Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.
Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.
Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.
Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Kepala Pertama yang Jatuh
Langit pagi di atas distrik finansial ibu kota tampak cerah, namun atmosfer di dalam gedung pencakar langit Lu Group justru diselimuti oleh ketegangan yang menyesakkan dada. Di ruang rapat utama lantai 50, suasana terasa jauh lebih dingin daripada biasanya. Seluruh anggota dewan direksi, kepala divisi, dan para pemegang saham mayoritas duduk dengan gelisah di kursi masing-masing. Mereka baru saja menerima panggilan darurat dari sekretariat komisaris utama untuk menghadiri rapat pleno luar biasa tanpa agenda yang jelas.
Di ujung meja rapat, kursi singgasana kekuasaan telah terisi penuh.
Lu Jingyan duduk dengan tenang mengenakan setelan jas hitam tailored bergaris tipis. Wajahnya datar, tanpa senyum, memancarkan aura dingin seorang eksekutor yang siap menjatuhkan vonis mati. Di sebelah kanannya, Sekretaris Han berdiri tegak membawa map kulit hitam berisi dokumen-dokumen rahasia yang baru saja disahkan oleh sang komisaris utama pagi tadi.
Pintu ganda ruang rapat terbuka. Zhao Tianming melangkah masuk dengan senyum percaya diri yang menghiasi wajahnya. Sebagai Direktur Utama Divisi Operasional sekaligus ipar dari komisaris utama, ia merasa posisinya sangat aman dari segala bentuk ancaman internal. Ia mendudukkan dirinya di kursi bernomor dua setelah ketua dewan, melirik remeh ke arah Jingyan yang duduk di hadapannya.
"Ada urusan apa hingga Tuan Muda memanggil rapat pleno sepagi ini?" tanya Zhao Tianming dengan nada suara yang terdengar santai, sengaja menyiratkan nada meremehkan di hadapan para direktur lainnya. "Kami di divisi operasional memiliki jadwal audit lapangan yang sangat ketat hari ini, jadi saya harap rapat ini tidak membuang-buang waktu perusahaan."
Jingyan tidak segera menjawab. Ia mengambil cangkir teh hitam di hadapannya, menyesapnya perlahan, lalu meletakkannya kembali di atas meja dengan bunyi ketukan porselen yang tajam.
"Membuang-buang waktu?" suara Jingyan memecah kesunyian ruangan, berat, dingin, dan menusuk. Ia menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru meja rapat. "Justru apa yang akan kita bahas hari ini adalah hal paling mendesak yang menyangkut kelangsungan hidup dan martabat Lu Group."
Zhao Tianming mengerutkan keningnya, sedikit terusik oleh tatapan tajam yang dilemparkan oleh sang pewaris. Namun ia tetap tersenyum sinis. "Silakan, Tuan Muda. Buktikan apa yang Anda maksud."
Jingyan mengangguk pelan memberi gestur kepada Sekretaris Han. Asisten setianya itu langsung membuka map hitam dan membagikan salinan dokumen fisik kepada setiap direktur yang duduk di meja rapat. Kertas-kertas itu berpindah tangan dengan cepat, menciptakan suara gesekan halus di atas permukaan marmer hitam.
Begitu beberapa direktur senior membaca halaman pertama dokumen tersebut, wajah mereka seketika berubah pucat pasi. Beberapa di antaranya bahkan langsung mendesah kaget, menutup mulut dengan tangan karena tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Zhao Tianming mengambil salinan dokumen di hadapannya dengan malas. Namun, begitu matanya menangkap kop surat berlogo stempel merah RAHASIA DIREKSI, aliran dana ke Kepulauan Cayman, serta tanda tangan basahnya sendiri pada surat perintah sabotase proyek lantai 35, warna dari wajah Zhao Tianming mendadak lenyap seketika. Seluruh darahnya seolah tersedot turun ke kaki, meninggalkan kulitnya pucat pasi bagaikan mayat hidup.
Brak!
Zhao Tianming bangkit berdiri dengan kasar dari kursinya, mendorong meja hingga kursi di belakangnya terjatuh ke lantai. Tangannya gemetar hebat saat memegang lembaran kertas tersebut.
"I-ini... dokumen apa ini?!" teriak Zhao Tianming histeris, mencoba menutupi kepanikannya dengan kemarahan palsu. "Ini adalah fitnah keji! Dokumen palsu yang sengaja direkayasa untuk menjatuhkan kredibilitas saya di hadapan dewan direksi!"
Jingyan perlahan berdiri dari kursinya. Ia merapikan jasnya, lalu melangkah tenang mendekati Zhao Tianming yang kini bernapas tersenggap-senggap di tempatnya. Tekanan dominasi yang menguar dari tubuh Jingyan membuat Zhao Tianming tanpa sadar mundur selangkah hingga punggungnya membentur dinding kaca ruangan.
"Fitnah?" suara Jingyan terdengar sangat rendah, merendah namun mengandung kekuatan penuh yang mencengkeram saraf setiap orang di ruangan itu. "Kau menyebut kontrak kerja fiktif, rekayasa kecelakaan kerja, dan aliran dana suap senilai lima ratus juta rupiah dari perusahaan cangkang sebagai fitnah, Zhao Tianming?"
"A-aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan!" sangkal Zhao Tianming dengan suara bergetar parah, butiran keringat dingin sebesar biji jagung membasahi seluruh pelipis dan lehernya. Ia menoleh panik ke arah para direktur lain. "Kalian semua jangan percaya omongan anak muda ini! Dia baru siuman dari koma, dia tidak tahu apa-apa tentang operasional perusahaan!"
"Cukup, Zhao Tianming," sebuah suara tua yang serak namun berwibawa menghentikan kepanikan pria itu.
Pintu samping ruang rapat terbuka perlahan. Komisaris Utama—pria tua berkharisma dengan tongkat perak di tangannya—melangkah masuk didampingi oleh dua orang pengawal pribadi dan perwakilan tim investigasi independen korporat. Seluruh isi ruangan langsung berdiri serempak memberikan penghormatan mutlak kepada sang pendiri perusahaan.
Zhao Tianming menatap kakek mertuanya dengan mata membelalak lebar, seolah melihat malaikat maut di hadapannya. "K-Kakek... Anda harus percaya pada saya. Saya telah mengabdikan diri selama puluhan tahun untuk keluarga Lu—"
"Aku tidak butuh pengabdian dari seekor tikus busuk yang menggerogoti fondasi rumah keluargaku sendiri dari dalam," potong sang komisaris tua dengan suara dingin tanpa ampun. Ia menatap tajam menantu cucunya itu dengan jijik. "Tadi malam, aku sudah membaca seluruh salinan fisik dan bukti digital asli yang diserahkan oleh Jingyan. Tidak ada satu pun celah keraguan di dalamnya."
Sang komisaris tua mengangkat tongkat peraknya, menunjuk tepat ke arah Zhao Tianming.
"Berdasarkan wewenang penuh dari dewan kehormatan keluarga dan pemegang saham mayoritas, hari ini juga, jabatanmu sebagai Direktur Utama Divisi Operasional dicabut secara permanen. Seluruh aset pribadimu yang terkait dengan korporasi dibekukan, dan hak aksesmu ke seluruh sistem perusahaan diputus detik ini juga."
Mendengar vonis mutlak tersebut, lutut Zhao Tianming lemas seketika. Ia jatuh berlutut di atas lantai marmer putih, kehilangan seluruh harga diri dan kekuasaan yang selama ini ia banggakan. Seluruh skandal yang ia bangun bertahun-tahun runtuh dalam hitungan menit di bawah kendali Lu Jingyan.
Dua orang petugas keamanan bertubuh tegap melangkah masuk ke dalam ruang rapat atas isyarat Sekretaris Han. Mereka langsung mencengkeram kedua lengan Zhao Tianming, menyeret pria itu berdiri secara paksa dari lantai.
"Lepaskan aku! Kalian tidak bisa memperlakukanku seperti ini! Jingyan! Sialan kau, kau akan menyesal...!" teriak Zhao Tianming histeris sambil meronta-ronta, suaranya semakin melemah seiring langkahnya diseret menjauh melewati pintu ganda ruang rapat yang tertutup rapat kembali.
Ruangan rapat kembali jatuh dalam keheningan yang pekat. Tidak ada satu pun direktur yang berani bernapas terlalu keras. Kepala pertama dari kawanan serigala di Lu Group telah resmi jatuh di tangan sang pewaris tunggal.
Jingyan kembali duduk di kursinya dengan tenang. Ia menatap sekeliling meja rapat dengan pandangan predator yang mengintimidasi, mengirimkan pesan telak kepada siapa saja di ruangan itu yang sempat berniat berkhianat.
Ini baru permulaan. Masih ada sisa-sisa duri di dalam tubuh korporasi ini yang harus ia cabut sampai ke akar-akarnya, demi keadilan bagi mereka yang telah diinjak-injak di masa lalu.