NovelToon NovelToon
TAWANAN SANG RAJA MAFIA

TAWANAN SANG RAJA MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Nikahmuda
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Demi menyelamatkan sang ayah dari siksaan maut seorang mafia kejam, Aisyah gadis bercadar, Hafizah bermata biru blasteran menyerahkan diri sebagai tawanan abadi. Syaratnya gila: pria berdarah dingin itu harus masuk Islam dan menikahinya.
Pernikahan tanpa cinta pun dimulai. Alih-alih menjadi ratu, hidup Aisyah berubah menjadi neraka ketika suaminya sengaja membawa wanita malam ke hadapannya setiap hari untuk menghancurkan mentalnya.
Di tengah ketakutan yang mencekam dan air mata yang tak pernah kering, Aisyah hanya bersandar pada sujud malamnya.
Mampukah kelembutan ayat-ayat suci meluluhkan hati seorang psikopat tanpa Tuhan, atau justru Aisyah yang akan hancur lebur di sarang iblis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepulangan yang Meremukkan Hati

Udara pagi di Pondok Pesantren Al-Ihsan biasanya membawa kesejukan yang menenangkan jiwa.

Embun yang masih membasahi rerumputan halaman pesantren dan suara santri yang melantunkan hafalan Al-Qur'an dari asrama-asrama selalu menjadi pemandangan paling damai.

Namun, pagi ini, kedamaian itu seolah lenyap tersapu angin dingin yang membawa duka pekat.

Di dalam rumah utama ndalem suasana begitu mencekam.

Ummi duduk bersandar pada tumpukan bantal di sofa ruang tengah, wajahnya pucat pasi, matanya bengkak akibat menangis tanpa henti selama empat hari penuh.

Di hadapannya, beberapa pengurus senior pesantren dan paman Aisyah mondar-mandir dengan gelisah, mencoba mencari cara untuk melapor kepada pihak berwenang mengenai hilangnya Kiai Ahmad dan Aisyah.

Tiba-tiba, suara deru mesin mobil tua menghentak halaman depan ndalem.

Semua kepala menoleh ke arah pintu utama.

Pintu itu terbuka perlahan, memperlihatkan sesosok pria paruh baya berbusana koko putih yang tampak sangat lelah, tertatih-tatih melangkah masuk dipapah oleh seorang gadis muda berkerudung abu-abu yang tak lain adalah Fatimah.

"Abah...!"

teriak Ummi histeris.

Dengan sisa tenaga yang ia miliki, wanita paruh baya itu bangkit, berlari limbung menerjang ke arah sang suami.

Kiai Ahmad langsung merengkuh tubuh istrinya dalam pelukan.

Air mata yang selama ini ia tahan di markas mafia akhirnya tumpah juga di pelukan wanita yang paling dicintainya.

Kiai Ahmad tampak jauh lebih tua dari beberapa hari lalu; wajahnya dipenuhi lebam kebiruan, bibirnya pecah-pecah, dan jalannya pincang.

"Ummi... Maafkan Abah..."

bisik Kiai Ahmad dengan suara parau yang amat menyayat hati.

Semua orang di ruangan itu terdiam, menatap haru sekaligus tegang.

Paman Aisyah segera membantu mendudukkan Kiai Ahmad di kursi.

Setelah diberi segelas air hangat oleh Fatimah, Kiai Ahmad menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan gemetar di sekujur tubuhnya.

Namun, di tengah rasa syukur atas kepulangan sang Kiai, ada satu hal yang langsung merontokkan jantung setiap orang di ruangan itu.

Paman Aisyah mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dengan kening berkerut.

Ia tidak melihat sosok keponakan kesayangannya.

"Abah... di mana Aisyah?"

tanya Paman Aisyah dengan nada cemas.

"Bukankah Aisyah menyusul Abah?

Fatimah, kalian berdua pergi bersama, kan?

Di mana Aisyah sekarang?"

Mendengar pertanyaan itu, keheningan yang mematikan mendadak menyergap.

Fatimah menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Buliran air mata yang sempat berhenti kini kembali tumpah membasahi pipinya.

Ia meremas ujung kerudungnya dengan tangan gemetar hebat, tidak sanggup mengangkat wajah untuk menatap Ummi dan para pengurus pesantren.

Kiai Ahmad menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang kasar.

Bahunya bergetar hebat.

Isak tangis seorang ulama besar yang selama ini dikenal tegar dan berwibawa pecah begitu saja, menciptakan suara sesenggukan yang membuat siapa pun yang mendengarnya merasa sesak di dada.

Ummi yang melihat reaksi suaminya, mendadak merasakan firasat buruk yang menghantam dadanya bagaikan sambaran petir.

Ia merosot jatuh di lantai, mencengkeram lutut Kiai Ahmad dengan napas memburu.

"Kiai... di mana anak saya?

Di mana Aisyah?!"

teriak Ummi dengan suara parau penuh keputusasaan.

"Katakan pada saya!

Jangan siksa saya seperti ini!

Di mana Aisyah Humaira, putri kesayangan kita?!"

Kiai Ahmad menurunkan tangannya.

Sorot matanya kosong, dipenuhi rasa bersalah dan penyesalan yang teramat dalam, seolah ia adalah ayah paling gagal di muka bumi ini.

Dengan suara bergetar dan terbata-bata, ia mulai menceritakan mimpi buruk yang baru saja mereka lalui di sarang iblis tersebut.

"Dia... dia datang ke markas itu bersama Fatimah..."

mulainya, suaranya nyaris hilang ditelan isak tangis.

"Dia nekat menyerahkan dirinya sendiri...

menjadi jaminan agar nyawa Abah diampuni oleh Kenzie Al-Ghazali..."

Ummi menjerit histeris.

Wanita itu memukul lantai marmer dengan kedua tangannya, meraung menyebut nama putri tunggalnya.

"Ya Allah, Aisyah...!

Kenapa kamu lakukan itu, Nak?!

Kenapa?!"

"Abah sudah menolaknya..."

lanjut Kiai Ahmad dengan air mata yang mengalir deras di pipinya yang lebam.

"Abah meminta dia pergi, membiarkan Abah mati di sana...

tapi Aisyah keras kepala.

Demi menyelamatkan nyawa Abah... dia mengajukan syarat mutlak kepada mafia keji itu."

"Syarat apa, Kiai?"

tanya paman Aisyah dengan suara bergetar penuh amarah dan rasa ngeri.

Kiai Ahmad menarik napas panjang dengan susah payah, menelan ludahnya yang terasa pahit.

"Dia meminta dinikahi oleh Kenzie Al-Ghazali..."

Brak!

Seketika, ruangan itu menjadi sunyi senyap.

Para pengurus pesantren terpaku, seolah kehilangan kemampuan untuk bernapas.

Ummi terdiam dengan mulut terbuka, air matanya membeku di pipi, terlalu syok untuk kembali menjerit.

"D-dinikahi?"

paman Aisyah bersuara dengan nada tidak percaya.

"Pria iblis itu?

Monster penyelundup senjata yang tidak punya Tuhan itu menikahi keponakan saya?!

Bagaimana bisa?!"

"Itu... itu belum semuanya..."

Fatimah akhirnya mengangkat wajahnya, ikut berbicara dengan suara serak penuh ketakutan.

Ia maju selangkah, menatap Ummi dan seluruh orang di ruangan itu dengan pandangan penuh kengerian.

"Sebelum pernikahan itu terjadi... Tuan Kenzie mengaku bahwa dirinya adalah seorang ateis...

dia tidak punya agama dan tidak mengenal Tuhan."

Semua orang terbelalak kaget.

"Lantas... bagaimana mungkin pernikahan sah secara agama?!"

seru salah seorang pengurus pesantren dengan nada tinggi.

Kiai Ahmad mendongak, menatap lurus ke depan dengan pandangan nanar.

"Abah memberikan syarat mutlak sebelum akad itu dilangsungkan.

Abah menolak mentah-mentah jika pria itu tidak masuk Islam.

Dan... malam itu juga, di hadapan Abah, di bawah todongan senjata dan aroma darah di sel bawah tanah...

Kenzie Al-Ghazali mengucapkan dua kalimat syahadat."

Suasana ruang tengah ndalem terasa semakin menyesakkan.

Sebuah kenyataan yang begitu kontras dan keji: seorang Hafizah 30 juz, gadis suci bermahkota cadar dan bermata biru blasteran, harus terikat dalam ikatan suci pernikahan dengan seorang psikopat kejam berdarah dingin yang baru saja masuk Islam atas dasar paksaan demi merenggut kebebasannya.

"Dan sekarang... di mana Aisyah?"

bisik Ummi dengan suara yang hampir tidak terdengar, merangkak mendekati Kiai Ahmad, memohon jawaban atas takdir paling kelam dalam hidup mereka.

"Dia dibawa ke istana pria itu di atas bukit terpencil..."

jawab Kiai Ahmad lirih, suaranya bergetar hebat.

"Pernikahan itu... tidak didasari oleh cinta, Ummi.

Kenzie menikahi Aisyah bukan untuk memuliakannya, melainkan menjadikannya tawanan abadi di istananya.

Dan... dan penderitaan Aisyah yang sesungguhnya baru saja dimulai di sana."

Fatimah menutup mulutnya dengan kedua tangan, kembali terisak mengingat betapa kejamnya tatapan sang mafia saat membawa Aisyah pergi dari hadapan mereka malam itu.

Di ruangan yang kini dipenuhi oleh isak tangis keputusasaan itu, tidak ada satupun yang bisa menyelamatkan Aisyah lagi.

Gadis itu kini telah melangkah masuk ke dalam sarang singa, menyerahkan seluruh sisa hidupnya di bawah kekuasaan seorang pria berhati iblis, menggantungkan seluruh harapannya hanya pada keajaiban doa di atas selembar sajadah yang jauh dari pelukan kedua orang tuanya.

1
ika mummy
beneran ceritan nya keren... aku syuuukkka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!