Keira Sutanto sudah punya semua yang diimpikan perempuan lajang: karier sebagai ilustrator, tabungan sendiri, apartemen mewah… dan satu suami hasil perjodohan kilat yang bahkan tak tinggal serumah. Menikah tiga hari, suaminya sudah terbang ke luar negeri. "Suami tajir yang tak pernah pulang" — hidup macam apa lagi yang lebih tenang dari ini?
Yang Keira tak tahu: **Nathan Halim**, si "programmer" yang dinikahinya, adalah putra kedua konglomerat Halim sekaligus pendiri NARA — perusahaan AI bernilai dua miliar dolar. Tiga tahun lebih muda darinya, jenius, dingin di depan orang… dan diam-diam terobsesi padanya sampai ke ujung jari.
Begitu tahu Keira punya seorang "kakak" tanpa hubungan darah yang tak pernah rela melepasnya, Nathan memindahkan seluruh perusahaannya pulang ke Indonesia — kantornya, tepat di sebelah kantor sang istri.
"Kalau di kantor tak boleh kupanggil 'Sayang'," bisiknya sambil tersenyum, "kupanggil 'Cici' saja, ya?"
Keira kira ini cuma pernikahan kontrak yang akan cepat berakhir. Ia tak menyangka: suami berondong-nya ini akan melamarnya untuk kedua kalinya, memburunya sampai ke ujung dunia saat ia diculik, dan menghancurkan setiap orang yang berani menyakitinya.
Hanya saja… rahasia masa lalunya belum semuanya terbongkar. Ibu kandung yang membuangnya. Seorang adik yang bahkan tak tahu mereka sedarah. Dan seorang "kakak" yang, malam itu, memutuskan bahwa kalau tak bisa memilikinya, ia akan merebutnya dengan cara apa pun—
Ponsel Keira bergetar. Satu pesan dari nomor tak dikenal:
*"Kei, ayo pulang. Kita bicara berdua saja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25 Cium Dulu
"Kalau cucu belum boleh dibahas, bagaimana dengan bulan madu?"
Vivian mengucapkan pertanyaan itu sambil memasangkan kalung mutiara dan berlian ke leher Keira. Pantulan mutiara putih membingkai tulang selangkanya, halus tetapi terlalu mewah untuk disebut perhiasan sehari-hari.
"Mama," Nathan memperingatkan.
"Apa? Bulan madu tidak selalu berarti cucu."
Keira menyentuh liontin di lehernya. "Kami sedang mempertimbangkan Maldives."
"Bagus. Sepuluh hari minimal. Jangan bawa laptop."
"Itu mustahil," kata Nathan.
"Kalau begitu, bawa satu dan serahkan kata sandinya kepada Keira."
"Mama sedang merusak sistem keamanan perusahaan."
Vivian mengambil gelang pasangannya dan menaruhnya di kotak beludru. "Keamanan pernikahan juga penting."
Andreas mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan rencana kerja Keira lagi. Ia menawarkan ruang kantor, jaringan distribusi, bahkan akses ke tim legal kalau suatu hari Keira membangun studio sendiri.
"Tidak perlu menjawab sekarang," katanya. "Kesempatan tidak boleh berubah menjadi tekanan."
Keira mengangguk. "Terima kasih, Papa. Aku akan mengingatnya."
Seorang pekerja rumah tangga masuk membawa teh. "Nyonya Muda, tehnya mau diletakkan di sini?"
Keira menoleh, sedikit kikuk. "Panggil Mbak Keira saja. Atau Keira kalau sedang di rumah."
Perempuan itu tampak ragu dan melirik Vivian.
"Ikuti permintaannya," kata Vivian. "Tapi untuk tamu resmi, tetap sesuai protokol."
"Baik, Mbak Keira."
Nathan menunggu sampai pekerja itu pergi. "Aku bisa dipanggil Mas Nathan juga?"
"Kamu Pak Nathan di kantor dan Nathan di rumah. Jangan tambah jabatan sendiri."
Marcus menyesap teh. "Ini pertama kalinya dia gagal mendapat gelar yang dia inginkan."
Untuk menghindari dua baki perhiasan tambahan, Nathan mengajak Keira ke lantai atas. Kamar lamanya lebih bersih daripada kamar remaja pada umumnya. Rak komik sudah diganti buku teknologi, tetapi sebuah komputer tua masih terpasang di meja.
"Masih menyala?" tanya Keira.
"Harusnya."
Nathan menekan tombol. Kipas berputar dengan bunyi kasar. Setelah beberapa menit, layar menampilkan permainan sederhana: dua manusia stik saling memukul dengan tongkat.
"Kamu membuat ini?"
"Setelah lulus SD."
"Kelihatannya mudah."
Lima menit kemudian, Keira kalah tiga kali.
"Komputernya curang."
"Aku program agar pemain yang bagus menang."
"Berarti penciptanya sengaja curang."
Nathan tertawa. Ia melepas kacamata berbingkai perak dan meletakkannya di meja, lalu mencondongkan tubuh ke dekat Keira.
"Kalau mau pertandingan keempat, cium dulu."
"Apa hubungannya?"
"Biaya lisensi."
Keira melirik pintu. "Tidak."
Nathan langsung mundur setengah langkah. "Baik. Gratis untukmu."
Ia hendak mengambil tetikus, tetapi Keira meraih kerahnya. Jarak yang tadi ia batalkan kembali tertutup oleh gerakan Keira sendiri.
"Kuncinya sudah diputar?" bisiknya.
Nathan memeriksa pintu. "Sudah."
"Cuma sebentar."
"Aku bisa menerima syarat itu."
Keira menyentuhkan bibirnya terlebih dahulu. Nathan menahan pinggangnya tanpa menarik, memberi ruang bagi Keira untuk menentukan tekanan dan lama ciuman. Hanya beberapa detik, hangat, dengan rasa teh oolong yang masih tertinggal.
Saat Keira menjauh, telinganya merah.
"Sekarang mulai permainannya."
Nathan masih menatap bibirnya. "Aku lupa cara memegang tetikus."
Ketukan datang dari luar.
"Mbak Keira," panggil pekerja rumah tangga, "Bu Vivian meminta pilihan kotak perhiasannya."
Keira segera merapikan kerah Nathan. "Turun."
"Pertandingan keempat?"
"Nanti."
Kata itu membuat Nathan rela mengikuti Keira ke bawah tanpa protes. Di ruang duduk, Vivian sudah memisahkan hadiah menjadi dua kotak. Kalung mutiara dan berlian masuk ke kotak pertama, sementara gelang pasangannya disimpan untuk diberikan setelah pemberkatan.
"Supaya ada sesuatu yang Mama pasangkan sendiri pada hari itu," jelas Vivian.
Keira menerima kotak pertama dengan kedua tangan. "Terima kasih, Mama. Aku akan menjaganya."
"Perhiasan dipakai, bukan disimpan terus. Kalau Nathan membuatmu kesal, pakai yang paling mahal lalu jalan-jalan tanpa dia."
"Kenapa semua nasihat di rumah ini merugikanku?" tanya Nathan.
Andreas meletakkan koran bisnisnya. "Karena hari ini kau bukan pusat perhatian. Belajarlah."
Nathan duduk di sebelah Keira dan berusaha melihat isi kotak. Keira langsung menutupnya di depan hidungnya.
"Tadi katanya untuk dipakai," protesnya.
"Nanti."
"Itu kedua kalinya kamu bilang nanti dalam lima menit. Aku butuh jadwal yang pasti."
"Setelah pulang."
"Yang mana? Pertandingan atau kalung?"
Keira menyesap teh dan tidak menjawab. Senyum tipis di bibirnya justru membuat Nathan lebih sulit duduk tenang.
Vivian memperhatikan mereka dengan mata berbinar. Andreas memilih kembali membaca koran. Hanya Marcus yang tetap diam, seolah sedang membandingkan kehangatan di depan matanya dengan sesuatu yang belum ia temukan.
Ketika waktu pulang tiba, Keira kembali meminta staf membiarkannya membawa kotak sendiri. Ia menerima bantuan untuk hal yang memang ia butuhkan, tetapi menolak diperlakukan seperti pajangan rapuh. Vivian menangkap kebiasaan itu lebih cepat daripada para pekerja rumah tangga.
"Lain kali, tanya dulu," pesannya kepada mereka. "Jangan langsung mengambil barang dari tangan Keira."
Keira menatapnya dengan rasa terkejut kecil. "Terima kasih, Mama."
"Mama bisa belajar. Anak Mama yang satu itu juga sedang belajar."
Nathan menunjuk dirinya sendiri. "Aku?"
"Kau satu-satunya yang masih perlu banyak latihan."
Di koridor lantai bawah, Marcus melihat mereka keluar dari kamar. Tatapannya singgah pada wajah Keira yang masih hangat dan kacamata Nathan yang terpasang sedikit miring.
Ia tidak mengatakan apa pun sampai Keira kembali mendampingi Vivian.
Kemudian ia berjalan melewati adiknya dan berbisik, "Jangan terlalu yakin hanya karena dia mulai nyaman."
Nathan berhenti.
Marcus terus melangkah tanpa menoleh.
Kehangatan ciuman tadi masih ada di bibir Nathan, tetapi kalimat itu meninggalkan rasa lain yang jauh lebih sulit diabaikan.