Alethea adalah seorang kurator museum yang bekerja di museum national gallery art di Washington. Dia sudah dua tahun ditingga! suaminya yang meninggal akibat kecelakaan ski. Suatu hari, dia mendapatkan kiriman lukisan wajahnya. Pengirimnya tertanda dari kota kecil di Irlandia. Alethea diutus oleh bossnya untuk mencari pelukisnya. Tidak mudah untuk mencari hingga dia tiba di desa kecil bernama Cedliff. Di sebuah hotel desa dia bertemu dengan Satoru Shinoda yang terkejut melihatnya. Tanpa Alethea tahu, Satoru adalah pelukisnya. Satu pertanyaan. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya tapi bagaimana Satoru bisa melukis wajah Alethea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deep Talk
Satoru mendatangi museum tempat Alethea bekerja usai mengantarkan Allegra kembali ke apartemennya. Pria itu memilih menjadi pengunjung dan melihat-lihat semua karya seni yang ada di sana. Dia tersenyum saat melihat karya ibunya yang dipajang.
"Ya ampun, dari semua ini kenapa yang dikasih yang ini sih?" gerutu Satoru saat melihat lukisan ibunya yang menggambarkan kekacauan di pernikahan Alan Sasongko dan Rayline McCloud dimana Devan McCloud memukul kepala menantunya dengan blangkon.
"Mana judulnya Chaos in Javanese Wedding. Hadeuh, Mom ... Pleaseeee!" gerutu Satoru gemas. "Kan bisa bikin prespektif orang jadi berbeda karena kekacauan ini memang Paklik saja yang kacau!"
"Aku bertanya-tanya, apa sebenarnya yang terjadi di lukisan Mamamu ini."
Satoru menoleh dan tampak Alethea sudah berdiri di sampingnya dengan gaun terusan warna hijau sebatas lutut dan blazer warna coklat muda serta sepatu boot. Wanita itu tersenyum manis dengan make up tipis yang cocok dengan wajahnya.
"Oh? Ini? Well, sebenarnya ini aib keluarga sih tapi Mommy gemas dan menuangkan di atas canvas. Pria ini adalah Oom Alan Sasongko."
Mata biru Alethea terbelalak. "Pembalap itu?"
"Yup. Wanita ini adalah Tanteku, Tante Rayline McCloud dari McC Custom. Mereka bertemu di acara balapan WRC saat Tanteku menjadi machine engineering head Chief. Pacaran deh terus menikah. Cuma Oom Alan itu memang plenger dan waktu menikah, saat sambutan malah membaca tulisan seperti Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Otomatis kena keplak sama Opa Devan. Nikahan yang kacau. Akhirnya Mommy membuat lukisan ini. Kamu hanya melihat sisi plengernya padahal aslinya suasananya kalem kok waktu acara. Setelahnya yang baru kacau." Satoru tersenyum saat mengingat kekacauan setelahnya yang menjadi ajang robek jarik.
"Keluarga kamu seru ya? Ada yang toxic nggak? Biasanya dalam keluarga besar, selalu ada yang jadi anomali," tanya Alethea.
"Toxic apa dulu. Yang aku suka dari keluarga aku, toxic yang membawa aura negatif itu auto didepak. Satu hal yang mengurangi aura toxic. Keluarga aku semua sama kayanya. Mau pamerin apa?" kekeh Satoru.
"Tapi Oom kamu kan Raja Belgia, Raja Denmark, Raja Inggris, Emir Timur Tengah ... Kamu nggak gimana gitu?" tanya Alethea penasaran.
"Haruskah memakai nama mereka? Tidak lah. Kakak sepupu aku saja yang anak raja dan Emir saja sering kena roasting. Jangan mentang-mentang kamu anak penguasa, bisa seenaknya yang seenaknya untuk merugikan orang lain," jawab Satoru. "Rata-rata, kami tetap mementingkan pendidikan dan prestasi yang positif bukan jadi biang gosip berita negatif."
Alethea mengangguk. Satoru terdiam karena teringat aib keluarganya dari generasi kedua hingga sekarang yang ada di daftar hitam FBI, CIA, BIN dan Interpol. Belum di NYPD, Kepolisian Jepang, Kepolisian Hongkong, Polri dan Scotland Yard Inggris.
Semoga Thea tidak tahu ya? - batin Satoru. Kalau keluarga aku biasa pindah tidur ke dalam sel. Bahkan Oma Ajeng adalah anggota tertua klan Pratomo yang masuk sel. ( Baca The Soldier and The CEO ).
"Allegra sudah kembali ke apartemennya?" tanya Alethea.
"Sudah aku antar tadi. Dia ada tugas di laboratorium nanti siang menjelang sore."
"Adikmu cantik sekali, Satoru. Sudah punya pacar?" Alethea mengajak Satoru berjalan-jalan keliling museum.
"Tidak mau. Dia tidak mau menikah."
Alethea melongo. "Serius? Dia cantik, cerdas dan menyenangkan lho anaknya."
"Tidak semua orang mau mendapatkan pasangan yang spesial. Allegra tidak mau orang hanya melihat fisiknya meskipun itu pasti yang dilihat pertama. Allegra mau melihatnya keseluruhan dan in this day, mencari pria yang benar-benar tulus itu bagaikan mencari satu Dokter Tenma diantara sejuta Johan Liebert," jawab Satoru.
Alethea tersenyum. "Kamu mirip almarhum suamiku. Sukanya manga Monster."
"Benar kan? Pria jaman sekarang suka lupa jika mereka harus menjadi giver bukan given. Tidak heran banyak wanita independen memilih tidak menikah karena mereka bisa menghidupi dirinya sendiri tanpa harus menggantungkan pada pria. Tak heran jika wanita dibilang sebagai ras terkuat di bumi. Bayangkan, setiap bulan harus berdarah selama seminggu, membawa bayi sembilan bulan, melahirkan dengan mempertaruhkan nyawa, masih memikirkan semuanya. Kalau suaminya tahu diri, aman. Suaminya mokondo dan tidak tahu diri, musibah. Makanya aku tidak masalah saudara perempuan aku tidak menikah karena mereka sangat mementingkan kebahagiaan dirinya," ujar Satoru.
"Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu tipe giver atau given?" Alethea menatap Satoru.
"Jika kamu ingin tahu, bagaimana kalau kita menikah? Aku tahu ini terlalu cepat bagimu tapi aku sudah tahu jodohku adalah wanita yang aku lukis empat tahun lalu." Satoru menatap Alethea. "Tidak romantis ya?"
Alethea menatap sebal ke Satoru. "Sangat tidak romantis! Sadar kamu?"
Satoru terbahak. "Maafkan aku. Gen keluarga aku memang begini. Kalau suka, ya to the point jadi kesannya tidak romantis. Bagi kami yang pria, romantis akan terasa jika sudah bersama."
"Benarkah?"
"Kamu lihat kan bagaimana kedua orang tuaku?" kerling Satoru.
Alethea tertawa kecil. "Mereka sangat ... Lucu."
"Padahal kata Oom dan Tanteku, Mommy dulu orang yang kaku terus mendapatkan Daddy yang sama kakunya khas orang Jepang. Tapi ... Kalau di rumah, mereka mesra dan bucin kelas berat. Keluarga besar aku percaya, kehidupan rumah tangga yang bahagia, akan mempengaruhi bagaimana karakter anak ke depannya. Dan itu benar. Tak heran jika keluarga besar kami hampir mirip karakternya soal manner, adab dan mindset." Satoru tersenyum ke arah Alethea.
"Jika ... Kita bersama. Apakah ada jaminan kita akan bahagia?" tanya Alethea.
"Karena aku moody? Tidak ada jaminan tapi aku berjanji akan membahagiakan kamu. Bagi kami yang pria dan keturunan klan Pratomo, jika sudah menikah, ratukan istrimu." Satoru menggenggam tangan Alethea. "Jadi ... Kita pacaran dulu atau langsung nikah?"
Alethea menjewer telinga Satoru. "Kamu itu memang seniman payah! Tidak ada romantis sama sekali!"
"Addduuhhh!"
Pengunjung museum hanya menatap bingung.
***
Yuhuuu up Pagi Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
ayo kita ke pojokan Nin, kita ketawa bareng 🤣🤣🤣🤣
Duh moga kalian akan terus bersama hingga menua hingga ujung usia