Malam kelam empat tahun lalu selalu datang menyapa benak Adrian setiap kali hening mulai menguasai sudut-sudut markas mewahnya. Sebagai seorang pemimpin jaringan bawah tanah yang disegani sekaligus ditakuti di kota ini, tak ada satu pun hal yang luput dari genggamannya—kecuali ingatan tentang malam itu. Sebuah penyesalan samar yang tak pernah terus terang ia akui, tetapi secara perlahan mengikis ketenangannya. Sampai detik ini, deretan anak buah terbaiknya yang tersebar di berbagai penjuru wilayah belum juga berhasil menemukan keberadaan wanita yang pernah hadir sejenak di hidupnya. Pria itu bahkan hanya mengingat sepenggal nama yang dibisikkan dalam kepasrahan malam: Alea.
Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota yang dipenuhi kemewahan dan intrik kekuasaan, Alea menjalani hidup sederhana di sebuah pemukiman pinggiran. Di sana, ia bekerja membanting tulang dari pagi hingga malam tanpa pernah mengeluh. Semua keringat dan rasa lelahnya menguap setiap kali melihat senyum manis putra kecilnya,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis Keturunan Sang Ketua
Langkah kaki Alea terhenti tepat di ambang pintu depan. Kehangatan malam dan embun tipis yang menyapu halaman rumah baru itu menambah syahdunya suasana di antara mereka.
Sebelum Alea masuk ke dalam rumah itu, "Alea, satu hal lagi," panggil Adrian dengan suara berat yang sarat akan kesungguhan.
Alea berbalik menatap Adrian. Pria bertubuh tinggi 183 cm itu berdiri tegap di bawah pendar lampu teras, menatapnya dengan binar mata yang memancarkan kejujuran dan rasa penyesalan mendalam dari masa lalu.
"Tolong beri kesempatan untukku memperbaiki semuanya dari awal, katakan padaku kapan pun kamu siap untuk kunikahi secara resmi," ucap Adrian lagi.
Kalimat itu berhembus begitu lembut namun sanggup menggetarkan sudut terdalam hati Alea. Tidak ada paksaan, tidak ada keangkuhan—hanya ada ketulusan seorang pria yang ingin mengesahkan wanita yang dicintainya serta memberi perlindungan dan status tertinggi bagi putra semata mayang mereka.
Alea terpaku sejenak. Tenggorokannya terasa terikat oleh rasa haru yang membuncah. Ia tak sanggup mengeluarkan kata-kata, namun tatapan matanya yang berkaca-kaca sudah cukup menjadi jawaban.
Alea hanya mengangguk, lalu berbalik dan masuk ke rumah itu. Pintu kayu jati yang kokoh perlahan tertutup rapat, menyisakan senyum lega dan binar kebahagiaan di wajah tegas Adrian.
Setelah memastikan kunci rumah terpasang aman dan anak buah pilihan Rian sudah berjaga di sudut-sudut strategis luar perumahan, Adrian melangkah menuju mobil mewahnya.
Sementara Adrian kembali ke mansionnya karena beberapa hari bisnisnya terbengkalai dan membuat sang ayah murka.
Perjalanan dua jam menuju mansion keluarga besar kini terasa sangat dingin. Fokus Adrian yang selama beberapa hari terakhir sepenuhnya tercurah untuk menyusun rencana perlindungan Azka dan membelikan rumah untuk Alea membuat beberapa transaksi besar dan pertemuan penting perusahaan tertunda.
Mobil Adrian berhenti di pelataran mansion yang sunyi. Begitu pintu depan dibuka oleh pelayan, aura tegang dan mencekam langsung menyergap. Di ruang keluarga berkonsep klasik, sang ayah—pria paruh baya berwibawa tinggi yang memegang kendali penuh atas bisnis legal maupun jalur bawah tanah keluarga besar—sudah duduk menanti dengan tongkat kayu berukir di genggamannya.
Di samping sang ayah, berdiri sang mama dan Jessica yang menatap kedatangan Adrian dengan raut puas, seolah siap menyaksikan sang ketua muda dijatuhi hukuman atas pembangkangannya.
"Adrian!" suara berat nan menggelegar milik sang ayah bergema memenuhi ruangan, memotong keheningan malam. "Dari mana saja kamu?! Mengabaikan rapat pemegang saham, menunda pengiriman proyek penting, dan sekarang aku mendengar kamu membawa anak haram serta mengancam mamamu sendiri?!"
Adrian melangkah tenang, menghentikan jalannya tepat beberapa langkah di hadapan sang ayah dengan dagu terangkat tegap—siap menghadapi badai apa pun demi mempertahankan kebahagiaan yang baru saja ia temukan.
Ucapam tegas itu memotong udara malam yang mencekam di dalam ruang keluarga mansion. Adrian menatap lurus ke dalam sepasang mata tajam sang ayah tanpa ada sedikit pun pendar ketakutan.
"Dia anakku, Pa! Bukan anak haram!" bentak Adrian dengan suara berat nan menggelegar yang sanggup meruntuhkan keangkuhan siapa pun di ruangan itu.
Aura intimidasi yang pekat seketika memancar dari tubuh jangkung Adrian. Langkah kakinya yang mantap mendekat ke arah sang ayah, mengabaikan tatapan sinis dari sang mama dan Jessica yang mendadak tertegun oleh reaksi kerasnya.
"Azka adalah darah dagingku sendiri. Dia menyandang darah keluarga ini, sama seperti aku menyandang darah Papa," tegas Adrian lagi dengan nada dingin menusuk. "Siapa pun di rumah ini yang sekali lagi berani menyebut putraku dengan sebutan hina itu, aku tidak akan segan-segan menganggapnya sebagai musuh—tak peduli meski itu keluarga sendiri!"
Sang ayah mengepalkan tangannya kuat-kuat pada tongkat kayu berukirnya. Matanya menyipit meneliti wajah putra tunggalnya yang kini tampak begitu tangguh dan tak tergoyahkan. Sebagai kepala keluarga sekaligus pimpinan tertinggi bisnis jaringan mereka, ia belum pernah melihat Adrian seberani ini mempertaruhkan segalanya demi seorang wanita dan anak.
"Kamu membangkang, Adrian!" seru sang mama dengan suara melengking, berdiri dari duduknya. "Kamu mengabaikan bisnis miliaran rupiah hanya demi wanita kontrakan itu dan anak yang—"
"Cukup, Ma!" potong sang ayah dengan ketukan kuat tongkatnya ke lantai marmer. TAK!
Suara ketukan itu seketika membungkam sang mama dan Jessica. Sang ayah berdiri tegap, menatap Adrian dengan raut wajah yang sulit diartikan—antara amarah atas kelalaian bisnis dan rasa kagum terselubung atas ketegasan putranya dalam melindungi darah dagingnya sendiri.
"Bisnis yang kamu telantarkan selama tiga hari ini membuat kita kehilangan dua sekutu utama di luar kota, Adrian," ucap sang ayah dengan suara berat dan tenang namun sarat akan tekanan. "Jika kamu ingin membuktikan bahwa anak itu dan wanitamu layak dilindungi dan mendapatkan pengakuan, selesaikan kekacauan bisnis ini dalam waktu 48 jam."
Sang ayah melangkah mendekati Adrian, menepuk bahu tegap putranya dengan tekanan kuat.
"Buktikan bahwa keberadaan mereka tidak membuatmu lemah sebagai ketua. Jika kamu gagal, aku sendiri yang akan mengambil alih urusan anak itu."
Adrian tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang sarat akan dominasi. "Dua puluh empat jam, Pa. Aku hanya butuh 24 jam untuk membereskan bisnis itu dan membuktikan bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menyentuh keluargaku."
Tanpa membuang waktu lagi, Adrian berbalik, meninggalkan ruang keluarga dengan langkah lebar yang penuh wibawa, siap membereskan seluruh urusan bisnisnya demi menjaga kedamaian hidup Alea dan Azka.