**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**
Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.
Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.
Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.
Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.
Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...
**suamiku sendiri membunuhku.**
Aku pikir kematian adalah akhir.
Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.
Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.
Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.
Suamiku masih belum menjadi suamiku.
Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.
Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.
Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.
Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.
Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09- DARAH DAN LEMBAR KONTRAK
Hujan belum berniat reda saat deru sirine konvoi mobil hitam meraung membelah kelabu langit pesisir barat.
Enam kendaraan taktis bermesin ganda berlogo trisula perak—armada pengamanan Varell Group—mengerem mendadak di belakang sisa puing Range Rover milik Ryan. Pintu-pintu mobil itu terbanting terbuka serentak. Selusin pria berjas hitam kedap air dengan postur militer melompat turun, menyegel radius lima puluh meter jembatan layang sebelum aparat kepolisian lalu lintas yang tersengal-sengal di kejauhan sempat menembus garis pita kuning.
Di bawah guyuran air yang menghantam punggungku bagai ribuan jarum es, aku masih berdiri tegak di tengah aspal yang berminyak.
Kemeja putihku basah kuyup hingga mencetak siluet pundakku yang dingin, namun darah di dalam nadiku berdesir panas bagai lava pijar. Di bawah kakiku, Ryan Arkana terkapar meringkuk seperti anjing jalanan yang patah kaki. Satu tangannya yang gemetar berusaha menahan tulang rusuknya yang remuk, sementara darah merah pekat mengalir dari lubang hidungnya, tersapu air hujan menjadi alur kemerahan yang mencemari genangan air.
"Nadia... tolong..." suara Ryan parau, tercekik cairan kental di kerongkongannya. Matanya yang biasa memancarkan arogansi seorang pewaris darah biru kini bergetar liar, mencerminkan ketakutan purba terhadap kematian. "Panggil... panggil ambulans... ayahku... ayahku akan memberi apa pun—"
"Ayahmu?" Aku melangkah maju satu tapak, membiarkan ujung sepatuku tepat berada satu inci di depan hidungnya yang bengkok. Suaraku mengalun pelan, namun terartikulasi sempurna di balik deru air. "Tuan Darmawan Arkana tidak akan bisa memberikan apa pun hari ini, Ryan. Jangankan untuk membayar rumah sakit pribadimu, sebelum mentari terbenam nanti, dia bahkan tidak akan sanggup menebus jaminan penangguhan penahanan untuk dirinya sendiri."
Ryan membelalak kaget. Ketakutan baru yang lebih dingin dari maut menyengat kesadarannya. "K-kamu... kamu bicara apa...?"
Aku tidak menjawabnya lagi. Meladeni rintihan mangsa yang sudah masuk perangkap hanyalah buang-buang waktu.
Aku berbalik dengan gerakan anggun, memunggungi sosoknya yang menggelepar di atas aspal. Di belakangku, Adrian Varell baru saja keluar dari mobil Mercedes hitam kami yang ringsek di bagian samping. Jas mahalnya telah ia tanggalkan di kursi kemudi; kini ia hanya mengenakan kemeja abu-abu tua dengan dua kancing teratas terbuka. Darah kering dari luka gores di pelipisnya telah tersapu air hujan, mempertegas garis rahangnya yang sedingin pahatan batu granit.
Adrian memberi isyarat tangan singkat kepada kepala pengawalnya—seorang pria kekar bermata satu bernama Bastian.
"Bawa pemuda itu ke klinik swasta distrik empat," suara bariton Adrian memotong denging sirine dengan otoritas mutlak. "Amankan ponselnya. Salin seluruh riwayat panggilan, log pesan terenkripsi, dan transfer rekeningnya selama tiga puluh hari terakhir sebelum ponsel itu 'rusak secara tidak sengaja' dalam proses evakuasi."
"Siap, Tuan Besar," jawab Bastian tegas, membungkuk empat puluh lima derajat sebelum melangkah menuju Ryan dengan dua paramedis internal.
"Dan jangan biarkan polisi lalu lintas membuat berita acara pemeriksaan resmi sebelum tim legal Varell tiba di kantor wilayah," tambah Adrian dingin. "Kecelakaan ini adalah masalah kegagalan mekanis murni dari kendaraan Arkana Group yang membahayakan publik. Pastikan narasi pers dirilis persis seperti itu."
Bastian mengangguk tanpa banyak tanya, lalu menyeret tubuh Ryan yang menjerit kesakitan ke dalam van ambulans lapis baja.
Aku mengabaikan drama di belakangku dan berlari cepat menuju Porsche kuning Ethan yang masih terjepit di pembatas tebing. Logam pintu kemudi mobil adikku sudah bengkok parah, terkunci rapat oleh desakan bodi mobil Adrian.
"Ethan!" Tanganku mencakar handel pintu yang dingin, berusaha menariknya sekuat tenaga hingga telapak tanganku perih tergores pecahan kaca. "Ethan! Bangun! Buka matamu!"
Di balik kaca jendela yang retak seribu bagai jaring laba-laba, tubuh adikku masih tersandar lemas di atas bantalan udara yang mulai mengempis. Hidungnya berdarah, dan ada lebam keunguan di dahinya, namun dadanya tetap naik dan turun secara stabil.
Sebuah tangan kokoh yang hangat tiba-tiba menutupi jemariku yang berdarah, menarikku mundur setengah langkah dengan lembut namun tak terbantahkan.
Adrian sudah berdiri di sampingku. Tanpa sepatah kata pun, ia menyelipkan linggis baja kecil yang diserahkan asistennya ke celah engsel pintu Porsche yang bengkok. Dengan satu hentakan otot lengannya yang terlatih, logam tebal itu mengerang nyaring sebelum engselnya terlepas dengan suara retakan keras.
Pintu terbuka.
Aku langsung merangsek masuk ke dalam kabin mobil yang berbau mesiu kantung udara dan uap bensin. Jemariku yang gemetar menyentuh leher Ethan, mencari denyut nadi karotisnya.
Deg. Deg. Deg.
Iramanya kuat. Beraturan.
Napas lega yang begitu dalam terhempas dari dadaku, membuat seluruh persendianku mendadak lunglai. Dia selamat. Di kehidupan ini, aku tidak perlu berdiri di depan liang lahat sedalam dua meter sambil memegang pigura fotonya yang berbalut pita hitam. Aku tidak perlu mendengar tangisan histeris ibuku yang pingsan berulang kali di atas gundukan tanah merah.
Adikku... masih bernapas di dekapanku.
"K-kak... Nadia...?"
Kelopak mata Ethan bergetar lambat sebelum akhirnya terbuka sayu. Iris cokelat mudanya menatapku dengan kebingungan yang pekat.
"Jangan bergerak banyak, Ethan," bisikku serak, air mata yang sejak tadi kutahan tumpah ruah membasahi pipiku, menyatu dengan sisa air hujan di wajahku. Aku merengkuh kepalanya, mendekapnya erat ke dadaku tanpa peduli noda darah dan debu yang mengotori bajuku. "Kamu aman sekarang. Kakak di sini. Tidak ada yang bisa menyentuhmu lagi."
"Mobilnya... remnya blong, Kak..." bisik Ethan terbata-bata, jemarinya yang lemas berusaha mencengkeram lengan kemejaku. "Kak Ryan bilang... remnya baru diganti... aku hampir mati, Kak..."
"Bukan hampir, Ethan," sebuah suara dingin menyela dari atas kepala kami. Adrian berdiri menjulang di samping pintu mobil yang terbuka, menatap adikku dengan pandangan tanpa kompromi. "Kamu memang sudah dijadwalkan mati hari ini jika kakakmu tidak bertindak gila di kantor direksi."
Ethan mengerjap kaget, menatap sosok jangkung berwajah asing itu dengan bingung. "S-siapa dia, Kak...?"
"Sekutu kita," potongku cepat sambil menyeka air mataku dengan punggung tangan, lalu menoleh ke arah dua petugas medis Varell yang sudah membawa tandu lipat. "Bawa adik saya ke Rumah Sakit Pusat Pertamina. Gunakan kamar VVIP sayap barat dan tempatkan pengawal pribadi di depan pintu dua puluh empat jam. Jangan biarkan siapa pun masuk tanpa izin tertulis dari saya, termasuk keluarga besar Arlena."
Para paramedis itu melirik Adrian sejenak. Setelah melihat anggukan samar dari sang pimpinan konglomerat, barulah mereka bergerak cepat memindahkan Ethan ke atas tandu dengan penyangga leher terpasang rapi.
Saat tandu Ethan didorong menuju ambulans kedua, aku berdiri terpaku menatap ceceran darah di aspal jalan layang. Hujan mulai mereda menjadi rintik gerimis tipis, menyisakan kabut putih tebal yang menggantung di atas jurang sungai di bawah sana.
Sebuah mantel wol tebal berwarna hitam disampirkan ke pundakku dari arah belakang.
Aroma kayu cedar dan kehangatan kain wol itu seketika memotong hawa dingin yang menusuk tulangku. Aku menoleh sedikit, mendapati Adrian berdiri di sampingku, menyalakan sebatang rokok dengan pemantik logam perak. Nyala api kecil memantul di bola matanya yang kelam.
"Kamu baru saja membakar jembatan perdamaian terakhir antara Arlena dan Arkana, Nona Nadia," ucap Adrian tenang setelah mengembuskan asap putih ke udara lembap. "Darmawan Arkana bukan orang tua bodoh yang akan berdiam diri saat melihat putra mahkotanya diseret masuk ke klinik dengan tulang rusuk patah."
"Saya tahu," sahutku datar, merapatkan mantelnya ke tubuhku. "Darmawan adalah lintah darat yang bersembunyi di balik izin perbankan swasta. Langkah pertamanya begitu mendengar kabar ini bukanlah melaporkan kecelakaan ke polisi, melainkan mengancam akan menarik seluruh penempatan dana jangka pendek Arkana Capital dari kas Arlena Holding untuk memicu krisis likuiditas."
Adrian menghentikan gerakannya yang hendak mengisap rokok untuk kedua kalinya. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatapku dengan intensitas yang begitu menusuk, seolah sedang menelanjangi setiap lapisan rahasia di dalam benakku.
"Kamu membaca laporan perbankan ayahmu sampai sedalam itu?" gumam Adrian, nada suaranya berayun di antara rasa kagum dan kecurigaan yang dalam. "Bahkan analis keuangan terbaik saya membutuhkan waktu dua hari untuk melacak aliran dana talangan Arkana di rekening penampung Arlena Holding."
Aku tersenyum tipis—senyuman hampa yang dipenuhi kepahitan masa depan.
Tentu saja aku tahu. Di kehidupanku yang lalu, krisis likuiditas itulah yang membuat Ayah bertekuk lutut dan memohon kepada Ryan untuk menikahi diriku. Ayah mengira pernikahan itu adalah marger penyelamatan dua keluarga besar, padahal itu hanyalah proses pengalihan aset secara perlahan sebelum Arlena Holding dibangkrutkan secara paksa.
"Saya tahu lebih banyak daripada yang bisa Anda bayangkan, Tuan Varell," jawabku pelan. "Dan sekarang giliran Anda untuk membuktikan bahwa Varell Group layak memegang kendali dermaga barat bersama saya."
"Apa maumu?"
"Beli seluruh surat utang jangka pendek Arlena Holding yang dipegang oleh Arkana Capital sore ini juga di pasar sekunder," ujarku tegas, menatap pupil matanya tanpa berkedip. "Gunakan anak perusahaan lepas pantai Anda di Singapura untuk memborongnya dengan harga diskon lima belas persen saat Darmawan mulai panik melepasnya untuk mencari likuiditas darurat."
Adrian terdiam cukup lama. Ujung rokoknya membara merah di antara jari-jarinya yang kokoh.
"Jika saya melakukan itu, saya akan mengunci leher finansial ayahmu di tangan saya, Nadia," bisik Adrian rendah, suaranya sarat peringatan. "Jika kamu salah langkah di kemudian hari, saya bisa mengeksekusi surat utang itu dan mengambil alih seluruh gedung Arlena Holding tanpa perlu melepaskan satu peluru pun."
"Lakukan saja jika Anda mampu," balasku dingin, memotong keraguannya. "Lebih baik leher keluarga saya dipegang oleh predator jujur seperti Anda daripada dibiarkan digerogoti dari dalam oleh serigala berbulu domba seperti keluarga Arkana dan Marvia."
Adrian menatapku lurus selama sepuluh detik penuh. Di balik ketenangan wajahnya yang sedingin marmer, aku bisa melihat riak kepuasan liar yang perlahan merebak. Pria ini tidak menyukai kepatuhan; dia adalah tipe penguasa yang hanya menghormati keberanian dan kecerdasan yang setara dengan dirinya.
Perlahan, Adrian menjatuhkan puntung rokoknya ke aspal basah, lalu menginjaknya dengan ujung sepatu kulitnya hingga padam.
"Bastian!" panggil Adrian tanpa menoleh.
Asisten pribadinya yang baru saja selesai mengamankan barang bukti segera melangkah mendekat. "Saya, Tuan Besar."
"Hubungi meja perdagangan valuta asing kita di Singapura. Eksekusi opsi pembelian instrumen utang Arkana Capital sebelum pukul empat sore. Gunakan dana cadangan konsorsium maritim."
"Dimengerti, Tuan."
"Dan satu lagi," tambah Adrian, tatapannya beralih menatap ponsel hitam di tangan asistennya yang baru diambil dari saku Ryan. "Cari tahu nomor kontak Selena Marvia. Kirimkan satu pesan singkat dari ponsel pemuda itu."
Aku mengangkat alisku mendengar instruksi itu. "Apa yang ingin Anda kirimkan padanya?"
Sudut bibir Adrian terangkat membentuk seringai mematikan—senyuman seorang iblis yang sedang menyiapkan panggung pembantaian baru.
"Beri tahu gadis itu bahwa rencana di jalur lingkar barat berhasil sempurna, dan minta dia datang ke kamar rawat inap Ryan di lantai tiga klinik distrik empat untuk merayakannya."
Darahku mendidih oleh rasa takjub yang dingin.
Adrian tidak hanya mengamankan posisiku di papan catur; dia sedang membantuku menyiapkan panggung jebakan berikutnya. Selena yang tamak pasti akan datang dengan membawa dokumen pembagian komisi fiktif yang dijanjikan Ryan, mengira bahwa Arlena Holding kini sudah lumpuh total oleh duka kematian Ethan.
"Sebuah undangan yang sangat manis," bisikku pelan, merasakan getaran antisipasi yang membakar di dalam dadaku.
"Ini bukan sekadar undangan, Nadia," sahut Adrian seraya melangkah menuju sedan pengawalnya yang masih utuh, membukakan pintu belakang untukku dengan gestur yang luar biasa sopan bagi seorang penguasa bayangan. "Ini adalah awal dari penarikan kartu as pertama di babak ini. Naiklah. Mari kita sambut sahabat tercintamu di sarang serigala."
Aku menarik napas panjang, membiarkan udara sore yang basah membersihkan sisa aroma kematian dari paru-paruku.
Langkah pertama telah terlewati: nyawa Ethan berhasil diselamatkan dari jurang maut, dan tali jerat likuiditas Ryan telah kupotong sebelum sempat mencekik leher Ayah. Namun permainan ini masih sangat panjang. Di belakang Ryan dan Selena, masih ada monster-monster tua yang bersembunyi di balik dinding bursa saham, menunggu giliran untuk menerkam.
Aku melangkah masuk ke dalam mobil hitam itu dengan tatapan yang semakin mengeras.
Selena Marvia... sepuluh tahun yang lalu kamu merayakan kematian adikku di balik punggungku dengan senyuman beracunmu. Hari ini, aku sendiri yang akan mengantarkanmu ke dalam neraka yang kamu gali dengan tanganmu sendiri.
Mobil melaju membelah kabut, meninggalkan bangkai logam di jembatan layang sebagai prasasti pertama dari pembalasan dendamku yang tak terhentikan.
Bersambung...