Sejumlah muslimah berjilbab didera berbagai permasalahan pelik yang menyerang pilihan jalan mereka untuk berhijab.
Barada, Rina Viona, dan para personel Geng Bintang Tujuh, dituntut memecahkan masalah rumit yang mereka hadapi, termasuk masalah percintaan.
Lalu bagaimana cara mereka bertahan dalam balutan jilbabnya yang harus menghadapi tantangan perkembangan zaman yang semakin terbuka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Serangan Silva yang Aneh
*Masnaini Muslimah Rekayasa*
Setelah usai pelaksanaan upacara bendera, jam pelajaran pertama dimulai di kelas masing-masing. Untuk kelas 2 akuntansi, jam pelajaran setelah upacara adalah matematika. Tampak di depan kelas telah berdiri seorang guru pria bertampang sangar dengan potongan rambut seperti tentara. Kulitnya hitam. Ia adalah Suryo Manutdilogo, guru yang terkenal “killer”.
“Yang tidak mengerjakan PR unjuk diri!” seru Suryo tapi memandang ke buku yang ada di tangannya, tanpa memandang kepada murid-muridnya.
Dengan wajah sedikit mengerenyit, Barada angkat tangan kanannya. Ternyata di kursi yang lain, ada dua siswa lainnya yang angkat tangan juga, sebagai tanda mereka tidak mengerjakan PR.
Suryo kemudian memandang kepada warga kelas dan melihat ada tiga murid yang unjuk diri tidak melaksanakan tugas rumah.
“Saya tidak butuh yang namanya alasan. Badar, kau pimpin teman lelakimu itu lari 15 putaran di lapangan. Setelah itu selesaikan tugas rumah itu di luar kelas!” perintah Suryo.
“Siap!” pekik Barada tanpa berat hati.
“Tapi Badar puasa, Pak!” kata Dwi yang duduk di sebelah Badar.
“Tidak pakai alasan. Kalau batal juga dapat pahala,” kata Suryo.
Barada pun bangkit, lalu serunya kepada kedua teman lelakinya, “Amir, Bondo, ayo ikut!”
“Siap!” jawab kedua siswa itu bak prajurit, membuat teman-teman mereka yang lain tertawa rendah tapi riuh.
Barada, Amir dan Bondo bergerak keluar kelas untuk turun kembali ke lapangan setelah baru saja mereka naik dari melaksanakan upacara bendera.
Di lapangan, ketiganya berlari-lari kecil di sepanjang pinggir lapangan. Meski dihukum seperti itu, Amir dan Bondo justru asik bercanda dan tertawa-tawa sambil berlari-lari kecil.
“Kamu kenapa ikut-ikutan Badar pakai unjuk diri? Biasanya juga suruh kerjain satu-satu ke depan PR-nya,” kata Amir menyalahkan Bondo.
“Saya sih sebenarnya sudah bikin PR, tapi demi menemani Badar sayang, yaaa saya tunjuk tangan,” kilah Bondo lalu tertawa.
Jawaban Bondo itu justru membuat Barada yang berlari di depan jadi tertawa.
“Preeet!” ledek Amir yang akhirnya juga tertawa. “Kalau kamu naksir Badar, kenapa enggak kamu tembak-tembak?”
“Saya kehabisan peluru, Bro,” jawab Bondo yang sudah mulai tersengal-sengal di putaran keenam.
“Ah, bilang saja kamu enggak punya berani. Percuma kamu merokok kalau cuma tembak Badar gemetaran, hahaha!” kata Amir.
“Iya!” sahut Barada yang terus berlari meninggalkan keduanya di belakang. “Saya tunggu tembakan kamu, Bondo! Hahaha!”
Bondo yang bertubuh agak gendut itu akhirnya berhenti berlari pada putaran kesepuluh, ia memilih duduk di lantai lapangan dengan napas tersengal-sengal. Sementara Barada terus berlari stabil. Amir pun sudah berlari sangat pelan untuk menyempurnakan putaran kesebelas. Hingga akhirnya ia pun berhenti dan duduk di sisi Bondo.
“Ayo bangun, lelaki!” seru Barada sambil terus berlari melewati keduanya. Ia sudah masuk ke putaran ke-14.
“Saya baru tahu, tuh cewek kuat napasnya,” kata Amir.
“Memang kamu enggak tahu, Bro. Isunya Badar kan jago silat,” kata Bondo agak pelan.
“Pantasan kamu gak berani tembak dia,” kata Amir. “Aduh, dengkul saya mati rasa nih.”
Sementara itu, tampak di koridor depan perpustakaan, seorang siswi berdiri sejenak memandangi mereka yang di lapangan.
“Silva pandangi kita tuh!” bisik Bondo sambil mencolek Amir dengan pandangan dilempar jauh ke depan perpustakaan.
Amir segera alihkan pandangan ke depan perpustakaan. Setelah melihat keberadaan Silva Monica, Amir langsung memegang dadanya.
“Oh, jantungku langsung kesetrum!” desah Amir lalu jatuhkan tubuhnya seperti orang kesakitan.
“Gila, kamu!” rutuk Bondo.
Sebagai anak baru pindahan dari Inggris dan memiliki kecantikan level tinggi, Silva sedang jadi magnet perhatian para siswa lantai atas dan bawah.
Namun, dari arah wajahnya, Silva lebih memperhatikan Barada yang berlari stabil sejak tadi. Kini Barada masuk ke putaran terakhir. Tak lama, Silva berlalu pergi dengan membawa sebuah buku di tangannya.
Bondo memilih bangun kembali lalu mulai berlari kembali. Amir akhirnya ikut bangun dan berlari menyusul. Barada hanya tertawa kecil melihat dua temannya itu.
“Badar!” panggil Amir.
“Ya!” sahut Barada sambil terus berlari.
“Kalau Bondo tembak, kamu bakal terima gak?” tanya Amir.
“Satu dari seratus syarat yang harus dipenuhi adalah berhenti merokok!” jawab Barada.
Amir terkejut.
“Gila! Seratus syarat? Yang benar saja, Badar. Bisa-bisa kamu jadi perawan tua!” gerutu Amir.
“Hahaha!” Barada hanya tertawa.
Hingga akhirnya, Barada menyelesaikan larinya 15 putaran.
“Kalian tiga lagi!” seru Barada kepada kedua teman lelakinya.
“Kalau kamu sudah, sana naik, gih!” kata Bondo sambil melintas di depan Barada yang memandori.
“Saya tanggung jawab dan supaya laporan ke Pak Suryo apa adanya,” kilah Barada seraya tersenyum manis, membuat lesung pipinya berlubang jelas.
Hingga akhirnya, kedua pemuda itu menyelesaikan hukuman larinya. Keduanya berhenti dengan napas Senin-Kamis, wajah mereka mengerenyit dengan mulut terbuka. Keringat membanjir tidak hanya di wajah, tapi juga sampai di dalam celana. Keduanya memilih duduk di lantai lapangan, meski matahari semakin terik sinarnya.
Melihat keduanya, Barada hanya tertawa. Ia lalu melangkah pergi meninggalkan lapangan menuju tangga untuk naik ke kelasnya di lantai tiga.
Namun, ketika Barada menaiki tangga di lantai dua, tiba-tiba sebuah tangan dari belakang mencekal pergelangan kaki kirinya. Barada yang tidak mudah terkejut, kali ini harus terkejut, sebab cekalan itu di tempat yang tidak biasa dan berbahaya untuk tempat seperti di tangga.
Ternyata, tangan itu tidak hanya mencekal kaki Barada, tapi juga menariknya ke belakang. Barada membiarkan tarikan itu, sementara kaki kanannya tetap berpijak di tempatnya dan tubuhnya mengikuti tarikan dengan tetap tegak. Seiring itu, wajah Barada berpaling cepat melihat siapa orang yang menarik kakinya.
Hingga akhirnya, kedua kaki Barada terentang lurus dari bawah hingga atas menempel di anak tangga. Gaya split itu tidak membuat otot kaki atau paha Barada sakit, karena memang dasarnya Barada sudah biasa melakukan split demikian dan otot kakinya sudah lentur.
Barada yang bisa aman tanpa cedera dengan serangan itu, mendapati sosok seorang siswi cantik berok panjang tapi tidak berjilbab. Siswi cantik mirip artis Korea itu tidak lain adalah Silva Monica, siswi baru sekretaris, satu kelas dengan Rina dan Geng Bintang Tujuh.
Setelah itu, Silva hanya berdiri memandangi Barada seraya tersenyum, membuat Barada jadi heran. Barada segera bergerak berdiri normal. Ia juga tidak mau ada siswa lain yang nantinya lewat dan melihatnya bisa melakukan hal yang tidak biasa.
Sebenarnya Barada ingin marah dan itu terlihat dari ekspresi di wajah manisnya. Namun, wajah Silva yang tersenyum membuat perasaan Barada separuh luluh dan berganti dengan keheranan.
“Hai!” sapa Silva sambil angkat tangan kanannya sejenak.
Barada hanya melakukan gerakan membungkuk hormat Jepang.
“Kamu Silva, kan?” terka Barada yang hanya mendengar bahwa anak baru yang sedang jadi target cinta para siswa di sekolah itu bernama Silva, anak seorang pejabat penting.
“Betul,” jawab Silva dengan ramah.
“Kenapa kamu serang saya?” tanya Barada.
“Aku hanya mau membuktikan, karena aku dengar kamu jago silat,” jawab Silva dengan aksen bule kental terasa di kata-katanya.
“Pemberi informasi kamu pasti kurang valid,” kata Barada. “Seharusnya saya marah, karena cara itu jelas membahayakan saya.”
“Maaf, aku pasti kurang berpikir jernih. Bagaimana kalau aku tebus permintaan maafku dengan traktir minum di kantin di waktu istirahat?” kata Silva.
“Maaf, saya tidak bisa. Permisi,” jawab Barada lalu bergerak pergi menaiki tangga.
Namun sebelum Barada bergerak naik, tiba-tiba Silva bergerak cepat meraih bahu kanan Barada dari belakang. Barada pun tidak kalah cepat dan sigap memegang tangan Silva lalu bergerak berputar sehingga tangan Silva harus terkilir.
Agar tangannya tidak benar-benar terkilir oleh Barada, Silva memilih menyerang dengan tangan yang lain, memaksa Barada melepaskan tangan Silva dan memilih melakukan tangkisan pelan yang bertujuan hanya menghindar.
“Bukankah tidak baik menolak tawaran kebaikan orang lain?” tanya Silva setelah berhenti menyerang.
“Maaf, saya sedang puasa,” kata Barada, kali ini ia lebih siaga, meski tetap tampil tenang.
“Oh,” desah Silva terkejut. Dengan wajah menyesal ia segera minta maaf, “Maafkan aku, maafkan aku. Aku hanya bercanda. Sampai bertemu lagi.”
Silva segera pergi menaiki tangga meninggalkan Barada.
“Aneh,” gumam Barada tidak habis pikir.
Dari upaya Silva terhadapnya, jelas menunjukkan bahwa Silva pandai berkelahi. (RH)
gak heran kalo jandanya sekaliber bunda Maia dapatnya duda sekaliber Irwan Mursi 🤣🤣 eh kok malah ngelantur gue 🤣🤣🤣