NovelToon NovelToon
Putri Cacat Jadi Konglomerat

Putri Cacat Jadi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Orang Disabilitas / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.

Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.

Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.

Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masuk Asrama

Hari yang dinanti-nantikan akhirnya tiba. Setelah menunggu dengan tidak sabar selama berminggu-minggu. Haruna kini bersiap untuk pindah ke asrama kampus, mengingat esok hari seluruh mahasiswa baru akan mengikuti masa orientasi yang menjadi gerbang awal kehidupan perkuliahannya.

Pagi itu, Kirana bersama ayahnya datang menjemput Haruna dari rumah sewa sederhana yang selama beberapa bulan terakhir menjadi tempat tinggalnya. Barang-barang Haruna yang tak seberapa banyak dimuat rapi ke dalam mobil, sebagian besar hanya pakaian dan beberapa buku pelajaran yang masih ia simpan sebagai kenangan.

"Nggak nyangka ya, akhirnya hari ini beneran datang," ucap Kirana sepanjang perjalanan, matanya berkaca-kaca menahan haru. "Kakak bangga banget sama Haruna."

"Makasih banyak, Kak, udah nemenin Haruna dari dulu," jawab Haruna, menggenggam tangan sahabatnya erat.

Sesampainya di area kampus, mobil itu berhenti tepat di depan gedung asrama putri. Kirana membantu menurunkan barang-barang Haruna, namun waktu yang begitu terbatas membuatnya tak bisa berlama-lama menemani.

"Har, maaf banget Kakak harus balik sekarang, soalnya kampus Kakak juga mulai kegiatan," ucap Kirana, memeluk Haruna erat sebelum berpamitan. "Kalau ada apa-apa, langsung telepon Kakak, ya."

"Iya Kak, hati-hati di jalan," jawab Haruna, melambaikan tangan hingga mobil itu menghilang di tikungan jalan.

Dengan langkah tertatih namun penuh semangat, Haruna menyeret kopernya menuju kamar asrama yang sudah tertera di lembar penerimaan miliknya. Begitu pintu terbuka, ia mendapati tiga orang gadis lain yang sudah lebih dulu menempati kamar berkapasitas empat orang itu, masing-masing sibuk merapikan barang bawaan mereka.

"Hai, aku Haruna," sapa Haruna ramah, tersenyum kepada ketiga penghuni kamar itu.

Dua di antara mereka langsung menyambut dengan hangat. "Hai, Haruna! Aku Melati," ucap salah satunya, gadis berperawakan mungil dengan senyum ramah.

"Aku Sinta," sahut yang lain, membantu Haruna meletakkan kopernya di dekat ranjang kosong yang tersisa.

Namun gadis ketiga, yang duduk anggun di ranjangnya sambil sibuk memeriksa kuku-kukunya yang dipoles rapi. Hanya melirik sekilas ke arah Haruna dengan tatapan merendahkan. Tak sedikit pun menunjukkan niat untuk memperkenalkan diri.

Haruna, yang sudah terbiasa dengan tatapan semacam itu tak terlalu menghiraukannya, memilih untuk fokus merapikan barang-barangnya. Namun begitu ia berjalan menuju ranjangnya, gadis itu tiba-tiba bersuara sinis.

"Duh, kok bisa sih orang kayak gitu diterima kuliah di sini?" celetuknya, sengaja tak berusaha merendahkan suaranya. Matanya menatap tajam ke arah kaki Haruna. "Kampus ini standarnya rendah banget apa ya? sampai nerima mahasiswa cacat begitu?"

Ruangan itu mendadak hening, Melati dan Sinta saling melempar pandang canggung. Tak menyangka teman sekamar mereka akan langsung melontarkan hinaan sekasar itu tanpa basa-basi.

Namun berbeda dari kebiasaannya dulu yang selalu memilih diam menghadapi ejekan semacam ini. Kini Haruna justru berbalik, menatap lurus ke arah gadis itu dengan sorot mata penuh keberanian yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya.

"Kalau soal standar, mungkin kamu harus tanya diri kamu sendiri," jawab Haruna tenang namun tegas, membuat gadis itu terkejut mendapati respons yang tak ia duga. "Aku memang cacat, tapi aku masuk sini karena beasiswa penuh, hasil dari menang olimpiade matematika tingkat provinsi. Bahkan sebelum daftar ke sini, ada beberapa universitas lain yang juga nawarin beasiswa buat aku."

Gadis itu terdiam sejenak, wajahnya mulai memerah menahan amarah.

"Aku nggak tahu ya, prestasi apa yang udah kamu capai sampai berani ngomong kayak gitu ke orang lain," lanjut Haruna, suaranya tetap tenang namun penuh ketegasan. "Tapi kalau soal fisik, aku rasa itu bukan sesuatu yang bisa ngurangin kemampuan seseorang."

Mendengar jawaban telak itu, gadis tersebut tampak geram. Namun tak satu pun kata-kata balasan yang berhasil ia rangkai untuk membantah argumen Haruna yang begitu kuat. Dengan wajah memerah menahan malu bercampur amarah, ia akhirnya bangkit dari ranjangnya, menyambar tas tangannya kasar.

"Awas aja kamu," desisnya sebelum melangkah keluar kamar, membanting pintu dengan keras hingga menggema di sepanjang koridor asrama.

Setelah kepergian gadis itu, Melati menghela napas lega. Menghampiri Haruna yang masih berdiri di tempatnya. "Wah, keren banget kamu tadi, Har. Jarang banget ada yang berani ngelawan dia."

"Iya, biasanya orang-orang cuma diem aja kalau udah kena semprot dia," tambah Sinta, ikut mendekat.

"Memangnya dia kenapa?" tanya Haruna penasaran, duduk di tepi ranjangnya.

"Namanya Vania," jelas Melati, "anak orang kaya, tapi nilai akademiknya parah banget dari dulu. Kita satu sekolah waktu SMA, dan sebenarnya dia bisa lulus itu karena orangtuanya bayar sekolah mahal-mahal. Bahkan katanya masuk kampus ini juga karena orangtuanya nyumbang gedung baru."

"Dia dipaksa tinggal di asrama sama orangtuanya, katanya biar lebih mandiri," lanjut Sinta, "padahal aslinya dia benci banget tinggal di sini. Makanya sering banget uring-uringan, apalagi kalau ketemu orang yang menurut dia 'kurang sempurna'."

"Kamu harus hati-hati, Har," Melati menambahkan dengan nada serius. "Vania itu terkenal pendendam banget. Kalau udah nyimpen dendam sama seseorang, dia pasti cari cara buat balas."

Haruna mengangguk, meski tak terlalu khawatir dengan peringatan itu. Setelah bertahun-tahun menghadapi berbagai bentuk hinaan dan cemoohan, ancaman semacam itu tak lagi mampu menggoyahkan ketenangannya.

Ia melanjutkan menyusun barang-barangnya. Menata pakaian ke dalam lemari kecil di samping ranjangnya, ketika ponselnya tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan masuk dari Reynan.

"Udah sampai asrama? Gimana kamarnya?"

Haruna tersenyum kecil membaca pesan itu, jarinya cepat mengetik balasan. "Udah, baru aja beres-beres. Kamarnya lumayan nyaman, kok."

"Udah makan siang belum? Aku jemput yuk, kita makan bareng," balas Reynan tak lama kemudian.

Sebenarnya, Reynan sempat menawarkan diri untuk menjemput Haruna sejak pagi tadi. Namun ia menolak dengan halus, merasa tak enak karena sudah terlalu banyak merepotkan. Apalagi Kirana dan ayahnya sudah terlanjur bersedia mengantarkannya.

Namun kini, dengan Kirana yang sudah kembali ke kampusnya sendiri, dan perutnya yang memang mulai terasa lapar setelah seharian sibuk berkemas, tawaran itu terdengar begitu menggoda.

"Boleh! Aku lapar juga, nih," balas Haruna cepat.

"Oke, aku ke sana sekarang," jawab Reynan.

Haruna segera merapikan penampilannya sebelum berpamitan kepada Melati dan Sinta. "Aku pergi dulu, ya, ada temen yang mau ngajak makan."

"Have fun, ya!" seru Sinta, melambaikan tangan riang.

Haruna melangkah keluar dari gedung asrama, dan tak lama kemudian, sebuah motor sport hitam berhenti tepat di depan pintu masuk. Dikendarai oleh sosok Reynan yang mengenakan jaket kulit sederhana namun tetap terlihat begitu memukau.

Kehadirannya langsung menarik perhatian banyak mahasiswi yang kebetulan lewat di sekitar area itu, bisik-bisik kagum segera terdengar dari berbagai penjuru.

Tanpa disangka, Vania.. gadis yang beberapa saat lalu baru saja beradu argumen dengan Haruna, kebetulan sedang berdiri tak jauh dari sana, matanya langsung berbinar begitu melihat sosok tampan itu.

Tanpa membuang waktu, ia segera menghampiri Reynan dengan senyum genit terpasang di wajahnya.

"Hai, kamu mahasiswa baru juga, ya? Kok belum pernah lihat sebelumnya," sapa Vania, sengaja melambaikan rambutnya yang tergerai indah, mencoba menarik perhatian.

Namun Reynan sama sekali tak menghiraukannya, matanya justru sibuk mencari-cari sosok yang sejak tadi ia tunggu.

Begitu melihat Haruna melangkah keluar dari pintu asrama. Wajahnya seketika berubah cerah, sebuah senyum tulus yang jarang sekali ia tunjukkan kepada orang lain kini terpampang jelas.

"Haruna, sini," panggilnya hangat, sama sekali mengabaikan keberadaan Vania yang masih berdiri di sampingnya dengan wajah kecewa.

Haruna menghampiri Reynan dengan senyum ramah. Sementara pemuda itu segera menyerahkan sebuah helm kepadanya, membantu memasangkannya dengan gerakan lembut dan penuh perhatian, memastikan tali pengikatnya terpasang dengan benar di bawah dagu Haruna.

"Pas, nggak? Kalau kekencangan bilang aja," ucap Reynan. Nada suaranya begitu lembut, jauh berbeda dari kesan dingin yang biasa ia tunjukkan kepada orang lain.

"Pas, kok," jawab Haruna, tersenyum kecil merasakan perlakuan istimewa yang belum pernah ia dapatkan dari siapa pun sebelumnya.

Melihat pemandangan itu dari kejauhan, Vania berdiri mematung, wajahnya memerah menahan amarah dan rasa iri yang membuncah begitu hebat.

Bagaimana mungkin pria setampan dan sekaya itu bisa begitu perhatian kepada gadis yang menurutnya begitu tak sempurna. Sementara dirinya yang jelas-jelas jauh lebih menarik justru diabaikan begitu saja?

"Awas aja kamu, Haruna," gumamnya pelan, matanya menyala penuh kebencian. Menyaksikan motor itu melaju pergi membawa Reynan dan Haruna yang tertawa kecil di belakangnya. Meninggalkan bibit dendam yang semakin lama semakin mengakar dalam di hati gadis kaya yang tak terbiasa menghadapi penolakan itu.

1
Muft Smoker
duuuh pak Bagas ketemu ank ny loo ,,
apa setelah Dy tau haruna anak yg berprestasi ia msh enggan mengakui ny ,,
jgn sampai anda menyesal pak Bagas ,,
Akung Didit
😢
Akung Didit
Jadi terharu
Akung Didit
Ruaaar biasa
Akung Didit
Bagus gaya bahasa nya thor
Akung Didit
bagus cerita nya
Ilfa Yarni
nah lo saiing jatuh cinta nih kayaknya dan tuan bagas bisa ya dia mengenali haruna dan ingat wajah anknya yg dia buang setelah lahir
Bunda SB: namanya anak kandung pasti ada sedikit ikatan batin
total 1 replies
Ilfa Yarni
akhirnya ank kandung dan ank pungutnya bagas bertemu gmn kelanjutannya ya
Iffanaya 😽
nah kan ternyata anak angkat bahkan istri nya sendiri gk tau, kyk nya setelah buang Hanura ngangkat anak buat gantiin Hanura
Ilfa Yarni
akhirnya ank pungutnya satu universitas dgn haruna aku ingin lihat gmn reaksi bagas klo ketemu haruna apakah dia sadar klo itu ank yg dia buang
Muft Smoker
apa reynand ank yg di ambil Bagas setelah buang haruna ,, buat gantiin haruna???
Iffanaya 😽
apa setelah buang haruna, Larasati hamil lg tp umur nya 18 thn seumuran haruna 🤔
Ilfa Yarni
nah lo wmang enk ank kandung dibuang itu sireynan km pungut dmn
Iffanaya 😽
duuuh jd nangis aku Thor bacanya 😭😭 sedih bgt semangat haruna
Ilfa Yarni
aaa aku Baca ini nagis trus semangat ya haruna km bisa bumtikan pd dunia bahwa ketidaksempurnaan tubuhmu tidak akan menghalangi kesuksesanmu
Muft Smoker
semangat trus haruna ,,
aq GX bakal bosen buat ngucapin kata tu ,,
disaat org yg sempurna byk yg malas2aan ,, Krn merasa punya hidup yg serba berkecukupan ,,
malah menyia2kan hidup muda ny ,,
sedangkan km yg punya kekurangan tdk prnh menyrut kan semangat mu ,,
nenek mu pasti bangga melihat mu dari atas sana haruna ,,
Ilfa Yarni
aaaa sedih bamget aku sampe nangis bacanya aku benci sama kedua orangtua aruna yg tega membuangnya krn kakinya ga normal
Ilfa Yarni
huhuhu. sedih bamget
Muft Smoker
terkadang emnk kondisi seseorang yg di bilang parah ,,
tau2 keliatan ny sembuh seperti biasa ,, yx pertanda kalo tu kondisi sementara sebelum mereka pergii ,, 🥹😭😭😭 ,,

semangat trus haruna ,, km boleh berduka ,, tp cita2 jgn sampe di lupain,,
Muft Smoker
km bnr haruna ,, mimpi bisa menunggu tp nenek mu entah sampai Kpn bisa nunggu ,,
semangat haruna ,,
ni hanya kesuksesan yg tertunda ,,
msh ad jalan lain menuju sukses yg bisa km raih ,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!