tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri
#bl
#bxb
yang gak suka gak usah baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25.
Malam selalu punya cara sendiri untuk mempermainkan isi kepala Brian. Setelah insiden memalukan sekaligus menegangkan di ruang tamu tadi sore, di sinilah dia sekarang.
Terjebak di dalam wilayah kekuasaan Caesar, si "tiang kabupaten" yang menggendongnya tanpa permisi layaknya sekarung beras.
Jam dinding di kamar bernuansa gelap itu sudah berdenting dua belas kali. Suasana mansion mendadak sunyi senyap, menyisakan deru angin malam yang mengetuk-ngetuk kaca jendela dari luar. Ketika dirasa Caesar sudah tertidur lelap di sisi ranjang yang lain, Brian perlahan menyingkap selimut. Langkah kakinya seringan kapas, berusaha tidak menimbulkan decit sekecil apa pun pada suara karena keluarga Benedict bisa mendengar bahkan sampai beberapa meter hanya dengan suara kecil
Dia harus kabur malam ini juga. Kamar Louis kakaknya adalah zona aman terdekat yang terlintas di kepalanya.yang terus berputar cara untuk meloloskan diri dari pria tinggi itu
Cklek.
Brian berhasil meloloskan diri ke luar kamar. Namun, begitu pintu tertutup, langkahnya langsung membeku.
Di hadapannya membentang sebuah lorong panjang yang seolah tak berujung. Lorong itu gelap, pengap, dan diselimuti atmosfer dingin yang mencekam karena di luar memasang sedang hujan deras menambah kesan dingin yang menyentuh kulit Dinding-dindingnya dilapisi wallpaper bermotif sulur tua yang keabu-abuan.karena Caesar begitu sangat menyukai gelap dan dinding ya bermotif naga hitam karena itu adalah lambang dari keluarga Benedict
Satu-satunya sumber cahaya hanyalah deretan lampu dinding berbentuk lampion kuno yang menyala temaram dengan pendar kuning hangat. Cahaya remang-remang itu justru mempertegas sarang laba-laba yang bergelantungan di sudut-sudut lorong kamar Caesar yang berada di lantai 3, sepertinya lorong ini jarang di bersihkan karena Caesar yang memang tidak memperbolehkan para maid membersihkannya kecuali atas perintah Caesar sendiri
Karpet panjang bermotif bunga-bunga gelap membentang di bawah kakinya, meredam suara langkah, namun sekaligus memberi kesan magis yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Sial, kamar Bang Louis sebelah mana sih.perasaan gak nemu-nemu?" bisik Brian parau. Napasnya mulai memburu. Lorong ini terasa asing dan menakutkan, berbanding terbalik dengan ruang tamu mansion yang mewah dan bising tadi sore.
Lorong-lorong itu begitu gelap gulita dan juga penuh dengan lorong seperti labirin yang tidak ada ujungnya
Setiap kali Brian melangkah, bayang-bayangnya sendiri yang terpantul di dinding kayu berpanel seolah bergerak mengikuti. Keheningan malam itu terasa mencekik. Hanya ada suara detak jantungnya sendiri yang berpacu dengan rasa takut.
Tiba-tiba, sebuah tepukan dingin mendarat di bahu kanan Brian.
"Aaaaa—"
Belum sempat jeritan Brian lolos, sebuah telapak tangan besar dan hangat langsung membekap mulutnya dari belakang. Aroma parfum maskulin yang familier menyeruak masuk ke indra penciumannya.
"Berisik, Tikus Kecil. Ini sudah tengah malam," sebuah bisikan berat dan dingin terdengar tepat di samping telinganya.
Aura pekat yang mengintimidasi itu membuat Brian langsung tahu siapa pemiliknya tanpa harus menoleh. Caesar. Pemuda itu berdiri tegap di belakangnya, memanfaatkan kegelapan lorong malam untuk mengurung pergerakan Brian.
"Mau coba kabur ke kamar Mommy Louis, hm?" tanya Caesar dengan nada meremehkan yang tipis. Cengkeramannya di bahu Brian mengendur, berganti menjadi usapan pelan yang justru membuat Brian merinding.
Brian membalikkan badan dengan cepat, menepis tangan Caesar lalu mendongak berani meski lututnya sebenarnya agak lemas melihat tatapan tajam Caesar di bawah pendar lampion malam.
"Ng-ngapain lo bangun?! Lagian lorong rumah lo seram amat, mirip rumah hantu tahu gak!" omel Brian dengan suara yang ditahan agar tidak membangunkan seisi mansion.
Caesar tidak membalas omelan itu. Dia hanya menatap Brian lekat-lekat, membiarkan keheningan malam dan temaramnya lampu lorong memperjelas raut wajah Brian yang ketakutan sekaligus kesal. Detik berikutnya, sebuah seringai tipis muncul di wajah tegas Caesar.
Tanpa aba-aba, Caesar kembali menyergap pinggang Brian dan mengangkatnya dengan mudah ke atas pundak.
"Woi! Tiang kabupaten! Turunin gue gak! Lo hobi banget ya jadiin gue karung beras!" protes Brian sambil memukul-mukul punggung tegap Caesar sekuat tenaga.
"Malam ini milikku, Brian. Jangan membuatku kehilangan kesabaran atau aku akan mengikatmu di ranjang,dan membuat mu tidak bisa berjalan" ucap Caesar dingin namun penuh penekanan saat berbalik arah, berjalan santai kembali menuju kamarnya yang gelap.
Brian langsung terdiam kaku dengan ancaman Caesar yang seperti nyata buatnya
Di sepanjang jalan yang sunyi itu, suara denting jam terdengar di tengah malam menjadi satu-satunya melodi yang memecah keheningan malam, sementara deretan foto dari keluarga anton tersusun rapi di dinding dari ujung sampai ke ujung lagi menjadi saksi bisu kekalahan sang "adik nomor satu" di tangan dominasi Caesar ya itu Brian
Brian yang terlihat dominan tetapi tetap kalah dan bertekuk lutut di hadapan Caesar yang lebih mendominasi baik dari aura dan tinggi Caesar yang mencapai 2 meter lebih itu sedangkan brian hanya mempunyai tinggi 183 cm tinggi mereka terlalu jauh
Bruk!
"sshh bangsat, sakit pinggang gue cok" brian memegang pinggangnya yang terasa sakit
"tidur, atau saya akan rantai kamu di ranjang ini" dengan tatapan penuh intimidasi
"iya, maksa banget heran gue" ucap brian dengan merenggut kesal
Caesar tidur di samping brian dan memeluk pinggang brian dengan erat tanpa bisa brian melepaskannya
"huuuu" brian hanya pasrah dengan Caesar dan tak lama brian tertidur karena kantuk yang mendera
Cesar menatap brian dengan tatapan posesif, tatapan yang tidak ada satupun yang boleh mendekati miliknya kecuali keluarga dan sahabatnya brian
"mine" dengan senyum miring