NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Selama bertahun-tahun, Akbar dicap sebagai pembawa sial oleh seluruh warga kampung, bahkan disalahkan atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kelelahan dengan hidup yang penuh penderitaan dan cemoohan, Akbar memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan melompat dari atas jembatan. Namun, tepat sebelum tubuhnya jatuh, sebuah layar hologram mendadak muncul dan memberinya "Sistem Dewa Hoki". Kini, berbekal keberuntungan absolut dari sistem tersebut, Akbar siap membalikkan keadaan, membungkam mulut orang-orang yang merendahkannya, dan membongkar rahasia kelam di balik kematian orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Tikus gaib itu mencicit pelan tanpa suara menatap wajah Akbar meminta perintah tuannya.

"Pergi tembus dinding ruangan itu, cari brankas di balik lukisan kuda, dan bawa buku catatan hitamnya padaku," bisik Akbar memberi instruksi.

Wush.

Tikus bayangan itu langsung melesat turun ke lantai dan berlari sangat cepat menuju ruangan Bos Tony.

Kedua pengawal berjas hitam di depan pintu sama sekali tidak melihat keberadaan tikus gaib yang berlari melewati kaki mereka itu.

Tikus gaib itu menembus pintu kayu jati tebal tersebut seolah-olah pintu itu hanya terbuat dari asap.

Akbar menunggu dengan sangat sabar di balik pot tanaman hias sambil menghitung detik di kepalanya.

Hanya butuh waktu kurang dari dua menit, tikus bayangan itu kembali menembus pintu kayu dari arah dalam.

Kali ini, di mulut tikus gaib itu tergigit sebuah buku catatan bersampul kulit warna merah tua.

Tikus itu berlari ke arah Akbar dan menjatuhkan buku merah itu tepat di tangan tuannya sebelum akhirnya menghilang menjadi asap.

[Item Tikus Pengerat Dokumen Gaib telah selesai melaksanakan tugas dan hancur secara otomatis.]

Akbar membuka halaman pertama buku kulit merah tersebut dan membaca isinya dengan senyum yang semakin melebar.

Di dalamnya tertulis sangat rapi daftar nama-nama pejabat dinas pasar yang menerima setoran uang kotor setiap bulannya.

Selain itu ada juga dua laporan pembukuan ganda yang membuktikan Bos Tony mencuri uang pajak negara miliaran rupiah setiap tahunnya.

"Buku merah ini lebih berharga dari nyawa si bos buncit itu sendiri," gumam Akbar sangat puas.

Akbar keluar dari tempat persembunyiannya dan berjalan santai mendekati pintu kayu jati ganda tersebut.

Kedua pengawal berjas hitam itu langsung menyilangkan tangan mereka menutupi jalan masuk Akbar.

"Berhenti di situ bocah, siapa yang menyuruhmu naik ke lantai lima ini?" bentak salah satu pengawal dengan wajah garang.

"Beri jalan, saya mau bertemu atasan kalian," jawab Akbar dengan nada suara dingin dan tenang.

"Tidak ada yang boleh masuk mengganggu Bos Tony, kembali turun ke bawah atau kami patahkan lehermu!" ancam pengawal satunya lagi.

Akbar sama sekali tidak mundur, dia malah mengangkat tangan kanannya bersiap menggunakan kekerasan.

Namun sebelum Akbar sempat bergerak, terdengar suara pecahan gelas dari dalam ruangan yang sangat keras.

Prang.

"Buka pintunya kalian berdua bodoh! Ada pencuri gaib di dalam ruanganku!" teriak suara Bos Tony panik dari dalam.

Kedua pengawal itu langsung kaget dan buru-buru membuka pintu kayu jati tersebut untuk mengecek keadaan bos mereka.

Klek.

Pintu terbuka lebar menampilkan Bos Tony yang sedang berdiri gemetar memegangi pintu brankasnya yang sudah terbuka.

Akbar menggunakan kesempatan itu untuk berjalan masuk dengan tenang melewati kedua pengawal yang sedang kebingungan.

"Siapa kau? Kenapa kau bisa masuk ke ruanganku anak muda!" teriak Bos Tony menunjuk Akbar dengan cerutunya.

Bos Tony adalah pria berumur lima puluhan dengan perut sangat buncit dan rambut yang mulai menipis.

"Halo Bos Tony, perkenalkan saya Akbar, pemilik Toko Grosir Hoki Pratama di desa Sukamaju," sapa Akbar sopan tapi menusuk.

Mendengar nama toko itu disebut, wajah Bos Tony yang tadinya panik berubah menjadi merah padam penuh amarah.

"Oh, jadi kau tikus kampung yang berani merusak pasarku di wilayah selatan itu ya!" bentak Bos Tony memukul meja kerjanya.

"Kalian berdua tunggu apa lagi! Seret anak ini dan pukuli dia sampai babak belur sekarang juga!" perintah Tony pada dua pengawalnya.

Kedua pengawal bertubuh kekar itu langsung maju berniat menangkap kedua lengan Akbar.

"Sistem, aktifkan Cincin Negosiasi Mutlak sekarang," batin Akbar dengan cepat.

Wush.

Sebuah gelombang kejut aura dominasi yang sangat tebal memancar keluar dari cincin perak di jari telunjuk Akbar.

Aura itu menyapu seluruh ruangan, menghantam mental Bos Tony dan kedua pengawalnya secara bersamaan.

Langkah kedua pengawal itu mendadak berhenti kaku di tempat seolah kaki mereka dipaku ke lantai.

Rasa segan dan takut yang sangat luar biasa tiba-tiba menyelimuti hati mereka melihat sosok Akbar.

Mereka merasa pemuda berpakaian biasa ini memiliki aura seorang jenderal perang pembawa kematian.

Bos Tony yang tadinya berdiri garang juga mendadak merosot duduk kembali ke kursinya dengan keringat dingin bercucuran.

"Kalian berdua keluar dari ruangan ini sekarang dan tutup pintunya rapat-rapat," perintah Akbar pada dua pengawal itu.

"Ba... baik Tuan," jawab kedua pengawal itu serempak dengan suara bergetar dan langsung berlari keluar menutup pintu.

Kini hanya tersisa Akbar dan Bos Tony di dalam ruangan mewah yang sangat kedap suara tersebut.

"Apa yang kau lakukan pada anak buahku? Ilmu hitam apa yang kau pakai hah!" teriak Bos Tony dengan sisa-sisa keberaniannya.

"Saya tidak pakai ilmu apa-apa Bos Tony, saya cuma mau datang silaturahmi membalas pesan ancaman bapak kemarin sore," jawab Akbar santai.

Akbar berjalan mendekati meja kerja Bos Tony dan menarik kursi tamu berbahan kulit mahal lalu duduk di sana.

"Saya dengar bapak menelepon pabrik Jakarta dan mengancam akan memutus kontrak kalau mereka menyuplai toko saya ya?"

"Iya memangnya kenapa! Kau itu anak kemarin sore yang mau coba-coba menguasai pasarku!" jawab Tony masih mencoba sombong.

"Kalau pabrik Jakarta tidak mau kirim barang, tokomu itu pasti akan mati kelaparan dalam waktu seminggu!"

Akbar mengangguk-angguk pelan seolah membenarkan ucapan ancaman dari mafia ritel tersebut.

Dia lalu merogoh saku jaket hitamnya dan mengeluarkan buku catatan bersampul kulit merah tua.

Akbar melempar buku merah itu ke atas meja kaca tepat di hadapan Bos Tony.

Plak. Suara buku itu jatuh di atas meja membuat jantung Bos Tony seakan berhenti berdetak saat itu juga.

Mata pria buncit itu terbelalak lebar nyaris keluar dari rongganya melihat benda keramat yang sejak tadi dia cari dengan panik.

"I... itu... bagaimana buku itu bisa ada di tanganmu!" teriak Tony histeris dengan wajah memucat.

"Bukankah bapak sendiri yang tadi berteriak ada pencuri gaib di ruangan ini?" balas Akbar tersenyum iblis.

"Isi buku merah ini sangat menarik lho Bos Tony, catatannya sangat rapi dan mendetail."

Akbar pura-pura membalik halaman buku merah itu dengan santai.

"Penggelapan pajak tahun lalu mencapai dua belas miliar rupiah, belum lagi daftar panjang setoran tunai ke pejabat dinas."

"Menurut Bos Tony, berapa lama hukuman penjara yang akan bapak terima kalau saya serahkan buku ini ke KPK di Jakarta hari ini?"

Tubuh Bos Tony bergetar sangat hebat hingga kursi kulitnya ikut berderit kencang.

Ancaman itu bukan lagi soal persaingan bisnis sembako, tapi ini ancaman yang akan menghancurkan seluruh sisa hidupnya di balik jeruji besi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!