NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Bapak rumah tangga / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:259
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.

Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.

Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.

Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Warisan di Bawah Fajar Baru

Matahari pagi di bulan September perlahan-lahan merangkak naik di ufuk timur ibu kota, memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat dan menyapu bersih sisa-sisa kegelapan malam yang panjang. Di atas menara pencakar langit Lu Group, kaca-kaca jendela raksasa memantulkan kilau fajar yang menyilaukan mata, seolah menandakan lembaran baru dari sebuah imperium bisnis raksasa yang kini berdiri di atas fondasi yang jauh lebih kokoh dan bersih dari sebelumnya.

Di dalam kamar apartemen pribadi lantai paling atas menara tersebut, suasana terasa begitu sunyi dan damai. Tidak ada lagi napas berat, tidak ada lagi deru detak jam yang menghitung mundur waktu, dan tidak ada lagi bayangan beban takdir yang menghimpit. Di atas lantai marmer putih yang bersih di dekat jendela besar, sebuah arloji saku bersepuh perak tua tergeletak diam. Benda itu kini kehilangan denyut mekaniknya, beristirahat tenang bersama sisa-sisa partikel cahaya terakhir yang memudar seiring berhembusnya angin pagi.

Pintu kaca ruang kerja berukir mahoni terbuka perlahan tanpa suara. Sekretaris Han melangkah masuk dengan langkah pelan, mengenakan setelan jas hitam rapi dengan dasi kelabu gelap. Wajah pria paruh baya itu tampak tenang, meskipun sisa-sisa duka masih membekas jelas di sudut matanya. Ia berdiri terpaku sejenak di hadapan meja kerja kosong milik atasannya, memandang ke arah arloji perak yang tergeletak di lantai.

Tanpa perlu diberi tahu atau dijelaskan lewat kata-kata, Sekretaris Han memahami sepenuhnya bahwa sang pewaris—pria luar biasa yang telah merombak takdir perusahaan dan menyelamatkan banyak nyawa—telah menyelesaikan tugasnya di dunia ini.

Dengan tangan sedikit bergetar, Sekretaris Han berlutut satu kaki, mengambil arloji saku perak tersebut dengan penuh kehati-hatian, lalu menyimpannya ke dalam sebuah kotak beludru kecil berlapis satin hitam. Ia berdiri tegak, merapikan jasnya, lalu membungkuk hormat selama beberapa detik sebelum berbalik melangkah keluar untuk menjalankan sisa amanah terakhir yang ditinggalkan.

Di belahan kota yang berbeda, di dalam rumah kontrakan kecil di distrik utara, fajar pagi menyapa dengan cara yang jauh lebih lembut.

Lin Meiying terbangun dari tidurnya dengan perasaan yang sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Tidak ada lagi rasa sesak di dadanya, tidak ada lagi ketakutan akan hari esok yang suram. Udara pagi terasa begitu segar, membawa masuk aroma daun hijau dan kehangatan sinar matahari ke dalam ruangan sempit tersebut.

Di sampingnya, putrinya, Chen Anqi, masih terlelap pulas dengan memeluk boneka kelinci usangnya, mendengkur halus dalam tidur yang nyenyak. Di ranjang seberang, sang ibu juga bernapas teratur, menikmati tidur malam yang tenang tanpa batuk yang menyiksa.

Meiying bangkit perlahan dari tempat tidurnya, mengenakan kardigan rajut tipis, lalu melangkah keluar menuju teras depan rumah. Baru saja ia membuka pintu kayu lapis yang reot, sebuah amplop dokumen resmi berwarna cokelat tebal tampak terselip rapi di balik kotak pos kecil di samping dinding.

Dengan kening sedikit berkerut heran, Meiying mengambil amplop tersebut. Ia membuka penutupnya dan mengeluarkan isi di dalamnya.

Di hadapannya terbentang lembaran-lembaran surat kepemilikan sah atas tanah dan bangunan rumah kontrakan tersebut yang kini telah bersetifikat hak milik atas nama Lin Meiying. Tidak ada lagi status penyewa, tidak ada lagi bayang-bayang pengusiran. Di bawah dokumen tersebut, terselip pula buku tabungan perwalian pendidikan atas nama Chen Anqi, lengkap dengan surat keputusan jaminan kesehatan seumur hidup untuk sang ibu dari yayasan independen pusat.

Namun, bukan lembaran dokumen berharga itu yang membuat napas Meiying mendadak tertahan dan air matanya menetes. Di lembaran paling bawah, terdapat sebuah catatan kecil tertulis tangan—goresan huruf 'y' yang melengkung tajam ke bawah dan cara menulis angka dengan garis tengah yang ia kenali di luar kepala. Tulisan tangan mendiang suaminya, Chen Guowei.

“Meiying, hiduplah dengan bahagia bersama Anqi dan Ibu. Jangan pernah menoleh ke belakang lagi dengan air mata. Aku mencintai kalian, selamanya.”

Membaca kalimat singkat itu, pertahanan emosional Meiying akhirnya luluh lantak tanpa suara. Ia mendekap lembaran-lembaran surat itu erat-erat ke dadanya, membiarkan air matanya mengalir deras membasahi pipinya. Tangis itu bukan lagi tangisan kepedihan atau keputusasaan, melainkan tangisan kelegaan yang amat dalam—sebuah kepastian mutlak bahwa cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, melainkan menjelma menjadi pelindung abadi yang menjaga mereka dari tempat yang paling sunyi.

Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka. Anqi kecil berjalan keluar sambil mengucek kedua matanya yang masih mengantuk, membawa boneka kelinci di tangannya.

"Ibu... kenapa menangis lagi?" tanya Anqi dengan suara serak khas anak baru bangun tidur. Bocah itu mendongak, menatap wajah ibunya dengan penuh rasa ingin tahu.

Meiying segera mengusap sisa air matanya, lalu berjongkok merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Ia tersenyum paling tulus yang pernah ia tunjukkan selama bertahun-tahun hidup di dunia ini. Ia merengkuh tubuh mungil putrinya ke dalam dekapannya, mendekapnya erat-erat seolah merengkuh seluruh dunia.

"Ibu tidak menangis, Sayang... Ibu hanya sedang bahagia," bisik Meiying lembut tepat di telinga putrinya. Ia mencium pucuk kepala Anqi penuh kasih sayang. "Lihat ke luar, matahari sudah terbit. Hari ini, kita tidak perlu takut pada apa pun lagi."

Anqi tersenyum girang, melepaskan pelukan ibunya lalu menunjuk ke arah langit pagi yang biru cerah tanpa awan mendung sedikit pun.

Di bawah naungan langit fajar tersebut, di atas bumi yang kini terasa jauh lebih hangat dan ramah, keluarga kecil itu melangkah menyongsong hari esok. Di dalam menara tinggi di pusat kota maupun di gang sempit distrik utara, cerita tentang seorang buruh yang kembali menagih keadilan telah usai, digantikan oleh sebuah babak baru di mana kedamaian, cinta, dan harapan hidup berdampingan selamanya dalam keabadian waktu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!