama naren aja kaluna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!