Rara terpaksa tinggal dirumah kakaknya untuk sementara waktu. Ia terpaksa karena ada masalah financial yang menimpanya.
Ia adalah wanita yang manis, menarik dan menggoda. Tak ada satu pun pria yang bisa memalingkan wajah saat melihatnya.
Sejak Rara melihat malam yang penuh gairah dikamar kakaknya. Ia perlahan mulai ada ketertarikan dengan suami dari kakaknya. lambat laun perasaan yang seharusnya tak ia selami terlalu dalam, berubah menjadi keinginan untuk memikat pria yang atletis itu.
Lalu gimana dengan perjalanan rumah tangga kakaknya ?. Ikuti kisahnya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 17
Rara mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia terbangun dari tidur siangnya. Ia lalu meraih ponselnya diatas nakas. Melihat jam di layarnya. Saat ini menunjukkan pukul 3 lebih 10 menit. Ternyata hari sudah semakin sore.
Rara berjalan menuju balkon sambil meregangkan tubuhnya yang seakan masih terasa kaku. Ia berdiri dan memandang langit sore. Kecerahan langit yang mulai memudar dan perlahan menampakkan cahaya oranye membuat pemandangan menenangkan hati.
Hiruk pikuk suasana dikomplek perumahan itu, juga tak luput dari pandangannya. Ada anak kecil yang berlari, ada seorang ayah yang mengajak anak kecil yang masih bayi jalan-jalan, dan sesekali ada kurir paket atau makanan lewat lalu berhenti di rumah pembelinya.
Saat itu juga Rio, berlari pelan menuju rumah. Kaosnya sudah basah dengan keringat dan mempertegas dadanya yang bidang. Ia lalu berhenti untuk ngobrol dengan seorang pria.
Kini Rio menjadi pusat perhatian Rara. Ia mengalihkan matanya, menatap kakak iparnya. Sementara, pria itu tak menyadari kalau ia sedang diamati adik iparnya.
Bayangan Rio yang melakukan aksi dewasa dengan kakaknya muncul dikepalanya. Sebuah ketidak sengajaan yang membuatnya dapat mengintip adegan itu.
Rara seakan melihat kembali kakak iparnya yang menikmati aksi diatas tubuh hangat kakaknya. Ingatan itu muncul dan perlahan terputar kembali kisahnya didalam otaknya. Bagaikan sebuah penayangan film lewat proyektor.
Tubuh Rio berlumur keringat, membuat ototnya terlihat lebih tegas. Ia sangat menikmati hasratnya bersama istrinya. Ia sangat lincah memerankan perannya yang berbeda malam itu.
Rara kini melihat kontras yang berbeda di kakak iparnya. Yang ia intip tadi malam bukan pria yang selama ini ia lihat sangat ramah dan sopan, melainkan seorang pria gagah yang dipenuhi gairah dan hasrat yang luar biasa pada tubuh lembut kakaknya.
Rio menghentikan obrolannya dan menengadah keatas, seolah menyadari sejak tadi ia diamati adik iparnya. Tak sengaja mata mereka beradu pandang. Sesegera mungkin Rara menarik dirinya dan menjauh dari balkon.
Rara berjalan kembali masuk ke kamar. Saat itu juga detak jantungnya berdegup kencang. Tanpa ia sadari, ia sudah terlena kedalam ingatan yang seharusnya tidak boleh diingat lagi.
"Ra udah ra, lupakan, lupakan, lupakan," gumamnya dengan menepuk dahinya berulang kali.
Rara lalu duduk dipinggir kasur dengan terus melupakan ingatannya tentang malam tadi, tapi ingatan itu semakin menjadi kuat dan tak mau dihapus permanen.
Rara pun mulai frustasi. Ia berbaring keatas kasur dan meletakkan bantal keatas mukanya. Berharap dengan cara ini ia bisa menghapus ingatannya.
Kini perasaan menyesal muncul dihatinya. Ia menyesal melihat adegan kakaknya tadi malam. Kalau ia tak penah lihat itu, pasti ia akan tenang hari ini.
Kalau semalam, nggak pulang karena ambil Hp yang ketinggalan pasti gue nggak pernah lihat itu.
Ucap Rara dibatinnya. Setelah cara yang ia lakukan tidak berhasil, akhirnya ia menyingkirkan bantal yang sempat menutup mukanya.
Rara memejamkan matanya. Walaupun ingatan itu sudah permanen dan sulit untuk dihilangkan, ia tetap mencoba untuk tenang dan berusaha bersikap seolah tidak pernah lihat kejadian tadi malam.
Perlahan Rara membuka matanya. Kini ia menatap ke langit kamar. Menghela napas sejenak, lalu bangun.
Meninggalkan keadaan Rara yang sudah mulai tenang, Rio sudah masuk kedalam rumah setelah cukup lama mendinginkan badan diteras rumah. Sambil membawa sepatu lari ditangan kanannya, ia berjalan masuk kedalam kamar. Kaos slimfitnya terlihat mulai kering.