Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.
(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.
Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?
SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 PERHATIAN YANG MENYENTUH
Ambisi dan semangat yang terlalu berlebihan terkadang membuat seorang manusia lupa pada batasan raganya sendiri.
Itulah yang kini tengah dialami oleh Zaki.
Sudah empat hari berturut-turut cuaca di kaki bukit sangat tidak bersahabat. Siang hari matahari menyengat bagai membakar kulit, namun menjelang sore, hujan deras disertai angin kencang kerap turun tanpa permisi.
Karena tak ingin hasil panen kopinya membusuk diserang jamur, Zaki memaksakan diri bekerja ekstra keras, bolak-balik mengangkut karung kopi dalam kondisi pakaian basah kuyup.
Tubuhnya yang masih beradaptasi dengan kerja fisik kelas berat akhirnya mengibarkan bendera putih.
.....
.....
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
Pagi itu, Zaki terbangun dengan kondisi tubuh yang menggigil hebat, padahal ia sudah membungkus dirinya dengan dua lapis selimut. Kepalanya berdenyut nyeri seolah ditusuk ribuan jarum.
Setiap kali ia mencoba mengangkat tubuhnya dari atas kasur, persendiannya menjerit ngilu. Napasnya terasa panas, menandakan suhu tubuhnya sedang melonjak drastis. Ia terserang demam.
Zaki hanya bisa berbaring lemah di atas kasur kapuknya. Kamarnya terasa sepi dan suram. Tidak ada suara gemericik air di dapur, tidak ada aroma kopi yang biasa ia seduh.
Dalam kondisi tak berdaya seperti ini, memori masa kecilnya kembali menyergap.
Ingatannya melayang pada sosok mendiang ibunya yang dulu selalu sigap mengompres dahinya dengan handuk basah dan menyuapkan bubur hangat saat ia sedang sakit.
Setetes air mata lolos dari sudut mata pemuda itu, sebuah tangisan tanpa suara dari seorang laki-laki dewasa yang merindukan sosok ibu.
Menjelang siang, di tengah kesadarannya yang timbul tenggelam oleh demam, telinga Zaki sayup-sayup mendengar suara ketukan pintu dari depan.
Tok... tok... tok...
"Assalamu'alaikum... Mas Zaki..."
Suara itu tak terlalu keras, namun cukup untuk membuat kedua mata Zaki terbuka perlahan.
Suara yang sangat ia kenal.
Suara yang selalu menjadi oase di tengah teriknya kebun kopi.
Zaki memaksakan diri untuk bangkit. Sambil berpegangan pada dinding kayu, ia menyeret langkah kakinya yang gemetar menuju ruang tamu. Dibukanya palang pintu depan dengan tangan yang bergetar.
Krieeet...
Daun pintu terbuka, menampilkan sosok Wiwi yang berdiri di teras dengan raut wajah yang memancarkan kecemasan mendalam.
Perempuan itu mengenakan kerudung instan berwarna cokelat muda, membawa sebuah rantang kecil di tangan kanannya dan sebuah termos plastik di tangan kirinya.
"Astaghfirullahaladzim, Mas Zaki! Pucet pisan pasuryane njenengan!" (Astaga, Mas Zaki! Pucat sekali wajahmu!) seru Wiwi refleks saat melihat kondisi Zaki.
Bibir pemuda itu membiru, wajahnya pucat pasi, dan tubuh tegapnya tampak bergetar menahan dingin padahal matahari di luar sedang terik.
"Wa'alaikumsalam... Dek Wiwi... Kok repot-repot ke sini?" Zaki berusaha tersenyum, namun suaranya terdengar sangat parau dan serak.
"Bapak wau wangsul saking kebun, ngendika nek Mas Zaki mboten katingal. Kulo pun badhe su'udzon nek njenengan gerah, lha wong wingi kudanan terus. Monggo Mas, pinarak rumiyin teng lincak mlebet mriki, ampun ngadeg terus mangke semaput," (Bapak tadi pulang dari kebun, bilang kalau Mas Zaki tidak kelihatan. Saya sudah menduga kalau Mas sakit, lha orang kemarin kehujanan terus. Silakan Mas, duduk dulu di dipan masuk sini, jangan berdiri terus nanti pingsan,) cerocos Wiwi, kepanikannya membuat tutur bahasa Krama-nya sedikit bercampur dengan kepedulian yang mendesak.
Zaki menuruti arahan itu. Ia melangkah mundur dan membiarkan tubuhnya ambruk di atas balai-balai kayu di ruang tamu.
Wiwi menyusul masuk, namun tetap menjaga jarak kesopanan, tak menutup pintu rumah dan membiarkannya terbuka lebar-lebar, agar tak menimbulkan fitnah dari tetangga yang lewat.
Gadis itu segera meletakkan bawaannya di atas meja tamu. Dengan cekatan, ia membuka rantang yang ternyata berisi bubur nasi putih yang masih mengepul panas.
"Kulo niki ndamelake bubur, Mas. Weteng kosong nek diisi sego aking mangke malah mboten saged dicerna. Terus niki, kula godhogake beras kencur kalih empon-empon, damel ngangetake awak," (Saya ini buatkan bubur, Mas. Perut kosong kalau diisi nasi keras nanti malah tidak bisa dicerna. Terus ini, saya rebuskan beras kencur sama rempah-rempah, buat menghangatkan badan,) jelas Wiwi seraya menuangkan cairan berwarna kekuningan pekat dari termos ke dalam sebuah cangkir.
Zaki menatap nanar semua perlakuan itu.
Matanya berkaca-kaca.
Wiwi mengambil sebuah mangkuk, menuangkan bubur, lalu menggesernya mendekat ke hadapan Zaki.
Gadis itu lalu merogoh saku roknya, mengeluarkan sebuah saputangan kain bersih.
Tanpa rasa canggung yang berlebihan—karena dorongan rasa pedulinya yang lebih besar—Wiwi mencondongkan tubuhnya, lalu menempelkan punggung tangannya yang terasa sejuk ke dahi Zaki yang terbakar demam.
"Gusti... Panas sanget, Mas," (Tuhan... Panas sekali, Mas) bisik Wiwi kaget.
Ia lalu mencelupkan saputangan kain itu ke dalam air minum dingin dari kendi Zaki, memerasnya, dan menempelkannya dengan sangat lembut ke atas kening pemuda itu sebagai kompres.
Sentuhan lembut di keningnya itu... adalah titik hancur bagi pertahanan Zaki.
Pemuda itu memejamkan mata rapat-rapat, namun tak kuasa mencegah air matanya mengalir turun membasahi pipinya yang panas.
Suara isak tangis pelan yang tertahan terdengar dari tenggorokannya. Laki-laki berbadan tegap itu kini menangis bagaikan anak kecil.
Melihat hal itu, Wiwi terkesiap panik. "Lho, lho? Mas Zaki keneng nopo? Wonten ingkang sakit sanget ta badane? Kulo timbalake mantri desa nggih?" (Lho, lho? Mas Zaki kenapa? Ada yang sakit sekali badannya? Saya panggilkan mantri desa ya?) tanyanya panik, setengah berdiri.
Dengan cepat, Zaki menggeleng.
Tangan besarnya yang bergetar terulur, menahan pergelangan tangan Wiwi agar tak pergi. Sebuah sentuhan kulit yang membuat keduanya membeku sesaat, namun Zaki tak menarik tangannya kali ini.
"J-jangan pergi, Dek..." isak Zaki pelan, suaranya parau.
Wiwi kembali duduk, wajahnya memerah karena pergelangan tangannya masih ditahan lembut oleh Zaki, namun hatinya teriris melihat kondisi pemuda di hadapannya.
"Saya nggak nahan sakit badan, Dek. Saya nangis... karena bahagia," Zaki menelan ludahnya yang terasa pahit.
Ia membuka matanya yang merah dan basah, menatap lurus ke dalam mata bening Wiwi.
"Udah belasan tahun, Dek. Sejak almarhumah Ibu saya meninggal waktu saya masih kecil... baru kali ini... baru hari ini ada orang yang ngerawat saya waktu saya lagi sakit. Di Jakarta, kalau saya demam, saya cuma bisa meluk diri sendiri di kamar kosan sendirian. Rasanya sepi banget. Kematian rasanya selalu dekat," curhat Zaki, menumpahkan segala kesepian yang selama ini ia kunci rapat-rapat.
Zaki menarik napas panjang, meresapi sentuhan kompres di dahinya.
"Pas tadi Dek Wiwi naruh kompres di dahi saya, merhatiin isi perut saya... saya berasa... Ibu saya hidup lagi lewat tangan Dek Wiwi. Hati saya ngerasa utuh lagi. Makasih banyak ya, Dek... Makasih udah peduli sama manusia sebatang kara kayak saya." kata Zaki tulus.
Mendengar pengakuan yang begitu jujur, rapuh, dan mendalam itu, pertahanan Wiwi pun ikut runtuh.
Gadis berhati selembut kapas itu tak kuasa menahan haru. Air matanya ikut menetes, jatuh membasahi kerudung instannya.
Wiwi tidak menarik tangannya dari genggaman lemah Zaki. Ia justru membalas genggaman itu dengan tangan kirinya yang bebas, mengusap punggung tangan Zaki yang kapalan dengan sentuhan yang luar biasa menenangkan.
"Mas Zaki mboten sebatang kara... Wonten Bapak, wonten Simbok, warga desa sedoyo tresno kalih Mas Zaki..." (Mas Zaki tidak sebatang kara... Ada Bapak, ada Ibu, warga desa semua sayang dengan Mas Zaki...) Wiwi menghentikan kalimatnya sejenak, wajahnya kian menunduk menyembunyikan isak tangis, namun ia melanjutkan dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"...Lan wonten kulo, Mas. Kulo ingkang badhe tansah ngrencangi lan ngerawat njenengan," (...Dan ada saya, Mas. Saya yang akan selalu menemani dan merawatmu).
Pernyataan itu mungkin terdengar sederhana, namun bagi Zaki, itu adalah sumpah kesetiaan paling romantis yang pernah ia dengar.
Di ruang tamu yang reyot itu, ditemani semangkuk bubur panas dan secangkir beras kencur, dua anak manusia itu saling mengikat janji batin, menautkan dua hati yang saling membutuhkan.
Perhatian kecil itu telah sukses menembus benteng hati Zaki terdalam, mengunci nama Wiwi untuk selamanya.
Nggak aneh ya klo harumi Nggak percaya, kna dari kecil dia nggak kek haruma yg pernah ngerasain hal mistis. dari haruma jadi tangan nyari tumbal untuk ortunya, trs yg di pondok sampe jadi anak angkat nisa.
Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.
Selamat Datang di Cirebon Yuli.
semangat yul💪💪
seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull