Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kertas Formulir 2
Sementara itu, di sebuah rumah sakit di Depok, atmosfer yang jauh lebih menegangkan sedang mengambil alih.
Kamar rawat VIP tempat Dini dirawat tampak hening, hanya terdengar bunyi ritmis dari mesin monitor detak jantung. Namun, hari ini ada yang berbeda. Di atas ranjang putih itu, sepasang mata yang selama berhari-hari menatap kosong layaknya manekin perlahan mulai berkedip. Jari-jari lentik Dini yang tertancap jarum infus tampak bergerak kecil, meremas selimut.
Siska, yang sedang duduk memakan apel di sofa, tidak sengaja melihat pergerakan itu. Apelnya langsung terjatuh ke lantai. "Dini?! Maya, panggil dokter, May! Matanya Dini gerak!"
Ruangan itu mendadak sibuk. Dokter dan perawat masuk untuk memeriksa kondisi vital Dini. Di sudut ruangan, Kevin berdiri bersedekap dengan wajah yang berusaha memancarkan kelegaan, meski di dalam kepalanya, ia mulai menyusun skenario baru. *Bagus kalau dia sadar. Gue tinggal mainin peran pahlawan yang setia nemenin dia selama koma,* pikir Kevin licik.
Namun, drama romantis yang ada di kepala Kevin seketika hancur berkeping-keping ketika pintu kamar rawat tiba-tiba terbuka untuk kedua kalinya. Bukan dokter ahli saraf yang masuk, melainkan dua orang pria berseragam kemeja rapi dengan postur tegap khas aparat kepolisian.
Salah satu dari mereka menunjukkan lencana dari dalam dompet kulitnya. "Selamat pagi. Kami dari unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polresta Depok. Apakah benar ini kamar saudari Dini, korban dugaan tindak pidana kekerasan seksual di kampus Universitas Indonesia?"
Siska dan Maya saling berpandangan dengan kaget. "I... iya, Pak. Tapi siapa yang lapor? Kami dari pihak keluarga atau teman belum lapor ke polisi, kampus bilang mau diselesaikan internal dulu," jawab Maya terbata-bata.
"Pihak rumah sakit yang membuat laporan medis wajib, Mbak. Sesuai SOP, hasil visum korban dengan indikasi pemaksaan dan kekerasan fisik dalam tindak asusila secara otomatis diteruskan ke kepolisian," jelas detektif berambut cepak itu dengan nada tegas.
Mendengar kata 'polisi' dan 'visum', darah di tubuh Kevin seakan surut hingga ke telapak kaki. Senyum simpati yang sejak tadi ia pasang mendadak membeku kaku. Tangannya yang berada di dalam saku celana mulai berkeringat dingin.
Aldo, yang baru saja kembali dari kantin membawa dua botol minuman, membeku di ambang pintu melihat kehadiran dua detektif itu. Botol teh di tangannya nyaris terlepas. Kakinya bergetar hebat. *Mampus. Kita mampus,* jerit batin Aldo, menatap Kevin dengan pandangan horor.
Detektif itu melanjutkan laporannya, mengabaikan ketegangan mahasiswa di sekitarnya. "Kami sudah mulai melakukan penyelidikan awal di Tempat Kejadian Perkara. Dan kami menemukan beberapa kepingan bukti yang tidak sinkron dengan narasi yang beredar di kampus. Saksi dari pihak petugas kebersihan mengatakan melihat mahasiswa atas nama Reza sudah berada di sana menolong, tapi kami menemukan jejak ban mobil yang parkir tersembunyi di dekat akses jalan tikus belakang gedung Teater Lama. Kami juga sedang melacak keberadaan dua pria asing berjaket kulit yang sempat dikejar oleh saksi lain bernama Poltak."
Setiap kata yang keluar dari mulut detektif itu terasa seperti paku yang dipalu satu per satu ke dalam peti mati Kevin.
Polisi tidak bodoh. Mereka tidak menelan mentah-mentah cerita dari sidang kampus. Fakta bahwa polisi mencari dua pria asing berjaket kulit berarti mereka membenarkan cerita Reza. Jika preman sewaan itu tertangkap, mereka pasti akan bernyanyi dan menyebut nama Kevin.
"Kami harap korban segera pulih agar bisa memberikan kesaksian. Keterangan sekecil apa pun dari saudari Dini akan sangat membantu kami menangkap pelaku sebenarnya," tutup detektif itu sebelum pamit undur diri.
Begitu polisi keluar, Siska menghela napas lega. "Syukurlah polisi turun tangan. Biar si Reza itu busuk di penjara!"
"Eh... iya, Sis. Baguslah," sahut Kevin dengan suara yang terdengar sedikit melengking dari biasanya. Ia mencoba tersenyum, tapi otot wajahnya menolak bekerja sama. "Gue... gue ke toilet bentar ya. Perut gue mendadak mules."
Tanpa menunggu jawaban, Kevin berjalan cepat keluar ruangan, setengah menyeret Aldo yang masih *shock*. Sesampainya di ujung lorong rumah sakit yang sepi, Kevin memukul dinding dengan keras, mengumpat tertahan. Semua rencananya yang sempurna kini terancam hancur oleh prosedur rumah sakit.
Kembali ke kamar rawat, setelah suasana sedikit tenang, Dini perlahan menolehkan kepalanya menatap Siska. Bibirnya yang kering dan pucat bergerak pelan, seolah berjuang melawan gembok trauma di tenggorokannya.
"Sis..." suara Dini keluar sangat parau, lebih mirip embusan angin daripada sebuah panggilan.
Siska langsung melompat mendekat, menggenggam tangan Dini. "Iya, Din! Gue di sini! Lo mau air? Lo butuh sesuatu?"
Dini menggeleng sangat pelan. Air mata menetes dari sudut matanya, membasahi bantal putih rumah sakit. Dengan sisa tenaga yang ia kumpulkan dari puing-puing kewarasannya, ia memaksakan bibirnya untuk merangkai satu kata yang selama ini tertahan.
"...Bukan..." bisik Dini terbata-bata.
"Bukan apa, Din? Bukan Reza?" tanya Siska cepat.
Dini memejamkan matanya, mengangguk lemah satu kali, lalu kembali terdiam. Namun satu anggukan itu sudah cukup untuk membuat dunia Siska dan Maya berputar terbalik. Jika bukan Reza, lalu siapa? Siapa yang telah menghancurkan sahabat mereka, dan mengapa Reza mengorbankan dirinya di dalam kegelapan gedung itu?