Sinopsis:
Lima belas tahun setelah perpisahan yang dipenuhi salah paham, Helena kembali bertemu dengan Arthur Fernando, mantan suami yang tak pernah berhenti mencarinya. Di balik perceraian mereka, tersimpan konspirasi musuh yang ingin menghancurkan klan Fernando. Kini, saat kebenaran terungkap, Arthur bertekad merebut kembali Helena, meski harus menjadikannya tawanan cinta yang tak pernah padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Kecelakaan di Pusat Perbelanjaan
Keesokan paginya, Helena bangun dengan mata yang sedikit sembab. Semalaman dia sulit tidur, pikirannya terus diterpa bayangan Arthur dan percakapannya dengan James. Namun, karena hari ini tidak ada jadwal meeting, dia memutuskan untuk tidak berdiam diri di hotel.
"Din, hari ini kamu ada acara nggak?" tanya Helena sambil mengirim pesan suara ke Dinda.
"Nggak ada, Hel. Aku juga bosen di hotel. Mungkin kita jalan-jalan aja ke mall? Beli oleh-oleh buat keluarga," balas Dinda beberapa menit kemudian.
Helena tersenyum. "Oke, aku tunggu di lobby ya."
Setengah jam kemudian, Helena dan Dinda sudah berada di salah satu mal terbesar di Jakarta. Bangunannya megah, dengan lantai marmer yang berkilau dan lampu kristal yang bergantung di langit-langit. Mal ini adalah surga belanja bagi para eksekutif dan orang-orang kaya Jakarta. Helena merasa sedikit canggung, tapi dia berusaha menikmati hari liburnya.
"Hel, kamu mau beli apa? Kayaknya kamu lagi seneng banget hari ini," Dinda bertanya sambil menggandeng tangan Helena.
Helena tersenyum, matanya berbinar. "Aku mau beli beberapa baju buat James. Dia lagi butuh kemeja baru buat acara sekolah. Selain itu, aku juga mau beli sepatu olahraga buat dia."
Dinda mengerutkan kening, lalu matanya membulat. "James? Hel, kamu jarang banget cerita soal keluarga. James itu siapa? Anakmu? Keponakan?"
Helena tertawa kecil. Dia sadar, selama ini dia sangat menjaga privasi. Hanya sedikit orang yang tahu bahwa dia punya seorang anak laki-laki yang sudah berusia lima belas tahun. "Iya, Din. James itu anakku. Anak laki-laki satu-satunya."
Dinda berhenti berjalan, menatap Helena dengan tatapan tidak percaya. "Apa? Kamu punya anak? Hel, umur kita tiga puluh enam. Kalau kamu punya anak umur lima belas, berarti kamu melahirkan saat umur dua puluh satu? Dan kamu nggak pernah cerita!"
Helena mengangkat bahu, tersenyum tipis. "Aku nggak suka pamer, Din. James tinggal di Surabaya bersama tante Rina, adikku. Dia anak yang sangat baik, rajin, dan pintar. Aku juga baru cerita karena kita udah dekat."
Dinda memeluk Helena erat. "Wah, Hel, kamu hebat banget jadi ibu single. Aku kagum sama kamu. Udah gitu, rahasia kamu ternyata banyak banget."
Mereka pun melanjutkan perjalanan belanja. Helena memilih beberapa kemeja putih dan biru muda yang cocok untuk James, juga sepasang sepatu olahraga merek ternama. Dinda membantu memilihkan, dan mereka tertawa-tawa ringan di setiap toko yang mereka masuki. Suasana hati Helena menjadi jauh lebih baik. Berbelanja dan berbincang dengan sahabat adalah obat terbaik untuk melupakan beban pikiran.
Setelah lelah berkeliling, mereka memutuskan untuk makan siang di sebuah restoran Cina di lantai tiga. Restoran itu mewah, dengan hiasan naga berwarna merah dan emas di setiap sudutnya. Helena dan Dinda memesan dimsum, nasi goreng, dan sup kepiting.
"Hel, jadi ceritanya kamu punya anak laki-laki, ya. Boleh nggak aku lihat fotonya?" Dinda meminta sambil menyeruput teh hangatnya.
Helena mengeluarkan ponselnya, menampilkan foto James saat wisuda sekolah menengah pertama beberapa bulan lalu. James tersenyum lebar, mengenakan kemeja putih dan dasi hitam.
"Wah, ganteng banget! Mata dan rambutnya kayak..." Dinda memiringkan kepalanya. "...kayak aktor Korea ya. Tapi wajahnya tegas banget."
Helena tersenyum, bangga. "Iya, dia tinggi juga, hampir menyamai aku sekarang. Anaknya baik banget, Din. Dia nggak pernah rewel."
Mereka pun melanjutkan makan dengan santai. Helena merasa hari ini adalah hari yang menyenangkan. Pertemuan dengan Arthur kemarin mulai terasa jauh, dan dia bisa bernapas lega.
Namun, takdir selalu punya cara untuk membuat kejutan.
Saat Helena dan Dinda sedang asyik menikmati hidangan penutup berupa es krim mangga, pintu restoran terbuka. Masuklah beberapa orang berpakaian rapi, dengan jas hitam dan kemeja putih yang tampak sangat formal. Di tengah-tengah mereka, seorang pria berjalan dengan langkah tegas dan tatapan mata tajam.
Arthur Fernando.
Helena tersedak es krimnya. Sendok di tangannya hampir jatuh. Dinda yang melihat arah pandangan Helena langsung menoleh. Begitu melihat Arthur, Dinda mengerutkan kening, lalu melirik Helena dengan tatapan penuh arti.
"Hel, itu kan Pak Arthur, klien kita kemarin? Kok dia ada di sini?" bisik Dinda, agak heran.
Belum sempat Helena menjawab, Arthur sudah melihat mereka. Tatapan matanya langsung tertuju pada Helena, dan dia tidak mundur. Sebaliknya, dia malah tersenyum miring dan langsung berjalan ke arah meja mereka.
"Selamat siang, Ibu Helena. Dinda." Arthur menyapa dengan sopan, tapi matanya tetap tertuju pada Helena. "Kebetulan sekali saya bertemu kalian di sini."
Helena berdiri setengah tergagap, mencoba tersenyum profesional. "Selamat siang, Pak Arthur. Benar-benar kebetulan."
Arthur menatap meja mereka yang penuh dengan makanan, lalu kembali menatap Helena. "Saya baru selesai meeting dengan investor luar negeri di mal ini. Dan saya tidak menyangka akan melihatmu di sini, bersenang-senang." Arthur berhenti, menatap sekilas piring es krim Helena. "Kelihatannya kamu lagi sangat senang."
Dinda yang melihat situasi mulai canggung, mencoba mencairkan suasana. "Iya, Pak. Kami lagi istirahat. Tadi keliling belanja oleh-oleh."
Arthur mengangguk, tapi fokusnya jelas tidak beralih. "Saya ingin bicara dengan Helena. Sebentar saja, kalau tidak mengganggu." Kali ini dia berbicara langsung ke Dinda.
Dinda menatap Helena, mencari isyarat. Helena menghela napas panjang, lalu mengangguk. "Tidak masalah. Din, kamu tunggu di meja ya. Aku sebentar."
Helena dan Arthur berjalan ke meja kosong di dekat jendela. Di sana, mereka berdua berhadapan, dipisahkan oleh jarak hanya satu meter.
Arthur membuka suara lebih dulu, suaranya berat dan penuh emosi yang tertahan. "Helena, aku sudah menunggu terlalu lama. Aku tidak percaya kamu muncul begitu saja setelah lima belas tahun, lalu menghilang lagi. Aku ingin tahu. Kenapa kamu pergi? Kenapa kamu tidak pernah menghubungiku? Dan..." Arthur menunduk, suaranya melemah. "...apakah kamu masih membenciku?"
Helena meremas roknya di bawah meja. Dadanya sesak. "Arthur, aku tidak membencimu. Aku pergi karena..." dia berhenti, matanya terasa perih. "Karena ada sesuatu yang harus aku lindungi. Maaf, aku tidak bisa menjelaskan sekarang."
Arthur memajukan langkahnya, mendekat hingga jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Aroma parfum khasnya menusuk hidung Helena, membuat hati Helena bergetar hebat. "Jika kamu tidak mau bicara sekarang, aku akan menunggu. Tapi Helena, aku tidak akan membiarkanmu menghilang lagi. Aku akan mencari jawabannya. Apapun itu."
Helena menatap Arthur. Di dalam hatinya, dia ingin berteriak: Aku punya anak kita, Arthur! James! Tapi kata-kata itu macet di tenggorokannya. Dia hanya bisa menunduk, menahan air matanya agar tidak jatuh. "Aku akan pulang ke Surabaya dalam waktu dekat. Kita bisa bicara... lain waktu."
Arthur menggeleng pelan. "Kamu salah. Aku yang akan datang menemuimu." Dia tersenyum penuh teka-teki, tatapannya menusuk tajam. "Aku sudah tahu di mana kamu tinggal, Hel. Surabaya. Kamu pikir kamu bisa bersembunyi selamanya?"
Mendengar itu, Helena terkesiap. Jantungnya berdegup begitu kencang. Dia tahu alamatku. Tapi syukurlah... dia belum menyebut soal James. Helena masih punya satu rahasia terbesar yang belum terungkap.
"Selamat menikmati es krimnya, Hel. Sampai jumpa." Arthur berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Helena yang terpaku di tempatnya, dengan napas yang terengah-engah.
Helena kembali ke meja, wajahnya pucat pasi. Dinda langsung menangkap ekspresi itu. "Hel, kamu kenapa? Kok kayak habis ketemu hantu? Dia ngomong apa? Jangan-jangan dia mau memecat kita dari proyek ini?"
Helena menggeleng pelan, jari-jarinya gemetar. "Din, tolong jangan tanya apa-apa dulu. Aku... aku harus segera kembali ke hotel. Aku nggak enak badan."
Dinda tidak memaksa, meski hatinya penuh tanda tanya. Mereka pun buru-buru menyelesaikan makan siang dan kembali ke hotel.
Sore itu, Helena tidak lagi bersemangat. Belanjaannya dia lupakan. Di dalam kamar hotel, dia mengunci pintu, lalu duduk di lantai, menangis dalam diam. Dia memeluk lututnya, membayangkan wajah James.
Dia tahu aku di Surabaya. Tapi dia belum tahu tentang James. Aku harus segera pulang. Aku harus melindungi anakku.
Di lain tempat, Arthur kembali ke mobilnya. Dia menatap layar ponselnya, membaca data alamat yang dikirim Aldi. Rumah di Gubeng, Surabaya. Arthur tersenyum tipis, matanya menyala penuh tekad.
"Helena, kamu pikir jarak bisa memisahkan kita? Besok, aku akan ke Surabaya. Dan aku akan memaksa kamu bicara, satu cara atau cara lain."