Malam itu, Pietra pulang membawa kejutan untuk sang suami—dan menemukan suaminya dalam pelukan sahabatnya sendiri. Bukan hanya dikhianati; ia dipukul, direndahkan, dan baru menyadari bahwa pernikahannya selama ini hanyalah kedok untuk menguasai warisannya.
Maka ia memilih menghilang. Sendirian, tanpa tujuan, ia naik pesawat pertama yang membawanya sejauh mungkin: Moskow.
Di kota asing yang dingin itu, Pietra bertekad membangun ulang dirinya dari nol. Tapi takdir justru menempatkannya di jantung dunia yang paling berbahaya—sebagai sekretaris pribadi Marco D'Amato, pengusaha tampan berdarah dingin yang menyimpan satu rahasia mematikan: ia adalah Don dari mafia terkuat di Rusia.
Marco terbiasa mengendalikan segalanya. Namun wanita yang menolak tunduk, yang membalas setiap tatapannya tanpa gentar, yang berani berkata "Aku bukan milikmu"—itu di luar kendalinya. Dan semakin Pietra menolak dilindungi, semakin Marco tak sanggup melepaskannya.
Di antara kontrak yang ditandatangani dengan darah, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan masa lalu yang menolak mati, satu aturan berlaku mutlak di dunia Marco: pengkhianatan hanya dibayar dengan nyawa.
Pietra datang untuk melarikan diri dari luka. Ia tak pernah menyangka akan terjerat dalam permainan yang jauh lebih berbahaya—permainan di mana hati bisa menjadi senjata paling mematikan.
Ketika cinta dan dendam bertemu di dunia yang tak mengenal ampun, siapa yang akan bertahan sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatriz novaes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
MARCO D'AMATO
Begitu pintu tertutup di belakangnya, keheningan di ruangan itu terasa tak tertahankan.
Bukan hanya karena apa yang dikatakan Pietra Petrovsky.
Tapi cara ia mengatakannya.
Punggung yang tegak. Tatapan yang mantap. Sama sekali tanpa rasa takut.
Ia tidak menunduk waktu di kafe.
Ia juga tidak menunduk tadi.
Bahkan tidak ketika ia sadar akulah lelaki yang akan menentukan apakah ia mendapatkan pekerjaan itu atau tidak.
Hal itu menggerogotiku dari dalam.
"Tuan D'Amato?"
Suara Irina menarikku kembali.
"Boleh saya sampaikan penilaian akhir saya?"
Aku mengangguk sambil mengusap wajahku. Bayangan Pietra masih ada di hadapanku, seolah ia meninggalkan jejak tak kasatmata di udara.
Irina membuka map di tangannya.
"Kandidat nomor tiga yang paling cocok," ucapnya penuh keyakinan. "Sepuluh tahun pengalaman, pernah bekerja dengan para eksekutif internasional, sikap yang sempurna, didikan yang tak tercela."
Didikan.
Kata itu membuatku lebih kesal dari seharusnya.
"Tidak," jawabku seketika.
Irina mendongak, terkejut.
"Maaf?"
"Aku mau Pietra Petrovsky."
Ia mengerjap, jelas mengira salah dengar.
"Tuan D'Amato..." Ia memulai dengan hati-hati. "Dia yang paling minim pengalaman. Selain itu, sikapnya tidak pantas. Kurang ajar. Cara dia bicara pada Anda tadi..."
"Dia jujur," potongku, suaraku sudah mengeras.
Irina menutup map itu perlahan.
"Kejujuran tidak membenarkan sikap yang tidak sopan."
"Sejak kapan orang yang tidak mau menunduk disebut kurang ajar?" balasku, darahku mulai mendidih. "Aku dikelilingi orang-orang yang tersenyum, mengiyakan, lalu berbohong. Dia tidak melakukan satu pun dari itu."
"Justru itulah masalahnya," Irina bersikeras. "Seorang sekretaris harus tahu tempatnya."
Sesuatu di dalam diriku patah.
Aku bangkit tiba-tiba, kursi terdorong ke belakang dengan keras.
"Tempatnya ada di mana pun aku memutuskan."
Irina ikut berdiri, mempertahankan sikap tegasnya, tapi tatapannya mengkhianati ketegangan yang ia rasakan.
"Ada kandidat yang lebih baik, lebih memenuhi syarat, lebih... penurut."
Penurut...
Bayangan Pietra yang menatapku tanpa takut melintas di benakku seperti sebilah pisau.
"Aku tidak mau yang penurut!" bentakku, suaraku menggema di seluruh ruangan. "Aku mau seseorang yang berpikir. Yang berani menentangku saat memang perlu. Yang tidak menunduk hanya karena aku duduk di seberang meja."
Irina menarik napas dalam-dalam.
"Anda membiarkan sesuatu yang bersifat pribadi ikut campur."
Mungkin memang begitu.
Tapi saat itu, aku tidak peduli.
"Aku pemilik perusahaan ini," geramku. "Dan aku bilang aku mau Pietra."
"Dia menantang Anda."
"Justru karena itu."
Keheningan merentang di antara kami. Irina mengamatiku seolah berusaha melihat sesuatu di balik sosok eksekutif dingin yang selama ini kutampilkan.
"Anda yakin?" tanyanya akhirnya. "Ini bisa jadi sebuah kesalahan."
Aku menumpukan kedua tangan di meja, mencondongkan tubuh ke depan.
"Kesalahannya justru kalau aku membiarkan dia pergi."
Irina menahan tatapanku beberapa detik sebelum mengembuskan napas, mengalah.
"Baiklah," ujarnya pada akhirnya. "Saya akan sampaikan tawarannya."
Ketika ia keluar, aku merosot kembali ke kursi.
Kusisir rambutku dengan jemari, lalu memejamkan mata.
Kenapa perempuan itu begitu memengaruhiku?
Bukan sekadar lidahnya yang tajam.
Bukan sekadar kekeraskepalaannya.
Melainkan keberadaannya.
Cara ia mengisi ruang tanpa meminta izin. Cara ia menolak tampak lebih kecil dari dirinya yang sebenarnya. Cara ia tidak berusaha menyenangkanku barang sedetik pun, meski tahu aku akan menjadi bosnya.
Itu membuatku jengkel.
Dan menarikku dengan cara yang berbahaya.
"Keras kepala setengah mati..." gumamku pada diri sendiri.
Dan mungkin justru karena itulah aku tidak bisa mengeluarkannya dari kepalaku.
Pietra Petrovsky bukan pilihan yang masuk akal.
Dia sebuah masalah.
Dan aku baru saja membawa masalah itu masuk ke dalam duniaku...