Bagi Kirana Putri, rumah megah milik Orang tuanya adalah museum kaku yang sunyi. Hidup di bawah bayang-bayang prestasi kakaknya, Kanaya, membuat Kirana harus selalu tampil sempurna dan pendiam. Satu-satunya tempat ia bisa menjadi gadis riuh penuh tawa adalah saat bersama ketiga sahabatnya di sekolah.
Dunia sunyi Kirana mendadak terusik oleh kehadiran Keenan Abimara, si genius rebel dari kelas MIPA-1. Berbeda total dengan Kirana, Keenan hidup di tengah keluarga kaya yang super santai bersama Ayah Abimara dan Ibu Karina. Meski hobi melanggar aturan sekolah bersama geng cowoknya, Keenan perlahan membawa warna baru yang hangat ke hidup Kirana lewat perhatian kecil dan investasi susu cokelatnya.
Namun, kedekatan dua juara umum ini memicu badai gosip anonim di mading sekolah yang menuduh Keenan mendekati Kirana hanya demi taruhan murahan dua minggu. Diuji oleh aturan kaku rumah dan kepercayaan yang goyah, mereka harus bekerja sama membongkar kebenaran lewat rekaman CCTV sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda Whyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan sedingin es Boba
Jam bimbingan intensif sore itu di kelas MIPA-1 baru saja berakhir sepuluh menit yang lalu. Beberapa lembar soal simulasi mekanika fluida masih tergelar acak di atas meja kayu barisan tengah. Kirana sedang fokus memberikan garis bawah ganda pada lembar jawabannya yang rapi, sementara Keenan duduk di sebelahnya sambil menyugar rambut berantakannya, tampak puas karena berhasil memecahkan rumus transformator tersulit hari ini.
"Kir, sore ini lo ada jadwal les mandiri gak? Kalau gak ada, gue anterin pulang sekalian ya. Kata Kak Arkan di rumah, motor sport gue jarang dipakai boncengan anak pinter," celetuk Keenan dengan cengiran bandel andalannya, memutar-mutar kunci motor di telunjuk jemari panjangnya.
Belum sempat Kirana menjawab, pintu kelas MIPA-1 yang terbuka tiba-tiba diketuk pelan sebanyak tiga kali.
"Permisi... Kak Keenan Abimara-nya ada di dalam?"
Suara lembut dan agak malu-malu itu membuat seisi kelas yang tersisa langsung menoleh. Di ambang pintu, berdiri seorang siswi kelas sepuluh berwajah imut dengan seragam yang sangat rapi. Di kedua tangannya, dia mendekap sebuah kotak bekal kecil berwarna merah muda dan sebotol minuman boba yang masih dingin berembun.
Radar keusilan di meja seberang lorong langsung aktif seketika. Damar dan Raihan instan menegakkan posisi duduk mereka dengan binar mata yang berkilat heboh, bersiap menonton drama sore hari. Sementara Danu hanya bisa mengembuskan napas panjang melihat kedatangan adik kelas tersebut.
Keenan mengernyitkan dahi, menaikkan sebelah alisnya tebalnya. "Gue? Iya, ada apa ya?"
Siswi kelas sepuluh itu melangkah masuk dengan ragu, berjalan mendekati meja tengah dengan wajah yang merona merah muda tipis. "Ini... Kak. Aku cuma mau ngasih ini sebagai tanda terima kasih karena hari Sabtu lalu Kak Keenan udah bantu benerin rantai sepeda aku yang lepas di depan kompleks perumahan. Ibuku yang bikin kuenya, Kak." Dia meletakkan kotak bekal dan minuman boba itu tepat di atas meja Keenan, tepat di samping modul Fisika Kirana.
Keenan tertegun sejenak, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan kikuk. "Oh, yang kemarin itu? Santai aja kali, Dek. Rantai sepeda doang mah gampang. Tapi... makasih ya kue sama minumannya."
"Sama-sama, Kak Keenan! Aku balik ke parkiran dulu ya!" ucap siswi itu dengan senyuman sangat manis dan binar mata penuh kekaguman sebelum berbalik lari keluar kelas dengan cepat.
Begitu adik kelas itu menghilang di belokan koridor, Damar langsung meledak dalam sorakan heboh. "Waduh, waduh! Si genius rebel kita ternyata gak cuma jago manjat pagar sekolah, tapi sekarang udah alih profesi jadi montir sepeda keliling yang dapet upah kue manis!"
"Raihan, lihat tuh! Boba premium sore-sore, segar banget kayaknya!" sahut Raihan ikut memanasi suasana, memicu tawa renyah dari beberapa anak MIPA-1 di sudut kelas.
Keenan melempar kotak tisu kosong ke arah Damar dengan kesal. "Diem lo berdua, gak usah berisik napa."
Namun, di sebelah Keenan, atmosfer mendadak berubah secara ekstrem menjadi sunyi senyap yang kaku. Kirana tidak mengeluarkan satu kata pun. Tangannya bergerak lambat namun sangat dingin, menutup buku catatannya dengan satu sentakan pelan. Dia merapikan pulpen dan penghapus karetnya ke dalam kotak pensil, lalu memasukkannya ke dalam tas ransel dengan gerakan yang kelewat runtut dan rapi—sebuah benteng pertahanan sunyi yang mendadak dia bangun kembali tinggi-tinggi.
Kirana tidak menoleh ke arah Keenan sama sekali. Dia berdiri dari kursinya, menyampirkan tas jinjingnya di bahu kiri dengan wajah yang lempeng tanpa ekspresi.
Keenan yang memiliki insting spasial dan emosional yang sangat tajam langsung menangkap perubahan hawa dingin tersebut. Cengiran bandel di wajah tampannya instan runtuh tak berbekas, digantikan oleh rasa canggung ganjil yang belum pernah dia rasakan.
"Kir? Lo... mau langsung pulang?" tanya Keenan pelan, nadanya mencoba terdengar santai namun terselip rasa panik yang tertahan.
"Iya. Udah sore, gue takut Ibu nyariin di rumah," jawab Kirana dengan nada suara yang teratur, jelas, namun terasa sangat berjarak dan dingin. Dia melirik sekilas kotak bekal merah muda di meja Keenan. "Kuenya dimakan aja, kelihatan enak. Lagian boba-nya keburu gak dingin lagi nanti. Gue balik duluan."
Tanpa menunggu balasan Keenan, Kirana melangkah lebar-lebar keluar dari ruang kelas MIPA-1. Langkah kakinya yang riuh menyusuri koridor sore itu terdengar lebih cepat dari biasanya. Di dalam dadanya, ada desiran asing yang mendadak bergemuruh riuh—bukan jenis keriuhan hangat dari investasi susu cokelat Keenan, melainkan sebuah percikan rasa cemburu ringan yang membuatnya salah tingkah sendiri. Sisi sunyinya mencoba mengambil alih, membisikkan bahwa dia tidak punya hak untuk merasa seperti ini.
Di luar gerbang sekolah, Raina, Alya, dan Windy yang sedang menunggu taksi online langsung terkejut melihat figur Kirana yang keluar dengan langkah terburu-buru dan wajah yang tertekuk kaku.
"Kir! Lo kenapa? Muka lo kok kayak habis makan lemon mentah gitu?" todong Raina heboh, langsung menyambar lengan sahabatnya.
Alya menatap mata jernih Kirana yang bergerak gelisah, langsung membaca situasinya dengan kedewasaan penuh. "Ada apa di kelas MIPA-1 tadi, Kir? Keenan berbuat usil lagi?"
Kirana mengembuskan napas panjang yang tertahan di dadanya, lalu menopang dahinya dengan satu tangan dengan wajah merona merah yang kini campur aduk dengan kekesalan kecil. Sisi riuhnya di depan sahabat tidak bisa disembunyikan. "Tadi... ada adek kelas sepuluh dateng ke kelas MIPA-1. Dia bawain Keenan kotak bekal kue sama minuman boba dingin, katanya sebagai tanda terima kasih karena Keenan pernah bantuin sepedanya."
Raina langsung membelalakkan matanya sempurna seraya menjentikkan jarinya heboh. "Demi apa, Kir?! Ada saingan baru dari kelas sepuluh?! Terus reaksi lo gimana?!"
"Gue... gue langsung beresin buku terus pamit pulang," bisik Kirana malu, menyembunyikan wajahnya di balik bahu Alya.
Windy yang sedang memegang lolipop langsung menyahut dengan wajah serius ala pengamat sosial remaja. "Wah, fix! Ini mah bukan cuma perbaikan gizi akademik buat Keenan, tapi radar cemburu Kirana Putri resmi berbunyi nyaring untuk pertama kalinya se-SMA!"
Di tengah hebohnya interogasi geng cewek di depan gerbang, sebuah deru mesin motor sport 250cc yang sangat nyaring tiba-kira membelah keheningan sore. Motor hitam itu melakukan pengereman mendadak tepat di depan barisan mereka hingga bannya berdecit tajam.
Keenan Abimara membuka kaca helm full-face hitamnya dengan satu sentakan cepat. Napasnya agak memburu, jaket denimnya bergerak tertiup angin sore. Anehnya, di atas tangki motor sport-nya, sama sekali tidak ada kotak bekal merah muda atau minuman boba tadi. Barang-barang itu rupanya sudah dia tinggalkan begitu saja di meja kelas untuk dihabiskan oleh Damar dan Raihan.
Keenan menatap lurus ke dalam sepasang mata Kirana, mengabaikan tatapan heboh penuh sorakan jail dari Raina dan Windy. Cengiran bandel andalannya perlahan kembali terpasang, namun kali ini dipenuhi oleh binar mata yang melunak hangat dan penuh usaha tulus.
"Tuan Putri," panggil Keenan, suaranya renyah membelah angin sore. Dia menyodorkan sebuah helm cadangan berwarna putih bersih ke arah Kirana. "Boba di kelas tadi manisnya buatan pabrik, gak enak. Mending ikut gue sekarang, kita cari es cendol langganan Kak Arkan di pasar sore yang manisnya alami. Dan... gue utang penjelasan lengkap soal rantai sepeda hari Sabtu kemarin."
Mendengar kalimat pembelaan taktis dari cowok di atas motor sport itu, seluruh benteng kaku dan hawa dingin di dada Kirana mendadak runtuh mencair dalam satu detik. Rasa cemburu ringannya instan berganti dengan kehangatan rasa yang membuncah manis tanpa perlu banyak kata. Hubungan putih abu-abu mereka sore itu resmi melangkah ke tingkat kedekatan baru yang jauh lebih menggemaskan di bawah pendar langit senja sekolah.